
" Auuu... Mengapa kamu memelukku" Esy
Rey seolah tak terganggu dan mempererat pelukanya, memasukan wajanya keceruk leher Esy. Esy berusaha melepaskan pelukan Rey diperut dan belitan kaki Rey di kakinya. Tubuhnya di kunci hingga tak bisa bergerak
" Kalau kau makin bergerak jangan salahkan aku, aku akan memakanmu di pagi ini sebagai serapan pagi, karena aku sudah kelaparan puluhan tahun karenamu" Rey
" Hey boca gorila, aku bisa mati kalau kamu peluk seperti ini" Esy
Rey membuka matanya dan menindih Esy. Esy menutup dia tahu apa yang akan dilakukan oleh Rey padanya, sedangkan tetempat umum Rey tak ada tak segan menciumnya apa lagi hanya mereka saja di dalam kamarnya. Rey tersenyum mereng seolah dia solah berkuasa tas diri Esy
" Aku bukan boca SD, ini aku udah super waw" Rey
Rey membawa tangan Esy ke selangkangannya, dan merabakanya disana, ada belut listri yang sedang mengeliat dengan daya seribu voll. Mata Esy melotot karena kejutan kenak sengatan sedikit saja
" aauu...Kau sudah gila, aku pangilkan ibu dan ayahku juga Erik... kau buat tak senono padaku di kamarku" Esy
" coba ingat2 aku ini siapamu sekarang, bukan boca gorilah. Tapi aku adalah suamimu..." Rey
Berlahan otaknya siuman dari tidurnya, sekelebat bayangan kemaren kembali bermain di kepalanya seperti layar tigq dimensi. Lelaki ini sekaranglah yang jadi suaminya, menikahinya dengan cincin berlian 24 dengan harga 500 jt. Dia palingkan pandangannya kecinci itu. Benar dia sudah menikah dengan lelaki yang sedang menindinya
" Mengapa kamu diam" Tey
lalu dia mencium kening Esy
" Ini milik"
lalu Rey mencium kedua bola mata Esy
" Ini juga milikku, ini hanya boleh melihat dan tertuju padaku"
lalu Rey mencium kedua belah pipi Esy
" ini juga milikku"
__ADS_1
lalu dia mencium bibir merah Esy yang masi ada liptip kemaren. Bukan sekedar menciumnya tapi dia ******* dan sedikit memaksa karena Esy sedikit menolak dan kaku. Rey menggit bibir Esy hingga terbuka dia tak menyia2kan kesempatan itu menelusuri mulut Esy, lama kelaman Esy terbuai dan membalas dan mengimbangi pangutan Rey. Tangan Rey tak tinggal diam mencari tempat terindah di tubuh istrinya, dia mencoba mengelus dan meremas gunung indah istrinya dari semalam mengodanya, saat dia mengati baju istrinya dia melepas semua pengaman onderdil pada istrinya.
Karena sentuhan perdana yang dia rasakan seumur hidupnya, karena dia tak perna melakukan sejauh ini dengan lelaki lain, walau dengan Miko sekalipu. Paling hanya cium pipi kanan kiri dan pegangan tangan. Perna sekali Miko ingin mencium bibirnya dia menolaknya hingga hubungan mereka renggang beberapa bulan hingga Miko sendiri yang datang untuk minta maaf dan balikan.
Rey semakin memperdalam ciuman hingga napas Esy tersengal-sengal
"Kamu ingin membunuhku ya" Esy
" Tak ada orang yang mati karena ciuman" Rey
Rey kembali mencium Esy kalau diladani tak akan habis2nya. Dia ingin nyicip malam pertamanya, dia semakin gila, dia seolah tak bisa melepaskan dirinya dari belengu pesona Esy, dia mengepresiasikan kelelahan hatinya mengejar cintanya.
Entah kapan tangan Rey membuka kancing piama tidur istrinya, hingga tubuh bagian atas istrinya nyaris telanjang sempurna, dia membenamkan waja diceruk leher istrinya dan membuat tanda kepemilikan di sana, Esy seperti cacing kepanan mendapatkan sentuhan dan pelakuan seperti itu, dia tak lagi memberontak dia seolah menikmati dan pasra apa yang dilakukan Rey terhadapnya.
Puas dia bermain dileher dia turun kegunung kembar yang indah itu. Seolah menikmati Es krim yang enak. Tangan nakalnya terusus menyelusuri setiap inci ditubuh indah istrinya. Hingga masuk kedalam celana piama yang tak pakai pengaman, dia meraskan tangannya basah. Dia tersenyum dalam hati mengetahui istrinya basa. Esy merasakan tangan itu bermain dibawah sana tapi dia tak sanggu menolaknya, dia ingin menolaknya, tapi tubuhnya menghianatnya.
"aak hentikan, aku ingin pipis" Esy
Rey menghentikannya semakin lama dia tak yakin, dia tak akan memakan istrinya di pagi ini. Dia membiarkan Esy berlari kekamar mandi, menuju kamar kecil untuk pipis.
" oh... Tuhan dia telah mengantinya, dasat nakal, mengapa aku tak bisa menolak semua perlakuannya padaku" gumam Esy
Esy kaget melihat leher dan dadanya penuh penuh totol merah. Dia tahu ini adalah kerjaan lelaki gila yang sekarang jadi suami dadakannya. Lelaki yang tak lelah mengganggunya dan dengan senak perutnya menciumnya, baik dulu apalagi sekarang dia pasti akan melakukan apapun yang dia inginkan. Dia harus terbiasa dan apalagi dia sekarang adalah suaminya berarti junjungannya.
Dia mandi dan keramas. Karena dia tahu dia harus mandi wajib walaupun dia tak melakukan hubungan suami istri pada umumnya tapi dia mengeluarkan cairan telur, karena rangsangannyang diberikan oleh suaminya. Dia baru sadar dia tak membawa handuk mau tak mau dia minta tolong seambilkan handuk kepada Rey. Dia menyumbulkan kepalanya dibalik daun pintu
" Hei ambilkan aku handuk" Esy
Rey seolah tak denga Esy
" Hei ambilkan aku handuk" Esy
" Hei ambilkan aku handuk" Esy
__ADS_1
" Hei ambilkan aku handuk" Esy
Mengulangnya hingga tiga kali tapi tidak di indahkan oleh Rey
"Suamiku, boleh mintak minta tolong. Ambilkan handuk dilemari paling hujung itu" Esy
Saat Esy bicara seperti itu Rey langsung berdiri dan mengabilkan handuk dia mengambil handu ukuran paling seksi bila dipasang ditubuh istrinya
" Ini sayang" Rey
Esy lalu merampasnya. Saat dia sadar handuk yang dikasi adalah aduk kecil bisa menutupi dadanya pangkal pahanya saja
" Dasar otak errol, pasti dia sengaja memberi ini padaku" Esy
Esy keluar dari kamar mandi dengan waja kesal sambil memegangi handuk kecil yang melekat ditubuhnya, yang menutupi yang darurat2 saja.
Rey senyum2 pandangannya tidak lepas dari lekuk indah istrinya. Dia berdiri dan mengahampiri istrinya
" kamu mau apa... " Esy
" Mau kamu...!" Rey
Rey memeluk pingga Esy. Dan menarik handuk yang menempel di tubuh indah itu.
"Kamu memang sudah gila..." Esy
" Karena kamu" Rey
Tangan nakal Rey menjelajahi punggung putih, menciumi tengkuk Esy. Dia berusaha menutupi tubuhnya tanganya
" Lepaskan, berikan handuknya" Esy
"nggak mau, cium dulu baru aku lepaskan" Rey
__ADS_1
Rey memutar tubuh Esy hingga mengahadapnya. Lalu dia menmanyunkan mulutnya dan memejamkan matanya. Mau tak mau Esy menuruti kemau Rey, Esy menciumnya bukan Rey orangnya kalau tidak berulah dia menahan tengkuk Esy dan meperdalam ciumannya dan menjelaja apa yang ingin dia jelajahi.