
Kegiatan Rey terhenti saat ketukan di pintu
tok...
tok...
tok...
" Rey... Ada paket untukmu" Ibu
Rey menghentikan kegiatanya menggagahi istrinya
" Iya ibu... Tunggu" Rey
Rey membuka daun pintu sedikit, dia melihat ibu mertuanya celingak celinguk, melihat kedalam kamar
" Ibu... mana paketnya..." Rey
" Ee...iya ini, segerah keruangan makan kita sarapan pagi dulu" ibu
" iya bu. Aku mandi dulu..."
Rey menutup pintu kembali, dia melihat Esy sudah hampir selesai memasang baju
" Aku mau mandi ... " Rey
" Ya mandilah. Masak iya aku mandiin"
"Iya aku mau dimandiin" Rey
"Kamu sudah gila. Aku mau kedapur mau nolongin ibu masak" Esy
Rei maju lalu menyentuh kening Esy. " kamu baik baik saja, setahuku kamu tak bisa masak" Rey
" Kau siapa... ? Sampai sedetailnya kamu tahu tentang aku" Esy
" Jangan tentang kebiasaanmu, sedang tentang tanda lahir di pingang sebelah kanan aku tahu, cepatlah mandikan aku. Kalau tidak aku akan memakanmu... Cepat lah" Rey
Mau tak mau, Ese mengikuti Rey seprti kerbau di colok hidungnya. Esy mengikut dengan waja mayun.
__ADS_1
"Dasar... Bisa ngancam seperti penjajahan jepang, akan ku buat perhitungan denganmu. Kini aku turuti kamu, kamu kira aku takut" kata Esy dalam hati
Esy memandikan dan mengkramaskan rambut Rey. Mengosok pungung Rey, dia untuk hari ini menjadi wanita dan istri penurut kepada suaminya.
Rey demgan Esy menuju ruangan makan disana sudah menunggu mereka berdua untuk sarapan pagi sebelum melakukan ativitas.
" Ayah ibu, dan juga Erik. Mungkin hari ini kita pindah, bukan tak mau tinggal disini. Aku sudah lama tak masuk kerja, takut kena pecat dari perusahaan" Rey
" Ibuuu... Aku tak mau pindah. Gorilah ini kalau mau pindah, pindah sendiri...! Aku tak mau. Aku ingin disini..." Esy
" tok..."
"aauuu... Ibu..."
" Dia bukan gorilah tapi suami kamu... Yang harus kau hormati, kamu patuhi selagi apa yang diperintahkannya itu masi baik dan tidak bermaksiat kepada Allah, sekarang dia berhak atas kamu. Surgamu itu di suamimu sekarang" Ibu
" Dengarkan tu ibu, aku bukan gorilah ... Aku gorilah ganteng lo... Ya kan bu..." Rey
"Genteng tapi begok… " Erik
"Kamu yang begok, ganteng2 tapi tak laku-laku" Rey
platook
" kamu mengatakan aku gila..." Esy
"Kak. ini kepala yang mempunyai banyak kekayaan negara..." Erik
" Kekayaan negara... tapi begok dan durhaka pula... Peak"
" Udah2. Ayah tidak melarangnya dimana baiknya saja, Asalkan kau menjaga putriku dengan baik, jangan kamu sakiti putriku... Sebesar dan sedewasa apapun dia, dia adalah putri kecil dimata ayah, saat kau menyakitinya kamu menyakiti ayah, ayah sendiri yang akan mengambilnya darimu. Dengan apapun itu... Ayah tak perduli siapa yang ayah hadapi" Ayah
Esy berdiri dan memeluk ayahnya dan mencium pipih ayahnya sambil menangis
" Ayaaaah... Esy sayang ayah. Terimah kasih telah jadi ayah terbaik untukku, dengan segalah kenakalan dan kekoyolanku, tak sekalipun ayah marah, semarah apapun ayah tetap akan memelukku dengan senyum, entah berapa kali ayah terhutang dan terpangil oleh kepalah sekolah karena aduan orang tua murid..." Esy
" Tuh tahu. Mengapa kakak tak kapok2 bikin masalah sampai sekarang tetap jadi tikang rusuh" Erik
" Erik, kau selalu cari ribut dengan kakakmu" Erik
__ADS_1
Erik terdiam dan menyenduk makanan yang sedari tadi terhidang dipiringnya, padahal dia tak relah kakaknya dibawah oleh Rey. Tapi dia tutupi dengan menjahili kakaknya, rasanya akan sangat sepi rumah ini tapa kakaknya yang tiap hari ada2 saja tingkahnya yang akan membuat seisi rumah kalang kabut. Belum lagi drama terlambat berangkat kerja, belum lagi peralatan kentornya salah letak, belum lagi sepatunya hilang sebelah, tiap pagi ada2 aja keributan drama kakaknya itu.
Apa lagi ayah dan ibunya pasti akan sangat kehilangan. Tapi sudah saatnya dia melepas anak perempuanya untuk mempunyai hidupnya sendiri, punya suami dan keluarga kecilnya.
"Ayah ibu, aku dengan Esy memang pndah. Tapi aku janji akan sering nginap disini, ayah dan ibu kapanpun silahkan datang, dan kamu curut kau boleh datang kerumah kapanpun" Rey
Habis dramanya Rey membawa istrinya untuk menemui kedua orang tuanya
" Apapun yang terjadi tetaplah bersamaku" Rey
" Apa maksudmu, apa ada badai yang menghantammu" Esy
" hahaha... Ya badai disetai topan. Tapi percayalah semua akan berlalu, maka aku butuh kamu untuk menguatkan aku berdiri. mungkin akan hanya ada kamu saja yg aku punya, dan kaulah hartaku mungkin aku tak akan punya apa2, maukah kau tetap memegang tangan ini walau aku tak punya apa" Rey
"apa kau ingin mecari laki yang baru lagi. Saat kamu miskin"
" ya mana tahu" Rey
took...
" Kau ini. Hobi KDRT" Rey
"Kamu tahu, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. apa bagimu pernikahan hanya mainan, sebelum kita terlalu jauh. Pergilah, terimah kasih kamu sudah menutup aib dan malu keluargaku...."
Rey memingirkan mobilnya dipingir jalan
" Dari awal bahkan dari putih merah baju yang aku pasan, lelaki kecil yang kau cium itu adalah aku, dan wanitah yang mengenakan putih abu2 yang berjaji akan menikah lelaki putih merah, sejak lelaki itu mengejar, putih abu2 yaitu kamu, sejak itu tujuanku adalah kamu bagi mana aku akan melepasmu" Rey
" Aku mencium kamu..." Esy
" Ya kamu menciumku... Dan memgambil keperjakaan bibirku, dan mengamil ciumanku ke dua dan seterusnya" Rey
Rey memajukan wajanya dan menyentuh bibir Esy
" bibir ini yang siang malam menghantuiku, dan bibir ini yang membiatbaku bertahan dalam kesakitan kesendirian dan kesepian. Aku diasingkan dinegeri orang, aku jalani karena lambat laun aku pasti akan bertemu dan tujuanku adalah kamu" Rey
" Kau tahu umur. Aku sudah 35 tahun dan kamu masi mudah baru 28 tahun, selisih 7 tahun, ceraikan lah aku sebelum terlambat, Saat kau sudah memilikiku, aku tidak akan melepasmu, terkecuali mendua, aku akan pergi darimu" Rey
Rey kesal saat Esy menyebut ceraikan dia. Rey kesal dan mencium Esy dengan agak kasar dan menggigit bibir hingga Esy mebuka mulutnya hingga dia bisa leluasa mengapsen mulut dan bibir Esy, Awalnya kasar sekarang membuai mengikuti permainan Rey.
__ADS_1