
Hari ini akan menjadi hari yang menyibukan bagi Esy dan Miko, karena hari mendekati hari pernikahan banyak yang di persiapkan mulai dari undangan dan mendekor rumah, hari ini mereka akan printink baju penganti, mereka menuju butik.
"Tiiit..."
"Tiiit..."
"Tiiit..."
Klason mobil Miko diluar gerbang halaman rumah Esy
" Ya tunggu...dasar tidak sabaran amat... dasar bujang lapuk"
dengan berlari kecil Esy menghampiri mobil Miko
" Lama amat...!"
dengan waja cemberur Miko membuka pintu mobil
" Emang tak sabaran sih, seperti orang di kejar hantu aja"
Miko tahu berdebat dengan Esy dia tak akan menang, lebih baik dia mengalah saja dan menjalankan mobilnya menuju butik. mereka menemus keramain yang ramai
" Sayang... sebelumnya aku minta maaf, aku tak bisa mengantarmu pulang aku ada keperluan mendadak..."
"Kepaerluan apa...? kata kamu sudah megekesel semua jadwal sore ini..."
Miko menghembuskan nafasnya dengan berat
"Maaf sayang... ini diluar kendaliku, aku hanya bisa mengantarmu saja..."
Hempon Miko berdering dia tak bisa tak mengangkatnya, Miko meletakan telujuknya dibibirnya isarat untuk diam
"hallo... ya. baiklah aku segera datang, ya baik. ya ... ya"
sambungan terputus, dan mobil yang membawa oleh Mikopun berhenti
" Sayang... maaf aku tak bisa mengatarmu kebutik, untuk printink baju kita... aku yakin apa yang kamu pilih aku pasti menyukainya..."
Mendengar itu sudah cemberut, dia ingin marah, sepenting itukah pekerjaannya. Miko mengenggam tangan Esy
" Sayang, maaf... sungguh aku minta maaf, ini sangat mendesak, aku akan setuju apa saja yang kamu pilih, aku sangat percaya pilihanmu pasti yang terbaik, sayang ini untuk bayar onkos taxsinya. kalau aku mengatarmu kesana aku akan terlambat, sayang... maaf ya"
Esy keluar dengan marah dan kesal tampa bicara, dia membating pintu mobil. Miko menghebiskan napasnya dan kembali melanjutkan jalannya.
"Kampreet... sial. masak aku yang akan memilih sendiri, kawinnya berdua. mana disini aku kasih kamu baju badut biar tau rasa... ah... sial ... dasar kampreeet..!"
ESY
__ADS_1
REY
ERIK
MIKO
Esy berharap akan ada taxsi yang akan berhenti untuk dia tumpangi, entah apa yang terjadi atau karena dia memang sial hingga tak ada yang berjalan sesuai rencana dan keinginannya. Sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapannya, Esy hanya diam saja. karena dia tak kenal dengan orang atau mobil mewah itu maka dia cuek dan tak ambil pusing, berlahan nogol keluar wajah Erik seperti bekicot
" Kakak... ngapa bengong dan linglung kayak orang gila habis kenak copet aja"
" plataak..."
Esy menjitak kepala Erik yang sedang berpakaian lengkap habis dinas
"aduuh... kak, ada yang lihat mau ditarok ni muka. aku yang ganteng ini, masak perwira tinggi kenak jitak di pinggir jalan lagi, kan malu kak..."
Esy tak peduli
"taak... took ...taak"
" Aaduuh... sakit kak. lepaskan rambutku bisa tercabuuut ni, kakak lagi kesal ngapa sama aku dilampiaskan..."
" Peduli amat... kalian membuat aku kesal hari ini, melihat kalian membuat aku kesal dan emosi aja..."
orang yang dari tadi tersenyum-senyum memperhatikan dibelakang kemudi, melihat dua adek beradek yang kocak dan seru yaitu Rey
"Kakak mau kemana ... mengapa ada disini...?"
" Mau kebutik printink baju pengatin... kampret itu menurunkan aku di tengah jalan... rasanya aku ingin membenamkannya kelautan antar tika biat disateh oleh pinguin sekalian"
Erik terdiam sejenak lalu dia memandang dan memandang Rey yang hanya diam
" bisa kita antar kakakku kebuting sebentar"
Rey diam dan meperjatikan wanita yang ada diluar mobil, Rey menghela napas dan memelepaskanya berlahan
" Baik lah, silahkan masuk orang gila"
Pandangan Esy memandang kepada Rey seperti akan memangsanya hidup-hidup, dengan kesal dia masuk
"took.."
" aaw... sakit tau, mengapa kamu jadi cewek tak ada manis-manisnya, mengapa main kekerasan"
Rey mengusap kepalanya yang terasa sakit, Erik hanya tersenyum kelakuan kakaknya memang suka main tangan itu
" Hiii boca, mulutmu dari kemaren menyebutku wanita gila... dasar boca sialan... kampreet"
__ADS_1
"Hii wanita gila... aku bukan boca, aku suda dewasa sekarang... aku sudah tahu semuanya... dan aku sudah tahu apa arti semua yang kau lakukan dan kamu katakan padaku waktu SD... dan sekali lagi aku tegaskan aku tidak boca lagi... dan aku tegaskan aku bisa buatkan kamu anak satu lusin...! tau... dasar wanita gila..."
Erik memandang Rey, menegaskan apa yang terjadi di antara mereka di masa lalu. Orang yang di pandangi hanya cuek seperti bebek berenang dikolam pak mamat, rasanya Erik mau meremas waja itu yang seolah tak peduli pandangannya, Rey sibuk meladeni kakaknya itu. Esy menjambak rambut Rey
" Aauu... sakit tau... lepaskan tanganmu di rambutku... kamu memang sudah gila ya..."
"Apaa... ! Kamu masi mengatakan aku gilaa... dari semalam kamu cari gara-gara denganku kamu ingin mati ya..."
Erik yang sudah tak tahan dengan kelakuan orang dewasa yang lebih para mengalakan anak TK
"Kakak... Rey... hentikan... kalian sudah dewasa tapi masi seperti Anak TK... malulah sama umur kalian... memalukan..."
"Diaaam..."
Bentak mereka serentak membuat nyali seorang perwira yang menjadi macan di medan pertempuran menjadi kelici dihadapan orang yang sedang baku hantam dengan argumentasi masing-masing
"kalian... terserah lah... aku bisa gila juga sama dengan kalian berdua... kak... udahlah. tak jadi mau ke butik"
berlahan-lahan Esy melepaskan tangannya dirambut Rey.
Mobil berjalan berlahan memecah jalan raya. berbaur dengan mobil, dan motor yang berseliuran menuju tujuannya masing-masing. dalam perjalanan tak ada seorang pun yang membuka suara, sibuk bermain dan berselancar dengan pikiran dan memahami permasalahan masing-masing. Erik melihat Rey yang sedang fokus pada jalan, dia terpikir apa lelaki yang disampingnya masi mengincar kakaknya. apa dia benar-benar mencintai kakaknya, mustahil tiada perempuan yang menginginkannya, wajah tampan, tubuh tinggi, berbodi sispex, kaya dan berpendidikan tinggi.
" Apa kamu menyukaiku... aku masi normal belum membelok... iiih jijik aku"
Rey bergidik jijik
"plaak..."
Erik memukul tengkuk Rey dari belakang
"Aduuuk... kalian berdua bercita-cita ingin membunuhku, kalian berdua suka menyakitiku"
"Makanya kamu kalau ngomong yang benar, aku masi normal begok, tapi entahlah kamu. dari SD kamu tak normal dan sudah aneh dan berbeda"
"Tlook"
Rey menjitak dahi Erik
"Auu..."
Erik memegang dahinya
"Kamu berani menjitak Perwira ya"
"kamu perwira gila. aku berani lah, begok kamu. aku dari dulu normal begok"
Esy mendengar itu menjadi gregetan
" Sudah kalian berdua mungkin memang tidak normal, kamu perwira bodoh samapai sekarang tak perna aku melihat mengandeng perempuan, waja tampan tapi kamu tak laku"
lalu dia menghadap pada Rey
" Dan kamu boca bodoh dan gila, carilah wanita agar kamu tidak semakin gila" Esy mengambil nafas dalam lalu melepaskannya dengan kasar
" Ah... sudahlah tak ada gunanya berdebat dengan kalian, kalian dua beradik memang sudah tak waras... mulut kalian sama tajam... menyakitkan menusuk hati dan jantung saja"
semua kembali sibuk dengan pemikiran masing-masing hingga mereka sampai di depan butik yang memajangkan berbagai bentuk pakain pengantin.
__ADS_1