HUTANG NIKAH

HUTANG NIKAH
bab 1


__ADS_3

"aaaw..."


"buuuk"


"cup"


Lelaki yang kenak ciuman tak terdug dipagi langsung cegukan. tanganya memeluk erat tubuh wanita yang menabrak dan menindihnya


" Kampreeet... siapa lagi boca sialan ini... sialan banget aku pagi ni, dah kesiangan... dan nabrak boca gorilah ..."


tak hitungan menit ibunya datang


"ya tuhan. anak gadisku... mengapa kamu mengagai lelaki ni masi pagi..."


" Ya Allah... ibu ini bukan menggagahi tapi ini mabrak dan jatuh... aku dah sial ditimpali kesialan lagi dengan ucapan orang tua tak berpaedah"


"hahahaha... akaaak kok bergulat di depan rumah malu sama tetangga"


Esy yang mendengar ucapan adek dengan ibunya makin kesal


" ketawa... bantu berdiri lebih baik, dari pada mertawakan kesialan aku pagi ini"


dengan sigap Erik membatu kakaknya berdiri tapi tangan cowok itu masi memeluknya dengan erat hingga Erik tak bisa membuat kakaknya berdiri


"hey.... Begok lepaskan pelukanmu, dari pinggang kakakku begoo... kakakku tak bisa berdiri ni. cari kesepatan lo dalam kesempinatan, atau lo mau kenak gebuk hingga bonyok"


"ya elah Rik. bukan cari kesempatan tapi ketimpa durian runtuh, pagi dah dapat sarapan"


"Siapa peak, tak tahu sopan santun, dasar boca gorilah, lepaskan tangan lo atau mau aku gigit kuping lo"


orang yang kenak hujantan itu seolah bengong dan oon. tak mengindahkan apa yang di katakan Esy, Erik dan Ibunya, lelaki itu seperti berada dalam mimpi manisnya di tengah jaganya. dengan kesal Esy menggigit kupingng cowok itu dengan kuat


"Aaaaww kamu mau membuat kupingku masuk ruang IGD..."


replek cowok itu memegangi kupinga hingga pelukkan erat di pingga Esy terleps dengan cepat Erik membantu kakaknya berdiri.


Di depan pagar rumah suda terpakir mobil warna hitam, menunggu Esy untuk berangkat kekantor.


"tu kampreet udah datang, aku tak suka dengannya"

__ADS_1


"Diam lo, kalau kau tak suka setidaknya jangan mengatainya di hadapanku, dia itu bebebku"


Erik dan ibunya hanya mencibir dan tak perduli dengan ocehan putri tertuanya. sebenarnya dia tak suka dengan gelagat miko yang sombong dan memandang rendah keluarga mereka. tapi mengingat usia anaknya sudah tak mudah lagi dia tak terlalu melarang.


" Ibu, Erik! aku berangkat Assalamulaikum"


" Waalaikummusalam"


Sebelum melangka dia sempat-srmpatnya menginja kaki lelaki yang dia tabranya tadi


" Hahaha... balasan untuk pelukan dan ciuman gratis..."


"Aaaw... dasar wanita drakulaaa"


tampa babibu lagi Esy berlari meninggalkan kekacauan yang terjadi


ibunya memandangi kepergian mobil yang membawah anaknya pergi menjau lalu dia menghela napas


"Ibu bagai mana hubungan kakak dengan kampret itu, aku tak suka dengannya. aku rasa kampret itu bukan lelaki yang baik, untuk kakak"


" Ibu harap kakakmu mendapatkan lelaki yang terbaik. andai itu baik Allah akan satukan mereka kalau tidak Allah akan mempunyai banyak hal untuk menghalanginya"


"siapa lelaki hamsoam, dan cakep ini"


" Ibu tak ingat dengan brokok Rey Prasetio admaja teman aku waktu SD dulu"


"Ya Allah, yang terus maksa untuk datang kesini hingga menuggui si tomboy"


orang yang dibilang pun berdiri dan menyalaimi Diana orang orang tua Erik dan Esy


" Pagi tante, dah lama tak ketemu. aku rindu sama sayur lode tante dan goreng tempe Ala tante, dan juga rindu ma begok Pak tara Erik mahendra drama"


Diana menaikan satu alisnya seolah menelisik


" Erik atau sitomboy ayo...."


Rey yang di goda hanya senyum-senyum hensom


"Hehehe... duanya benar te...tapi dianya tak kenal ma aku te"

__ADS_1


" Dia orangnya pelupaan. dia akan sangat sulit mengenali orang, sejak kecelakaan beberapa tahun yang lalu, dia hidup sampai sekarang adalah suatu ke ajaiban yang Allah beri"


Erik memegangi pundak ibunya


" Ibu...! Udah ayok masuk, begok ayok masuk atau pulang sana"


" Ya ela Nyet. tak ada sopan santunya lo ma tamu, yang ganteng ini"


" ganteng pala lo peak, gantengan aku lagi"


" Najis...! ganteng terlihat di ujung sedotan"


Diana mengahi perdebatan yang tak berkesudahan dan tak bermakna


" sudah... kalian berdua sama peaknya. umur uda pada 28 tak juga pada menikah"


"hahaha... peak"


dua lelaki itu menjuk satu sama lain. Diana yang melihat kelakuan dua lelaki menggeleng-geleng kepala, andai dia masi ada diantara dua lelaki yang baru bertemu itu dia akan ketularan peak, dia menuju dapur dan membersikan piring-piring kotor.


Selesai ritual bersi-bersi dia melihat peti penyimpan makanan manusia. tak ada yang bisa dimasak untuk syur lode dan tempe juga dah habis.


" Erik... rik..."


Diana mengedor-gedor pintu kamar Erik


"ya ada apa bu, kayak hansip mau nangkap orang sedang selingkuh aja"


"Anak kurang Asam, ibu dibilang hansib. temanin ibu kepasar bahan yang mau ibu masak suda skaratul maut semua"


" Kayak orang aja....yet aku kepasar ngantar ibu blaja... sekalian cari mantu untuk ibu"


Dari dalam kamar


"Apa... aku bagai mana... "


"ya. tunggu dirumahlah, mau ikut kepasar... anak mamy mana perna kepasar... tahunya barang udah jadi... dan udah masak masi komplen seperti kandelpot bocor"


" Ah banyak bacot lo ember bocor... aku ikut. aku tak mau sendiri"

__ADS_1


mereka berangkat mengunakan mobil Rey. karena Erik biasa mengantar ibunya menggunakan motor, karena mereka mempunyai mobil hanya satu itupun untuk keperluan Ayah mereka. itupun mobil harga 100 jutaan aja, mereka terbiasa hidup sederhana karena Ayah mereka mendidik mereka hidup sederhana, sederhana bukan berarti miskin, harus memamfaatkan sebaik-baik mungkin uang ataupun harta yang mereka punya untuk hal bermamfaat. Karena ayah mereka adalah pensiunan militer yang kini menghabiskan waktu dengan mengurus tokoh bekrry yang ada di pusat pembelanjaan, sedangkan ibu Diana ibu rumah tangga yang mengelolah keuangan keluarga dan mencurakan perhatiannya pada kedua anak kesayangannya. Dan Erik mengikuti jejak Ayah menjadi menjadi TNI, yang bertuga di jalur perdamain di Libia atau Lebamon dan sekarang dia suda ditarek kembali kekesatuanyan dikotanya dan sekarang masa-masa liburnya 2 minggu sebelum dia kembali kekesatuannya beruntung sekarang dia di tempatkan di kotanya dan tak jauh dari rumahnya. sedangkan Esy bekerja di prusahaan yang bergerak gerak dibidang tektil di bagian akontink, itulah gambaran kehidupan sederhana keluarga darma, karena ayahnya bernama Eko Darma. Erik dengan Rey memang jarang bertemu semejak mereka pisa di bangku SMPN tapi mereka tetap menjaga komunikasi, Karena Rey harus masuk ke sekolah Elit dan berkelas. Erik masuk kesekolah negeri yang tak jau dari rumah untuk menghemat uang jajan. karena waktu itu ayahnya gaji pas-pasan untuk kebutuhan dan untuk menabung menyisihkan uang untuk keperluan yang tak terduga. karena mereka hanya mengandalkan gaji Ayahnya yang tak seberapa sedangkan ibunya ibu rumah tangga biasa.


__ADS_2