
Umm....gk tahu mau kasih sambutan apa. Lanjut aja deh.
________________
Tapi bukan berarti kita pasrah" sambung Key
"Kenapa malah jadi melo gini kalian?" tanya Key menatap satu persatu temannya.
"Kamu yang mulai Keyyy" kata Ajeng dengan muka datarnya.
"Salah kalian dong, ngapain baper. Orang cuma kata kata" kata Key
"Ardi, ngapain juga ikut baper? Baru tahu aku, ternyata seorang Ardi bisa baper" Sambung Key, temannya sontak tertawa mendengar Ardi baper. Dia adalah seorang laki laki yang bomat terhadap apa saja kecuali pelajaran.
Dia juga lebih sering bahkan selalu bergaul dengan perempuan ketimbang laki laki. Kalo di bilang banci juga belum memenuhi standar. Kalo di bilang laki laki juga nggak pantes.
"Ngakak aku denger Ardi baper"
"**** baper"
"Iya, serasa hal baru yang lucu"
Sahut beberapa teman Key dengan tawa menghiasi wajah mereka. Sedang si empu nya hanya mengendus kesal menatap Key.
"Eh eh" potong Key
"Nanti halal bi halal ya?" tanya Key. Membuat Rena menghentikan tawanya sambil mengusap sudut matanya yang berair.
__ADS_1
"Iya" Rena mengangguk
"Kenapa?" sambung Rena bertanya
Key hanya berdecak kesal lalu menyandarkan punggunya pada kursi.
"Oh ya, ntar salim salim coy" sahut Ajeng
"Bayangin deh, salim salim an ama kak Rendhi" kata Rena, menangkup kedua pipinya dengan tangan yang bertumpu pada meja.
"Udah lulus bray" kata Neisya, pupus sudah harapan Rena.
"Belum lulus juga paling nggak bakal bisa salaman ama dia" kata Key
"Yoi, bisa di damprat ama kakel kita. Genit ama kating" Ajeng menyetujuinya.
Plakkkk
Sebuah sepatu melayang dan mendarat tepat di lengan Ardi. Hingga menyisakan bekas coklat di sana.
"Baju putih ini Na!" tegus Ardi. Membersihkan kotoran di lengannya.
"Woi woi woi" teriak Mila terlihat terengah engah, satu tangan bertumpu
pada lutut kakinya. Satu lagi memegang tiang pintu masuk ke kelas. Sebentar lalu menegakkan tubuhnya sambil berkacak pinggang.
"Kampret, upacara woi" perintahnya. Lalu anak anak langsung berhamburan keluar menuju lapangan.
__ADS_1
Mereka takut pada kepsek yang killer tingkat akut. Salah dikit hukum, panggil ortu, dapat pelajaran tambahan dari BK, bahkan DO. Mending kalo skors, nggk dimarahin ortu atau kesita waktu mainnya. Tinggal bilang libur, selesai.
"****, kejedot. Kepsek fucek!" umpat Neisya memagangi dahinya.
"Dia dengar, kena DO ****** kau" tegur Ajeng. Neisya langsung kicep dan terus mengusap dahinya.
💫💫💫
"Silahkan di lihat kelas masing masing di papan mading..." mendengar kalimat itu, para siswa langsung bubar barisan menuju mading.
"Hei! Kembali ke barisan semula!" seru Kepsek dengan muka garang. Para guru dan staf juga menyuruh kita menuju barisan "Dalam hitungan 3 belum kembali DO menanti!" acam kepsek itu.
"Kembali kembali, kena DO nanti" seru guru dan staf pada anak anak.
"Kepsek laknat"
"Dasar nggak da akhlak"
"Kapret lu kekep"
"Anjirrrrr"
"Fucek lu"
Berbagai umpatan langsung menjeblos dari mulut para siswa malang. Bahkan siswa baru juga berani. Padahal ada guru dan staf disana mungkin mereka bisa mendengar.
"Ada guru woi" seru Rena pada Ajeng yang menggunjing kepsek
__ADS_1
"Toh mereka denger apa nggak juga nggak bakal tahu itu siapa. Orang yang ngumpat banyak. Nggak mungkin mereka hafal, adkel kan juga ikut" kata Key, entah membela atau membatah.