
Hay hay ketemu lagi. Reviewnya lama jadi up-nya lama. Mari kita saling dukung karya orang lain. Kalau ada saran, kritik atau apapun itu sampaikan. Jangan pendam okey.
____________________
"Toh mereka denger apa nggak juga nggak bakal tahu itu siapa. Orang yang ngumpat banyak. Nggak mungkin mereka hafal, adkel kan juga ikut" kata Key, entah membela atau membatah.
"Iya juga ya" ujar Rena memikirkan kata kata Key. Ajeng memandang Rena dengan senyum sinis diwajahnya. Rena menyadari itu lalu be cengengesan ria.
"Kepsek fucek, kepsek fucek!!" sorak Rena dengan tangan kanan mengepal seperti suporter pertandingan.
"Ya nggak gitu juga kali, njirrrrr" kata Mila
"******, dilihatin kepsek" seru Ajeng. Tangannya mengambil paksa tangan Rena.
"Kena DO ****** kau" sambung Ajeng
"Sekian dari terimakasih" tutup kepala sekolah pada pidatonya. Berbalik lalu turun dari podium.
Para siswa siswi langsung menyerbu mading yang tak bersalah. Memcari nama mereka diantara lautan huruf.
"Nggak nyari nama Key?" tanya Rizki, menghampiri Key yang sedang duduk sendiri di bangku depan kelas. Cukup dekat dengan mading, tetapi ia hanya memandang teman temannya yang berjuang mencari nama mereka.
"Nggak" jawab Key singkat.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Rizki lagi. Kini ia memandang wajah Key yang menatap lurus ke mading. Rizki menampatkan sikutnya pada lutut kaki. Kedua jari tangannya di kaitkan.
"Nggak pengen" jawan Key. Lagi lagi singkat. Gadis itu memang tidak suka bicara dengan laki laki bahkan dengan teman dekatnya.
"Mau aku cariin namamu? Aku bisa-" kata Rizki berhenti setelah Key beranjak dari kursi panjang yang ia duduki. Mungkin tidak nyaman, padahal jaraknya cukup jauh. Key di ujung kiri dan Rizki di ujung kanan.
"Nggak" ujar Key tanpa berbalik badan. Hanya menggeleng. Lalu setengah berlari menghampiri Elen.
Rizki frustasi. Ia menjambaki rambutnya sendiri. Lalu menyandarkan punggungnya di kursi.
"Bhahahahahaks" tawa renyah Johan dari arah kanan membuat Rizki menoleh kesal.
"Ututu ada yang pecah tapi bukan piring. Hati Rizki hancur berkeping keping" ucap Johan sambil berpantun
"Sana lihat kelas lo dimana!" usir Nya
"IPA 3 gue" ujar Johan. Ikut duduk di samping Rizki. Entah kenapa kini suaranya menjadi nada sedih.
"Napa?" tanya Rizki
Johan nyengir menanggapinya
"Gue pernah baper ama dia. Dia diem tapi biasa tahu semua. Jadi kaya diem tapi perhatian" kata Joham jujur
__ADS_1
"Apa? Sama Key?" Rizki terkejut dengan pengakuan Johan.
"Cuma baper belum suka" terang Johan
💫💫💫
"Kita sekelas lagi Key" sorak Elen memeluk erat tubuh Key. Gadis itu memang sangat pendiam tapi Key terkecuali baginya.
"Horeee aku kelas IPA 1" sorak Ardi di samping keduanya.
"Jelaslah kau rangking paralel, Di" kata Key
"Iya iya rangking satu paralel kelas sebelas smansa" ledek Ardi meski itu adalah suatu kebanggaan
"Iri bilang" ujar Key. Ia menarik Elen menjauh dari Ardi. Menuju kelas, mungkin mengambil tas bersiap untuk pindah.
"Hei tungguin lah" pinta Ardi sambil mengejarnya. Key langsung berhenti dan menunggu Ardi.
"Fiuhhh, untung belum nangis" ujar Key dengan teganya. Elen menertawakan Ardi, hingga terpingkal pingkal dan memukul mukul Key.
"Kirain buat apa nungguin Ardi, eh ternyata" kata Elen disambung tawa.
"Sepatu masih ada lhoh Key" ancam Ardi. Mengambil ancang ancang akan melepas sepatu.
__ADS_1