
Like dunggggg 👍
__________
"Coba kalian kasih sesuatu ke orang yang kalian sayang, dan orang itu nolak mentah mentah. Apa yang kalian rasain? Serasa nggak berguna. Nggak bias apa apa. Serasa hubungan kalian diputusin. Walaupun itu ke teman atau sahabat" sambung Key
"Hajar Key" kata Rena menyemangati
"Tapi dia ada hak nolak kan?" sahut Elen dengan suara pelannya. Tapi cukup untuk mereka ber tujuh mendengar. Semua menatapnya. Ia benar juga kan? Batin teman teman Elen
"Nah itu, mau jawab apa lu?" tanya Hanung, ia melirik satu persatu gadis dihadapannya.
"Ya terserah dong dia mau nolak atau terima. Hak hak dia juga kan? Napa kalian maksa? Terima aja kenyataannya" sambung Hanung dengan memainkan tangannya yang masih merangkul Arka.
Satu paragraf dari Hanung membuat lawan mainnya terdiam seketika. Sedikit pedas akan tetapi ada benarnya.
Sedang Arka masih setia menyusupkan tangannya ke dalam saku celana. Kegiatan seperti ini sudah cukup biasa baginya.
Ya mungkin itu yang menyebabkan Hanung sangat pandai berbicara.
"Ya serah kita lah. Kita mau atau nggak terima hak hak kita juga" kata Key membalikkan kalimat Hanung.
Key kini mendapat applause dari temannya. Eh, lebih tepatnya standing applause karena pada berdiri kan.
"Mateb Key!"
__ADS_1
"Hajar Key!"
"****** lu!"
"Hayoh mau jawab apa?"
Begitulah kata kata dari temen Key. Agak lega karena kelomlok mereka tidak kalah.
"Ka! Gantian dong" pinta Hanung yang kehabisan kata kata.
Arka mengeluarkan tangannya dari saku. Menghela nafas dengan kasarnya.
"Bodoamat" satu kata dari Arka. Ngenak banget. Lalu menerobos penghalang didepannya.
"Anjayyyyyyy" ujar Rena sambil menggelengkan kepala.
"Dari tadi gitu napa? Nggak usah debat kan tadi" kata Hanung. Ia kini menatap deretan gadis dihadapannya. Melipat tanganya didada, lalu menyeringai dengan senyuman sinis.
"Hahay, gw menang cuyyyy. Siapa suruh lawan kita ha?" tanya Hanung lalu pergi mengikuti Arka.
"Dasar fucek" umpat Mila kesal disertai jari tengahnya.
"Santai Jeng ada kita" kata Neisya menyemangati Ajeng. Tangannya menepuk nepuk pundak Ajeng agar ia lebih tenang.
"Hmmm, untung lu sayang dia Jeng. Kalo nggak udah gua ajak war tuh bocah" sahut Rena kini ia mlipat lengan bajunya ke atas.
__ADS_1
"Hai guyssssssss!!!!!" Seru Rizki mengagetka semua yang di sana. Ia datang bersama Johan.
"What the fak" ucap Rena menatap sinis Rizki.
"Eh Jojo!" sambung Rena setelah tahu kedatangan Johan. Lalu ia menyodorkan snak yang ia janjikan.
"Nih Key" kata Rizki sambil menyodorkan sebatang coklat. Key menatapnya bingung.
"Sebagai permintaan maafku. Gara gara aku kamu telat jajan" sambungnya kini menunduk.
"Ehemmmmm, Februari masi lama cuyyyyy" kata Mila.
"Tembak aja Kol!" usul Ajeng
"Muattamu. Ngasih ini aja dia perlu persiapan sehari semalam" kata Johan. Sebentar lalu menutup mulutnya dengan tangan. Yang lain menatapnya heran.
Berbeda dengan yang lain, Rizki menatapnya dengan tatapan sinis dan membunuh. Sedang Key menatapnya dengan penuh introgasi dari pernyataan Johan.
"Jadi kejadian itu udah direncanain?" tanya Key. Dan membuat semua tersadar kenapa tatapan mereka berbeda.
"Pfff, ****** lo ketahuan" olok Ajeng
"Mau jawab apa lu" kata Rena menambah hawa panas.
"Ummmm, mak-maksudku si Kolkol nyiapin ini udah lama. Dan dia bingung mau kasih kapan. Dan kebetulan dia ada salah ama kamu ya ku suruh sekarang" terang Johan.
__ADS_1