Idola Di Kelasku

Idola Di Kelasku
Rooftop


__ADS_3

"Percayalah cinta lebih menarik dari pada harta"~Arka


_________________


Di atap sekolah. Tempat favorit Key menuangkan imajinasinya. Buku gambar dan alat tulis menemani tangan mungilnya.


Krieettt..


Key menoleh karna mendengar suara seseorang yang membuka pintu. Arka. Teman sekelasnya. Cukup diidolakan banyak dari temannya. Pintar? Harusnya, tetapi tak begitu selera dengan pelajaran.


"Gue keluar aja, gue udah selesai" kata Key, pura pura. Padahal dirinya sangat betah disini dan gambarnya jauh dari kata selesai.


"Lo bisa pake.. " ke melihat tangan Arka. Membawa seputung rokok yang sudah menyala. Lalu beralih melihat wajahnya. Kusut, lesu, kosong. Itulah keadaannya sekarang.


"Nggak gue yang pergi aja" ujar Arka.


"Enggak, lo yang disini aja. Gue udah kelar gambarnya, gue mau ke kelas aja nyamperin Elen" Alibi Key. Melihat Arka yang diam saja sambil menoleh ke arahnya, seolah bertanya untuk apa Key berkata seperti itu? Bukankah dia seorang yang jarang bicara dengan orang lain selian teman dekatnya.


"Kenapa gue nggak bilang jujur aja apa yang ada di pikiran gue?" gerutu Key dalam hati


"Lo disini aja, kelihatan banget kalo lo lagi frustasi. Lo butuh ketenangan. Cuman disini yang jarang ada anak anak. Atap lain pada di pake bolos" kata Key dengan lirih. Akhirnya dia bisa mengatakan apa yang ada di pikirannya.


Arka berbalik, berdiri di samping Key.

__ADS_1


"Tenangin diri lo dulu disini. Jangan sampe lo lampiasin ke temen temen lo." nasihat Key. Namun Arka tetap seperti tadi. Tak ada respon.


"Ya jelas tambah frustrasi lah Key kalo lo nasihatin. Harusnya lo hibur" Batin Key lagi. Menyesali kata kata yang ia ucapkan tadi.


"Tuh lihat ada pohon cemara. Punya daun lagi ngakak kan" katanya sambil menunjuk pohon cemara dan tertawa.


Arka masih diam. Key menyadari kebodohan dari kalimatnya tadi. Sudah jelas pohon cemara punya daun, kenapa Key tadi berkata seolah olah itu hal yang aneh?


"Duh kog gue be*o sih?" rutuk Key dalam hati. Menepuk nepuk jidatnya.


"Pfftt, be*o banget ya?" Arka menertawakan Key.


Key menatap Arka yang tertawa ringan. Ternyata kebegoan seseorang itu adalah hiburan bagi orang lain.


"Lo nggak tahan asap rokok?" tanya Arka. Membuang rokoknya jauh jauh. Key masih menutup mulut dan hidungnya. Dan juga batuk batuk.


"Lo bawa tisu kan?" tanya Arka


Key menyerahkan tote bag hitamnya. Ia selalu membawa tisu untuk keperluan menggambar. Biasanya untuk mendussel.


Arka mengambil tissu beberala lembar. Membasahinya dengan air yang ia bawa.


"Tutup pake ini. Kalo lo nggak tahan asap rokok trus sering ketemu perokok , sering sering bawa tisu basah. Tutup hidung lo pake itu" pesan Arka. Mengembalikan tisu kedalam tote bag Key.

__ADS_1


Key mengerutkan dahi dan menatap aneh Arka. Bagaimana Arka bisa tahu cara cara itu?


Arka tahu arti gestur wajah Key. Ia menghela nafas, memandang langit biru di atasnya. Key ikut memandang langit, mungkin ada sesuatu di sana seperti pesawat lewat atau plenat venus yang masih terlihat atau hewan terbang.


"Gue juga nggak tahan asap rokok" terang Arka


"Ha?" Key terkejut


"Lhah trus ngapain bawa rokok? Lu be*o apa b*do sih?"


"Kata temen temen gue, kalo lagi bad mood atau frustasi mereka nyebat. Katanya bisa bikin tenang, enjoy, gitu" Arka terus terang


Key mengedipkan mata berkali kali. Tak habis pikir dengan cowok ini.


"Lo nggak tahan asap rokok. Dan elo mau ngerokok? Gobl*k banget sih?" ceplos Key


Key langsung menutup mulutnya, dia sudah lancang mengatakan "gobl*k" tadi.


"Eh, maaf" kata Key. Masih menutup mulutnya. Key lalu beranjak pergi dari sana.


"****** lo Key. Keceplosan. Anak CEO ituuu be*oo" Rutuk key


***

__ADS_1


Like yaa, jangan lupa :-)


__ADS_2