Illusion & Magic jilid 1: Menggapai Kenangan yang Tak Tertahankan

Illusion & Magic jilid 1: Menggapai Kenangan yang Tak Tertahankan
Episode 10


__ADS_3

Aku melihat statusnya sekali lagi.


<<【】>>


Name : None Type : Humanoid Species : Toxilion Ape Level : 50 Rank : B


Life : 2.000/2.000 Ether : 1.500/1.500 Strength : 800(2.000) Vitality : 900(1.500) Defense :


700(1.500) Agility : 800(1.000) Accuracy : 650(700) Intelligence : 1


Art : · Strengthening · Poison Breath


Ability : · Hand To Hand Combat LV 7


Scared Ability : -


Equipment Ability : -


‘Curang’-- Adalah kata yang kurang lebih tepat untuk mengungkapkan esensi khusus dari cahaya kemerahan yang menyelimutinya. Str, vit, def, agi dan acc-nya meningkat dalam suatu tingkatan yang akan kamu sebut sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Apa-apaan itu strength 2000? Dia ingin membunuh kami dalam satu pukulan? Jangan main-main! Seluruh statusnya kecuali intelligence mendapatkan peningkatan angka yang tidak masuk akal!


Hanya karena【Strengthening】... hanya karena itu. Itukah kartu as-nya? Tetapi hal seperti itu pastinya memiliki suatu kelemahan. Satu kelemahan yang tidak kutahu, yang tidak dapat dilihat dengan skill 【Analyze】 milikku, sehingga aku harus memutar otakku dengan keras untuk mendapatkan jawabannya.


Apa yang seharusnya kulakukan? Apa yang sebaiknya kuperbuat? Berpikirlah! Apa yang ingin kupikirkan? Strategi? Taktik? Untuk apa? Melawan? bertahan? Lari? Jika aku memilih untuk melawan, apakah kami akan menang? Jika aku memilih bertahan, apakah kami akan selamat? Dan jika aku memilih untuk lari, apakah monster itu akan melepaskan kami?


Menjengkelkan, yah? Untukku yang tidak dapat memikirkan sesuatu yang seharusnya mampu kuperbuat... orang tolol macam apa aku ini?


Toxilion Ape mengambil kuda-kuda dengan kedua kakinya, meminjak tanah di sekitarnya, dan melepaskan kumpulan tenaga seketika. Tanah berdebu mengepulkan partikel-partikel coklat muda di udara. Kilasan angin tercipta berkat kecepatannya yang telah meningkat tajam.


Suara angin dapat didengar dari tempatku. Dan monster itu, Toxilion Ape melucur menuju dua orang di sebelah timur, berlawanan dariku yang ada di sisi baratnya. Ia mengepalkan telapak tangannya sedikit ke belakang di samping kepalanya. Bersiap-siap melepaskan kumpulan energi itu dalam bentuk pukulan yang kuat.


Menyadarinya aku membuat langkah yang sama dengan monster itu. Pihak terkait yang menjadi targetnya, Hajime dan Kyoka bergerak secepat yang mereka bisa. Tetapi, Kyoka bukanlah tipe orang yang dapat bergerak dengan cepat. Mengetahui fakta itu Hajime mendorongnya jatuh menabrak tanah di sebelah kanan. Memanfaatkan sisa gaya dorong yang kuat, Hajime mencondongkan dirinya ke kiri, menghindari hempasan tenaga itu dan tetap berusaha untuk berdiri.


- BAAMM!!


Sekilas kawah sedalam 0,5 m tercipta dari tanah yang sebelumnya datar. Tempat dimana Kyoka dan Hajime berdiri sebelumnya berubah membentuk cekungan tanah horizontal berkat hantaman keras yang terjadi. Dan monster itu, Toxilion Ape lagi-lagi menunjukkan niatnnya untuk menyerang.


Ia merubah arah tubuhnya ke kiri 90 derajat, menghadap Hajime yang masih tidak dapat memberikan respon tepat waktu untuk membuat pergerakan.


Ia hanya tercengang, wujud kekhawatiran tampak sekilas dari raut wajahnya. Toxilion Ape kembali mengangkat tangannya, membentuk simpanan energi di dalam kepalannya. Namun 1 detik kemudian aku telah berdiri di hadapan mereka, bersamaan dengan hantaman energi yang bertabrakan dengan pedang satu tanganku.


- KLANG!


Efek dorongan yang terjadi mendorongku ke arah Hajime, membuat kami terpental beberapa meter ke belakang.


- Akan kukerahkan segalanya...


Tangan, kaki, anggota badan yang lainnya, nyawa, bahkan akan kukorbankan jalanku sebagai seorang pendekar pedang sekali lagi. Yang bilang ingin melindungi mereka siapa? Yang bilang ingin tetap bersama dengan mereka siapa? Yang bilang tidak ingin kehilangan mereka siapa? Aku, kan? Karena itu, aku harus mengerahkan segala yang kumiliki. Agar tidak kehilangan sesuatu yang berharga bagiku. Aku berdiri meskipun itu sulit.


"Hajime, kaumasih punya tenaga?"


"Hnh~” dia mendengus. “kausaja masih bisa berdiri, tidak masuk akal kenapa aku harus kehabisan tenaga."


"Baguslah kalau begitu. Gunakan【Detecless】dan pergi ke tempat Kyoka. Bantu aku dari belakang."

__ADS_1


Ia berdiri, menampilkan sebuah ekspresi kekhawatiran, berusaha menebak apa yang kurencanakan.


"Kautidak berniat untuk bunuh diri, kan?"


"Hnh~” Aku mendengus. “orang sepertiku masih terlalu cepat 1000 tahun untuk bunuh diri, kautahu?"


"Bagus kalau begitu. Kaumasih berhutang pernyataan cinta itu, paham?"


"Tidak apa, pergilah. Aku tahu itu."


"Jangan sampai mati."


【Detecless】 Hajime kembali aktif. Di saat yang sama Toxilion Ape bergerak ke arahku, ia melangkah pelan satu, dua kali, sebelum mengambil kuda-kuda dan meluncurkan dirinya. Tanah berdebu mengepulkan partikel-partikel coklat muda di udara. Kilasan angin tercipta berkat kecepatannya yang telah meningkat tajam sejak 【Strengthening】 -nya aktif. Efek anginnya dapat kurasakan meskipun jarak kami masih terpisahkan beberapa meter. Aku mengangkat pedangku membentuk posisi bertahan, menguatkannya dengan kedua tanganku dan membakar tekad dan jiwaku menjadi energi.


- KLANG!


Pertukaran kekuatan yang terjadi membuat basis pijakanku hancur seketika, mementalkanku empat, lima meter ke belakang.


- Aku harus melindungi mereka.


Berbekalkan tekad itu, aku mencoba berdiri sekali lagi, membentuk pedangku sebagai penopang berat dan mengangkat tubuhku sekali lagi. Aliran darah tercipta di kepalaku, mengalir menuruni mataku dan membentuk sebuah perasaan panas dari luka di permukaan kuliit, tetapi aku berusaha untuk tidak terlalu mempedulikannya. Satu-satunya yang menjadi pemikiranku hanya ada satu. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan apapun selain itu.


Satu kali lagi, aku melihat Toxilion Ape meluncur ke arahku. Bersamaan dengannya, sebuah anak panah yang masih dapat kulihat meluncur dari belakang monster itu, menabrak Toxilion yang sama sekali tidak tahu apa dan siapa yang baru saja menyerangnya.


Memanfaatkan tembakan Hajime, aku mengaktifkan【Plants Creator】pada rerumputan di sekitarnya, melilit tubuh monster itu penuh hingga kepalanya. Empat dinding tanah seketika terbentuk mengelilingi Toxilion, mengurungnya dalam sebuah penjara tanah empat sisi.


Suara ledakan terdengar satu detik kemudian. Warna kemerahan yang menandakan api menyelimuti tempat di sekitar Toxilion. Aku berlari ke arahnya secepat yang kubisa.


"AAAAAAARGH!!"


Kepala Toxilion membuat satu kali anggukan cepat karena itu. Aku mengubah arahnya lagi, memutar tubuhku mencoba menendang pipinya dengan kaki kiri. Tetapi apa yang kurasakan setelahnya jauh lebih keras dari sekedar pipi-- Tanpa kusadari tangan Toxilion telah melepaskan diri dari genggaman pedangku. Kemudian, ia mengayunkan tangan itu ke arahku.


Dengan sekuat tenaga aku menarik pedangku kembali dalam mode bertahan. Suara hantaman terdengar setelah itu. Dengan diriku yang masih di udara, pertukaran kekuatan terjadi, aku terpental empat meter lebih jauh dari sebelumnya, tubuhku berputar ke belakang di atas tanah satu kali- Sebelum dengan sebaik mungkin berusaha mengambil posisi sebagai pendaratan terakhir.


"Sekarang, Kyoka, Hajime!"


Lusinan anak panah Hajime tembakkan terus-menerus menuju Toxilion. Bola api, air, angin dan tanah menghujani Toxilion satu per satu. Sekali lagi gadis itu berlari mendekati Toxillion, menjulurkan tongkat sihirnya ke arah monster itu, mengucapkan kata terakhir dari susunan kalimat mantra sihirnya,


"Bersinarlah—Light!"


Sebuah cahaya dengan intensitas tinggi tercipta membutakan kedua mata Toxilion. Dalam celah dan waktu yang mereka buat, aku berlari ke arahnya.


"RRAAAAAAAAA!!"


Menyadariku, Toxilion berusaha sebaik mungkin untuk menggerakkan satu-satunya tangannya yang masih memiliki bagian telapak tangan. Tetapi apa yang yang dia usahakan sama sekali tidak dapat terjadi.


Diselimuti cahaya kehitaman, rumut tumbuh melilit hampir seluruh tubuhnya kecuali kepala. Aku tahu tingkat str yang telah meningkat sebanyak itu tidak akan cukup untuk merusak rumput-rumput yang kutumbuhkan- Karena terdapat sihir hitam Kyoka di dalamnya, yang memberikan debuff utuk menurunkan semua statistik Toxilion, membuatnya kehilangan separuh dari kekuatannya. Satu tebasan pedang kulancarkan kepadanya.


"【Asterial Stlye: Double Sword】!"


Bersamaan dengan rumput-rumput yang telah terpotong, dua tangan Toxlion terlempar ke udara. Ia melihatku dengan amarah yang menakutkan, raungan bernada tinggi terdengar puluhan meter menyelimuti area ini. Lusinan anak panah menargetkannya, mengenai kepala Toxilion termasuk kedua matanya. Ia meraung sekali lagi.


Dengan bentuk mukanya yang sudah rusak seperti ini bahkan masih tidak cukup untuk membunuhnya... aku penasaran seberapa tinggi ketahanan hidup monster ini.

__ADS_1


Kemudian, dalam keputusasaan, ia berlari menuju tempat Kyoka dan Hajime. Berhenti sekitar 10 m dari mereka, Toxilion mengambil nafas dalam. 'Gawat' ‘bahaya’--- Hanya itulah yang kupikirkan.


Itu, gerakan itu adalah--- Aku berlari secepat yang kubisa. 'Semoga sempat' sempatlah, lebih cepat, lebih cepat.


Mendapati pemikiran yang sama denganku, Hajime memeluk Kyoka dan membelakangi Toxilion dengan punggungnya. Erangan terdengar dari Hajime. Sevolume udara dari【Poison Breath】keluar dari mulut Toxilion.


Menyadari kakaknya yang mencoba untuk melindunginya, Kyoka melihat pemandangan itu dengan kecemasan besar. Kumohon, lebih cepat, sempatlah.


"Aria~!!"


Teriakan spontan Kyoka adalah hal terakhir yang ia pikir menjadi permohonannya. Namun dalam selang waktu satu, dua detik yang telah berlalu, hanya seberkas sisa zat gas keunguan yang mengarah bahkan tidak sama sekali menyentuh mereka.


"【Asterial Stlye: Whinreel Sword】!"


Putaran pedang berwarna giok menepis gas itu seperti sebuah kincir angin. Meski begitu sedikit bekas volume dari gas racun tetap dapat kurasakan. Aku menahannya, aku harus kuat. Menggunakan semua keinginan dan tekadku untuk melindungi mereka, aku berusaha sebaik mungkin untuk menahan perasaan tidak nyaman yang setiap kali membuatku ingin jatuh ini.


"Kalian baik-baik saja?"


Hajime dan Kyoka meregangkan otot mereka menyadari nafas beracun yang tidak pernah datang tidak peduli berapa lamapun mereka menunggu. Mendengar suaraku, mereka melihat ke arah tempatku berdiri. Aku tersenyum masam memperlihatkan gigiku seolah menikmati hal ini sebagai sebuah permainan-- Meskipun mereka bahkan diriku sendiri tahu ini adalah senyuman biasa Hajime yang menandakan suatu kesombongan.


"Aria~!!"


"Bodoh-- Apa yang kaulakukan?!"


Aku mendengar mereka memanggil namaku- Tidak, lebih tepatnya memarahiku jika itu Hajime. Hajime, Kyoka, aku bersyukur kalian baik-baik saja. Setelah tiga, empat detik berlalu, art Toxilion:【Poison Breath】berhenti. Mengikutinya aku menghentikan putaran pedangku. Kakiku seketika berhenti menunjukkan respon apa pun, tubuhku terjatuh lemah. Hajime berhasil menangkapku sebelum seluruh tubuhku sempat menyentuh tanah yang keras, ia memarahiku sekali lagi,


"Bodoh! Kenapa kau mengorbankan dirimu lagi?! Kita sudah membicarakannya, kan...?! Hey, Aria... kenapa....?"


Hajime menampilkan ekspresi sedih yang sangat jarang kulihat meskipun dalam hubungan kami yang sudah sangat lama. Kausendiri... kenapa kaumembuat wajah seperti itu? Harusnya kauitu lebih... ceria, Hajime. Haha~


"... Maaf, tubuhku bergerak sendiri... tapi aku bersyukur kalian baik-baik saja."


Kyoka membuka mulutnya yang terdapat sedikit bercak darah di bibirnya. Lagi-lagi ia memarahiku,


".... Bodoh, tolol, jangan berkata kami baik saat kausendiri tidak merasa baik... itu menyakitkan... Aria..."


Aku tidak tahu hal spesifik apa yang memberinya perasaan sakit itu, tetapi apa yang kurasakan saat melihat mereka baik-baik saja adalah sebuah perasaan lega. Perasaan sakit yang Kyoka maksudkan menguap dalam bentuk cairan hangat dan membasahi matanya, mengalir melalui pipinya dan mengubahnya dalam bentuk tetesan yang disebut dengan air mata. Sekali lagi, raungan itu terdengar.


"ROAAAARRR"


Aku berdiri. Aku harus... melindungi mereka. Meskipun aku tidak yakin apakah sisa tenagaku masih cukup atau tidak untuk bertarung, tetapi, meski begitu, aku harus melindungi mereka. Aku tidak mau kehilagan lagi. Aku sendirilah yang harus menjaganya. Aku sendirilah yang harus memperjuangkannya. Dan, aku sendirilah yang harus berkorban untuknya.


Aku berusaha mendirikan badanku dengan segala rasa sakit dan sisa tenaga yang kumiliki.


Aku tahu kakiku gemetaran. Aku tahu mataku sudah terlalu lelah untuk tetap mempertahankan kesadaran. Dan, aku tahu tangan ini sudah mencapai batasnya untuk mengayunkan sebuah pedang. Meski begitu, aku tetap berdiri. Aku berdiri membelakangi mereka. Kakiku yang gemetaran seketika kehilangan kekuatanya. Hampir saja aku terjatuh, sebelum menancapkan pedangku ke tanah dan meggunakannya sebagai tumpuan untuk berat badanku.


"Hei... kenapa...? kenapa kaumasih sanggup berdiri, Aria? Kenapa kautidak istirahat saja? kumohon, berhentilah. Sisimu yang seperti ini membuatku kesal. Kenapa kaumelakukannya sampai sejauh ini? Aria.."


Hajime menangis. Bahkan dalam bertahun-tahun sejak kami bersama, aku tidak ingat kapan terakhir kali Hajime meneteskan air matanya. Kenapa kali ini kaumenangis? Kenapa kaumelihatku seperti itu? Tapi aku tetap harus menjawabnya dengan benar.


"Aku sendiri juga tidak tahu. Tapi, itu... kautahu? Seolah kita butuh alasan saja, memang apa salahnya kalau kita menolong teman kita tanpa alasan?"


Kyoka yang berserukan isak tangisan mengatakan sesuatu padaku,

__ADS_1


"Kenapa kaubilang begitu... jangan jadikan perasaanmu untuk berjuang dan memaksakan dirimu. Serahkan saja ini pada kami, Aria. Kamu istirahatlah, apa begitu tidak bisa...? kumohon..."


Aku menggeleng lemah satu kali, dua kali, menatap langit biru tanpa banyak awan di atas sana. Kemudian tersenyum. Tersenyum yang lebar. Di saat seperti ini aku harus tersenyum. Cara terbaik dalam menghadapi masalah, mengurangi rasa takut, dan menyembunyikan rasa sakit-- Mengubahnya menjadi sesuatu yang akan memberiku tekad dan keberanian untuk terus bertarung. Langit biru tanpa banyak awan itu memberiku keberanian. Karena itu, aku mengatakannya,


__ADS_2