
“Nah, Feyrish... Dulu seorang temanku pernah mengatakan sesuatu kepadaku, bahwa ada satu cara untuk mengubah ketidakmungkinan menjadi mungkin.”
『 Hm... bagaimana caranya? 』
“Satu-satunya cara untuk mengalahkan ketidakmungkinan adalah dengan mempercayainya bahwa itu mungkin, begitu katanya.”
--!? Bodoh sekali apa yang Aria- Bukan, temannya katakan itu. Bagaimana bisa kita menang hanya dengan percaya bahwa ‘kita bisa menang’? Tentu saja kita butuh usaha untuk mencapainya, dengan taktik dan strategi yang matang, dan kemampuan bertarung yang mencukupi, tentunya.
Yah, kupikir akan sulit untuk melakukan sesuatu jika pada awalnya sudah berpikir bahwa hal itu mustahil, karena tekad yang mendasari tidakan itu sendiri akan perlahan-lahan menghilang, dan membuat kita malas untuk berusaha dengan sekuat tenaga kita.
Tapi dengan mempercayai bahwa menang melawan ratusan aether itu adalah hal yang ‘pasti’, bukanlah selalu menjadi hal yang baik juga. Meskipun itu memberikan kita keberanian karena mempercayai adanya harapan, hal itu juga membuat kita terkadang menjadi lengah dan kurang waspada, sehingga sesuatu yang buruk kadang terjadi.
“Hey hey, kamu yang di sana, apa dari tadi kalian membuat komunikasi jarak jauh?” Lilith membuat dugaan mengenai tindakan Aria yang seolah berbicara sendiri. “Itu item kualitas tinggi, iya kan? Seperti apa itemnya? Bisa tunjukkan padaku sebentar? Ah, benar juga, bagaiamnapun juga itu akan jadi milikku, jadi lebih baik jika aku melihatnya sendiri nanti. Baiklah, bagaimana jika langsung kumulai saja sekarang? Pembantaiannya.”
『 Hey, bagaimana denganmu, punya rencana tidak? 』Tanya Aria melalui item telepati.
『 Hu~uh... yang bilang ‘tidak bisa mereka kalahkan’ tadi siapa? Aku ingin tahu bagaimana
reaksi Lilith jika mendengar hal ini. 』yah, kurasa bukan hal yang baik juga dengan mempeributkan itu sekarang.『 ... Tapi, rencana, kah? Jujur saja, aku sudah memikirkan banyak hal di kepalaku, sayangnya tidak ada yang bisa dipakai, satupun. 』
『 Ha~ah... kalian ini menyedihkan seperti biasa ya? 』Tiba-tiba Blue masuk dalam pembicaraan, suara anak kecilnya terdengar melalui telepati.『 dengarkan, kalian berdua... ----- 』
~**~
Ratusan aether mengelilingi tempat laki-laki itu berdiri, dan menyerang mereka satu per satu. Meskipun jumlah mereka ada ratusan, laki-laki berlevel rendah itu tetap memberikan perlawanan pada mereka, ia menggunakan scared ability:【White Flame】, dengan buff【kelincahan】pada sepatu butnya, buff【kecepatan】pada sarung tangannya, dan buff【kekuatan】pada pedangnya.
Terkadang, laki-laki itu juga menggunakan scared ability lainnya:【Plants Creator】yang menumbuhkan rumput dan menjerat kaki mereka, atau mengunci mereka, untuk ia tebas dangan pedang pada akhirnya.
Meskipun jumlah musuhnya mencapai ratusan, keseluruhan dari mereka hanya aether rank F sampai D, yang kebanyakan dapat laki-laki itu kalahkan dengan sekali tebasan.
Aku mengamati pergerakannya dengan intens, melihat kapankah waktu yang tepat untuk mendukungnya—mencari di antara celah-celah yang ia tinggalkan dan mengisinya dengan anak panah dan skill untuk membantunya.
Aku terus-terusan menembakkan panahku untuk melindunginya. Seperti halnya laki-laki itu yang menggunakan【White Flame】sebagai buff untuk meningkatkan kemampuannya, anak panah yang kutembakkan juga mengandung tambahan perintah untuk memperkuatnya, seperti【kekuatan, kecepatan, akurasi, ledakan, api, es, angin, listrik, kekerasan, ketahanan, ketajaman】dan lain sebagainya.
【Magic Card】memiliki banyak kelemahan dalam pemakaiannya, antara lain adalah waktu hitung mundur untuk penggunaan perintahnya masing-masing. Sebagai contoh, perintah seperti 【kekuatan, kecepatan, dan ketajaman】 tingkat 1 memiliki cooldown(hitung mundur) 20 detik dengan bonus pemakaian instan 3 kali- Maksudnya, aku bisa menggunakan buff tersebut 3 kali tanpa perlu menunggu waktu cooldown-nya berakhir, seperti ketika melawan Lilith dan makhluk summoning-nya beberapa saat yang lalu, namun setelah melewati batas 3 kali itu, cooldown 20 detik dikenakan sebelum dapat memakainya kembali.
“Tch. Mereka tidak ada habisnya. Feyrish, bukakan jalan untukku!”
“Terserahlah. Aku tahu kaukuat tapi tetap jaga dirimu, jangan sampai mati.”
Meskipun aku suka menggunakan telepati karena mudah dan tidak merepotkan, terkadang aku berhenti menggunakannya. Karena tidak ada seorangpun di sekitarku yang bisa mendengar suaraku, jadi aku tidak perlu memakainya. Berbeda dengan Aria yang suaranya bisa di dengar dengan jelas oleh Lilith, sebagai musuh kami, jika dia mendengar pembicaraan Aria, aku dan Blue mengenai strategi untuk melawannya, tentu saja itu bukanlah sesuatu yang bisa dibilang baik.
Tapi Aria tentu saja paham dengan baik sesuatu seperti ini, sehingga ia tidak akan membocorkan apa pun yang sifatnya tidak boleh ‘pihak musuh’ ketahui kepada Lilith.
__ADS_1
Sebisa mungkin, aku menghabisi aether-aether yang menghalangi jalan Aria menuju tempat Lilith berada. Waktu itu ketika Aria bertanya, Blue berkata:
『 Aku sudah hidup jauh lebih lama ketimbang kalian, dan sudah pernah bertempur jauh lebih sering dibandingkan dengan kalian juga, dan sudah tak terhitung betapa banyaknya aku membuat strategi untuk mencuri kemenangan. jadi dengarkan aku baik-baik, taktik di lapangan bukanlah sederetan rumus, dimana kamu bisa mendapatkan hasilnya hanya dengan memasukkan variabel-variabel ke dalam persamaan tersebut. Ada begitu banyak hal yang bisa saja terjadi, sehingga prosesnya akan berubah. Dan ketika prosesnya berubah, tentu saja hasilnya juga akan berubah. Tapi kita terkadang terpaksa harus mengubah rencana kita karena perubahan yang terjadi itu, karenanya, kita harus membuat rencana inti sebelumnya. Ketika ini yang terjadi, maka seperti inilah penanganannya. Ketika itu yang terjadi, maka seperti itulah penanganannya. Tentu saja ada pengecualian. Tapi pada akhirnya, rencana hanyalah opsi untuk membantu kita melakukan berbagai hal. 』
Aria menerjang maju menuju Lilith, melalui jalan yang telah kubersihkan dari aether. Terkadang satu atau dua aether yang tidak sempat kubersihkan menyerang Aria, yang akan pria itu kalahkan setelah satu, dua, tiga, atau empat serangan pedang dan tanaman beruntun.
Lusinan detik berlalu, kedudukan Aria sekarang jadi hampir menyamai Lilith dalam hal jarak dan letak. Namun Lilith juga menyadari bahwa Aria yang sedang berusaha mendekatinya, yang membuat gadis itu melakukan ritual summoning sekali lagi.
“Heeh... jadi karena tak bisa menghabisi monster-monster-ku, kalian coba menyerang dan mengalahkanku, begitu ya?” Ia menempelkan kembali telapak tangannya ke tanah. “Pemilihan. Seleksi. pembentukan kontrak, selesai. Penerapan kontrak, selesai. Pelafalan. Penerapan bentuk, selesai. Penyesuaian. Mengambil bentuk, selesai. Memindahkan. Penentuan lokasi, selesai. Pemanggilan. Summon!!”
Sesuatu lahir dari lingkaran sihir yang Lilith buat di tanah.
Anjing raksasa berkepala dua---- Kesan itulah yang paling mencolok untuk menggambarkan monster itu. Kulitnya coklat tua dan gigi putih kekuningannya terkesan sangat tajam. Tingginya sekitar 5 meter dengan tampilan seekor anjing raksasa berkaki empat. Aku yakin setidaknya aether itu temasuk ke dalam rank B aether- Tidak, mungkin lebih.
『 Ini gawat! Feyrish! Cepat pakai kabut! 』
Aku terkejut mendengar suara Aria. Seketika aku hampir lupa untuk memenuhi permintaannya, namun satu detik kemudian aku menembakkan anak panah dengan perintah 【kabut】tingkat 2 ke arena, menuju anjing berkepala dua itu.
Anak panahku meluncur ke arahnya, yang patah setelah ia meniup itu dengan raungannya,【Magic Card】aktif memenuhi arena itu dengan kabut. Anjing berkepala dua yang baru saja di-summon menunjukkan reaksi lengah karena kabut tersebut, membuat Aria berlari maju, kemudian melompat ke atasnya.
“OREAAA!!”
Ia membuat putaran satu kali di udara, kemudian menebaskan pedangnya pada monster itu. Fairy Sword yang diayunkan Aria berhasil melukai kening aether tersebut meskipun cuma sebuah goresan. Anjing itu berteriak, atau mungkin meraung, atau semacamnya. Aria berlari dan bersembunyi di antara pepohonan setelah itu.
『 Blue, Feyrish, keadaanya sudah benar-benar berubah. Anjing berkepala dua itu disebut Orthrus-- Aether rank A, akan sulit untuk melawannya, apalagi di tengah ratusan aether yang lainnya. 』
Dapat disimpulkan bahwa dia baru saja memakai【Analyze】untuk melihat status aether itu, dan mendapat kesimpulkan bahwa ia termasuk ke dalam aether rank A yang sangat jarang ditemui.
Lalu, bagaimana cara kami melawannya? Apa kami punya rencana?
Tidak.
Tapi, kami punya rencana inti. Ini seperti apa yang Blue katakan sebelumnya, bahwa ada begitu banyak hal yang bisa saja terjadi, sehingga prosesnya akan berubah. Dan ketika prosesnya berubah, tentu saja hasilnya juga akan berubah. Ini terjadi dan penanganan seperti inilah yang yang seharusnya dilakukan. Dan ketika itu yang terjadi, maka seperti itulah penanganannya.
Tapi tetap saja, jujur, itu berbahaya.
Taktik yang kami buat ini sebenarnya agak berbahaya. Kali ini Aria juga diharuskan melewati anjing itu untuk menyerang Lilith.
『 ... ... Begini... aku akan melawannya sendirian. 』
『 Tidak, tunggu, apa-- Apa kaugila?! Jangan membuatku khawatir terus-terusan, Aria! Dia itu aether rank A!』
Melalui kacamataku, aku melihat laki-laki itu menggelengkan kepalanya satu kali, dua kali, kemudian berkata:
“Tidak, Feyrish, kausendiri tahu kenapa akan lebih efektif jika aku melakukannya sendirian. Lagipula ini untuk rencana yang kita buat bersama-sama, aku harus melakukan sesuatu atau kita semua akan gagal. Jadi dengarkan aku, ini rencananya ~~~~~~ 』
__ADS_1
Aku mendengarkannya dengan baik.
『 .... Tapi bagaimana jika rencanamu gagal? Bukannya kamu akan... mati... ? 』
Blue menjawab pertanyaan itu yang seharusnya ditujukan untuk Aria.
『 Aku tahu ini berbahaya, bahkan aku sendiri sebagai penciptanya juga tidak yakin apakah dia bisa menahan nafas api Orthrus atau tidak. Tapi, Feyrish, tidak ada cara lain... kurasa inilah yang terbaik. Jangan mati, jangan lakukan sesuatu yang gegabah dan ceroboh, hati-hatil, Aria. 』
『 Tidak perlu bilang begitu juga aku tidak akan mati. Dan Feyrish, habisi saja aether-aether kecil itu yang jumlahnya ada ratusan jika kaubosan. 』
『 H-hey, Aria- 』
『 Sudahlah, aku pergi. 』
Aria berjalan munuju Orthrus, langkah, demi langkah. Tempo kakinya sekarang jadi semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat lagi. Ia sekarang berlari, menuju Orthrus yang 20 m di depannya.
kabut putih yang menutupi pandangan sekarang telah memudar, bahkan hampir menghilang, membuat arena itu dapat kembali dilihat oleh semua orang. Begitu juga Lilith, yang tengah memandangi datangnya Aria dari kejauhan. Begitu juga aethernya: Orthrus, anjing berkepala dua yang meraung keras, seolah menantang Aria untuk bertarung melawannya.
Orthtus memulai serangan, ia membuka mulutnya, waktu berlalau 1, 2 detik, sebelum nafas api keluar dari tenggorokannya.
“【Asterial Stlye: Whinreel Sword】!”
Dengan buff api putih:【kecepatan】Aria memutar pedangnya, melindungi dirinya dari nafas api Orthrus yang hampir saja menelannya. Semburan api kuning kemerahan bertemu dengan api putih Aria.
Tidak seperti ketika melawan Toxilion Ape, skill Aria terbukti berhasil menghalau serangan itu sepenuhnya. Mungkin itu karena scared abilit-ynya:【White Flame】, atau karena levelnya yang telah naik, atau karena pedangnnya yang sekarang lebih ringan.
Lilith dari tadi memperhatikan Aria yang sedang melawan aether kesukaannya- Tidak, bukan, bahkan jauh sebelum ia melawannya, jauh sebelum gadis itu men-summon monster tersebut.
Semburan api dan putaran pedang Aria berhenti. Kali ini giliran Aria untuk bergerak, ia berlari pada jalur untuk mengelilingi Orthrus searah dengan jarum jam. Kemudian berhenti setelah memutarinya 90 derajat.
Namun Orthrus juga bergerak, ia mengambil langkah mundur sambil berputar menghadap Aria, kemudian menerjang lurus menuju laki-laki itu, mencoba mengoyak tubuh pria itu dengan giginya.
Aria beguliing ke kanan untuk menghindari serangan itu, jarak setipis kertas tercipta antara tubuh Aria dan serangan Orthrus.
Sekarang Orthrus berlari menjauh, setelah itu berhenti pada jarak yang ideal untuk memasang kembali kuda-kudanya, ia melompat menuju Aria untuk menerkamnya yang 10 m-15 m darinya.
Sebisa mungkin, Aria melakukan gerakan yang sama untuk meloloskan diri, namun gerakan musuh terbukti lebih cepat. Tulang kering Aria mendapatkan dua luka sayatan yang baru, cairan merah keluar dari tempat daging miliknya terluka.
Feyrish berteriak: “Aria!!” dari jarak jauh. Blue berkata: 『 hati-hati, jangan gegabah, amati gerakan musuhmu baik-baik dan buat persiapan sebelum itu. Lain kali bisa saja lebih buruk. 』
“Berisik, aku tidak bisa fokus. Aku baik-baik saja. ” Lalu dia lanjutkan dengan telepati. 『 malah, dia akan lebih memperhatikanku jika begini. 』
Tapi serangan berikutnya pasti lebih sulit, pasti.
Sebagaimana yang kullihat, Aria meyembuhkan kakinya yang terluka dengan【White Flame 】:【Pemulihan】, dan berlari menjauhi Orthrus sembari pemulihannya berjalan. Tidak diragukan lagi Aria sedang terdesak, dan jika seperti ini terus, bisa dipastikan dia akan kalah.
__ADS_1
Aku menembak aether-aether lain dengan panahku, tapi keseluruhan dari mereka seolah tidak berkurang sama sekali. Namun tetap saja itu kulakukan karena tidak ada pilihan lain, karena aku harus menarik perhatian mereka, untuk melindungi Aria.
Laki-laki itu sekarang berada dalam posisi bertahan, ia menggunakan pedangnya menyamping untuk menutupi tubuh bagian atasnya-- Cakar tajam milik musuhnya, Orthrus sedang mengarah kepadanya.