
“Sepertinya, dia masih hidup-- Tidak, seharusnya dia sudah mati. Tapi kenapa mereka masih bisa bergerak, artinya dia masih hidup, pasti... bagaimana menurutmu, Blue? Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Aria melempar pertanyaan pada Blue.
『 Meskipun kamu tanya begitu ini tidak seperti aku selalu tahu apa yang seharusnya dilakukan.... Ini sudah di luar pengetahuanku- Tch. 』
Setelah 10 detik anjing itu keluar dari lubang. Sosok gadis manusia duduk di punggung Orthrus, ia memberikan ekspresi penuh kebencian dan amarah.
“Beraninya kau... beraninya kalian melakukan ini padaku! Akan kubalas penghinaan ini ratusan juta kali lipat!”
Sepertinya dia baik-baik saja, tidak ada luka serius apa pun pada tubuhnya, hanya beberapa luka gores berkat hantaman dengan tanah yang terlihat pada tampilan tubuhnya. Jubah merahnya, bajunya, dan seluruh anggota badannya, semuanya masih utuh, tidak ada tanda-tanda gigitan apa pun pada dirinya.
Apa mungkin tanaman Aria tidak memakannya? Seharusnya tidak begitu. Bagaimanapun juga, dia manusia, dan mereka adalah tanaman karnivora. Hukum untuk saling makan memakan sudah tertulis dalam diri mereka. Atau Lilith mengalahkan mereka? Kurasa tidak mungkin. Ia sudah tidak punya aether lagi untuk di-summon, kalaupun ada, ia perlu waktu untuk melakukannya.... Jadi bagaimana bisa dia selamat?
“Aku merasa kepalaku agak pusing sejak saat itu, jadi kupikir kalian melakukan sesuatu pada tubuhku. Saat kupanggil aether yang kusiapkan dan memakai purification untuk diriku sendiri, rasa sakit di kepalaku hilang... kalian men-debuff-ku, ya?!” Lilith sepertinya marah sekali karena telah terjebak dalam rencana kami.
(*Debuff adalah kebalikan dari Buff, dimana korbannya mendapat efek negatif seperti pusing, keracunan, tertidur dan sebagainya.)
Sebenarnya kami memang men-debuff-nya. Karena itu dibutuhkan untuk rencana Blue, kami melakukan itu sejak awal. Untuk memberikan debuff pada Lilith yang selalu dilindungi oleh sekian banyak aether yang ia summon, tentu saja itu sulit. Jadi aku mengambil inisiatif untuk men-debuff-nya melalui sebuah objek.
Syal hitam Aria menjadi kunci dari keberhasilan rencana ini. Aku menggunakan【Magic Card 】tingkat 2:【Ilusi】pada syal Aria, dimana semua orang yang terus-terusan melihatnya akan mengalami ilusi kecuali aku dan Aria.
Ilusi pertama terjadi ketika Aria menghilang dari arena pertempuran. Menggunakan pembayangan dan keinginan Lilith untuk melihat Aria terkena nafas api Orthrus, ilusi terjadi, Lilith melihat api itu mengenai Aria dan menganggapnya sudah mati.
Sebenarnya, Aria menggunakan mantel hitamnya:【Eternity Midnight Coat Type-0】yang dilengkapi dengan efek anti debuff sebagai pelindung, yang melindungi Aria sepenuhnya dari api Orthrus. Kemudian ia menggunakan batang kayu acak yang diambilnya dari tempat terdekat sebelum api itu padam, dan meninggalkannya terbakar di tempat Aria sebelumnya.
Lilith tidak bisa melihat gerakan Aria yang begitu kasar karena ilusi yang terjadi membuat Aria melarikan diri dengan mudah.
Ilusi berlanjut ketika Lilith melihat sosok hitam di tempat Aria yang seharusnya telah terbakar seolah itu memang benar-benar adalah dirinya, tanpa keraguan apa pun Lilith mempercayai hal itu sebagai kenyataan.
Ilusi juga terjadi ketika ia mengejarku di atas punggung Orthrus-nya, dataran yang seharusnya berlubang menjadi datar di mata Lilith, dan membuatnya tidak mampu menyadari jeratan rumput Aria di bawahnya. Bisa dibilang, seluruh rencana kami seharusnya berhasil, tidak ada kesalahan apa pun, tapi... bagaimana bisa dia masih hidup?
“Tidak ada pilihan lain” Kataku, sambil menempelkan punggungku pada punggung Aria. “Akan kugunakan kartu asku:【 Magic Card】tingkat 3 untuk mengalahkan mereka... tapi aku hanya bisa memakainya satu kali, buat mereka semua mendekat.”
“Aku mengerti. Tapi ini hanya sekali. Jika gagal, kita semua kalah, yang berarti mati.” Aria berbicara sambil melawan aether yang ingin menyerangnya, begitu juga denganku. Agar tidak ada titik buta, kami bertarung sambil saling menjaga punggung kami masing-masing.
『 Aria, pakai Type-0 set equipment ability! Syaratnya pemakaiannya hanya kelengkapan seluruh setnya. Itu bisa mengalihkan perhatian mereka padamu untuk sementara. 』
“Ya, aku tahu.” Jawab Aria.
Laki-laki itu mengeluarkan sebuah kantong kecil, dan melemparkan isinya mengelilingi kami.
“Ini benih tanaman berduri. Aku mengambilnya sebelum ke hutan. Seharusnya ini sudah cukup untuk menahan mereka.”
Kemudian dia tebas seekor orc sebagai musuh terakhir, setelah itu berkata: “Kegelapan. Kegelapan. Kegelapan. Pemecahan. Penyerapan. Analisa. Pengumpulan, selesai. Pembentukan, selesai. Seleksi. Konversi. Pelafalan. 【Scared Vengeance】, Aktivasi!”
Pandangan musuh seketika beralih menuju Aria. Mereka semua hampir saja akan menyerbu ke arahnya, sebelum tanaman-tanaman berduri misterius muncul di hadapan mereka, mengelilingi kami dengan radius di bawah satu setengah meter.
Aku melompat ke atas sekuat tenaga, sambil mengulurkan tanganku untuk menarik Aria.
Sekarang, kami berada 10 meter di atas tanah.
Aku menarik busurku dan mengeluarkan【Magic Card】tingkat 3:【gempa bumi】yang kutarik bersamaan anak panahku. Aku tidak membidik apa pun, aku tidak mengincar apa pun secara spesifik, aku hanya mengarahkannya ke bawah menuju tanah.
Lilith sadar bahwa aku akan segera melakukan sesuatu. Ia membuat perintah untuk Orthrus, “Lari! Menjauh dari sini!” membuat Orthrus berputar ke belakang, anjing itu berlari sekuat tenaganya.
Tapi, sayang, gerakanku lebih cepat. Anak panah yang kulepaskan meluncur dan menancap ke dalam tanah. “Aktivasi!” Kuteriakkan itu selagi tubuh kami masih tetap di udara.
Tanah bergetar. Getarannya jauh lebih kuat dibanding efek lubang yang Lilith buat sebelumnya. Aether-aether menjadi panik, mereka tertimpa tanah yang terbelah, terinjak kaki aether lainnya, bahkan terserang teman mereka sendiri. Pada akhirnya, mereka semua mati.
Kepulan debu tercipta dimana-mana. Apa aku berhasil? Apa Lilith sudah mati? Apa aku mengalahkannya? Seharusnya dia sudah mati bersama dengan aether lainnya.
Mengikuti hukum gravitasi kami turun dari udara, aku merasakan pijakan tanah pada kakiku. Kepulan debu membuat kami tidak bisa melihat apa pun. Seharusnya, mereka semua sudah mati, pikirku. Tapi debu-debu yang akhirnya memudar justru menampilkan sebuah bayangan besar agak yang jauh di depanku.
Mereka semua sudah mati, itulah yang kuyakini, semuanya, kecuali orthrus dan Lilith yang menungganginya. Mereka mungkin berhasil kabur, atau lebih tepatnya adalah hampir saja tidak bisa kabur.
Lilith memberikan perintah secepat mungkin dan Orthrus meresponnya dengan sebaik mungkin, yang membuat mereka berdua lolos dari area skill-ku pada detik-detik terakhir.
Tapi berkat scared ability terakhirku:【Magic Card】tingkat 3:【gempa bumi】, aether yang lainnya mati. Ether-ku hampir saja habis berkat itu, aku kehilangan kekuatan pada kakiku, membuatku jatuh terduduk seketika.
“Feyrish!” Teriak khawatir Aria. Tapi aku tahu untuk tidak boleh membuatnya jadi khawatir, karena masih ada musuh di hadapannya. Semua tenaga serasa menghilang dari tubuhku, badaku jadi lemas seketika, bukti bahwa ether-ku hanya tersisa sedikit.
“Aku kehabisan ether, Aria. Maaf karena skill-ku tidak cukup kuat untuk mengalahkannya.” Kataku, sambil melihat mata hitam Aria yang memberiku sebuah ketenangan misterius.
“Kalian benar-benar minta dibunuh, ya?! Akan kubawakan kematian pada kalian! pasti! Orthrus, bunuh merekaa!!” Teriak Lilith, disusul dengan gonggongan Orthrus yang menjadi tanda bahwa ia mengerti.
Anjing itu mengambil ancang-ancang dan menerjang ke arah kami. Jaraknya sekitar 35 meter dari sini, itu adalah batasan dari area skill【gempa bumi】-ku, dimana jarak itu semakin memendek seiring dengan jumlah langkah kaki yang dibuatnya. 33 meter... ... 31 meter... ... tiba-tiba aku teringat pada impianku di masa lalu.
Untuk menjadi seorang tokoh wanita dalam sebuah cerita yang kukagumi. Untuk menjadi kuat, dan menyelesaikan sebanyak apa pun masalah yang kutemui, dan hidup bahagia bersama pahlawanku selamanya.
Aku sadar itu hanya impian anak-anak, tak lebih dari sekedar ilusi semata, tidak berbeda dengan angan-angan anak kecil yang mengagumi sesuatu yang mereka sukai. Dengan kata lain itu cuma pemikiran bodohku di masa lalu, yang sudah lama kulupakan impian itu.
Namun, jika... bagaimana jika aku bisa meraihnya saat ini? Di tempat ini, bersamanya...
Arrggh, bukan. Apa sih yang kupikirkan? Siapa juga yang mau melakukannya? Aku sudah hidup ratusan tahun, oke. Aku bukan lagi anak kecil!
Lagipula, pahlawan seperti dalam cerita itu tidak pernah ada! Itu cuma ilusi! Delusi! Fantasi! Khayalan semata! Dan kebohongan belaka! Mereka tidak nyata!
Namun, jika... bagaimana jika pahlawan itu ada di dunia ini, apakah dia sekarang ada di dekatku? Mata hitamnya memberiku ketenangan misterius dalam situasi yang kami berdua alami bersama. Ia adalah laki-laki yang sedang membentuk kelompok denganku saat ini.
Aria...?
.... .... Tidak. Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak. Kugelengkan kepalaku beberapa kali, untuk mengusir pikiran menyebalkan itu jauh-jauh dari kesadaranku.
__ADS_1
Namun, jika.... bagaimana jika tanpa sadar aku menyukainya?----
Tidak, tidak, tidak mungkin, super mustahil! Si- Siapa juga yang menyukai pria pemurung itu
(?) Mana mungkin aku menyukainya, oke?! Sekali lagi kubersihkan otakku dari pemikiran tidak jelas itu.
Bagaimanapun juga situasi di dunia nyata lebih berbahaya saat ini. Aku sudah kehilangan hampir setiap ether yang kumiliki. Dan meskipun tidak sepertiku, laki-laki itu juga hampir kehabisan ether dan staminanya. Tidak mungkin kami bisa menang melawan Orthrus, aether rank A yang menjadi kartu as milik seorang petualang elite rank A: Lilith, sang summoner.
Namun, jika... bagaimana jika ada cara untuk mencuri kemenangan melawannya?
mungkinkah itu tidak ada?
Tidak, bukan, tentu saja itu tidak mustahil. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini-begitulah yang mereka yang menjadi bagian dari masyarakat dan sosial biasa katakan.
Tapi selalu ada yang janggal dari ungkapan itu. Bagaimana dengan kemungkinan yang mereka sebutkan itu, apakah itu juga tidak akan menjadi tidak mungkin?
Sebagai contoh, seseorang berkata: “Tidak mungkin aku bisa.” Namun seseorang lainnya
berkata kepadanya: “Kamu pasti bisa jika berusaha!”
Bukankah dengan kata lain, orang kedua itu mengatakan: “Kamu tidak mungkin bisa jika tidak berusaha!” atau “Tidak mungkin kautidak bisa! Berusahalah!”
Bukankah pernyataan tersebut sudah menjadi bukti bahwa sesuatu yang tidak mungkin itu sebenarnya ada di dunia ini? Bukankah itu sudah menjadi bukti yang memecahkan teori masyarakat mengenai ‘tidak ada yang tidak mungkin’ itu sendiri? Bukankah dunia ini memang tercipta dan memiliki sistem yang seperti itu?
Jadi apa salah jika kamu berpikir ‘tidak ada yang tidak mungkin’ di dunia ini...? Bagaimanapun juga, ‘tidak ada yang tidak mungkin’-- Bukankah itu adalah simbol dari keyakinan?---
Meski begitu, itu bukanlah selalu menjadi sesuatu yang sifatnya logis dan penuh dengan kenyataan, yang tak lebih dari sekedar kalimat halus untuk membohongi dirimu sendiri.
Tentu saja ada yang tidak mungkin di dunia ini, meskipun itu penuh dengan kekejaman dan tidak sesuai dengan harapan, namun itu tidaklah palsu, mereka penuh dengan keaslian dan pembenaran. Meskipun kita tidak ingin mempercayainya, namun itulah kenyataannya, memang seperti itulah kebenarannya.
Berpikir kami tidak mungkin menang bukanlah hal yang aneh- Itulah kebenarannya.
Berpikir kami tidak mungkin masih hidup di hari esok bukanlah hal yang aneh- Itulah kebenarannya.
Tapi apa kami akan menyerah? Itulah yang tidak mungkin.
Karena kami selalu memiliki harapan untuk menang, karena kami hidup- Katanya, kata laki-laki itu. Karena itu, dia tidak akan menyerah sampai kapan pun.
“Tapi aku tidak bisa.” Jawab Aria.
Karena dia tidak bisa menganggap kami sebagai teman, equipment ability dari Fairy Sword tidak akan aktif. Tapi apa ada cara lain untuk mengaktifkannya, selain menganggap kami sebagai teman?
.... ..... Tentu saja ada, sepertinya. Bahkan, aku sudah memikirkan itu dari tadi.
“.... Aku....”
Aku mencari kata-kata yang kuinginkan untuk meneruskannya, pandanganku beralih ke sana-sini.
Namun, pandanganku tidak melihat kata-kata itu. Satu-satunya hal yang terpantul di dalam mataku adalah mata hitam yang menjadi simbol laki-laki itu, dan langit kebiruan dengan sedikit awan di belakangnya.
Dan pandangan itu tiba-tiba kabur.
“Aku…”
Meski aku memulainya lagi, aku masih tidak bisa menemukan kata-kata itu.
Apa yang harus kukatakan? Aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan. Kata-kata yang telah kurasakan dan telah kupikirkan itu telah kuucapkan. Aku bertanya lagi dan aku menumpukkan semua itu dari awal. Aku seharusnya sudah memikirkan kata-katanya untuk hal tersebut. Benar-benar tidak ada lagi yang tersisa. Aku sudah kehabisan semua opsi.
───Ahh, Aku paham. Pada akhirnya, hal-hal yang coba kukatakan, tidak peduli dimana aku dan tidak peduli seberapa banyakpun aku memikirkannya, hanya ada pemikiran, logika, perhitungan, siasat dan tipu daya.
Meski begitu, aku masih mencari kata-kata yang perlu kukatakan, yang ingin kukatakan meskipun aku tidak sepenuhnya memahaminya setelah memikirkannya. Namun itu tidak seperti dia akan mengerti meskipun aku mengatakan itu. Namun itu juga tidak akan berguna hanya dengan mengatakannya saja.
Aku tidak ingin kata-kata. Tapi tentu ada hal lain yang kuinginkan.
Dan aku yakin itu semua bukanlah sesuatu seperti ingin memahami satu sama lain, akur dengan satu sama lain, berbicara dengan satu sama lain, dan untuk tetap bersama-sama. Aku tidak ingin untuk dipahami. Aku tahu bahwa aku tidak sedang dipahami, dan aku tidak merasa aku ingin dipahami. Apa yang kuinginkan itu adalah sesuatu yang lebih keras dan kejam. Aku ingin memahaminya. Aku ingin memahami. Aku ingin tahu. Aku ingin tahu dan menjadi lega. Aku ingin memperoleh ketenangan hatiku. Itu karena aku takut dengan hal-hal yang tidak kupahami. Ingin untuk sepenuhnya memahami merupakan suatu keinginan yang munafik, lalim, dan angkuh. Itu sepenuhnya menyedihkan dan memuakkan. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa jijik pada diriku sendiri untuk memiliki keinginan semacam itu.
Namun, jika… bagaimana jika kita berpikiran serupa?
Jika kita bisa memaksakan kemunafikkan yang menyakitkan mata itu pada satu sama lain dan jika suatu hubungan yang mengizinkan keangkuhan itu ada.
Aku tahu bahwa untuk bisa melakukannya itu sepenuhnya tidak mungkin. Aku tahu itu adalah sesuatu yang tidak akan bisa diraih tanganku.
kenangan yang tidak dapat digapai tanganku itu tanpa diragukan lagi asam.
Tapi aku tidak perlu sesuatu seperti perasaan-perasaan yang begitu palsunya manis. Aku tidak perlu sesuatu seperti pemahaman palsu atau suatu hubungan yang palsu.
Apa yang kuinginkan adalah kenangan asam itu.
Meskipun itu asam, meskipun itu pahit, meskipun itu menjijikan, meskipun itu penuh dengan racun, meskipun itu tidak ada, meskipun aku tidak bisa meletakkan tanganku padanya, meskipun aku tidak diizinkan untuk menginginkannya.
“Meski begitu…”
__ADS_1
Aku paham bahwa suara yang keluar entah kapan itu bergetar.
“Meski begitu, aku… .... jika, kamu tidak bisa menganggapku sebagai temanmu...”
Aku mati-matian menahan perasaan ingin menangis tersedu-sedu itu. Meskipun aku sudah menelan suara dan kata-kataku, perasaan itu terus keluar dalam pecahan-pecahan kecil. Gigiku akan menggertak dengan ribut dan kata-kataku dipaksa keluar dengan sendirinya.
“Jadikan aku...”
Kata-kataku berhenti pada kalimat pendek itu. Aku sadar bahwa aku harus terus meneruskannya.
Aku menelan semua perasaan yang membuatku ragu di dalam diriku. Mulutku merasakan sensasi aneh yang membuat kata-kata itu menjadi sulit untuk diucapkan. Namun aku tetap harus mengeluarkannya.
Meskipun aku tahu harapan dan makna apa yang tersembunyi di balik kata-kata itu, dan meski sebelumnya aku tidak pernah mengakuinya.
“Meski begitu, jadikan aku sebagai heroine-mu!! Aria!”
********
Pedang itu bergetar. Cahaya kemerahan menyelimuti Fairy Sword di tangan Aria. Satu detik berikutnya, huruf-huruf kuno yang tidak dapat kubaca muncul di depan pedang tersebut, dan pecah setelah satu detik berikutnya.
-- Syarat pertama: keinginan untuk hidup, terpenuhi.
Huruf-huruf kuno yang lain muncul setelah huruf sebelumnya pecah, dan berakhir sepertinya satu detik kemudian.
-- Syarat kedua: keinginan untuk melawan ketidakadilan, terpenuhi. Susunan huruf ketiga muncul, lalu pecah seperti yang lainnya.
-- Syarat ketiga: keinginan untuk melindungi seorang teman, terpenuhi.
Ketiga syarat yang tidak sanggup Aria lakukan sebelumnya sekarang telah terpenuhi. Cahaya kemerahan itu berubah menjadi violet, dan semakin besar membentuk ukuran yang tidak mungkin ēnfinity angkat pada umumnya.
Orthrus berlari dan semakin dekat dengan kami, menyisakan jarak yang tersisa hanya tinggal 10 meter. Aria mulai berlari dan mengangkat pedangnya, Fairy Sword, yang telah mengaktifkan equipment ability-nya. Orthrus berlari semakin cepat ke arahnya. Jarak yang memisahkan mereka menutup dengan begitu cepat.
“IAAAAAA!!”
“HAAAAA!!”
Teriakan Lilith dan Aria menggema di area sekitar hutan, burung-burung beterbangan karena bunyi yang berisik itu.
7 meter..
5 meter...
3 meter...
---... .... SLASH!!!!
Kedua serangan itu begitu cepat hingga tidak dapat dilihat dengan kedua mataku. Aria kini berada di sisi dalam hutan, dan Orthrus berada di sisi satunya. Gerakan mereka terhenti setelah itu.
Pihak yang pertama memberikan reaksi adalah Orthrus. Ia bergerak terhuyung-huyung karena kakinya yang telah kehilangan kekuatannya, kemudian jatuh ke sisi kanan dari tubuhnya.
“【Fairy Sword’s equipment ability: system release... infinite violet star burst impact】!”
Ledakan terjadi setelah dua, tiga detik kemudian, membuat tubuh Orthrus dan masternya, Lilith, terbakar ke dalam api. Api itu menghilang setelah beberapa detik, meninggalkan bekas hitam pada tanah tanpa keberadaan apa pun di atasnya.
Sekarang bisa dipastikan Lilith sudah mati, yang artinya adalah kemenangan bagi pihak kami.
Selalu ada pihak yang menang, maka akan selalu ada juga pihak yang kalah- Perputaran seperti itu selalu ada di dunia ini.
Mereka yang mengambil sesuatu dari orang lain dan mereka yang selalu diambil oleh orang lain. Mereka yang merampas dan mereka yang selalu dirampas. Mereka yang merebut dan direbut. Mereka yang memeras dan diperas. Mereka yang menjarah dan mereka yang dijarah. Mereka yang senantiasa merenggut hak orang lain dan mereka yang haknya selalu direnggut oleh orang lain. Mereka yang menyakiti dan disakiti. Jika ada dari mereka orang yang mengusai, akan ada juga mereka yang dikuasai oleh orang lain. Orang yang senantiasa mengendalikan dan mereka yang dikendalikan. Mereka yang mengorbankan juga mereka yang dikorbankan untuk tujuan orang lain. Juga mereka yang memperalat dan mereka yang diperalat.
Ada juga orang di dunia ini yang berpikir bahwa ‘mereka dibagi menjadi 2: mereka yang meninggalkan orang lain dan mereka yang selalu ditinggalkan oleh orang lain.’
Ada juga yang berpikir bahwa ‘mereka dibagi menjadi 2: mereka yang berada di atas orang lain dan mereka yang berada di bawahnya’
Itu adalah dua pemikiran dari dua ēnfinity yang berbeda.
Meskipun ada perbedaan, mereka berada pada party yang sama, berbagi tanggung jawab yang sama, dan berbagi tempat pada takdir yang sama.
Ini adalah kisah petualangan seorang manusia dari dunia lain, seorang putri dari kerajaan Elf, dan seorang raja dari kerajaan kuno.
Manusia yang telah disebutkan itu berjalan ke arahku, mengulurkan tangan kanannya. Ia membuka mulut tipisnya, perlahan, dan berkata:
“Apa kaubisa jalan?”
Aku melihatnya dengan senyuman, meraih tangan itu dan menjawabnya:
“Tidak bisa.”
Dengan tetap menyertakan senyumanku untuk itu.
“Tidak ada pilihan lain, yah?”
Dia juga tersenyum kepadaku.
“Aku akan menggendongmu di belakang, di punggungku.” Sambil menurunkan badannya dia katakan itu dengan wajar, seolah melakukan hal yang paling normal di dunia.
“Ini sudah dipesan sampai kota berikutnya! Aria!” Aku tertawa dengan senang, seolah berbicara dengan seseorang yang sudah sangat lama.
Sekarang, Aria menggendongku. Kami melihat hamparan rumput yang terbentang di depan kami, disinari dengan cahaya matahari tanpa banyak awan di atas sana. Aku melihat pemandangan yang sama dengannya. Dengan kelelahan yang sama pada tubuh kami, aku berbisik di telinganya:
“Jika kehilangan orang yang kamu sayangi begitu membuatmu sedih... aku akan berada di sisimu selamanya.”
__ADS_1
- Last Chapter: Protea di telapak tangan mereka masing-masing End –