
x
"Aku masih punya satu hal lagi untuk kalian. Pertama untuk Aria, majulah."
Aku melangkah satu kali sesuai instruksinya. Emilia memejamkan mata, cahaya kemerahan terpancar dari bola sihirnya, setelah satu, dua detik, sesuatu terbentuk di depanku.
"Sebuah pedang?"
Pedang bermata dua itu bersinarkan dalam cahaya berwarna giok; sangat membingungkan berpikir logam jenis apa yang mungkin menciptakan warna tersebut. Panjang bilahnya hanya sekitar 60cm, yang membuatnya disebut dengan 'pedang pendek'. Bagian rain guard dan cross guardnya membentuk pola yang sangat rumit; saling menyilangkan seperti akar rambat kecoklatan. Dan seperti dua bagian tersebut, gagang pedangnya terselimuti dengan tekstur sebuah akar, meski begitu aku yakin teksturnya tidak sekasar itu sampai kamu akan terganggu ketika memegangnya. Pangkalnya memiliki tampilan permukaan yang sama dan bentuk lambang api yang membeku.
"Namanya【Lambent Gladius】. Argonaut yang gugur sebelumnya menitipkan pedang ini padaku, yang sekarang kuserahkan padamu... Aria, coba bayangkan panjang pedangnya berubah."
Aku mengambilnya, memegangnya dengan kedua tangan, dan membayangkan pedang yang lebih panjang. Cahaya giok pada bilahnya bersinar lebih terang dari sebelumnya... satu, dua detik, sesuatu berubah. Panjang dan beratnya berganti.
"—Pedangnya berubah?"
"【Lambent Gladius】 terbuat dari campuran material langka; ditempa oleh seorang Dwarf dan dibumbuhi sihir seorang Elf. Sekarang coba bayangkan sarung pedangnya."
Aku mengikuti arahannya. Pola akar dari rain guard pedang itu memanjang mengikuti bentuk bilah pedang bermata dua, menyelimuti Lambent Gladius dengan sempurna.
"Hebat kan? Lambent Gladius dapat merubah panjangnya menjadi 60cm-150cm. Sarungnya akan otomatis terbentuk jika kamu membayangkannya. Kualitasnya juga sudah terjamin karena bahan dan prosesnya sangat sulit didapatkan.
Sayangnya, masa hidup dari pedang ini hanya tersisa sedikit, begitulah yang kudengar darinya, dan akan semakin berkurang seiring dengan pertarungan yang dilaluinya, mungkin ia akan hancur setelah beberapa minggu ke depan. Maaf tapi aku tidak punya pedang yang lain, kuharap kamu bisa menemukan pedang baru sebelum itu terjadi."
Aku tidak bisa mengangguk, meskipun aku sudah paham inti dan garis besarnya. Tapi apa itu, masa hidup pedang? Apa itu sesuatu seperti sisa usia item, hitung mundur waktu pemakaian item, atau sesuatu semacamnya?
Aku menanyakan itu dan Emilia menjelaskan.
"【Ether】- Dari zat itulah kemampuan pedang ini berasal. Bukan hanya pedang, semua item kualitas tinggi pastinya mengandung ether, seperti tongkat sihirku contohnya. Ether juga dikenal sebagai zat yang membentuk sihir di dunia ini.”
Sistem-sistem dan pengetahuan baru memasuki pikiranku terus-menerus. Aku heran apakah dua orang ini bisa mencerna itu sepenuhnya atau tidak. Tapi seharusnya tidak apa-apa, Hajime itu cerdas. Hajime....
“Dan pedang itu, Lambent Gladius adalah item legendaris yang hanya ada di dalam legenda, tidak mungkin itu tidak mengandung ether. Zat itulah yang memberi kemampuan misterius pada suatu item. Namun lama-kelamaan, ether itu jugalah yang akan menghancurkannya. 'Lambent gladius sudah hampir mencapai batasnya.' Begitulah yang orang itu katakan padaku 'biarkan dia mati dalam pertarungan melawan’nya’. Berikan Lambent Gladius pada seseorang yang mampu melakukannya'.... itu adalah kata-kata terakhirnya. Aria, kumohon padamu... kabulkanlah keinginan orang itu."
Aku merasakan apa yang Emilia maksud dengan ‘orang itu’ bukanlah seseorang yang tidak dianggapnya 'sangat berharga' atau sesuatu semacam itu.
Dengan beban baru dari pemilik Lambent Gladius yang sebelumnya, aku mengangkat Lambent Gladius di depanku, memegangnya 270o secara horizontal. Sambil tersenyum dengan angkuh aku berkata:
"Katakan pada orang itu 'akan kubunuh dia(pedangnya) di tempat yang seharusnya.’ "
Emilia tertawa kecil.
"Akan kusampaikan."
Aku mengambil satu langkah ke belakang. Menggenggam Lambent Gladius di tangan kananku. Gadis berambut cardinal itu melanjutkan,
__ADS_1
"Selanjutnya, Hakuharu Hajime, maju ke depan."
Hajime mengambil satu langkah ke depan. Mengulangi proses yang sama, sebuah busur terbentuk di depan Hajime.
"Namaya 【D-Intidial】. Anak panah cahaya akan keluar jika kamu membayangkan sebuah anak panah cahaya di saat menariknya. Meskipun kualitas anak panahnya tidak terlalu tinggi tapi itu memiliki jumlah yang tidak terbatas dan cocok untuk penggunaaan busur yang dikatakan boros. Jadi itu sangat cocok untuk bertahan hidup, dan tentu saja, kamu bisa menggunakan anak panah biasa jika kamu mau."
Hajime membuat ekspresi ‘tidak bagus, itu curang, kalian tahu.’ Sambil membuka mulutnya dan berkata:
"Apa-apaan fitur tidak masuk akal itu? Harusnya aku punya satu yang seperti ini dari dulu, huh."
"Kamu tidak puas?"
"Tidak, bukan itu, tentu saja aku puas. Terima kasih, akan kujaga baik-baik busur ini."
Hajime mundur ke belakang. Mengikuti giliran berikutnya, Emilia menyuarakan satu nama.
"Terakhir, Hakuharu Kyoka, majulah."
Mengikuti instruksi Emilia, Kyoka melangkah satu kali. Cahaya kemerahan kembali tercipta dari bola kaca, membentuk sepotong kayu kecoklatan di hadapan Kyoka.
"Senjata milik penyihir tidak seperti pedang atau senjata lainnya yang bersentuhan langsung dengan tubuh musuh. Tongkat sihir dibuat untuk memperkuat sihir dan menghemat penggunaan ether; tentu saja kamu bisa menggunakan sihir tanpa tongkat, tapi efiensinya tidak akan sebagus saat menggunakan tongkat sihir, ingat itu baik-baik.”
Kyoka mengannguk. Merespon itu, Emilia melanjutkan, ”Ini tongkat sihir lamaku, kekuatannya setara dengan yang saat ini kugunakan. Hanya saja milikku didesain untuk penggunaan sihir skala besar dan milikmu untuk skala kecil, yang sangat cocok untuk dipakai pemula. Untuk pelajaran sihirnya tolong tempelkan tanganmu saat sudah sampai di dunia itu nanti.... Namanya adalah 【Early Evelyn】. Ambilah, Kyoka, sekarang ini milikmu."
Kyoka memegangnya, bola kaca tanpa cahaya seketika memancarkan warna kekuningan.
"Terima kasih, Emilia. Tongkat sihir ini akan jadi temanku untuk menghadapi monster, ya? Memikirkannya saja sudah membuatku berdebar-debar. Aku tidak sabar bertempur bersama mereka. Sekali lagi, terima kasih, Emilia, karenamulah kami bisa bertemu lagi. Karenamulah aku bisa melihat Hajime dan Aria sekali lagi. Terima kasih."
Kyoka menarik garis lengkung di antara pipinya, tersenyum yang lebar. Memikirkan itu aku juga tersenyum, begitu juga Hajime yang membuat sebuah senyuman dengan memerlihatkan giginya setelah mendengus dengan 'hnh'. Emilia menggeleng satu, dua kali dengan garis senyuman ringan, mengatakan:
"Tidak, seharusnya akulah yang berterimakasih. Terimakasih karena telah memenuhi permintaan egoisku. Dan terima kasih telah menemaniku setelah 2000 tahun ini. Ini adalah pertama kalinya aku berbicara dengan orang lain setelah pertempuran itu; terima kasih karena telah menjadi teman mengobrolku, meskipun hanya beberapa menit, yah? Tapi bagiku, ini terasa sangat menyenangkan. Terima kasih.....”
Emilia mati-matian menahan perasaan ingin menangis tersedu-sedu. Meskipun dia sudah menelan suara dan kata-katanya, perasaan itu terus keluar dalam pecahan-pecahan kecil. Giginya menggertak dengan ribut dan kata-katanya dipaksa keluar dengan sendirinya.
“Sekarang pejamkan mata kalian. Ini adalah pemberian terakhirku. Ketika sudah sampai di dunia sana, kalian bisa melihatnya dengan kata: 'status'....”
Kami mendengarkannya dengan baik, kata-kata Emilia yang dibumbuhi dengan perasaan nyaman dan manis itu. “dengan begitu ini adalah pertemuan pertama dan terakhir kita di dunia ini. Sekarang pejamkan mata kalian. Bayangkan sesuatu yang paling kalian inginkan di saat-saat terakhir kehidupan kalian di dunia itu. Ingat, dan bayangkan baik-baik, sesuatu itu, yang belum sempat kalian dapatkan dan belum sempat kalian dapat lakukan dan perjuangkan. Tutup mata kalian.... selamat tinggal... Hajime... Kyoka... dan Aria.... selamat tinggal... jangan lupakan aku... ..."
- Yah... selamat tinggal, Emilia,
- Chapter 01: Kemudian, Kita Mengambil Kembali Semua yang Telah Hilang End -
__ADS_1
Chapter 02: Meski begitu, semuanya berawal, dan berakhir
Pada suatu waktu, langit biru yang luas itu akan membuatmu berpikir tentang awan keabuan yang berlalu lalang di dalamnya. Hutan lebat di belakangku sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari hamparan rumput hijau yang selalu terlewati oleh deruan angin. Dan kotak kemerahan di depanku ini akan membuatmu bepikir tentang harta karun seperti apakah yang tersembunyi di dalamnya.
Setelah cahaya yang menyilaukan itu redup, tiba-tiba aku merasakan sensasi sebuah tanah, sensasi sebuah angin, dan sensasi kehangatan matahari. Aku bertanya-tanya ada dimanakah aku sekarang, tetapi hutan lebat di belakangku maupun hamparan padang rumput yang luas itu tidak memberiku sebuah jawaban yang jelas. Hanya kotak kemerahan yang dihiasi dengan corak keemasan itulah satu-satunya hal yang dapat kuanggap sebagai petunjuk. Sepucuk surat ditemukan menggantung di bagian mulut kotak tersebut.
"Bagaimana menurutmu?” Hajime memegang kertas persegi panjang kebiruan itu tanpa keraguan apa pun, kemudian membaliknya satu kali. “Mau membukanya?"
Aku mencondongkan badanku ke depan, mengikutiku, Kyoka menampakkan keingintahuan di matanya. Susunan huruf memasuki jarak pandangku, tertulis kalimat, 'Untuk Hajime, Kyoka, dan Aria', pada bagian yang ditunjukkan Hajime.
"Tidak ada pilihan lain, ya?"
Menyetujuiku, Hajime dan Kyoka menganggukkan kepala mereka sekali. Setelah mendapatkan konfrmasi yang jelas, Hajime menyobek amplop 15 cm x 20 cm tersebut seolah melakukan hal yang paling wajar di dunia.
Hajime mengambil isi surat itu, melempar amplopnya, berdiri dan mengangkatnya, membiarkan kami membacanya juga. Kyoka dan aku mengikuti di belakang Hajime, dan membaca surat tersebut dalam pikiran kami.
『 --- Jika kalian membaca ini berarti kalian sudah sampai di dunia itu, benar? Jangan berharap apa pun pada kotak harta di depan kalian, aku cuma mengisinya dengan pakaian. Apa kalian tahu? Pakaian yang saat ini kalian pakai sangat mencolok di dunia itu, jadi pakailah ini untuk sementara waktu.
Soal lokasinya, aku minta maaf karena tidak bisa menentukan akan mulai dari mana kalian nanti. Tapi setidaknya aku berhasil meminimalisir tempatnya menjadi ‘hanya di negara manusia’.
Apa kalian tahu? Di dunia itu sedang berlangsung standar ganda dan diskriminasi terhadap ras lain, jadi akan sangat berbahaya jika aku mengirim kalian ke negara milik ras selain manusia. Kalian tidak mau tiba-tiba didatangi seorang misterius dan berakhir menjadi budak, iya kan? Ah, tetap saja kalian bisa berakhir di tempat yang sama atau jauh lebih buruk daripada itu, maaf tapi aku tidak bisa membantu kalian lebih dari ini.
Aku memang tidak bisa membantu kalian, aku yang sekarang tidak punya kekuatan untuk menolong kalian meskipun aku mau. Namun, Aria, Hajime, Kyoka, kalian memiliki sesuatu yang akan selalu menjaga kalian meskipun kalian tidak tau ataupun tidak pernah menyadarinya. Suatu perasaan yang membuatmu merasa nyaman bersama mereka, itulah yang akan menjaga kalian setiap saat; itu lebih hebat dibanding pedang terkenal dan jauh lebih kuat dibandingkan ribuan prajurit perang, Perasaan kuat itulah yang disebut dengan teman.
Mungkin kadang kalian lupa, ada seseorang yang sangat mempedulikan kalian meskipun kalian sendiri tidak menyadari perasaan itu; mereka itu seperti bintang di langit, yang meskipun tidak terlihat, tapi kita tahu mereka ada di sana. Jaga baik-baik perasaan itu.
Ini adalah percakapan terakhir kita. Setelah ini kalian akan bertemu dengan banyak musuh yang berbahaya, mungkin sangat kuat dan tidak bisa kalian lawan, atau mungkin juga hampir membunuh kalian. Tapi karena itulah kalian harus mengangkat senjata kalian. Tunjukkan kepada mereka siapa kalian. Orang sepertiku sampai menghabiskan waktu berharganya untuk membimbing orang lain, mustahil kalau hasilnya tetap NOL. Perjalanan jauh ribuan mil dimulai dari langkah pertama!— itulah yang ingin kukatakan. Dan di sinilah kalian memulai semua itu. Jangan ragu pada siapapun, berikan semua yang kalian bisa untuk mencapai tujuan kalian. Sekali lagi kuucapkan terima kasih. Dan sampai jumpa di lain waktu. --- Emilia Evelyn』
Pesan itu berakhir. Tanpa ada bantuan besar dalam bentuk apa pun di dalamnya. Dan pada akhirnya kami tetap harus membuat apapun sendiri.
Pertama adalah mencari sebuah tempat yang bisa disebut dengan ‘lokasi aman’ untuk manusia seperti kami- Ah, bukan itu, bagi pemula seperti kami, untuk memulai sebuah petualangan besar. Sebuah tempat dimana kami bisa mencari peralatan tempur yang baik, mungkin armor? Atau helm? Atau aku mulai berpikir apakah peralatan seperti itu juga ada di dalam peti harta ini? Kami melihat satu sama lain. Mata kami menyiratkan sesuatu seperti ‘ah, kita memikirkan hal yang sama’ ‘baiklah, mari lakukan itu.’
"Mau buka kotaknya sekarang?"
"Iya, aku ingin tahu pakaian seperti apa yang ada di dalamnya."
"Kupikir isinya tidak lebih berharga daripada kotaknya. Tapi, sudahlah kubuka juga."
Hajime membuka peti itu perlahan, memegang bagian atasnya dengan dua tangan dan mengangkatnya hingga terbuka. Sesuatu yang terlihat di dalamnya adalah, tidak salah lagi, pakaian. Hanya pakaianlah yang terlihat. Tampilannya mirip seperti film bertema Eropa abad pertengahan. Tidak ada yang khusus, tidak ada yang mewah, tapi bukan juga pakaian penduduk biasa. Aku berpikir gadis berambut cardinal itu sengaja memberikan pakaian yang mudah untuk bergerak. Jubah, Baju, celana, celana dalam, syal, sepatu, tas kecil, dan masih banyak lagi. Ada 5 sampai 10 potong masing-masing dari mereka. Kami mendekat, memegang potongan kain itu dan aksesoris dengan rasa penasaran.
"Ahaha, seperti yang diduga dari dunia fantasi. Mereka bahkan punya sepatu bot petualang."
"Sepertinya aku suka pakaian dan jubah yang ini. Hei, bagaimana menurut kalian?"
__ADS_1
Kyoka mengambil satu set pakaian lengkap beserta dengan jubahnya; tentu saja pakaian dalam tidak termasuk, aku sendiri berusaha sebaik mungkin untuk tidak melihat ataupun menyentuh sesuatu yang bersifat sakral itu. Baju dan celana pendek yang Kyoka ambil tidak salah lagi memiliki image yang imut dan bisa dibilang sangat cocok untuknya. Begitu juga dengan jubah kecoklatan itu, corak kebiruan yang biasanya tidak cocok dengan warna coklat entah kenapa begitu manis ketika berpadu dengan warna rambut Kyoka yang kecoklatan. Aku memujinya,