Illusion & Magic jilid 1: Menggapai Kenangan yang Tak Tertahankan

Illusion & Magic jilid 1: Menggapai Kenangan yang Tak Tertahankan
Episode 2


__ADS_3

Mereka mengucapkan kalimat-kalimat yang hanya melewati telingaku begitu saja. Aku tidak peduli lagi. Aku tidak akan menahan diri kali ini.


Kali ini, meski, meskipun aku tahu akan berakhir seperti apakah diriku nanti. Meskipun aku tahu akan seperti apakah diriku mungkin akan terlihat nanti. Dan meski, meskipun aku tahu tragedi dan bad ending seperti apakah yang akan menimpaku dalam beberapa detik, menit, atau hitungan jam itu nanti.


Aku bersumpah akan membuat mereka merasakan akibat dari semua yang telah mereka lakukan- Karena telah menipuku. Karena telah menjebakku. Dan yang paling tidak bisa kumaafkan, karena telah melakukan hal yang tidak seharusnya mereka perbuat pada teman masa kecilku, Hugo Astin yang terbaring lemah di depanku.


"Kenapa...?"


Mereka melihatku, menatapku tidak sopan dan tersenyum dengan menjijikkan.


"Hm? Tidak ada apa-apa. Ini tidak seperti kami punya dendam pribadi padamu atau semacamnya.... kautahu? Kecuali orang yang terbaring di sana, Kautidak pernah


menanggapi semua pria yang berusaha mendekatimu, jadi kami sebagai kakak kelas ingin memberimu sedikit pelajaran spesial yang akan membuatmu mengetahui seperti apa rasanya merasa dekat dengan seorang laki-laki-- Yah."


"Jangan khawatir, Alice, kami tidak akan menyakitimu jika kaumengikuti apa yang kami katakan, oke?"


"... Aah~ sebenarnya kamu sangat cantik jika kamu lebih memperhatikan dirimu sendiri, kamu tahu?"


Bajingan itu menyentuh sedikit ujung daguku. Aku menggertakkan gigiku dan melihatnya dengan mata yang lebih- Jauh lebih tajam dari biasanya. Brengsek. Menjijikkan. Bajingan. Hanya kebencian dan kemarahanlah yang muncul dari dalam diriku. Meskipun aku akan mencari pada sesuatu jauh dari lubuk hatiku, pada sebuah tempat yang jauh di dalam sana, pada setiap sisi dan sudut, detail dan rinci. Meski begitu, aku yakin tidak akan pernah menemukan hal lain selain dari kedua hal tersebut.


Aku memberanikan diriku. Dalam sebuah ruangan olahraga yang dipenuhi dengan kebusukan dan kekeliruan ini, pada detik dan saat itu aku membualatkan tekadku. Secepat yang kubisa, kumundurkan tubuhku. Melompat sedikit ke depan dengan tangan kanan yang terulur sepanjang yang kubisa, mengepalkan tanganku pada titik yang sangat keras dan menyakitkan, hingga pukulanku mencapainya.—


Pipi bajingan yang sudah membiru terkena hantaman yang kuat, sekuat kuatnya pada batas yang dapat kuberikan. Bajingan yang satu lagi begerak karena reflek, mencoba menangkapku tapi aku berhasil melompat mundur sebelum itu.


“Tolong, siapa pun, jika pertolongan itu datang, dan keajaiban memang ada, kumohon, kumohon... tolong, selamatkan kami...”


Aku terus berharap. Menggerakkan tubuhku. Melihat pada celah yang sempit, menendang bagian yang terapit di antara kedua kaki bajingan itu. 'CTAK!!' meskipun aku yakin tenagaku tidak akan cukup untuk menghancurkannya, rasa sakit yang bajingan itu derita akan jadi sesuatu yang tidak dia lupakan untuk beberapa hari ke depan.


"AAARRRGHH!!"


Bajingan satu lagi berteriak ke arahku. Suara yang keras itu bergema melalui dinding. Kali ini, dia berhasil manangkap pergelangan tangan kananku.


“Tolong... siapa pun tidak masalah. Kumohon datanglah... selamatkan kami...”


Dengan sedikit harapan, aku memohon dalam lubuk hatiku pada seseorang yang mungkin tidak pernah ada. Tangan bajingan yang terasa kasar itu memegang pergelangan tangan kananku dengan kekuatan yang jauh berada di atasku. Tidak bisa dilepas. Tidak bisa dilepas tidak peduli sekeras apa pun aku berusaha. Tidak peduli sebanyak apa pun tenaga yang kukeluarkan. Dan tidak peduli sebanyak apa pun aku mencoba. Bajingan satu lagi menampakkan kemarahan pada matanya. Setelah rasa sakit yang sudah agak mereda, dia meneriakiku,


"Pegangi dia! Akan kuikat dia dengan tiang!"


Bajingan yang memegangiku mulai menyeretku menuju bagian dalam ruangan dimana sebuah tiang basket berdiri. Sedikit, 10m dari sini. Aku menggerakkan tubuhku sekuat tenaga, meronta-ronta dan meneriakkan sebuah kata permohonan, "Lepaskan! Lepaskan aku!" mereka hanya tersenyum. Hanya ada satu kata untuk menjelaskan senyuman seperti apakah itu- “Menjijikkan”


"Hahahahahaha! Tenang saja, Alice. Kami akan membuatmu senyaman mungkin sebentar lagi!"


Sekali lagi aku meronta sebisaku. Orang yang menyeretku menunjukkan reaksi ketidaksabaran.


"Sebaiknya kaudiam, atau.... arrrghh!!"


Bajingan itu memukul punggung leherku dengan telapak tangan yang dibentuknya menjadi datar. Suatu adegan yang mirip dalam film laga tersebut membuat kesadaranku perlahan menghilang. Perlahan. Perlahan. Pandanganku mulai kabur. 'Maaf.. Hugo...' hanya sebuah kalimat pendek itu menjadi sesuatu yang sangat ingin kukatakan, pada seseorang yang terbaring lemah di sebelah sana, Hugo Astin, setelah mengorbankan dirinya untuk melindungiku. Dan untuk terakhir kalinya, aku akan memohon pada sesuatu yang disebut sebagai 【keajaiban】. Menutup mataku dan mengatakannya dengan penuh harapan di dalam hatiku, 'seseorang... tolong aku...?'


"Ha~ah... aku heran kenapa diluar sini ribut sekali... hey, kalian merusak cahaya bintangku, tahu."

__ADS_1


Aku melihat bayangan seseorang di depan pintu. Akal, nalar, otak, kugunakan seluruh kesadaranku yang tersisa untuk memproses sebuah arti dari tindakan, situasi dan sebuah kejadian yang baru saja terjadi. Namun setelah satu, dua, tiga detik, sebelum mendapatkan jawaban apa pun, aku menutup kedua mataku.


***


Gelap. Ya, kegelapan-- Hanya satu kata itulah yang dapat mewujudkan perasaanku ke dalam sebuah kata. Aku tahu apa yang akan kalian pikirkan- 'Tidak mungkin aku sudah mati’ iya kan? Kukira juga begitu. Tapi semakin banyak dan dalam aku memikirkannya, hanya suatu kegelapan itulah yang akhirnya kudapatkan. Atau mungkin yang kulihat sebenarnya hanya kelopak mataku— aku tidak tahu


Hugo Astin-- Nama itu untuk sejenak terlahir di dalam otakku. Hugo, orang itulah yang telah melindungiku dengan segenap tubuhnya, dan tanpa ragu membahayakan dirinya. Aku ingin melihatnya- Tapi aku tidak merasakan sensasi sebuah kelopak mata yang dapat kubuka. Jika aku menggunakan tanganku, mungkin aku akan bisa membukanya dengan paksa- Tapi aku tidak merasakan sensasi sebuah tangan yang dapat kugerakkan. Jika aku membuka mulutku,


mungkin aku bisa meminta seseorang untuk membangunkanku- Tapi aku tidak memiliki cukup tenaga bahkan untuk mengucapkan kata-kata.


Menjengkelkan, yah? Bagiku yang tidak bisa menolong satu-satunya sahabatku... orang macam apa aku ini?


Cahaya-- Seberkas cahaya yang redup itu perlahan membasahi pandanganku.


Sebuah bintang, kenapa tiba-tiba aku memikirkan kata itu, ya? Cahaya yang bersinar redup itu mengingatkanku pada sesuatu yang disebut sebagai ‘bintang’.


Sejak dulu, tidak pernah sekalipun kumemiliki ketertarikan khusus pada benda langit yang satu itu. Kenapa? Kenapa kali ini aku memikirkannya?— waktu itu, sebelum kesadaranku menghilang, apakah seseorang menyebutkan kata itu, bintang- Apa benar begitu? Mungkin saja itu hanya bagian dari ingatanku yang mulai kabur, atau sesuatu semacam itu.


Aku tidak tahu apa pun yang terjadi setelah itu. Aku tidak tahu apa saja yang sebenarnya telah terjadi kepada diriku, Hugo, dan seseorang yang datang memasuki ruangan pada waktu itu.


Aku ingin tahu semuanya. Aku ingin mengerti semuanya dan menjadi lega. Pada saat aku memikirkan hal yang tidak berguna, sebuah bintang- Ah, bukan, cahaya- Mulai mengisi bagian-bagian dari pandanganku. Akhirnya aku merasakan sensasi kelopak mata, tangan dan mulut yang sebelumnya tidak dapat kugerakkan. Melalui semua hal yang akhirnya kudapatkan kembali, aku membuka mataku. ~~~~


"Oh, kausudah bangun? Sebenarnya, aku hampir saja akan memanggil seseorang untuk menggantikanku."


Lagi. Suara orang itu terdengar sekali lagi. Aku mengalihkan pandanganku 90 derajat kanan- pada sumber suara itu.


"Woaahhh~!!"


"Hey, ada apa, tidak enak badan? Wajahmu merah tuh."


Pria itu mendekatkan mukanya padaku, meneliti wajahku seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia. Dan, dengan rasa malu yang lebih banyak merasuki diriku, mewarnai seluruh kepalaku menjadikannya bersemu dalam warna kemerahan padam--


'Kruuuukkk~' Sesuatu yang memalukan dan tidak dapat kupercayai terjadi, bunyi nyaring tersebut terdengar dari perutku. Warna merah pekat yang seperti tomat menguap dari leherku menuju atas, berhenti di ujung ubun-ubunku. Dipenuhi dengan perasaan yang memalukan- Aku menamparnya— pria itu terlempar beberapa meter di depanku.


Aku tahu bahwa apa yang baru saja kulakukan adalah tindakan yang buruk dan sangat tidak beralasan, namun sebelum aku sempat meminta maaf, dia tertawa.


"Ahahahahaha~ seharusnya kaubilang saja. Aku punya mie instan di sebelah sana."


'Aku ingin pulang' 'aku ingin pulang dan segera tidur'. Tetapi pernyataan itu hanya mengingatkanku pada sesuatu yang harusnya menjadi prioritas.


"Hugo...! Orang berambut pirang yang bersamaku tadi! Dimana dia?! Hey!!"


Aku menanyakannya dengan suara yang keras, sebelum dia menunjuk pada sebuah sofa yang kelihatan lebih empuk dibanding kasur yang saat ini kutempati, sebuah tempat di sebelah timur. Aku mengikuti arah yang ditunjuknya dengan mataku, 45 derajat di kiri.


Terbaring di tempat itu, Hugo Astin, teman masa kecilku, tertidur dengan lelap. Menyadari bahwa semuanya baik-baik saja, aku merasakan sebuah perasaan lega yang menyelimutiku. Mungkin... dia, orang itu tidak seburuk seperti apa yang aku pikirkan.


"Ada hal yang ingin kupastikan."


"Hm?"

__ADS_1


Aku merasakan keraguan untuk menanyakannya. Tetapi ada hal yang ingin, dan seharusnya kupastikan. Aku menatap mata pria itu, yang terduduk dalam posisi kaki kiri terulur ke depan


dan kaki kanan sebagai sandaran untuk tangan yang hanya 10cm dari wajahnya yang seolah akan tertawa kapan saja, bersandarkan pada sebuah sisi dari lemari tua.


"Sa-saat aku pingsan tadi... apa-"


Suaraku terpotong-potong, seolah tenggorokanku sedang dalam keadaan yang akan kamu bilang sebagai sesuatu yang tidak begitu baik. Tetapi dengan mengumpulkan keberanian sekali lagi, aku melanjutkannya.


"A-apakah kamu melakukan sesuatu yang lain?”


“Sesuatu... sesuatu seperti apa yang kamu maksud?


“I-itu... seperti... melakukan sesuatu pada tubuhku.”


Suaraku merendah pada bagian-bagian akhir. Aku tidak yakin apakah itu masih dalam batas yang dapat dia dengar atau tidak. Tetapi pria berkacamata yang belum memperkenalkan dirinya itu terlihat sedikit bingung.


"Hn-hn"


Dia menahan tawanya untuk dua detik, kemudian melepaskannya dengan keras.


“Ahahahahaha~!”


"Ja- Jangan menertawakanku!"


Pada suatu waktu yang menjengkelkan seperti ini, warna kemerahan padam akan kembali bersemu menghiasi mukaku. Hu~uuuh! Menyebalkan, ya, ini menyebalkan! Orang ini sungguh saaaangat menyebalkaaan!


"Hahahah... iya, maaf maaf, aku tidak bisa mengikuti suasananya... Jadi melakukan, apa? Kenapa kamu tidak mencoba mengeceknya sendiri?"


Aku menggetarkan tubuhku "Ku-bi-lang...." tubuhku bergetar dalam kejengkelan yang barangkali sudah dalam tingkatan yang paling tinggi yang pernah kurasakan seumur hidupku.


"JANGAN MELEDEKKUUUU~!!!"


Aku mencoba melempar barang-barang yang ada di dekatku, namun hanya terdapat dua bantal di atas kasur. Meskipun ada beberapa benda lain yang dapat kulempar, mereka adalah gelas kaca dan vas bunga yang tidak terlintas pemikiran untuk melempar mereka.


"Haha iya iya, tidak akan kuulangi lagi. Yang kulakukan cuma menghajar dua orang brengsek itu dan membawamu dan temanmu ke ruangan klub ini. Sungguh, cuma itu. Jika kamu masih mau menanyakan hal yang lain mungkin itu adalah memasak mie instan, menyeduh teh hijau atau mengamati bintang?”


Kali ini, aku tidak tau apakah firasatku dapat kupercayai atau tidak, tetapi senyuman yang sederhana itu memberiku ketenangan. 'Orang ini tidak berbohong' dan, 'orang ini tidak berbahaya, dia orang yang baik', aku mempercayai pemikiran itu.


"Begitu. Aku percaya kata-katamu, dan meskipun ini agak sedikit terlambat, aku ucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepadamu, maaf karna memperlakukanmu dengan tidak sopan."


"Tidak, kautidak perlu berterima kasih begitu. Dari awal aku hanya ingin menghajar mereka karena mengganggu pengamatan bintangku, itu saja."


Aku tahu ada berbagai jenis dan sifat manusia di dunia ini, dan di antaranya adalah ‘kerendah hatian’, atau begitulah aku menilainya.


"Tapi tidak bisa begitu. Meskipun kamu tidak mempunyai alasan apa pun untuk membantu, kamu bahkan sampai membawa kami ke tempat yang senyaman ini. Aku tidak akan bisa tidur tanpa berterima kasih."


Kutundukkan kepalaku tanpa peduli pada harga diri apa pun. Meskipun aku tahu, hal itu tidak cukup untuk menunjukkan rasa terima kasihku. Pria yang ada di depanku ini tidak salah lagi adalah seseorang yang baik. Aku tidak suka dengan seseorang yang jahat ataupun kriminal, dan masih banyak lagi mereka yang baik hati di dunia ini.


Namun, seseorang barangkali akan berkata "Kenapa? Kenapa kamu melakukan itu meskipun kamu tidak mengenal mereka dan tidak akan mendapatkan apa pun dan kamu tetap akan melakukannya? Apakah kamu mempunyai sebuah alasan khusus yang mendasari hal itu?" aku sendiri tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan tersebut.

__ADS_1


Itu mungkin dikarenakan aku, Alicia Bluesky adalah seseorang yang dingin dan tidak peduli dengan orang lain. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak beralasan seperti itu pada orang lain, apalagi jika orang itu adalah seseorang yang sama sekali tidak kukenal, tentu saja Hugo Astin dan keluargaku adalah pengecualian. Namun, lelaki itu mampu memberiku sebuah jawaban yang kucari selama ini.


"Alasan, huh? Aku tidak membutuhkan hal yang serumit itu untuk melakukan sesuatu. Aku tidak punya alasan apa pun untuk menolongmu dan juga temanmu. Tapi memangnya kita harus punya alasan untuk menolong orang lain? apa salahnya kalau kita menolong orang lain tanpa alasan? Apa sesuatu seperti 'tubuhku bergerak sendiri' tidak cukup untuk menutupi alasanmu?"


__ADS_2