Illusion & Magic jilid 1: Menggapai Kenangan yang Tak Tertahankan

Illusion & Magic jilid 1: Menggapai Kenangan yang Tak Tertahankan
Episode 5


__ADS_3

"Apa maksudmu?"


Spontan aku menanyakan hal itu. Raut wajahnya yang selalu senang seketika berganti dengan sesuatu yang lebih serius.


"Baiklah, kalian bertiga tolong dengarkan aku...."


‘Dengarkan aku’—Menanggapi kata-katanya, aku merasakan atmosfer berat di udara. Tanpa kusadari kami telah menajamkan mata dan telinga kami.


"2.000 tahun yang lalu, di dunia yang kuawasi ini terdapat ‘seorang dewa’ yang berusaha menghentikan siklus kehidupan para makhluk di dalamnya. Ia mengarahkan semua monster di bawah perintahnya untuk membunuh dan menguasai. Ia menggerakkan ribuan bahkan jutaan monster untuk membantai mereka yang masih anak-anak dan tidak bersalah. Ia adalah keberadaan yang orang-orang sebut sebagai ‘dewa penghianat’, sang ‘diktaktor kehidupan’-- Dan masih banyak lagi sebutan untuknya.


Untuk melawan kekejaman sang ‘dewa’ orang-orang kuat berdiri dan melawan. Mereka membentuk kelompok dengan 51 orang sebagai anggota, dimana aku adalah salah satu anggota dari kelompok itu. Mereka disebut dengan【Argonaut】.


Pukul 12.00 hingga 13.00 adalah waktu istirahat yang diberikan kepada kami, tentu saja kamu tidak harus mentaati peraturan itu dengan ketat. Kebanyakan orang mengambil waktu istirahat yang lebih banyak pada sebuah kelonggaran yang diberikan, tapi bagi Aneko Yuuki hal itu adalah kata lain untuk “mari mencoba lebih disiplin lagi!”; Yuuki akan mengambil kotak makan siangnya dan menghabiskan semua makanan dan minuman dalam waktu singkat, sebelum melanjutkan kembali pelatihan berpedangnya.


Pada waktu istirahat yang diberikan, Kyoka seringkali membawa bekal makanan untuk kami makan— yah, lebih tepatnya ia ‘hampir selalu’ membawa bekal besar dengan banyak porsi yang dibuat bersama dengan ibunya di rumahnya, yang kemudian membagikannya dengan kami.


Dengan begitu, sesi istirahat yang panjang akan membuatmu merasakan sensasi sebuah piknik. Kami berlima akan tertawa dan berbagi cerita bersama, apakah itu aku, kakek, Yuuki, Hajime dan juga Kyoka sangat menikmati waktu sederhana ini dengan kesenangan, kegembiraan dan semua unsur-unsur manis di dalamnya. Bagiku, mereka adalah sesuatu yang nyata, sebuah bintang yang memberiku semua perasaan yang tak tertahankan ini.


Seiring waktu anggota dojo kami bertambah, dan seiring waktu itu juga kami bertambah kuat. Suatu ‘bakat’ yang dimiliki Hajime telah membuatnya berkembang pesat hingga pada titik dimana kamu akan menyebut kemampuannya sebagai 'kecurangan'.


Aku tidak tahu ada dimana batas kemampuan Hajime, tapi orang yang disebutkan itu pernah menembak target latihan sejauh 70m dengan mata tertutup, dan masih tidak terlihat kesusahan sama sekali. Hajime sangat dihargai dan dihormati oleh anggota yang lain dalam dojo memanahnya.


Di sisi lain, aku menjadi seseorang yang 'dapat' mengikuti perkembangan lelaki itu, pada tingkatan kemampuan yang sama dengan kemampuan berpedangku. Aku berkembang dengan suatu ‘bakat’ yang jauh melampaui Yuuki.


Pada tahun pertamaku berlatih pedang, aku mulai mengumpulkan medali-medali dalam kejuaraan-kejuaraan yang kuikuti. Dan pada tahun keempatku, di kala umurku yang kedua belas, aku melawannya.


Itu adalah pertandingan yang panjang dan pada titik yang juga sangat melelahkan. Pertandingan pedang itu bagiku terasa sangat menyenangkan. Tapi di sisi lain, apa yang lawanku, Aneko Yuuki rasakan bukan seperti itu.


‘Harga diri’ sebagai seorang berkemampuan, ‘harga diri’ sebagai seorang yang telah lama bekerja keras, ‘harga diri’ sebagai seorang yang berbakat, dan ‘harga diri’-nya sebagai seorang pendekar pedang-- Yang dalam satu pertandingan itu, aku mengalahkannnya. Itu adalah waktu setelah aku mempelajari teknik yang kakek gunakan tujuh tahun yang lalu, pada pertandingan melawan Yuuki waktu itu.


Dan dengan teknik yang sama, aku mengalahkannya. Seluruh ‘harga diri’ yang Yuuki bangun dalam 22 tahun kehidupannya hancur. Apa yang Yuuki inginkan pada saat itu, apa yang Yuuki rasakan pada saat itu, aku tidak mengetahui semuanya. Seperti apa keinginan Yuuki untuk memenangi duel melawanku, bagaimana perasaannya saat aku mengalahkannya, aku juga tidak mengetahuinya.


- Seandainya saja kautidak ada....


Dengan hanya satu kalimat, hatiku dipenuhi dengan keretakan dan hancur berkeping-keping. Dadaku terasa sakit. Kepala, tangan dan seluruh anggota badanku yang lainnya membeku. Otakku berhenti bekerja. Aku tidak sanggup memproses sebuah arti dari perkataan Yuuki yang hampir diiringi dengan isak tangisan.


Aku menyesal melakukannya. Aku menyesal telah mempelajari teknik kakekku. Aku menyesal telah melawan orang yang selalu menemani latihanku, dan aku meyesal telah mengalahkannnya.


Pada waktu itu, di usiaku yang kedua belas, aku keluar. Aku memutuskan untuk keluar dari dojo, keluar sebagai partner berlatih gadis itu, Aneko Yuuki. Keluar sebagai murid kakekku, keluar sebagai seseorang yang memiliki bakat, dan keluar dari jalan seorang pendekar pedang.


Kakekku memarahiku habis-habisan karena keputusanku yang seenaknya sendiri ini. Melihat raut wajahnya yang diwarnai dengan kekecewaan, aku selalu menundukkan kepalaku saat melihatnya.


Tapi di sisi lain, Hakuharu Hajime dan Hakuharu Kyoka, hanya kedua orang inilah yang masih tetap tersenyum ketika melihatku. Mereka adalah satu-satunya yang tetap menerimaku setelah keputusan yang juga sangat menyakitiku. Aneko Yuuki, aku bahkan tidak pernah bertatap muka dengannya lagi sejak saat itu.

__ADS_1


Perjalanan yang kami lakukan sangat panjang dan sulit, tragedi buruk terjadi satu demi satu, dan jumlah kami berkurang sedikit demi sedikit. Pada akhirnya dari 51 hanya 35-lah yang tetap hidup.... kali itu adalah pertarungan terakhir kami. 'Dalam bertahun-tahun perjalanan itu, segala kerja keras dan perjuangan kami akan ditentukan pada satu pertarungan ini' begitulah yang kupikirkan. Tapi korban lagi-lagi berjatuhan. Dari ke-35 yang tersisa, 20 di antaranya mati untuk melawan dan melindungi yang lain.


Meski begitu pertarungan yang panjang masih belum berakhir. Untuk menyegel sang diktaktor kehidupan, 12 Argonaut tidak ada pilihan lain kecuali mengorbankan nyawa mereka dan menyisakan tiga anggota dari semuanya. Untuk menjaga segel sang diktaktor ketiga Argonaut itu menempati tempat sang dewa dan mengambil posisi sebagai seorang creator.


Namun, pada satu tahun yang lalu, segel itu melemah. Gelombang serbuan monster yang disebut【Ragnarok】terjadi. Kami para creator berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki situasi ini, sebisa mungkin, kami mencegah terjadinya korban untuk kedua kalinya. Tapi apa yang bisa kami lakukan benar-benar sangat terbatas; kami tidak bisa begitu saja pergi dan menyelamatkan orang lain, untuk sekedar berbagi informasi saja kami tidak bisa... jika kami lakukan itu, segel yang telah memenjarakan sang dewa selama 2000 tahun akan hancur dan dunia akan sekali lagi diselimuti dengan kegelapan.


Oleh karna itu... kami butuh bantuan dari orang lain. Karna itu kami tidak punya pilihan selain memanggil orang-orang dari dunia lain."


Hajime menyela.


"Begitulah yang kaukatakan. Dan orang-orang dari dunia lain yang kaumaksud itu adalah kami?"


"Benar, kalian adalah orang-orang yang kupanggil.... Aku mengambil jiwa dan ingatan kalian tepat sebelum kalian mati dan merealisasikan bentuk tubuh yang ideal bagi kalian berdasarkan satu ingatan itu.. ... karena itu... karena itulah, aku...."


Gadis berambut cardinal meletakkan tongkatnya pada lantai dan menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya. Kemudian, memohon kepada kami,


"... Tolong selamatkanlah dunia ini... kumohon selamatkan nyawa mereka yang tidak bersalah!"


Hajime, Kyoka dan aku melirik satu sama lain, tidak dapat mempercayai semua indera dan akal sehat yang menunjukkan suatu pemandangan dan penjelasan yang tidak masuk akal itu. Kyoka menggerakkan bibir tipisnya dan berkata:


"Sebenarnya aku masih tidak bisa mempercayai semua hal yang kamu katakan. Tetapi jika misal, misalkan saja apa yang baru saja kudengar adalah sebuah kenyataan, dan dunia dengan begitu banyak kehidupan itu sedang berada dalam bahaya besar, maka aku akan sedih. Aku ingin menolong mereka, aku ingin membantu mereka sebanyak yang kubisa, dan menyelamatkan mereka yang tidak bersalah. Tetapi aku tidak memiliki apa pun, aku tidak bisa melakukan apa pun dan menolong mereka meskipun aku mau.... jadi tolong beri tahu aku. Beri tahu aku apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan mereka!"


Sang creator menangakkan kepalanya. Namun setelah itu Hajime memberikan respon di pernyataan Kyoka yang terang-terangan.


Tiba-tiba aku menarik sebuah garis di bibirku, membuatnya terlihat sedikit angkuh dan melirik gadis yang sangat kucintai tanpa khawatir pada hal apa pun.


"Dan jika ada seseorang yang harus melindungimu, maka dengan senang hati akulah yang akan melakukan itu."


Kyoka menatapku, rambut dan pupil kecoklatannya terlihat di pandanganku.


"Aria..."


Aku menghadap gadis berambut cardinal dengan serius, dan berkata padanya:


"Aku paham kenapa kaubutuh bantuan untuk menyelamatkan dunia itu. Tapi kenapa dari semua orang yang ada kaumemanggil kami? Apa karena kebetulan kami yang mati?"


Creator itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak, bukan itu. Alasan kenapa aku memilih kalian bertiga adalah karena Aria Horizon, Hakuharu Hajime dan Hakuharu Kyoka adalah orang-orang dengan bakat tempur yang jauh melebihi orang lain, seorang berbakat yang hanya lahir tiap seribu tahun sekali—yang dengan fakta ini aku memilih kalian.


Ah, benar juga, aku lupa bilang bahwa apa yang akan kalian terima dariku bukan hanya informasi ini saja. Karena itu aku, Emilia Evelyn sebagai sky creator memberkati kalian dengan sebuah kemampuan spesial, yang akan membantu kalian di dunia dengan pedang dan sihir, dan membantu dalam menghadapi pertempuran besar Ragnarok."


Kami mendengarkannya dengan serius. Memproses semua kalimat itu dan mengubahnya dalam bentuk data yang siap untuk kami gunakan Tapi dari semua kalimat yang penuh dengan hal yang tidak masuk akal itu, ada satu hal yang tidak dapat kupahami.

__ADS_1


"Tapi...” Aku mencari kata-kata yang tepat untuk melanjutkannya, dan membuka mulutku sekali lagi.


“Kaubilang bakat yang hanya ada setiap seribu tahun sekali, iya kan? Aku tahu kautidak sebodoh itu sampai sengaja membuat pernyataan yang tidak benar, dan bukan kesalahan juga jika berpikir aku dan Hajime memiliki suatu bakat yang kausebutkan... tapi Kyoka berbeda. Kyoka tidak pandai dalam olahraga apa pun dan dia juga tidak memliki kemampuan fisik yang terbilang kuat, jadi tidak mungkin dia memiliki bakat yang barusan kaukatakan... .... kecuali..."


Suara lain memasuki telingaku. Ada empat orang disini, tapi seseorang yang kupikir menjadi pemlik suara itu hanya ada satu.


"Kecuali sihir, benar kan?"


Hajime mengatakkan kalimat yang belum sempat kuucapkan menjadi sebuah perkataan. "Fufufu~” gadis itu yang menyebut dirinya Emilia Evelyn tertawa kecil. “Panggil saja aku Emilia. Seperti kata kalian, bakat milik Hakuharu Kyoka adalah sihir.”


"Sihir...?” Kyoka kebingungan mendengar fakta yang tidak terduga ini, ia membuka mulutnya untuk mengajukan teori baru yang lebih masuk akal.


“Tapi di dunia kami tidak ada yang namanya sihir; jadi kenapa aku menjadi pemilik bakat sihir yang tidak ada itu? Apalagi, seribu tahun sekali, benar? Aku tidak paham"


Emilia tersenyum.


"Tidak ada, huh.... lalu bagaimana bisa kamu tahu kata itu?"


Kyoka membuat reaksi, seolah dia tersentak dan menyadari sesuatu. Emilia Evelyn melanjutkan penjelasannya.


"Sihir—bukannya tidak ada, kalimat yang lebih tepat untuk itu adalah 'pernah ada'. Pernah ada seseorang yang membawa pengetahuan tentang sihir di dunia kalian. Dan pada zaman dimana kalian hidup, untuk sebab yang tidak diketahui pemakai sihir telah menghilang dari dunia... bukankah fakta ini bisa lebih masuk akal?"


Pendapat-pendapat ini memiliki faktor pendukungnya masing-masing. Tapi pendapat Emilia adalah teori dengan kemungkinan tertinggi di antara keduanya. Bagaimanapun juga itu diikuti dengan fakta bahwa dia adalah seseorang yang lebih memahami situasinya saat ini, tidak ada satupun dari kami yang menyangkal fakta itu.


Bahkan aku, yang selalu mencari pemikiran-pemikiran logis mengenai berbagai hal. Bahkan Hajime, yang selalu menggunakan perhitungan-perhitungan yang rumit untuk memecahkan banyak hal. Dan bahkan Kyoka, sebagai pihak terkait yang disebutkan memiliki bakat sihir yang luar biasa. Kami menyetujuinya dalam pikiran kami masing-masing.


"Jadi begitu... aku bisa menggunakan sihir, begitu ya?"


Kyoka tersenyum.


"Tentu saja bisa, aku akan memberimu sedikit pelajaran sihir setelah ini. Dan untuk bakat kalian berdua, Hajime adalah memanah dan berpedang untuk Aria-- Apa ada yang ditanyakan?"


Tidak ada pertanyaan, tapi, seperti yang diduga... meskipun sudah empat tahun sejak aku tidak menggunakan pedang lagi. Meskipun pada hari itu aku sudah membuang semuanya: semua bakat dan kemampuan berpedangku, dan jalan hidupku sebagai seorang pendekar pedang. Aku tidak menyangka harus menggunakannya pada situasi seperti ini.


Setelah menghancurkan seluruh harga diri Yuuki dalam pertandingan pedang waktu itu, setelah menghianati harapan kakek dengan keputusan di hari itu, dan setelah semua hal yang terjadi, kenapa aku masih mau menggunakannya? Untuk melawan? Untuk melindungi? Untuk alasan apa aku mengangkat pedangku kali ini?— meskipun aku sudah mengatakannya sejak saat itu.


- Aku tidak boleh serius.


Pada hari setelah pertandingan melawanku Yuuki, kukatakan satu kalimat itu pada diriku sendiri. Setiap hari, kukatakan sebelum tidur dan setiap bangun tidur keesokan harinya.


Dan setelah semua hal yang kubuang seenaknya sendiri ini, akan kuambil kembali semuanya; bakat, kemampuan, dan jalan hidupku sebagai seorang pendekar pedang?


- Lucu sekali ya, diriku yang dimasa lalu?

__ADS_1


__ADS_2