
- Crakk!
Aria terpental 5 meter ke belakang. Ia berguling satu, dua kali di tanah. Ia terdesak, anjing itu terus-terusan mendesaknya. Sekali lagi Orthrus melompat menuju Aria, menggunakan dua kepalanya untuk mengoyak tubuh Aria yang lemah, namun, serangan itu tidak pernah sampai padanya.
Tepat sebelum anjing itu mencapainya, menyisakan jarak 2 meter, sesuatu menarik kakinya pada tanah; lusinan rumput memanjang mengikat kaki Orthrus seketika, lusinan rumput itu diselimuti dengan api putih yang memperkuat mereka-- Tidak perlu ditanyakan lagi siapakah pihak yang melakukannya.
Aria mengambil pedangnya yang sempat terjatuh di tanah, dia membuat kuda-kuda untuk menyerang Orthrus yang hanya 2 meter di depannya, tepat di kepala kanannya seperti yang dia serang sebelumnya pertama kali.
Namun, sebelum dia sempat mengeksekusi gerakan itu, kepala kiri musuhnya mengambil nafas dalam-dalam. Aria menyadari gerakan itu dan ia melompat ke sebelah kanan.
Nafas api meluncur melewati tempat Aria berdiri sebelumnya. Setelah itu, tubuh Orthrus begetar, cahaya kemerahan samar muncul menyelimutinya, membuat lilitan rumput Aria meregang dan terlepas. Orthrus kini terbebas dari keterbasan yang Aria buat, ia berdiri.
Ia memutar tubuhnya dan menghantam Aria dengan tubuh bagian belakangnya. Untungnya, Aria sempat memasang posisi bertahan sebelum serangan itu mengenainya, yang membuat dampaknya berkurang beberapa kali lipat.
Meski begitu, entah karena cahaya kemerahan itu atau sebab lain yang tidak diketahui, dampak yang seharusnya berkurang justru menjadi semakin kuat.
Aria terpental 10 meter ke belakang, menjadikan tabrakan dengan pohon sebagai pendaratan terakhirnya. “Argh!” Ia berteriak karena rasa sakit yang ditimbulkan tepat ketika hantaman itu terjadi, bersama cairan merah yang keluar dari mulutnya.
Dua kepala Orthrus mengambil nafas dalam-dalam, Aria membelalakkan mata hitamnya setelah melihat. Itu gawat! Dia tidak mungkin sempat! Apa Aria akan baik-baik saja jika itu mengenainya? Tentu saja tidak! Dia bisa mati! pasti!
Tapi nafas api itu tetap meluncur ke arahnya--- Aku tidak sempat melihat respon akhir yang Aria berikan sebelum api itu mencapainya, karena aku menutup mataku, karena aku takut melihat pemandangan yang menyakitkan di mataku.
*****
Sebatang sosok hitam terlihat dari tempat Aria berada sebelumnya, aku yakin itu bukan batang pohon atau sesuatu semacamnya, dan bukan juga sosok manusia yang masih hidup. Itu bekas bakaran, yang sudah hangus, seukuran manusia, seukuran Aria.
Tidak—apa dia... tidak mungkin.. kan? Itu tidak mungkin dia.. kan?
“Hh-huahahahaha~ahahahaha~ akhirnya. Akhirnya. Akhirnya. Akhirnya sampah itu mati juga! Ahahaha~ apanya yang ‘tidak bisa mati’, apanya yang ‘tidak mungkin aku bisa kalah’! lucu! Dia lucu! Ahaha~” Lilith tertawa seperti dia tidak pernah tertawa untuk waktu yang lama. “Naaah~ sekarang, takhluklah pada kemampuanku! Takutlah padaku!”
Aku menggunakan【Magic Card】:【Teleport】untuk pindah dari tempatku ke tempat sosok hitam itu berada, aku memberanikan diri untuk memastikan eksistensi yang terletak di tempat Aria seharusnya. Menyadariku, dan sosok hitam yang kupegang dengan cemas, Lilith berjalan medekati Orthrus.
“Akhirnya kaumuncul juga, ya~? Padahal aku sudah mengirim banyak aether-ku untuk mencarimu, aku heran ada dimana mereka sekarang--”
“Kubunuh.” Kukatakan dengan nada yang sedingin mungkin, seolah yang ingin kubunuh adalah dia, bersama dengan anjingnya dan aether-aether busuknya yang lain.
Aku sudah membunuh mereka, aether busuk yang coba melacakku sebelumnya.
Kali ini, aku berdiri. Menyampingi Lilith dan anjingnya, membuat jarak sekitar 10 meter. Kemudian kulanjutkan bicaraku, “Selanjutnya giliran kalian.”
Lilith membelalakkan matanya sebagai respon, kemudian tersenyum seolah pernyataanku adalah sesuatu yang lucu.
Aku memutar tubuhku 90 derajat dan melihatnya dengan amarah, benci, dan penuh dengan dendam.
“Akan kubunuh kalian! Akan kubunuh kalian! Akan kubunuh kalian!! Pasti!”
Aku membuat kuda-kuda memanah dan Lilith bergerak menaiki anjingnya. Sepertinya, dia akan melawanku bersamaan dengan aether-aether-nya.
Aku tahu bahwa ini begitu menyebalkan, menjengkelkan, dan penuh dengan kekesalan. Tapi tetap harus kulakukan- Untuk Blue, untuk diriku sendiri, dan untuk Aria. Aku menarik tali busurku dan melepaskan anak panah tanpa buff apa pun ke kepala orang itu. Tapi seperti yang diduga, itu saja tidak cukup untuk mencapainya.
“Untuk apa kaubertarung jika pada akhirnya cuma akan mati? Karena inilah orang sepertimu jadi mudah untuk dibodohi, sampai aku bisa merampas barang-barangmu- Ya.”
__ADS_1
Aku mengeluarkan nada dingin untuk membalasnya. Aku tahu bahwa suara yang kukeluarkan itu bergetar.
“Satu satunya alasanku adalah untuk membunuhmu, karena itu aku bisa tetap berdiri di tempat ini sekarang. Sudah kubilang, kan? Ada tiga hal yang paling tidak kusukai di dunia ini: memberikan sesuatu padamu, menyerahkan apa yang berharga, dan mengorbankan temanku. Karena itu temanku... Aria, sudah mengorbankan nyawanya, aku tidak bisa mundur begitu saja, aku tidak mungkin lari meskipun aku bisa melakukannya!”
Aku mengambil anak panah dari【Storage】, menempatkannya pada busurku, menariknya, dan melepaskannya menuju gadis itu terus-menerus, lima kali, tujuh kali, sepuluh kali, dua belas kali, tiga belas kali, lima belas kali, tujuh belas kali. Lilith yang menjadi targetku tidak membuat gerakan apa pun, ia hanya berkata padaku:
“Bukankah kamu sendiri tahu itu percuma? Semua usahamu akan jadi sia-sia pada akhirnya. Meskipun kamu tahu itu sia-sia dan tidak berguna, tapi tetap saja kaulakukan, bukankah itu sama saja dengan kalah sebelum berusaha? Atau kamu adalah tipe orang yang berpikir ‘setidaknya aku sudah berusaha semampuku’ hanya untuk kepuasanmu sendiri?”
Aku tahu nada yang Lilith gunakan mengandung sarkasme yang begitu jelas di dalamnya.
“...Itu terdengar egois, yah...? Hanya untuk kepuasanku sendiri... ... yang tidak bisa melindunginya, orang macam apa aku ini? Meskipun aku egois, dan lebih lemah darimu, tapi... hanya karena itu bukan berarti aku akan kalah!”
Kalimat terakhir terkesan seperti aku meniru Aria. Atau mungkin, memang seperti itulah diriku saat ini, setelah bertemu dengannya. Apa benar begitu? Apa aku berubah setelah bertemu dengan Aria? Kurasa tidak. Mungkin itu karena aku mengaguminya- Ah, tidak juga. Lalu kenapa aku berkata begitu? Untuk memprovokasi Lilith? Sepertinya begitu. Karena aku ingin Lilith mati, karena aku membencinya, makanya aku memprovokasinya. Begitulah yang kupikirkan.
Lilith menggertakkan giginya, sepertinya dia jengkel, muak, kesal, atau apa pun, aku tidak peduli. Lilith menggumamkan perintah pendek. “Bunuh dia!” Membuat Orthrus menggonggong satu kali, sebagai tanda bahwa dia paham.
Anjing berkepala dua itu, Orthrus, berlari dengan keempat kakinya ke tempatku. Aku melompat ke atas pohon, sebelum sempat serangan apa pun di arahkan padaku.
Orthrus menabrak pohon yang kutempati, meskipun ukurannya terbilang besar, pohon itu roboh seketika. Untungnya aku sempat melompat ke pohon lain sebelum pohon yang Orthrus tabrak jatuh.
Orthrus kembali menyerang pohon yang kutempati, aku mengelak ke pohon yang lain terus-menerus. Pengulangan itu berlanjut untuk beberapa saat, membuat selusin pohon yang sebelumnya hidup menjadi korban.
Kusadari sudah tidak ada lagi pohon di dekatku. Sebelum anjing Lilith merobohkan pohon tempatku berdiri saat ini, aku melompat ke rerumputan sambil memanahnya di udara, sebelum mencapai tanah, yang kemudian Orthrus tepis dengan mudahnya.
Orthrus sebentar lagi pasti mengejarku, setelah merobohkan pohon itu.
Kecepatannya berada jauh di atasku, begitu juga dengan serangannya, begitu juga pertahanannya. Pada hampir segala aspek anjing itu berada jauh di atasku, aku tidak bisa menyangkal fakta apa pun tentang itu.
Jadi sebelum Orthrus mengejarku, aku harus lari lebih dulu darinya, aku harus kabur mendahuluinya atau dia akan menyusulku dengan cepat, jarak yang tercipta di antara kami adalah 20 meter.
- ssst~
- wishh~
Suara yang kudengar bukanlah raungannya, gonggongannya ataupun nafas apinya. Itu adalah suara saat monster seukurannya terjerat rerumputan api putih di saat dia sedang melesat dengan cepat, kemudian melayang di udara.
Yang artinya, jebakan yang Aria pasang telah berhasil melakukan tugasnya. Setelah beberapa saat melayang di udara, mereka jatuh menghantam tanah yang keras, dan berguling-guling di atasnya, berusaha mati-matian untuk menghentikan dirinya setelah menyadari adanya lubang berdiameter 4-5 m dan kedalaman 10 m di depan mereka-- Tidak diragukan lagi itu adalah lubang yang sebelumnya Lilith buat untuk menjebak kami. Waktu itu, ketika Aria bertanya, Blue menjawab:
『 Pancing dia ke lubang yang sebelumnya, lalu beri jebakan di dalamnya. 』
Aku waktu itu bertanya:『 Jebakan. Apa yang bisa kita pakai? 』
Aria waktu itu menjawab: 『 .... Aku punya, jebakannya. Aku yakin dia tidak bisa lolos setelah
terjebak. 』
Dan terbentuklah rencana ini.
Namun, Lilith tidak terjatuh ke dalamnya, meskipun ia terjatuh dari atas Orthrus, ia hanya berhenti setelah 1 meter di depan lubang tersebut. Anjing itu sekarang membelakangi lubang itu, dan Lilith yang tepat berada di punggungnya mencoba untuk berdiri, berharap dapat mendapatkan penjelasan atas situasi yang baru saja menimpanya.
Namun apa yang ia dapatkan justru adalah sebuah bayangan hitam, sosok bayangan itu mendekat dengan cepat. Tanpa sempat melihat wajahnya, cahaya putih terpantulkan dari kacamatanya, ia menjulurkan kakinya-
__ADS_1
- Druak!
Tendangan kuat menghantam wajah Lilith, membuat gadis itu terpental di udara.
Tendangan itu cukup kuat untuk menjatuhkan Lilith ke dalam lubang.
Dampak tendangan itu membuat gadis tersebut melayang di atas lubang yang ia buat sendiri, dia menoleh untuk melihat apa yang menantinya di bawah sana. Aku mengikuti arah yang dilihatnya dari sisi lubang yang berlawanan dengan bayangan itu.--- Lima- Tidak, enam tanaman karnivora membuka mulutnya seolah menunggu mangsanya untuk segera datang.
Mereka memiliki tangkai yang tebal dan panjang, dan bagian mirip mulut yang dipenuhi gigi pada tubuh bagian atasnya. Jadi ini, jebakan yang Aria maksud. Pikirku.
Ini juga adalah alasan kenapa dia harus menghilang dari pertempuran.
Ether memiliki batasan yang berbeda bagi tiap orang. Bagiku yang sebelumnya level 92 adalah 5500, dan untuk Aria yang sebelumnya level 27 adalah 600. Perbandingan maksimal ether kami berbeda begitu jauh karena aku adalah ēnfinity yang diberkati dengan ether, dan karena perbedaaan level kami yang sangat tinggi pula.
Scared abilityku:【Magic Card】membutuhkan ether dalam jumlah besar untuk menggunakannya, karena itu jumlah ether maksimal yang tinggi adalah berkat yang sangat kuperlukan.
Ada banyak cara untuk memulihkan ether di dunia ini. Di antaranya adalah meditasi yang mengisi ether dengan cara menyerap energi dari alam, atau dengan cara yang lebih sederhana seperti memakai item pemulih ether.
Ada banyak bentuk item pemulih ether di dunia ini, contohnya adalah pil bulat kecil yang kami temukan di labirin Zefestia. Meskipun aku punya bentuk pemulih ether yang lain, tapi efisiensinya tidak akan sebaik pil Zefestia.
Pemulih ether memiliki batasan konsumsi harian yang berbeda untuk tiap bentuknya. Untuk pil Zefestia adalah 2 kali dalam sehari, yang sudah aku dan Aria gunakan beberapa waktu yang lalu. Karena sudah menggunakan semuanya, Aria menghilang pada waktu itu.
Ia harus menyimpan ether-nya untuk menyiapkan jebakan, katanya. Karena itu tugas untuk memancing Lilith diserahkan kepadaku. Dalam rencana yang Aria buat, dia akan pura-pura mati di hadapan Lilith, dan membuatku memancing Lilith seperti yang telah kami rencanakan sebelumnya.
Tidak seperti menumbuhkan rumput yang biasa, tumbuhan karnivora seperti itu membutuhkan ether dan waktu yang jauh lebih banyak untuk menghidupkan mereka dari nol, dari tidak ada apa-apa sebelumnya, tumbuh dan jadi seperti ini.
Karena itu Aria terlihat kelelahan saat ini. Tidak sepertiku yang masih memiliki sebagian besar ether, Aria telah menghabiskan banyak ether miliknya untuk jebakan ini.
Lilith jatuh ke dalam lubang. Enam tumbuhan karnivora membuka mulutnya. Beberapa detik kemudian, bunyi kunyahan yang mereka lakukan memasuki pendengaranku, dari lubang gelap yang agak samar untuk dilihat di bawah sana, kecuali jika kamu memfokuskan matamu untuk melihatnya.
“Akhirnya berakhir... ya kan, Aria.” Kataku.
“Yah, tapi ini melelahkan... bagaimana dengan istirahat seharian setelah ini? Apa di Liberym ada penginapan yang bagus?” Tanya Aria.
Blue memasuki pembicaraan.『 Dasar lemah, ini masih tidak ada apa-apanya dibanding petualanganku di masa lalu, hnh~ 』Ia mendengus.
“ “Aku tidak ingin dengar itu dari seseorang yang tidak melakukan apa pun!” ”
Gema suara itu saling menindihi satu sama lain, yang kukatakan itu bersama Aria.
Lilith sudah mati dan tidak ada lagi yang ingin menghalangi kami saat ini. Pertarungan telah usai, yah! Begitulah pikirku.
Tapi aku heran kenapa aether-aether yang Lilith summon belum lenyap juga? Seharusnya, beberapa detik setelah meninggalnya master mereka, aether-aether ini sudah tidak ada di dunia ini.
“Zzzt~” Aria membuat gesture diam dengan jarinya. Sepertinya dia menyadari sesuatu, atau lebih tepatnya, aku juga mulai menyadarinya sekarang, begitu juga dengan Blue.
--- ---- ---
Aria menjauh dari tempat berdirinya. Orthrus bangkit dari tidurnya, aether yang lain menyerang kami satu per satu. Ini jelas sekali tidak biasa.
Melawan Orthrus saja sudah sangat sulit, apalagi dengan ratusan aether ini, tanpa strategi apa pun, dan mereka sudah mengepung kami, hah?
__ADS_1
Orthrus melompat masuk ke dalam lubang, seolah menjawab panggilan dari tuannya yang sedang dalam masalah. Aku ingin menghentikannya, begitu juga dengan Aria, tapi kami tidak bisa melakukannya, aether-aether ini menyerang kami bersamaan. Aku melompati lubang dan bergabung dengan Aria. Kami saling memunggungi satu sama lain.
“Sekarang bagaimana? Mustahil kita menang jika terus-terusan seperti ini.” Kataku.