
untuk mengemudikan sebuah mobil, karenanya supir resmi kami itu menduduki bangku pengemudinya dengan bangga.
Duduk di kursi sebelahnya adalah adik perempuan Hajime, orang yang selalu menunjukkan antusiasme dan keingintahuan itu tidak lain lagi adalah Kyoka. Mengikutinya di kursi belakang, Alice mencondongkan badannya ke depan, mendekatkan dirinya dalam pembicaraannya dengan Kyoka.
Duduk di sebelah Alice, diriku sendiri yang terkadang memandangi dua gadis yang sedang mengobrol tersebut dari samping dan belakang mereka. Dan di sampingku yang baru saja mengeluarkan ponselnya, Hugo mengetikkan sesuatu di dalamnya.
- Kriiiiing
Ponselku berbunyi, getaran pelan dari kantungku menandakan sebuah pesan. Aku mengambilnya, membuka, dan melihatnya "hey, jadi kaumenolaknya? Alice." nama dari pengirim pesan yang seolah tahu segalanya itu tidak lain adalah Hugo Astin, tercatat di sebelah sana.
Aku meliriknya selama satu, dua detik, sebelum reaksi yang sama dari ponselku terjadi untuk kedua kalinya. "Hahaha, aku tahu apa yang kaupikirkan, sebenarnya aku sudah tahu tentang itu dari pihak terkait yang satunya." Begitu... jadi begitu. Jadi begitulah. Aku paham. Menggerakkan jari-jariku secepat yang kubisa, aku mengetikkan sesuatu untuknya "aku merasa tidak enak karena menolak perasaan yang setulus itu. Tidak salah lagi dia adalah gadis yang baik."
Ponselku berbunyi sekali lagi, kali ini aku mengaturnya dalam perintah ‘getar saja’, lalu membuka pesan yang berisi:
"Sebenarnya aku menyukainya."
--Seketika, kupalingkan mataku pada seorang pria di sebelahku. Aku terkejut dan ada hal yang ingin kukatakan padanya, tapi ponselku telah mematerialisasikan sebuah getaran pelan, dalam pesan berikutnya dia berkata, "itu sudah lama sekali. Tidak salah jika kubilang itu alasanku untuk pindah kesini; mengikutinya."
Pesan berikutnya datang , "Maaf, seharusnya aku tidak membicarakan ini.".
Kami berhenti di lampu merah, menunggu hitung mundur untuk segera menjadi hijau. Aku memikirkan sesuatu untuk membalasnya. Sekitar 12 detik yang terlewati, lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Namun sebelum sempat mengubah sesuatu yang sangat ingin kukatakan ke dalam susunan huruf dan kata-kata, sesuatu yang janggal dan tidak mengenakkan terlihat.
-- Sebuah truk beroda enam mendekati mobil kami dengan kecepatan yang melebihi batas 70km/jam. Segera--- Dengan kecepatan yang nyaris melampaui mataku.--
Suara tabrakan logam keras telah menjadi skenario terburuk yang tidak mungkin dapat kami hindari.
- TRAAAKKKKKK!!!!
Truk yang menghantam mobil kami memberikan dampak yang tidak sedikit. Aku tidak punya waktu untuk memastikan apakah dua orang di kursi depan berada dalam kondisi yang baik-baik saja. Tapi beruntungnya aku sempat memeluk dua orang di sampingku, menghindarkan mereka dari naskah terburuk yang disebut dengan ‘kematian’. Tapi tubuhku sendiri sudah terlalu sulit untuk menolak sesuatu yang tidak melawan takdir kehidupan itu.
Dengan kata lain, aku dalam keadaan yang dapat kamu bilang sebagai sesuatu yang benar-benar sangat buruk. Dan sebentar lagi, entah itu dalam hitungan menit atau detik, entah itu hanya 20 detik atau 10 detik- Aku akan mati. Aku akan meninggalkan juniorku yang sedang kupeluk. Aku akan meninggalkan dunia ini pada usia ke 18-ku sebagai Aria Horizon. 'aah~ mati seperti ini tidak buruk juga.' Tiba-tiba aku memikirkan itu.
"ARIA!!!"
Aku mendengar suara Alice memanggilku. 'Ada apa, Alice? Kamu tidak terluka, kan? Hahaha.' Sangat ingin rasanya aku tertawa seperti itu, tapi aku tidak yakin apakah sisa tengaku masih cukup untuk melakukannya. Melihatnya yang mengkhawatirkanku itu entah kenapa aku tersenyum.
"ARIA!!!"
Sekali lagi, suara itu memanggilku. Isak tangisan turut terdengar dari gadis itu. 'Kenapa, juniorku? Apakah kamu baik- Baik saja? kenapa kamu menangis? jangan khawatirkan aku, syukurlah jika kamu baik-baik saja'
"HEY!! ARIA!!"
Kali ini adalah juniorku yang satunya, Hugo memanggil namaku dengan air mata yang turun membasahi matanya. Hugo menangis. Dia menangisi kepergianku.
Tapi, aku akan benar-benar mengucapkannya kali ini, kata-kata yang belum sempat kusampaikan kepada Hugo sebelumnya. Sesuatu yang sangat ingin kukatakan kepada Hugo pada waktu itu. Aku menatapnya dengan senyuman lemah.
"Hugo, dengarkan aku."
Ekspresinya diwarnai dengan sesuatu yang disebut sebagai perasaan cemas dan penuh kekhawatiran. Hugo melihatku dengan mata sedih.
__ADS_1
"Apa... apa... Aria...?"
Sebisa mungkin, aku tetap mempertahankan senyumanku yang seolah akan pudar kapan saja itu, juga dengan mempertahankan kelopak mataku yang terlihat akan kehilangan kesadarannya kapan saja. Dan diriku sendiri, yang akan segera kehilangan ‘cahaya bintang’-nya pada suatu waktu yang tak tertahankan ini. Membentuk susunan kata yang akan menjadi kalimat terakhirku untuk Hugo.
"... Tolong, Hugo... ... jaga Alice untukku."
Hitung mundur berakhir. Tanggal 15 Agustus 2022, Aria Horizon mati meninggalkan dunia ini.
- Chapter 00 : Prolog End –
Chapter 01: Kemudian, Kita Mengambil Kembali Semua yang Telah Hilang
Di dunia ini manusia selalu dibagi menjadi dua: mereka yang meninggalkan orang lain dan mereka yang selalu ditinggalkan oleh orang lain- Pernyataan seperti itulah yang selama ini kupikirkan.
Sepuluh tahun yang lalu, pada musim semi di bulan Mei di saat usiaku baru menginjak delapan tahun, kakek mendirikan sebuah dojo. Meskipun aku bilang 'sebuah', gedung sederhana yang baru dibangun itu dibagi menjadi dua bagian.【Dojo memanah】tempat teman masa kecilku, Hakuharu Hajime melatih kemampuan memanahnya-- Dan【Dojo pedang】dimana aku mengikuti ajakan kakekku untuk melatih kemampuan berpedangku.
Namun, pada awalnya tidak banyak orang yang tertarik dengan sebuah tempat yang baru dibuka itu. Dojo memanah, tempat berkapasitas 10-15 orang hanya ditempati dengan satu nama: “Hakuharu Hajime”, kamu dapat menemukannya pada daftar anggota di sebelah utara dinding, yang seringkali ditemani oleh Kyoka atau kakekku pada jam-jam latihan kami.
Namun ada dua anggota untuk dojo pedang. Selain diriku sendiri, seorang gadis pony tail berkulit putih sekitaran umur 18 tahun bersamaku, rambut kecoklatannya menyiratkan sesuatu yang memberikan kesan seperti tekad dan keberanian.
Gadis itu, Aneko Yuuki bertemu dengan kakekku pada musim gugur, bulan November lima setengah tahun yang lalu. Permainan pedangnya yang anggun telah menyihir banyak orang meskipun usianya masih sangat muda.【Bakat】adalah kata yang seringkali Yuuki dengar pada dua belas tahun kehidupan masa kecilnya. Dan sudah tak terhitung berapa banyak master pedang yang ia kalahkan di waktu itu.
Pada usianya yang menginjak ketiga belas, kakekku melawan Aneko Yuuki dalam sebuah pertandingan pedang satu lawan satu. Yuuki mengeluarkan segalanya. Segala bakat, teknik dan kerja keras dia tuangkan dalam pertandingan yang panjang.
Pada serangan terakhirnya, Yuuki menggunakan sebuah teknik yang sangat dia banggakan, yang telah menumbangkan lawan dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya, Yuuki keluarkan dengan bangga. Pertandingan yang panas itupun berakhir.
Berakhir, dengan kekalahan Aneko Yuuki. Teknik yang sebelumnya belum pernah dipatahkan itu kakek lewati dengan teknik lain yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Mereka menjadi rival setelah itu, dalam lima tahun yang terlewati, Yuuki mencatatkan dirinya sebagai “rival” dari seorang master pedang yang mengalahkannya.
Begitulah bagaimana aku kehilangan dua orang yang berharga bagiku, sesuatu hal yang nyata yang telah menemaniku dalam dua belas tahun kehidupanku. Sebuah bintang yang telah kehilangannya cahayanya. Dan mereka, atau memang dirikulah yang meninggalkan sesuatu itu.
~**~
Gelap. Ya, kegelapan-- Hanya satu kata itulah yang dapat mewujudkan perasaanku ke dalam sebuah kata. Aku tahu apa yang akan kalian pikirkan- 'aku sudah mati’ iya kan?. Kukira juga begitu. Tapi semakin banyak dan dalam aku memikirkannya, hanya suatu kegelapan itulah yang akhirnya kudapatkan. Atau mungkin yang kulihat sebenarnya hanya kelopak mataku— aku tidak tahu
Hajime... Kyoka... dua nama itu untuk seketika terlahir dalam alam bawah sadarku. Dua orang yang sangat kusayangi, mereka adalah teman masa kecil yang kuanggap sebagai suatu hal yang sangat berharga, suatu hal yang nyata, dua di antara keempat bintang yang telah memberiku cahaya dalam beberapa tahun ini. Dua di antara Alice dan Hugo, dan pada sepuluh tahun yang lalu, dua di antara kakek dan Yuuki. Mereka adalah dua orang yang tidak sempat kulindungi ketika kecelakaan lalu lintas beberapa saat yang lalu.
Aku ingin melihatnya, tapi aku tidak merasakan sensasi sebuah kelopak mata yang dapat kubuka. Jika aku mengangkat tanganku, mungkin aku akan dapat menyentuh mereka sekali lagi- Tapi aku tidak merasakan sensasi sebuah tangan yang dapat kuangkat. Jika aku membuka mulutku, mungkin aku bisa membuat percakapan kecil yang biasanya dengan mereka- Tapi aku tidak merasakan sensasi sebuah mulut untuk mengucapkan kata-kata.
Menjengkelkan, yah? Bagiku yang tidak mampu melindungi dua orang sahabatku... orang macam apa aku ini?
Cahaya--- Sedikit cahaya yang redup itu membasahi pandanganku. Sebuah ‘bintang’... kenapa aku memikirkan kata itu? Cahaya yang bersinar redup itu mengingatkanku pada sesuatu yang disebut sebagai bintang. Aku ingin menyentuhnya, aku ingin memegangnya, aku ingin meletakkan tanganku padanya, aku sangat ingin menggapai bintang itu. Cahaya itu bersinar lebih terang, semakin terang mencapai titik yang dapat membutakanku.
"Bukankah ini saatnya kalian bangun?"
----- Perlahan, kubuka kelopak mataku. Rasa panas dari luka pada waktu itu telah sepenuhnya menghilang. Perlahan. Perlahan. Sesuatu memasuki pandanganku yang agak buram.
Rambut merah tua yang begitu indah-- Yang disebut juga cardinal. Punggung, pinggang, paha dan kaki yang ramping. Juga postur yang tidak begitu tinggi dan tidak terlalu rendah-- Memasuki penglihatanku.
Gadis berambut cardinal itu memberi kesan seperti keberadaan yang disebut sebagai seorang gadis yang sangat cantik. Anehnya lagi gadis yang sangat cantik itu membawa kayu yang tidak biasa, dimana ujung tongkat itu melengkung melingkari bola kaca yang bersinar dengan cahaya crimson. Ditambah lagi, sepotong jubah yang dipakainya adalah sesuatu yang jarang kamu temui pada zaman yang sudah modern ini-- Yang mengingatkanmu pada keberadaan seperti ‘penyihir’ era pertengahan. Dia berbalik, merentangkan kedua tangannya dan membuka mulutnya lebar-lebar.
"Selamat datang di【Aula Langit】, tempat creator tinggal dan mengawasi. Berdirilah, kalian bertiga."
__ADS_1
Melalui bola kaca crimson, 20 cahaya kuning transparan terlahir, menyentuh dan membangunkanku perlahan.
---- kesadaranku kembali. Pikiran-pikiran yang tidak dapat dimengerti berkumpul di dalam otakku, membentuk lusinan pertanyaan di dalamnya.
Gadis cantik? Aula langit? Tapi yang paling membingungkan adalah-- 'kalian', Pada sesuatu seperti apa kata 'kalian' itu merujuk? Aku berpikir untuk mengecek ke kanan kiri, tetapi sebelum hal itu sempat terealisasikan- 'brukk' sesuatu memelukku dari samping.
"Aria! Aria!~ aku senang sekali.... aku senang sekali bertemu denganmu, Aria~"
Sesuatu, atau lebih tepat disebut ‘Kyoka’ memperlihatkan wajah khawatirnya.
"Hahaha~ aku heran bagaimana kamu bisa bereaksi secepat itu, Kyoka."
Sekali lagi suara penuh rasa nostalgia mengejutkanku. Mengalihkan pandanganku 90 derajat ke arah kiri, seorang berambut goldenrog terlihat; Hajime menampilkan sebuah tawa yang terkesan mengejek. Menanggapi Hajime, Kyoka bergerak secepat yang dia bisa untuk melepaskanku dari pelukannya.
"Tunggu, ini... bagaimana kalian bisa ada disini—“
Aku melanjutkan, “Tidak, bukan itu, lebih tepatnya yang ingin kutanyakan adalah..."
Aku mengalihkan pandanganku pada seseorang yang tersenyum di belakang meja.. Rambut cardinalnya sesaat mengembang bersama bola-bola cahaya yang menghilang.
"Bisa kamu jelaskan semuanya...? Apa yang terjadi, dan tempat apa ini?"
Tapi gadis cantik itu hanya memberiku jawaban yang dipenuhi dengan ambigunitas.
"Hahaha, tadi aku sudah bilang, kan? Yah, biar kuulangi sekali lagi; selamat datang di【Aula Langit】, tempat creator tinggal dan mengawasi."
Tidak, bukan itu, kaupaham apa maksudku, kan?
Kukepalkan tanganku.
"Jangan bercanda...! Penjelasanmu itu tidak—"
Tapi sebelum aku sempat menyelesaikan semua kalimat yang ingin kukatakan, uluran tangan terbentuk di depanku.
Setelah berusaha menghentikanku, Hajime melangkah ke depan satu, dua kali, mengatakan dengan nada yang tenang:
"Yah~yahh~ harusnya kaumenjelaskan apa itu creator atau【Aula】apalah itu sebelum membuat temanku yang satu ini tenggelam dalam emosinya, atau kaumemang sengaja melakukannya?"
Hajime tersenyum, senyumannya berada pada titik yang jauh dari kata 'ramah'.
Dia melanjutkan:
"Ya kan, creator?"
Gadis cantik berambut cardinal itu tersentak, menahan tawannya untuk dua detik.
"Aha~ahahahhahaha~ menarik, hey, kamu menarik, Hakuharu Hajime, kamu menarik. Hahaha~”
Aku tidak tahu kapan atau dimana gadis ini mengenal Hajime atau apakah dia juga mengenal Kyoka atau tidak, dan aku sendiri tidak sedang dalam mood untuk menanyakan tentang hal itu pada gadis ini juga.
“Jadi apa tadi? Kamu bertanya apa itu【Creator】dan【Aula Langit】...?"
Yang ingin kutanyakan adalah semuanya, benar-benar semuanya. Tapi tidak masalah dengan memulainya dari sini.
__ADS_1
"Yah, itu,【Creator】-- Bisa kalian sebut juga dengan【Dewa】,【Penguasa Tertinggi】atau【Sang Pengatur】. Mereka adalah bentuk kehidupan yang memiliki ‘hak tertinggi’ di antara makhluk hidup lain; ada lebih dari satu creator di dunia, dimana para creator tersebut dibagi menjadi tiga:【Sea Creator】yang mengatur lautan,【Earth Creator】yang mengatur tanah/daratan, dan【Sky Creator】yang mengatur langit. Tempat ini, yang tadi kusebut dengan【Aula Langit】adalah tempatku untuk mengamati kehidupan makhluk hidup yang lain, bisa kalian sebut juga dengan kantorku; dan soal pernyataanmu tentang aku seorang creator, itu tidak sepenuhnya salah."