
Sensasi lembut memasuki syaraf tanganku. Telapak tangan seseorang menyentuh dan menarikku, menempelkan wajahku dengan dadanya.
"Tidak peduli kepada siapa tangisanmu itu kamu ungkapkan, dengan alasan apa atau dimanakah kamu ingin menangis, menangislah, ungkapkan perasaanmu pada mereka. Tidak peduli siapa pun dirimu atau di dunia manapun kamu berada, menangis di saat sedih itu tidak apa."
Rasa sakit dan kelelahan muncul menyelimuti seluruh bagian dari tubuhku, meski begitu aku berusaha untuk sama sekali tidak mempedulikan mereka. Aku hanya terus menangis, membentuk tetesan air mata yang diserap melalui kain yang gadis itu kenakan. Tapi lama-kelamaan kelelahan itu menguasaiku, aku tertidur dalam dekapan gadis itu.
~**~
Aku terbagun di samping cahaya orange yang sedikit redup, menandakan waktu sudah menunjukkan matahari yang hampir terbenam. Di bawahku, sensasi lembut yang mengingatkanku pada kenangan di hari itu tidak salah lagi adalah sensasi sebuah paha, satu-satunya hal yang terpantul dalam mata hitamku adalah mata mint yang menjadi simbol dari gadis itu, dan langit-langit kecoklatan yang terbuat dari kayu jauh di belakangnya. Sensasi ini menunjukkan sebuah tempat dimana aku menangis di depan kamar tempat kedua sahabatku berada.
"Kausudah bangun? Maaf untuk ini, apa sebaiknya aku memindahkanmu ke tempat tidur agar rasanya lebih nyaman? Tapi ayah tidak marah juga jadi kupikir ini akan baik-baik saja." Kata gadis itu sambil memandangku.
"Tidak, tidak apa. Aku tidak punya hak apa pun untuk meminta lebih di saat kamu merawatku seperti ini, dan aku minta maaf juga karena tidak sempat memperkenalkan diriku sebelumnya, aku benar-benar tidak bisa tenang waktu itu. Namaku Aria, Aria Horizon."
"Fufu~ namaku Charlotte Kimberly, kauboleh memanggilku sesukamu. Ah, sebenarnya ayah sudah memperkenalkanku sebelumnya jadi ini hanya sekedar formalitas."
"Kalau begitu aku akan memanggilmu Char, oke?"
"Langsung bersikap seperti sudah akrab, ya? Yah, aku sendiri yang memintamu jadi ini bukan saatnya untukku protes atau semacamnya, dan tidak seperti aku merasa terganggu juga jadi tidak apa-apa, A-ri-a."
"Entah kenapa dari sudut pandangku malah kamu sendiri yang bersikap sok akrab denganku, dan itu tidak seperti aku memanggilmu Char karena ingin akrab denganmu atau semacamnya, aku hanya berpikir itu lebih pendek satu suku kata daripada Lotte."
"Uu~ itu kejam, seharusnya aku mengajari pria berambut putih ini tentang bagaimana cara bicara dengan seorang gadis."
Cara berbicara dengan seorang gadis? Ah, bukan itu. Berambut apa? Kenapa orang ini mengatakan sesuatu yang sudah sangat jelas salah seperti itu. Maksudku, rambutku tidak mungkin putih- Begitulah yang kupikirkan.
"Apa maksudmu? Warna rambutku dari dulu adalah hitam."
"Kamu sendiri apa maksudmu? Harusnya kamu tahu rambutmu itu berwarna putih. Ah, tunggu sebentar, aku punya cermin." Kata gadis itu sambil mencari cermin di antara saku-sakunya.
"Ini, lihat saja sendiri." Char menyerahkan cermin kecil yang ia baru saja ambil kepadaku.
Aku menerima cermin kecil itu dan segera memastikan hal yang kuyakini sebagai sesuatu yang sudah pasti dan tidak mungkin dapat berubah tanpa sepengetahuanku. Tetapi di saat aku melihat ke dalam pantulan kaca pada cermin itu, apa yang terefleksikan di dalamnya melucuti seluruh keyakinan dan akal sehatku. Seorang pria tanpa kacamata sekitaran umur 18 tahun terpantulkan dari kaca itu, dan warna rambutnya tidak salah lagi adalah ‘putih’.
Sekilas aku mulai berpikir apakah tubuh ini memang benar-benar milikku atau bukan, tetapi apa yang ditampilkan di sana tidak salah lagi adalah diriku.
"Tidak—tapi--ini...."
"Hm?? Ada apa? Kenapa kamu terlihat seperti itu? Bukannya rambutmu memang berwarna putih...? Yah, kuakui itu cukup jarang tapi bukan berarti kauharus berekspresi seperti itu."
"Tidak, bukan itu... maksudku, rambutku sebelumnya berwarna hitam..." Dan memang begitulah kebenarannya, seharusnya.
"Sebelumnya...? Lebih tepatnya kapan sebelumnya yang kamu maksud itu?"
"Kautidak tahu? Jadi maksudmu saat kamu menemukanku rambutku sudah jadi putih, huh."
"Begitu ya... artinya warna rambutmu berubah setelah kamu kehilangan kesadaranmu. Jadi, petunjuk apa yang kamu miliki?"
__ADS_1
"Hmm.. Sekarang kamu mengatakannya... petunjuk, kah?"
Aku berpikir dua, tiga detik, pesan suara yang kudengar waktu itu mengingatkanku pada sesuatu yang merujuk sebagai petunjuk. Dan meskipun aku memikirkannya lebih lama lagi, aku tidak menemukan apa pun hal yang mengandung kata petunjuk yang bisa digunakan dalam kasus ini. Aku tidak tahu apakah dugaanku benar atau salah, aku coba mengeceknya dalam status.
Dengan perintah yang sederhana sebuah persegi panjang hologram agak transparan muncul dalam penglihatanku.
<<【】>>
Name : Aria Horizon Race : Human Level : 25 Job : None Gender : Male Class : None
Life : 500/1000 Ether : 300/500 Strength : 450 Vitality : 375 Defense : 350 Agility : 750
Accuracy : 400 Intelligence : 50
Art : · Asterial Stlye (Sword)
Ability : · Analyze · Sword Mastery LV 15
Scared ability : · Plants Creator · White Flame · Map
Equipment ability: -
Tittle :
【Human Race】【Otherworlder】 【Scared Ability User】 【Swordman】 【Agi Blesser】
Sesuatu-- Atau lebih tepatnya statusku mengalami banyak perubahan sejak aku mengeceknya terakhir kali. Dari semua perubahan itu perubahan pada kolom scared ability membelalakkan mataku, mengisi pikiranku dengan kumpulan tanda tanya tanpa banyak penjelasan yang bisa digunakan. Berdasarkan kesimpulanku, scared ability adalah skill yang kekuatannya jauh di atas skill lain, dan mendapatkannya juga pastinya tidak akan mudah.
【White Flame】,【Map】-- Dua scared ability baru mengisi slot skill pada statusku. Aku tidak tahu kenapa aku mendapatkan kedua skill itu, atau persyaratan seperti apakah yang membuatku mendapatkan mereka. Bahkan meskipun aku menyadari kedua skill itu telah menjadi milikku, aku tetap tidak bisa menyimpulkan alasan di balik warna putih yang mewarnai rambutku.
【White Flame】, tidak seperti api pada umumnya, ia tidak akan membakar tubuh musuh secara langsung, melainkan menambahkan buff kepada penggunanya sendiri- Entah itu attack, defense, speed, accuracy, atau heal.
Sebagai contoh adalah buff heal yang muncul menyelimuti tubuhku sebelum kesadaranku menghilang pada waktu itu, dan menghilangkan seluruh racun yang kuderita. Rambut putih ini mungkin adalah efek samping dari penggunaan skill 【White Flame】itu sendiri, tetapi aku tidak punya kepastian apa pun untuk mengambil kesimpulan begitu saja karena sistem 'pengertian' dari【status】tidak memberiku pengetahuan apa pun mengenai hal tersebut.
(*Buff bisa disebut juga sebagai efek tambahan yang bersifat positif pada suatu objek.)
Satu lagi, tidak seperti namanya yang begitu sederhana,【Map】mampu memberimu peta sederhana beradius 1km dalam otakmu dan mewujudkan peta hologram dengan radius 5km yang dapat membantumu mencari semua hal yang berhubungan dengan suatu item atau seorang tertentu yang ditunjukkan padanya.
Contohnya adalah jika aku menggunakan【Map】pada syal hitamku, maka pada peta hologram akan menampilkanku sebagai pihak yang terkait dengan syal hitam.
Hologram itu juga tidak hanya memberi gambaran datar dan titik-titik seperti sebuah peta pada umumnya, melainkan sesuatu seperti miniatur sebuah area secara detail termasuk orang-orang yang sedang berjalan.
"Bagaimana? Kaumenemukan sesuatu?" Tanya Char yang memandangku dengan mata mint-nya.
Tapi karena terdapat beberapa hal pada statusku yang mungkin berbeda dengan orang-orang dari dunia ini, aku jadi tidak bisa memberi tahu Char begitu saja. Title 【Otherworlder】 adalah contohnya, akan merepotkan jika mereka- Tidak, semua orang di kota ini mengetahui tentang diriku yang berasal dari dunia lain.
Itu karena kemungkinan dimana aku akan menjadi pihak yang dimanfaatkan adalah sesuatu yang tidak kecil. Aku harus menghindari apa pun yang dapat membongkar fakta bahwa aku berasal dari dunia lain, setidaknya sampai kudapatkan informasi yang cukup tentang dunia ini atau sampai aku menjadi lebih kuat agar dapat melindungi diriku sendiri.
__ADS_1
Tapi, ada dua orang yang mungkin tidak akan menghianatiku, setidaknya itulah kupikirkan. Dua orang itu adalah mereka yang telah menolongku dan dua orang sahabatku, seseorang yang mengakui dirinya sebagai dokter kota ini, Claude Kimberly, dan anaknya, Charlotte Kimberly, adalah salah dua dari beberapa- Tidak, mungkin adalah satu-satunya yang dapat kuajak bekerja sama dalam berbagi informasi yang kubutuhkan.
Aku mengangkat badanku dari pangkuan Char, bersandarkan pada dinding di sampingnya, dan dengan sedikit harapan aku bertanya.
"Nah, Char... apa kamu dan ayahmu bisa menyimpan rahasia?"
Char memiringkan kepalanya dalam kebingungan, tanda tanya yang besar tersiratkan dari matanya. Tetapi setelah memikirkannya ia menjawab.
"Tentunya jika itu adalah hal yang buruk dengan menyimpannya aku akan memilih untuk menyebarkannya. Tapi kautahu? Aku dan ayahku bukanlah tipe orang yang akan menyebarkan rahasia orang lain hanya untuk kesenangan, kepuasan atau keuntungan diri kami sendiri. Apalagi jika itu adalah penyelamat kota kami jadi tidak mungkin jika kami malah membuatnya merasa tidak senang dengan hal itu."
Mengambil jawaban Lotte sebagai konfirmasi 'ya, kami bisa' aku berdiri dengan mengubah dinding kayu sebagai penopang tubuhku, Aku berniat untuk memasuki ruangan tempat ayah Char, Claude Kimberly berada. Tetapi sebelum aku sempat melakukannya, ia keluar dari pintu.
"Sebenarnya aku bisa mendengar kalian dari dalam. Jadi apa yang ingin kaubicarakan? Jangan khawatir karena aku tidak akan melakukan hal tidak sopan seperti itu saat kalian sudah menolong kami, karena itu kaubisa percaya pada kami- Tidak, bahkan seluruh penduduk di kota ini akan dengan senang hati membantumu jika kamu mau."
"Tidak perlu, cuma orang bodoh yang dengan mudahnya percaya pada orang lain hanya karena kami pernah menolong mereka. Aku tidak tahu kapan mereka atau barangkali dirimu sendiri akan menghianatiku suatu hari nanti. Yah, meskipun aku bilang begitu sebenarnya aku cukup mempercayai kalian."
"Jika begitu menurutmu. Jadi, apa yang ingin kaubicarakan dengan kami?" Pria itu menaikkan kacamatanya dengan jari tengah tangan kanannya, cahaya orange gelap terpantulkan dari kacamata itu.
"Yah, itu, kautahu? Sebenarnya aku akan pingsan beberapa jam lagi jika terus berdiri di sini, jadi bisakah kita setidaknya mencari tempat duduk?"
"Kaubenar. Karena itu tadi aku menyuruhmu untuk istirahat, kan? Masuklah ke dalam. Lotte, buatkan makanan dan minuman. Kita akan membahasnya setelah makan malam."
Setelah menghabiskan makan malam yang terasa sangat enak entah karena rasa laparku, rasa lelahku, atau memang karena makanan itu lezat, aku menceritakan semuanya. Tentang bagaimana aku mati dan dihidupkan kembali di dunia lain, bagaimana aku bertemu dengan sang creator, Emilia Evelyn, dan bagaimana aku kehilangan dua orang sahabatku, aku menceritakan semuanya.
Sebagai balasannya, aku meminta mereka membagi pengetahuan tentang dunia ini denganku, tentang semua hal asing yang belum pernah kudengar: monster, mata uang, dan hal lain sampai kondisi dunia ini sendiri, aku menanyakan semuanya.
"Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya?" Tanya Claude, yang menduduki kursi meja peracikan yang didekatkan dengan tempat tidur.
"Meskipun kautanya begitu, sebenarnya aku masih belum punya hal yang pasti untuk dilakukan. Mungkin sementara waktu aku akan pergi berpetualang ke berbagai tempat untuk memperkuat diriku. Meskipun ini pertemuan pertama kita, aku berterimakasih telah memberiku banyak bantuan selama ini, aku akan meninggalkan tempat ini lusa pagi." Kataku, yang menduduki bagian ujung kasur sambil bersandar pada dinding.
"Lusa pagi? Apa yang kaukatakan? Setidaknya istirahatlah untuk seharian besok dan lusa!" kata Char, yang menempati kursi di dekat kasur berseberangan dengan ayahnya.
Memang benar bahwa besok adalah satu hari yang sebaiknya kupakai untuk istirahat dan memakamkan mereka, tetapi aku sangat tidak ingin merepotkan Claude dan Char lebih dari ini. Dan itu pula adalah hari yang cukup untuk sekedar menyiapkan barang-barang sebelum perjalanku, jadi aku akan entah bagaimana mampu melakukannya.
Sebelumnya aku telah mengkonfirmasi pada Char dan Claude bahwa penjualan material monster sangat memungkinkan di kota ini, lebih tepatnya, jika aku mendaftar sebagai anggota di guild petualang, jadi aku memutuskan untuk melakukannya karena akan memberi banyak bantuan dan kemudahan ketika pergi berpetualang nantinya. Tapi selain itu aku belum memutuskan akan pergi kemanakah petualanganku nanti.
"Yah, itu, sebenarnya aku juga pernah mendengarnya. Apa ayah pernah dengar? Sesuatu seperti orang-orang dari dunia lain."
"Dari dunia lain, kah? Kalau tidak salah pahlawan yang baru dipanggil itu juga berasal dari dunia lain."
"Pahlawan, huh... Tapi ayah tidak terlalu mempercayai itu sebelumnya, kan? Itu... sesuatu seperti meningkatkan suasana hati masyarakat atau semacamnya."
"Kaubenar juga. Tapi setelah mendengar ini mana mungkin aku masih tidak percaya. Aria adalah seseorang yang baru saja kehilangan orang yang berharga baginya, bahkan seseorang yang sangat dia cintai, kurasa tidak mungkin jika dia berbohong, kan? Lagipula aku tidak melihat alasan apa pun untuk berbohong seperti itu, dan tidak seperti dia akan mendapat keuntungan juga dengan menyuruh kita menyembunyikannya dari orang lain, apa aku salah? Tapi alasan utamaku mempercayainya adalah karena firasatku bilang dia tidak berbohong."
"Apa-apaan alasan utama yang tidak masuk akal itu? Ah, meskipun aku bilang begitu aku juga mempercayai Aria karena sesuatu seperti itu jadi aku tidak berhak untuk protes."
Aku hanya menceritakan semuanya pada mereka agar mereka bersedia memberikan informasi mengenai dunia ini yang sepertinya akan berguna bagiku, jadi alasan apa untuk mempercaiku terasa tidak penting sama sekali. Tetapi, apa yang mereka berdua bahas sedikit menarik perhatianku.
__ADS_1