
"Aku bukannya bertindak karena sudah memikirkannya matang-matang. Tapi karena aku tidak bisa membohongi perasaanku yang ingin terus bersamamu, bersama Hajime, dan menjaga waktu kita untuk terus melakukan semuanya bersama. Karena itu, karena itulah, aku... aku, akan terus melindungimu..."
Aku memalingkan kepalaku 90 derajat ke kanan, melirik Kyoka yang meneteskan air matanya dengan perasaan sedih, sambil memandangku dengan mata sejernih air.
".... Kyoka, karena aku mencintaimu."
Kyoka melebarkan kelopak matanya sambil melihatku. Kedua mata Kyoka yang sejernih danau mengeluarkan air mata. Isak tangisnya bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Ia membalasku:
"... Hiks... Kenapa kamu mengatakannya di sini... kamu bilang waktu itu, kan? Akan mengatakan sesuatu saat kita sampai di sana... kenapa kamu mengatakannya sekarang, Aria..."
"... “ Aku tersenyum ke arahnya, kali ini, dengan tulus. “Sebenarnya aku tidak yakin apa masih bisa sampai ke sana."
"JANGAN KATAKAN ITU!!"
Kyoka menggeleng dengan keras sambil berteriak.
"Kumohon Aria, jangan katakan itu. Jangan pernah katakan itu lagi. Itu membuatku sedih, sakit. Apa kautahu betapa sakitnya hatiku saat mendengar itu? Kumohon... jangan katakan itu lagi... Aria, karena aku, aku juga mencintai—"
- Hruuakkh
Cairan merah keluar dari mulutku. Aku benar-benar tidak yakin apakah tubuh ini masih sanggup bertahan atau tidak--【Poison Breath】, gas beracun yang sebelumnya mengenaiku. Mungkin efek racunnya menjadi lambat karena tidak mengenaiku secara langsung. Aku mulai merasakan keanehan pada tubuhku. Kesadaranku hampir saja menghilang. Aku merasakan seseorang menangkapku. Ia berkata:
"Tidak apa. Serahkan ini padaku. Akan kujaga Kyoka. Jangan sampai mati, Aria."
Aku tersenyum lemah mendengar pernyataan itu, satu detik kemudian, kesadaranku menghilang.
~**~
Gelap.... kegelapan ini mengigatkanku pada pemandangan ketika aku bertemu dengan Emilia satu bulan yang lalu. Perlahan aku membuka kelopak mataku. Cahaya matahari mengisi penglihatanku meskipun itu agak membuatku silau.
"Kenapa kaumelamun, Aria?"
"Nn?"
"Barangkali dia sedang memikirkan seseorang dari kelasnya. Kudengar ada gadis super cantik yang menyukai Aria."
"Hu~ummm~ apa benar begitu?"
Kyoka menggembungkan pipinya- Tidak, lebih tepatnya, Kyoka 10 tahun yang lalu. Aku tidak tau apa yang kulihat ini adalah kenyataan atau tidak. Tetapi apa yang ada di depanku tidak salah lagi memiliki penampilan dari Kyoka sebagaimana yang aku ingat. Begitu juga dengan Hajime, kakek, dan juga Yuuki.
Mereka menikmati bekal yang dibawa Kyoka dengan perasaan nyaman, tertawa, dan saling berbagi cerita satu sama lain. Ini adalah pemandangan yang tidak pernah kulihat lagi sejak 6 tahun yang lalu. Perasaan nostalgia memenuhi pikiranku. Aku sangat ingin menangis, tapi aku harus menahannya, di saat seperti ini aku harus tertawa. Aku ingin waktu ini terus berlanjut dengan perasaan nyaman dan kebahagiaan.
"Heiii, jawab akuu. Apa-itu-benar? Ariaaa."
Aku menggelengkan kepalaku sekali. menatap Kyoka dan orang lainnya yang pernah mengisi kebahagiaan dalam hidupku. Membuka mulutku membentuk tawaan.
"Ahahaha~ kenapa kalian menanyakan itu? Aku belum pernah dengar rumor tentang itu. Lagipula seorang gadis super cantik mana mungkin mau dengan orang sepertiku." Jawabku.
"Itulah yang kumaksud. Apa itu 'orang sepertiku'? harusnya kaudapat lebih memahami daya tarikmu." Protes Hajime.
"Jadi itu tidak benar?" Tanya Kyoka.
"Ah~ iya, setidaknya aku tahu itu tidak benar."
"Kalau begitu kamu dimaafkan!"
"Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu..."
"Ka- Kamu tidak perlu tahu juga tidak apa-apa!"
Itu adalah pembicaraan antar anak kecil. Jadi aku tidak dapat memahami atau mungkin sudah lupa maksud tersirat dari perkataan itu. Hanya Hajimelah yang memberi reaksi di atasnya.
"Hh- Hahahaha~ jadi begitu ya...hehehe."
"Apanya yang begitu?" Tanyaku.
"Tidak ada apa-apa." Jawab singkat Hajime
Suara lain terdengar memanggil namaku. Mungkin ini adalah sesuatu yang sangat ingin kudengar lagi dalam 10 tahun di masa depan.
__ADS_1
"Makan yang banyak, Aria. Kita akan latihan habis-habisan setelah ini!"
"Heeeh~...Tapi Yuuki, harusnya kamu bisa makan lebih lama lagi jika kamu mau, tahu?”
"Fufufu~ bahkan makanan dewa sekalipun tidak bisa membuat seorang maniak pedang ini kenyang, kamu tahu? Latihan berpedang adalah satu-satu makanan yang sanggup memuaskan rasa laparku ini, huahahaha~!"
Seorang lagi memasuki pembicaraan. Ia memiliki penampilan seseorang yang sudah tua dangan rambut putih dan wajah yang masih terlihat lebih muda dan bersemangat.
"Huahaha~! seperti yang diduga dari rivalku, bahkan dewa sekalipun tidak akan cukup untuk melawan hasrat berpedangmu. Hajime, kita juga tidak boleh kalah! Latihan gila-gilaan setelah makan siang! Huahaha~!"
"Apanya yang gila-gilaan?! Maniak seperti kalian memang sudah gila!"
Menanggapi hinaan Hajime, dua orang itu saling membanggakan diri, dan tertawa bersama.
"Huahahahaha~!"
---Buram. Pemandangan itu terlihat semakin buram. Semakin buram. Dan akhirnya hanya dipenuhi dengan kegelapan. Sekali lagi kegelapan menyelimutiku. Dan sekali lagi, saat aku mencoba membuka mataku, cahaya matahari mengisi pandanganku meskipun itu agak menyilaukanku.
"Kali ini buku apalagi yang kaubaca?"
Suara seseorang memasuki pendengaranku. Seorang gadis beramut pirang itu duduk berseberangan dengan kursiku, memandangku dengan wajah cantik yang menyiratkan sebuah tanda tanya.
“Aku membaca buku astronomi lama- 'The Physical Universe' karya 'Frank Shu'. Isinya lebih rumit karena ia menggunakan istilah 'astronomi' untuk sisi kualitatif dan 'astrofisika' untuk sisi lainnya yang lebih berorientasi fisika. Tapi untukmu seharusnya ini lebih mudah untuk dicerna jadi kapan-kapan bacalah jika ada waktu."
"Jika bagus aku akan membacanya setelah menyelesaikan yang ini dan yang ini. Bagaimana denganmu, Hugo, mau membacanya?"
Gadis berambut pirang itu melirik seseorang di belakangnya yang sedang mengamati teropong klub astronomi, dia memiliki warna rambut yang sama dengan gadis itu.
"Kaubertanya meskipun sudah tahu jawabannya? Maaf tapi aku lebih suka mengamati milky way secara langsung daripada sekedar pengetahuan."
"Fufufu~ yah, aku tahu. Makanya aku tanyakan."
"Ah, itu... ngomong-ngomong soal milky way, kapan kita bisa mengamati bintang lagi, Aria? Yang kemarin itu menakjubkan!"
"Hmm... sekarang kamu mengatakannya. Aku sendiri juga ingin pergi keluar melakukan pengamatan, tapi sayangnya supir pribadi kita sedang ada banyak urusan di klubnya akhir-akhir ini. Aku tidak ingin membuatnya kelelahan jadi kita akan menundanya untuk sementara waktu."
"Ah, sebenarnya aku yakin dia akan dengan senang hati melakukannya jika kita memintanya, tapi sebaiknya kita tidak membuatnnya kerepotan dengan meminta seperti itu."
"Baiklah, lalu bagaimana dengan donat? Aku membawa sekotak donat hari ini."
Laki-laki berambut pirang itu mengambil sebuah kotak bermerk perusahaan makanan cepat saji terkenal dari dalam tasnya.
"Apa-apaan perubahan topik yang cepat ini- Sayangnya aku tidak punya cukup kemampuan untuk protes lebih melihat merk donat yang kamu bawa." Kata si gadis setelah melihat kotak itu dengan ketakjuban.
"Hahaha~ seharusnya kamu mengeluarkannya lebih awal sebelum membahas astronomi. Aku tidak yakin apakah perut kelaparan ini akan bertahan lebih dari dua jam jika kamu terlambat mengeluarkannya, ya kan, Alice?"
"A- Apa yang kaumaksud?— ini tidak seperti aku kelaparan atau apa pun!"
"Heeh~ tapi tidak ada yang bilang begitu. Kaubilang begitu, Hugo?"
"Yah, kalau tidak mau aku akan memakannya berdua dengan Aria. Kalau tidak MAU, sih."
Gadis itu bersemu dengan rona merah karena kemarahan hampir meluap dari dalam dirinya. Aku tahu emosinya tidak akan tertahankan lagi. Ia berdiri sambil memukul meja dengan telapak tangannya.
"Si- Siapa yang bilang tidak mau?! Berikan aku porsi yang paling besar! Kalian puas?!"
Tapi kami hanya tertawa mendengar pernyataan gadis itu.
"Hahahahaha~”
Gelap-- Sekali lagi kegelapan menyelimutiku. Seberkas cahaya yang berada jauh di depanku itu terlihat menyilaukan, menutupi pandanganku dengan warna putih. Seseorang- Tidak, beberapa orang berada jauh di depanku, membelakangiku dengan punggung mereka menghadapku. Seandainya cahaya redup itu bisa menuntun dan membawaku kepada mereka.
Kakek, Yuuki, Hugo, Alice- Itu adalah nama dari keempat orang yang membelakangiku. Aku mengulurkan tanganku kepada mereka, berusaha meraih keempat cahaya yang menyilaukan itu, sebelum mereka menjauh. Mereka berjalan menjauh menuju sebuah tempat yang tidak kuketahui. Meskipun aku sangat ingin meletakkan tanganku pada mereka. Aku tidak bisa menggapainya. Aku juga tidak bisa berjalan mengikuti mereka.
Menjengkelkan. Menyebalakan. Dan memuakkan. Untukku yang selalu kehilangan cahaya itu. Akupun menurunkan tanganku.
Kehangatan-- Kehangatan di tanganku ini adalah sesuatu yang sangat ingin kurasakan. Seseorang memegangi tangan kananku, dan seorang lainnya melakukan hal yang sama di sisi yang satunya. Kami berpegangan tangan satu sama lain.
Kakek, Yuuki, Hugo, Alice... aku telah kehilangan banyak sekali sesuatu yang nyata itu--- Hal yang memberiku semua kenangan yang tak tertahankan ini. Dan sekali lagi, aku berusaha untuk mendapatkannya kembali. Mungkin perasaan hangat dari kedua tangan inilah sesuatu yang nyata itu. Aku ingin melindunginya, dan menjaganya agar tidak hilang. Tapi untuk melakukan itu,
__ADS_1
- Aku tidak boleh terus-terusan berada di tempat ini.
Aku harus berdiri. Aku harus membuka mataku dan menolong mereka. Aku harus menjaganya agar tidak hilang, dan melindunginya sepenuh hati.
- Bangunlah, Aria.
Seketika itu aku membuka mataku. Pemandangan yang kulihat dipenuhi dengan ketenangan. Angin berhembus, pohon-pohon bereaksi terhadap angin menggerakkan cabang-cabangnya. Dan seseorang, sesosok wanita memasuki penglihatanku. Ia berlumuran darah di kepala dan tangan kanannya, melihatku dengan pandangan hangat.
"Kamu sudah bangun?" Tanya gadis itu.
Bersandarkan pada sebuah pohon, orang itu memangku kepalaku di atas pahanya, mengelus rambutku setenang mungkin. Aku menjawabnya,
"... Kyoka, aku sudah bangun."
Suara lainnya terdengar. "Hm? Wajahmu masih pucat jadi sebaiknya kamu istirahat lebih lama lagi di sana. Yah, meskipun aku bilang begitu kami memang akan istirahat untuk memulihkan tenaga, dan sebenarnya kami mendapat luka yang serius membuat kami sulit untuk bergerak. Haha~"
Duduk di samping Kyoka, pria itu tertawa seolah semuanya akan baik-bak saja entah bagaimana. Darah dari pipi dan tangan, dan bagian tubuh yang lain telah menandakan betapa seriusnya luka yang pria ini derita.
"Wajahmu 100x lebih tampan seperti itu, Hajime."
"Kaujuga, brengsek."
Aku menutup mataku dan berusaha berpikir tentang apa saja yang mungkin terjadi. Pemandangan yang kulihat menandakan bahwa pertarungan telah usai, dan berakhir dengan fakta bahwa kami masih hidup.
"Bagaimana dengannya?" tanyaku.
"Jika kaumencari monster kera itu dia sudah mati di sebelah sana." Jawab Hajime.
Aku melihat arah yang ditunjuknya-- Monster itu, Toxilion Ape duduk tanpa tenaga bersandarkan pada sebuah batu besar, luka penuh darah ditemukan pada hampir seluruh bagian dari tubuhnya, mengubah warna hitam-putih itu menjadi dominan dengan warna merah. Melihatnya seperti itupun aku tahu, bahwa kami sudah menang, dan semuanya sudah baik-baik saja. Aku memanggil nama gadis itu,
"Kyoka."
"Nn?"
"Tentang sesuatu yang ingin kamu katakan tadi... sebenarnya aku tidak bisa mendengar dengan baik saat itu, jadi... bisakah kamu mengulanginya, sekali lagi?"
"Fufu~ menyuruh seorang gadis mengatakannya itu adalah hal yang kejam, tahu? Padahal kamu sebenarnya sudah tahu apa yang akan kukatakan pada waktu itu, iya kan? Atau harusnya kekasihku ini bisa lebih peka sedikit tentang hal semacam ini?"
"Ke-kekasih? Er-erm... jadi, itu...—"
"Aria, Aku mencintaimu.~"
Kyoka tersenyum lebar sambil melihatku itu. Kami saling memandang satu sama lain dalam posisi yang memalukan ini. Bahkan kami sudah melupakan kehadiran Hajime tanpa dia harus menggunakan scared ability-nya.
"Anoo. apa aku harus memakai【Detecless】untuk saat-saat seperti ini?"
Apa yang Hajime katakan terkesan seperti mengejek kami. Tapi entah kenapa itu sama sekali tidak membuatku kesal.
"Kusarankan kaumemakainya terlebih dahulu sebelum mengatakan itu." Keluhku.
"Tapi kautahu kondisiku sedang tidak memungkinkan untuk melakukan itu, hahaha~"
"Fufufu~ sebaiknya kaudapat lebih menghemat energimu untuk pemulihan."
"Itulah yang ingin kukatakan. Bahkan orang sepertimu juga perlu menghemat energi, huh."
Bahkan dalam keadaan penuh luka ini kami masih bisa membuat percakapan kecil seperti biasa. Suasana nyaman seperti inilah yang sangat ingin kulindungi. Bersama dengan mereka... bahkan tragedi terburukpun terasa seperti komedi. Kehangatan itu, mungkin hal seperti inilah sesuatu yang nyata yang selama ini kucari. Dan di tempat inilah aku menemukannya. Itu adalah cahaya dari dua bintang yang bersinar melebihi yang lainnya, mengisi kegelapan di dalam diriku dengan sesuatu yang memberiku sebuah kehangatan.
- Crak... shreek... shreek...
Sesuatu terdengar samar-samar. Aku memalingkan kepalaku ke beberapa arah yang kubisa untuk memastikan sumber suara tersebut. Dan menemukannya di tempat itu. Suara itu terdengar dari objek mati yang bersandarkan pada sebuah batu besar di sebelah barat. Firasat, insting, atau mungkin intuisiku menyiratkan sesuatu yang berbahaya. Sesegera mungkin aku memperingatkan mereka.
"Kyoka, Hajime, dia belum mati."
Merespon nadaku yang serius, mereka mengarahkan pandangannya menuju tempat dimana Toxilion Ape itu berada. Ia bergerak, tubuhnya yang tanpa lengan sedikit bergesekan dengan batu. Sebuah tanda '!' seolah muncul di atas kepala dua orang itu, membuat mereka terpaksa memasuki keadaan waspada. Seketika, Toxilion yang sebelumnya dikonfirmasi telah mati membuka kelopak matanya. Ia meraung,
- ROAAR!
Pertanda itu sudah cukup untuk memaksa kami berdiri, begitu juga dengan Toxilion. Perlahan, menggunakan tubuh yang sudah kesusahan bahkan hanya untuk bergerak. Rasa lelah dan sakit membuat kami tidak dapat berdiri dengan baik. Tapi kami tetap melakukannya, bersamaan dengan Toxilion. Hajime mengambil sesuatu dari sebuah lubang dimensi misterius dan melemparkannya ke arah kami.
__ADS_1