Illusion & Magic jilid 1: Menggapai Kenangan yang Tak Tertahankan

Illusion & Magic jilid 1: Menggapai Kenangan yang Tak Tertahankan
Episode 13


__ADS_3

"Namaku Claude Kimberly. Aku seorang dokter di kota ini. Dan yang sedang tidur di sana itu adalah anak perempuanku, Charlotte Kimberly. Dia menemukamu dan temanmu terbaring penuh luka di rerumputan dekat gerbang saat sedang mencari tanaman obat."


Aku menegakkan tubuhku sedikit, bersandar pada dinding dengan posisi hampir setengah duduk, memandang gadis yang disebutkan itu. Kelopak mata putih miliknya menunjukkan sedikit getaran, dan terbuka dalam 2 detik berikutnya.


Mataku bertemu dengan mata mint besar yang indah, tapi mata itu segera membelalak seperti melihat sesuatu yang mengejutkan. Kursi yang diduduki si gadis dengan mata itu kehilangan keseimbangan dan menjatuhkannya ke lantai. "Aduduh~" Gadis itu, yang pria tadi sebut dengan Charlotte Kimberly memegang pantatnya yang kesakitan. Kesan pertama yang kudapat darinya adalah ‘kecerobohan’. Mata hijau mint itu memandangku sebelum benar-benar mengumpulkan rasa tertarik dan semangat yang berlebihan.


"Hei, kalian berasal dari mana? Apa kalian melintasi padang rumput itu sendirian?" Kata gadis itu.


''Charlotte, jangan mengajaknya bicara dulu, dia masih butuh banyak istirahat." Sahut pria itu.


Dia, pria yang mengakui dirinya sebagai Claude Kimberly memutar tubuhnya 90 derajat, menyampingiku dari sebelah kiri. Dan anaknya, Charlotte Kimberly yang mungkin memiliki usia yang tidak jauh berbeda denganku tengah menatap ayahnya dengan menggembungkan pipinya, membuat pose yang disebut dengan 'kecemberutan'. Gadis itu berkata:


"Habisnya mereka berhasil mengalahkan Toxilion Ape yang dikenal sangat kuat, mana mungkin aku tidak tertarik.''


''Baiklah baiklah, tapi kita akan menyimpan itu untuk lain waktu. Nak, sekarang aku akan membahas semua yang kutahu tentang kondisi dan situasimu, jadi dengarkan aku baik-baik."


Hanya diam, tanpa memberi konfirmasi dalam bentuk apa pun, pria berambut pirang keabuan itu mengambil persetujuan dariku seolah itu adalah hal yang wajar. Dan mulai saat itu aku mendengarkannya dengan baik.


"Pertama tenanglah dan jangan sampai panik, oke? Sebenarnya aku sudah berusaha sebaik mungkin, tapi sebagai seorang dokter di kota ini aku masih tidak mampu menyelamatkan teman-temanmu, mereka sudah tidak dapat ditolong sejak Lotte menemukan kalian. Sebab kematiannya tidak salah lagi adalah racun. Apakah mereka memang lemah terhadap zat beracun?'' Tanya Pria itu, menunggu jawaban dariku.


Aku memberi anggukan singkat sebagai konfirmasi.


''Begitu ya... tapi, sebenarnya bukan hanya mereka berdua saja yang terkena racun itu. Malah, keracunan yang kamu derita jauh lebih parah dibanding mereka. Racun milik Toxilion Ape adalah racun yang sangat mematikan. Kecuali mereka yang mamiliki skill kekebalan terhadap racun, aku yakin tubuh kita tidak akan bisa bertahan setelah terkena racun itu sekali saja. Tetapi kenyataan dimana kamu masih hidup telah melucuti fakta tersebut. Meskipun efeknya lambat, tapi ia akan benar-benar membunuhmu dalam waktu maksimalnya 3 jam. Tetapi waktu yang terlewati sejak Lotte menemukan kalian bahkan sudah lebih dari 5 jam."


Aku mengikuti arah yang dilihatnya. Pemandangan jendela dengan cahaya orange yang melewatinya menandakan bahwa hari ini telah menjelang waktu sore hari. Ia melanjutkan,


"Jadi satu-satu kesimpulan yang dapat kuambil adalah; kautermasuk dalam orang-orang yang memiliki skill kekebalan terhadap racun itu, apa aku salah?''


Sebenarnya aku tidak yakin apakah aku memang memiliki skill itu atau tidak, tetapi kenyataan dimana aku masih hidup adalah bukti bahwa aku memang memilikinya. Dan suara itu-- Yang kudengar pada detik sebelum kesadaranku menghilang barangkali adalah pertanda dari skill baru itu. Aku memberi konfirmasi singkat pada Claude.


"Yah... begitulah, sesuatu seperti itu."


Tetapi lagi-lagi Charlotte menatapku dengan matanya yang berwarna mint. Antusiasme dan keingintahuan terpancarkan dari mata besar itu. Ia membuka mulut kemerahannya,


"Jadi kamu itu orang yang kuat, ya? Berapa levelmu?"


Aku hanya memandangnya dengan tatapan masam, melihatnya dari mataku yang sedikit buram tanpa kacamata.


''Lotte, kautahu itu tidak sopan menanyakan informasi pribadi seperti itu apalagi pada orang yang telah menyelamatkan kota kita, iya kan?'' Sahut Claude menanggapi pertanyaan Charlotte.


Aku bisa paham mengapa menanyakan informasi seperti level dianggap tidak sopan di dunia ini; karena seseorang dengan niat buruk seperti bandit/perampok akan dapat dengan hati-hati mempertimbangkan perlawanan targetnya sebelum memulai aksinya, begitu juga dengan pencuri yang mengetahui targetnya tidak memiliki skill dengan kesadaran tinggi sebelum mencuri mereka, dan masih banyak lagi hal-hal kecil yang dapat terjadi karena kebocoran informasi itu. Dan karena itulah, aku tidak menjawabnya. Tetapi apa yang pria itu katakan mengikutinya adalah sesuatu yang benar-benar tidak kuketahui, dan karena itu, aku bertanya kepadanya,


"Jawab aku, pak tua, apa maksudmu dengan seseorang yang telah menyelamatkan kota?"


Mendengar pertanyaanku dia tertawa. Suaranya bergema di dalam ruangan kayu yang tidak terlalu luas. Setelah itu dia menjawab:


"Seperti yang kubilang, kamu dan teman-temanmu telah menyelamatkan kota ini. Yah, sebenarnya ini cuma sebuah kota kecil, bahkan prajurit yang ditempatkan di sini tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk sekedar mendekati monster itu, dan kecuali guildmaster, petualang yang lainnya hanya berada pada rank D ke bawah, meskipun kami mampu membunuh Toxillion Ape, tapi korban yang berjatuhan akan terlalu banyak. Jadi oleh karena itu, kalian adalah pahlawan bagi kota kami, aku dan penduduk yang lain sangat berterimakasih pada kalian."

__ADS_1


Selesai penjelasan Claude, Charlotte membelalakan matanya dan membuat pose 'aku baru ingat', kemudian berkata:


"Ah, aku baru ingat! Aku akan pergi ke dapur untuk membuat minuman, ya!"


Dan gadis ceroboh itupun pergi, setelah satu, dua langkah, bunyi tabrakan benda keras terdengar dari lantai- Charlotte terjatuh mencium lantai kayu.


"Aduduh~ aku jatuh lagi.... tehe~"


Kata gadis itu sambil membuat 'piece' dengan tangannya, menampilkan pose 'kecerobohan yang imut'. Sekali lagi ia berdiri.


"Maaf maaf... aku akan membuatkan minum, ok?" satu detik berikutnya, ia berlari ringan menuju dapur, suara sesuatu yang berat menabrak lantai dapat didengar dua detik kemudian Claude tertawa lemah menyadari kecerobohan anaknya. Dan aku hanya mengabaikannya seolah itu hanya BGM dari game action lama. Dan kembali ke sesuatu yang sangat ingin kuketahui, akupun mengangkat topik itu,


"Teman-temanku, tunjukkan padaku dimana mereka berdua." Kataku dengan nada tanpa humor sama sekali. Claude menjawab:


"Jangan khawatir tentang itu, teman-temanmu ada di ruangan sebelah, kami berencana memakamkan mereka setelah kaupulih, jadi istirahatlah dulu di sini. Aku tahu kausangat ingin melihat mereka, tapi setidaknya pulihkan dulu tenagamu."


Lilitan perban menempel di kepala dan beberapa bagian tubuhku seperti dada, tangan, dan kedua kakiku. Rasa sakit sejak pertarungan dengan Toxilion Ape masih dapat kurasakan meskipun tidak sebanyak waktu itu, dan perasaan tubuh yang berat menyelimutiku seolah tidak mengijinkanku untuk bergerak sedikitpun.


Dalam keadaan normal, tubuh ini akan memberimu sebuah rangsangan hebat untuk ingin tidur dan beristirahat, dan memang begitulah yang sedang kurasakan saat ini. Tetapi bukan berarti aku akan menurutinya begitu saja.


"Ruangan sebelah, kan... ? Biarkan aku bertemu dengan mereka." Kataku sambil mengangkat tubuhku menuruni kasur, dan berusaha berdiri meskipun posturku sangat jauh dari kata ‘tegap’, dan keadaan tanpa tenaga ini membuatku terlihat agak sempoyongan. Claude berlari ke arahku dan memegang tubuhku untuk membantu mengurangi rasa sakit yang kurasakan.


"Sudah kubilang kauperlu istirahat! Jangan memaksakan dirimu!" kata dokter itu dengan agak memaksa.


"Ming, nggir... jangan halangi jalanku...!" Dengan menyingkirkan tangan Claude dariku, tubuhku hampir saja terjatuh, tetapi dengan suatu ‘keinginan’ aku berhasil mempertahankannya untuk berdiri.


Aku mengerahkan tubuhku untuk segera bergerak, tetapi setelah satu, dua langkah, rasa sakit yang tiba-tiba mucul membuat kakiku kehilangan kekuatannya. Aku terjatuh, lututku menekuk, tubuhku dalam posisi bersujud jika tidak kugunakan tanganku sebagai penopang untuk menyangga berat badanku pada lantai.


"Tolong jangan memaksakan dirimu. Kautidak tahu seberapa sakitnya seorang dokter ketika orang yang ingin mereka tolong membahayakan diri mereka. Satu- Tidak, setengah jam saja. kumohon tidurlah setengah jam saja!"


"Kubilang jangan menghalangiku, kan...? Apa kautahu mimpi buruk seperti apa yang kulihat jika aku tidur tanpa memastikan keadaan mereka?" Aku menggertakkan gigiku dengan perasaan marah.


"Jangan bercanda! Bukalah matamu! Mereka berdua sudah mati!" Teriak khawatir pria tua itu. Aku tahu kenapa dia begitu mengkhawatirkanku, kenapa dia begitu ingin memulihkanku, meski begitu, melihat wajah Kyoka dan Hajime adalah ‘suatu hal’ yang saat ini sangat ingin kulakukan tidak peduli apa pun.


Aku mencoba berdiri sekali lagi, tetapi, tubuh ini telah mencapai batasannya untuk mencoba melakukan itu. Aku terjatuh dengan topangan lenganku sekali lagi. Claude mencoba meraihku, mengulurkan tangannya untuk membantuku.


"Lihat? Tubuhmu belum cukup pulih untuk melakukan itu. Sekarang kembalilah ke tempat tidurmu, tolong."


Tapi aku hanya menggertakkan gigiku sekali lagi, dan membentaknya.


"Berisik! Berisik! Berisik! Berisik! Berisik! Tinggalkan aku sendiri! Jangan menghalangiku!" Aku mencoba berdiri, mengerahkan tenaga sebanyak yang kubisa, memaksa tubuhku untuk bergerak lebih keras dari sebelumnya.


Tetapi lagi-lagi aku tidak mampu melakukannya. Keseimbagan yang telah kakiku capai seketika menghilang begitu aku keluar dari pintu masuk. Dan ketika tubuh bagian atasku terayunkan ke depan, sesuatu menangkapku.


Nampan dan gelas yang berisi cairan hijau jatuh membasahi lantai. Menghiraukan fenomena itu, Charlotte menangkap tubuhku.


"A-apa yang kaulakukan?! Hey, kenapa kaubergerak sampai sejauh ini?! Ayah juga jangan diam saja dan bantu dia!" Protes gadis itu.

__ADS_1


Tapi orang yang ia panggil hanya menunjukkan ekspresi pasrah, menggeleng satu kali dan berkata padanya:


"Tidak ada pilihan lain. Charlotte, bawa dia ke tempat teman-temannya."


"Tapi itu sedikit..."


"Sudahlah... meskipun aku melarangnya dia tetap akan memaksakan dirinya seperti itu. Biarkan dia menemui mereka sebentar."


"Erm... jika ayah sudah bilang begitu... Baiklah. Sini, aku akan menopangmu."


Aku melingkarkan lengan kananku di belakang lehernya, gadis itu menuntunku menuju ruangan tepat di sebelah ruangan yang sebelumnya. Pintu dan kenop itu tampak persis seperti ruangan yang ada di sampingnya, tetapi suasana yang kurasakan sama sekali berbeda dengan diriku di waktu itu. Tanpa memperhatikan bagaimana perasaan negatif ini membawaku, gadis berambut emerald memutar kenop pintu itu dan pintu selebar 1 meter terbuka.


Dua lembar gorden menutupi sebuah jendela tempat dilewatinya cahaya, membuat tempat itu ditutupi dengan kegelapan, meski begitu ini tidak seperti ruangan ini benar-benar gelap sampai kamu tidak bisa melihat apa pun di dalamnya.


Charlotte berjalan dan membuka gorden tempat cahaya sore hari ditutupi, sinar kekuningan bersinar cerah memasuki ruangan, menyinari sebuah kasur biru tempat dua orang itu tertidur di bawah selimutnya. Aku berjalan pelan menuju mereka.


Meskipun aku tahu pemandangan seperti apa yang akan kulihat, meski aku tahu kesedihan seperti apa yang akan kurasakan, meskipun aku tahu dua orang yang sangat kusayangi sedang terbaring lemah di atas kasur itu, aku tetap membukanya.


Selimut biru yang dengan sengaja ditempatkan untuk menutupi tubuh dan wajah mereka terbuka. Aku melihat wajah dua orang yang diwarnai dengan perasaan tenang dan dipenuh kenyamanan, yang kemudian memberiku kesedihan mendalam di mataku.


Aku berusaha sebaik mungkin untuk menahan perasaan ini yang setiap kali mencoba mengikis dadaku, untuk menjaga kebahagiaan mereka di dunia yang berbeda denganku, dan untuk kesedihan ini agar tidak mengubah ketenangan di wajah mereka,


- Aku harus menahannya...


Kukatakan pada diriku sendiri, 'aku tidak boleh menangis di depan mereka' dan berusaha sebisaku agar perasaan itu tidak keluar membasahi mataku lagi.


"... Mereka tidak akan membencimu hanya karena kamu menangisi kepergian mereka. Justru itulah yang membuat mereka bahagia di dunia sana."


--- Hanya kata-kata itulah yang benar-benar kudengarkan darinya sejak aku terbangun dari tidurku.


Gadis berambut emerald yang dengan mata mint-nya melihat Hajime dan Kyoka melalui ekspresi yang menyiratkan perasaan sedih, dan mengatakan sebuah kalimat tanpa menyinggung siapa pun di dalam sana.


Charlotte adalah gadis yang bersemangat dan penuh antusias, dan sifat itulah yang membuatnya dikelilingi dengan banyak 'kecerobohan'—yah, aku tidak ingin mengungkapkan kata-kata itu dalam bentuk ucapan ataupun membuatnya mendengar kritikanku dengan cara apa pun.


Meskipun aku tahu tidak ada kesalahan apa pun dalam sebuah air mata yang didasari dengan perasaan kehilangan, dan tidak benar-benar keliru juga dengan berkata bahwa itu adalah cara terbaik untuk menunjukkan rasa pedulimu pada mereka, tetapi, meski begitu, aku.. tetap saja, aku...


- Tidak boleh menangis di depan mereka.


Dan karena itulah, aku membuat usaha yang sangat besar untuk menahan perasaan ini meskipun hanya untuk beberapa detik saja. Tetapi meskipun aku dapat melakukannya dalam beberapa detik itu, di waktu berikutnya aku memutuskan untuk segera pergi keluar ruangan meskipun karena itu kakiku mulai terasa sakit. Bersandar pada dinding di luar ruangan, dan tepat di sebelah pintu aku menangis.


"HUAAAAAA~UHAAAAHAHAAAA~UHAHAAAAHAAAA~!!!"


Aku mengeluarkan segalanya- Segala yang kupendam, segala yang kurasakan, dan segala yang hatiku ingin ungkapan dalam sabuah tangisan. Menangis sekeras-kerasnya, sedalam-dalamnya, dan sebanyak-banyaknya air mata yang ingin kukeluarkan.


"HUAAAHAAHA~UHAAAAAHAHAAAA~!!!"


Aku menutupi wajahku dengan kedua tangan, sensasi dari jari-jari yang bersentuhan langsung dapat kurasakan melalui syarafku. Dinding dan langit-langit pasti meneruskan suara tangisanku dalam sebuah gema. Charlotte, ataupun Claude yang ada di dalam ruangan tidak terkecuali dapat mendengar teriak tangisanku yang begitu keras.

__ADS_1


Meskipun begitu aku tidak mau menahannya lagi, aku tidak bisa, dan tidak mungkin bisa tidak peduli sekeras apa pun aku mencobanya. Karena aku sudah tidak kuat lagi menahannya, teman masa kecilku, Hakuharu Hajime dan Hakuharu Kyoka mati di depan mataku, mengorbankan nyawa mereka untuk menyelamatkanku, tanpa dapat membantu mereka, tanpa dapat menolong mereka, meskipun aku hanya menjadi beban untuk mereka, dengan fakta itulah, aku melihat mereka terbaring tanpa reaksi di atas tempat tidur yang diselimuti dengan kain kebiruan dan cahaya matahari, aku bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan seberapa tidak dapat dimaafkannya diriku ini... ya kan? Hajime... Kyoka...?


__ADS_2