Illusion & Magic jilid 1: Menggapai Kenangan yang Tak Tertahankan

Illusion & Magic jilid 1: Menggapai Kenangan yang Tak Tertahankan
Episode 1


__ADS_3

- Chapter 00: Alicia, Under Stars Night -


Dunia ini memiliki sistem yang berputar--- Aku mempercayai kalimat itu sebagai sebuah perkataan bijak.


kehidupan ini penuh dengan kebanggaan dan penyesalan, keberuntungan dan kemalangan, kesuksesan dan kegagalan, harapan dan keputusasaan.


Di antara semua itu, dari milyar- Ah, bukan, dari triliun atau lebih bentuk kehidupan yang pernah ada, satu makhluk memegang peranan yang begitu penting- Atau mungkin, peran terpenting yang pernah ada di dunia- Mengisinya dalam serpihan-serpihan kecil aliran kehidupan yang membuatnya berputar sesuai dengan kecepatan yang telah ditetapkan, dalam kemajuan dan kemunduran, kehidupan dan kematian.


Satu makhluk itu- Manusia, memegang dominasi kekuasaan tertinggi dari makhuk lain dalam sistem dunia yang mereka ciptakan.


“Mereka”-- Manusia selalu dibagi dalam dua kelompok yang besar: mereka yang mengambil sesuatu dari orang lain dan mereka yang selalu diambil oleh orang lain. Mereka yang merampas dan mereka yang selalu dirampas. Mereka yang merebut dan direbut. Mereka yang memeras dan diperas. Mereka yang menjarah dan mereka yang dijarah. Mereka yang senantiasa merenggut hak orang lain dan mereka yang haknya selalu direnggut oleh orang lain. Mereka yang menyakiti dan disakiti. Jika ada dari mereka orang yang mengusai, akan ada juga mereka yang dikuasai oleh orang lain. Orang yang senantiasa mengendalikan dan mereka yang dikendalikan. Mereka yang mengorbankan juga mereka yang dikorbankan untuk tujuan orang lain. Juga mereka yang memperalat dan mereka yang diperalat.----


~**~


- Alicia Bluesky POV -


Malam ini begitu dingin. Meski aku pikir begitu ini tidak sebegitu dingin sampai kamu akan mati dengan darah membeku jika kamu terus berdiri di sini dalam satu, dua, tiga jam atau satu hari penuh. Sekali lagi angin berhembus mengurai rambut pirangku yang mulai sedikit berantakan, seolah menyiratkan untuk menambah sensasi dingin yang tetap menembus kulitku seolah melucuti fakta bahwa aku membawa pakaian dan jaket yang sebenarnya cukup hangat.


Aku tidak tahu sudah berapa menit sejak aku berdiri di sini bersamanya, tapi jika aku melihat sedikit ke bawah dari telapak tanganku, di sekitar pergelangan tanganku akan terlihat jam tangan hitam kecil yang sedikit redup, waktu dari dua buah jarum jam putih itu akan menunjukkan pukul 11 malam lebih sedikit.


Di tengah dinginnya kegelapan dengan sedikit cahaya lampu luar ruangan, wajah dari pria itu terlihat melalui cahaya bintang yang bersinar terang meskipun satu atau dua awan menghalanginya.


Akan terdapat sedikit cahaya jika kamu hanya melihatnya dari jumlah tiang lampu yang berdiri menyinari taman seluas 3.227 km2 ini. Tempat tersebut, atau bisa kubilang taman luas ini dikelilingi dengan banyak partikel-partikel udara sejuk yang akan membuatmu merasakan kenyamanan dalam berbagai hal.


【Night Sky Viewing Area】, sebuah area khusus yang ditujukan untuk mengamati taburan bintang yang menghiasi kegelapan pada langit malam. Taman yang terletak 20 km dari tempat tinggalku sendiri ini menampilkan pemandangan penuh bintang yang akan tetap melekat pada ingatanmu untuk sisa hidupmu tidak peduli seberapa lamapun itu. Dan akan tanpa sadar menghiasi mimpi dalam tidurmu untuk beberapa hari ke depannya.


Milky Way, atau disebut juga bima sakti- Galaksi spiral yang memiliki 200-400 milyar bintang dengan diameter 100.000 tahun cahaya dengan ketebalan mencapai 1.000 tahun cahaya. Pita kabut atau aura cemerlang ini adalah kumpulan jutaan bintang dan juga sevolume debu dan gas yang terletak pada bidang galaksi.


Dengan berbekalkan keinginan untuk menikmati pemandangan astronomis pada musim panas itu, pada tanggal 13 Agustus 2022, klub astronomi kami merencanakan keberangkatannya untuk dua hari ke depan; ditambah dua orang lain yang tidak berhubungan langsung dengan klub Astronomi- Ah, bukan, dengan kata yang lebih spesifik adalah 'teman masa kecil' dari ketua klub kami, mengisi dua kursi kosong dalam perjalanan astronomis ini seperti biasa.


Diikuti oleh seluruh anggota klub astronomi tanpa terkecuali... Meski aku bilang begitu, sebenarnya hanya ada tiga anggota dalam sebuah klub sekolah yang kecil itu.


Memegang kedudukan tertinggi, ketua klub kami, Aria Horizon yang setiap harinya hanya akan duduk di dalam ruangan klub di atas kursi favoritnya, yang mengarah secara diagonal pada halaman sekolah dengan hanya membaca buku-buku astronomi lama.


Menempati posisi wakil ketua, aku, Alicia Bluesky, yang seringkali duduk berseberangan secara horizontal dari Aria untuk sekedar membaca majalah atau buku-buku lama, yang sebenarnya adalah kedok untuk menunggu waktu yang tepat untuk mengintip wajah pria di depanku itu.


Dan anggota terakhir, teman sekelasku, Hugo Astin yang juga adalah teman masa kecilku. Pada saat–saat yang tenang Hugo akan membawa topik untuk dibicarakan bersama kami; pembicaraan yang penuh dengan tragedi yang menyedihkan, komedi, dan hal-hal yang membuat kami berdebat akan suatu hal.

__ADS_1


Dengan anggota terakhir yang disebutkan, klub yang memiliki tiga anggota itu selalu penuh dengan obrolan ringan dan kegembiraan kecil kami.


Dua orang lainnya adalah teman masa kecil Aria. Hakuharu Hajime, pria berambut coklat yang juga menjabat sebagai ketua klub memanah ini seringkali berkunjung ke dalam ruangan klub astronomi bersama adik perempuannya.


Hakuharu Kyoka, gadis cantik yang juga adalah adik kembar dari Hakuharu Hajime, yang sebenarnya adalah ketua dari klub berkebun yang bekerja di halaman sekolah. Tempat dimana Kyoka berkebun, halaman sekolah tempat bermacam-macam sayuran hidup berkat tangannya yang selalu terkotori tanah itu dapat dilihat dari ruangan klub dengan jarak 20 m-30 m jika kamu membuka sebuah jendela yang sedikit usang yang menghubungkan kedua tempat tersebut.


Dengan begitu, ketua klub kami, Aria Horizon sesekali mengambil pandang ke arah halaman hanya untuk diketahui oleh Kyoka, yang juga akan melambaikan tangannya dengan bersemangat. Dan meskipun hanya dengan melihat senyuman dari Aria, suasana yang sepi dalam ruangan di waktu kami hanya berdua selalu bersemu dengan pikiran-pikiran yang sebenarnya juga menenangkanku.


15 Agustus 2022. Pada pukul 20.30, kami tiba di taman yang sepi ini. Dengan cepat, kami melaksanakan kegiatan yang seolah adalah hal yang paling wajar di dunia, dengan menempati 【Night Sky Viewing Area】 di sebelah barat area taman- Dan sesegera mungkin mempersiapkan teleskop klub kami dengan bangga.


~**~


Dulu sekali, di saat aku masih dalam masa SMP-ku, Alicia Bluesky dikenal sebagai seorang gadis yang dingin dan tidak suka bersosialisasi. Setiap harinya, entah itu di sekolah atau di rumah, aku hanya akan berbicara seperlunya dengan ekspresi yang bisa dibilang adalah 'dingin'. Ditambah tatapan mataku yang tajam membuatku menjadi siswi yang sulit untuk didekati. Meski begitu sebuah title “Penyendiri” tidak pernah sekalipun melekat padaku.


Hugo Astin, seorang pemuda yang memiliki rambut pirang yang sama sepertiku, yang juga adalah teman masa kecilku semenjak TK selalu menemaniku, mengobrol denganku dan mengajakku dalam menjalani berbagai kegiatan bersama. Dan tentu saja, aku selalu menikmati waktu-waktu yang kuhabiskan bersamanya. Dia adalah teman- Tidak, sahabatku. Sahabat terbaik yang pernah kudapat- Atau sebenarnya adalah satu-satunya sahabat yang pernah kumiliki dalam hidupku.


Waktupun berlalu. Saat itu adalah ketika aku memasuki jenjang SMA. Pada tahun pertamaku, tanggal 10 bulan Agustus tahun 2021. Waktu pada jam tanganku menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh menit, dimana bel sekolah akan berbunyi sebentar lagi pada 15 menit dari waktu sekarang.


Aku berada di lorong sepatu dimana saat aku hendak mengganti sepatu outdoorku dengan indoor, dari dalam loker sebuah persegi panjang 10cm x 15cm berwarna putih kemerahan disertai sebuah stempel berbentuk hati sebagai perekat kutemukan di dalam sana.


Tanpa pikir panjang aku mengambilnya, melihat bagian depan dan belakang objek itu, membaliknya satu, dua kali, sebelum kusadari sebuah wangi dari bunga tertentu tercium dari amplop itu. Beberapa orang melihatku tetapi aku hanya mengacuhkan mereka dan meremas amplop itu kemudian melemparnya menuju tempat sampah paling dekat.


Langit tampak agak mendung pagi ini, kamu akan berpikir untuk sebaiknya membawa payung untuk jaga-jaga, beberapa orang akan menyiratkannya dengan sebuah ‘firasat buruk’ atau semacamnya, tapi aku sama sekali tidak peduli dengan hal itu.


Aku membaca suratnya di kelas, amplop dengan perekat hati itu mempunyai isi yang sebenarnya cukup untuk kamu bilang sebagai sesuatu yang sederhana “Temui aku di ruang olahraga jam 8 malam". Firasat, insting, atau intuisiku berbisik menyiratkan sesuatu yang agak berbahaya. Meski begitu jauh di dalam pikiranku, ada juga pemikiran seperti "Apa sebegitu pentingnya sampai harus dibicarakan pada tempat dan waktu yang menyusahkan?" atau "Mungkin ada alasan khusus yang mendasari hal itu".


Waktupun berlalu, matahari terbenam dan siang hari digantikan dengan malam. Pada jam 8, 11 Agustus tahun 2021, aku menghadiri tempat pertemuan yang dijanjikan.


Itu tidak seperti aku datang kesini dengan benar-benar sendirian. Kupikir akan berbahaya jika seorang gadis SMA keluar rumah sendirian di malam hari, jadi aku mengajak Hugo untuk sekedar berjaga–jaga di luar, dan tentu saja hanya aku yang akan masuk.


Malam itu sebenarnya tidak terlalu dingin, meski begitu aku tetap memakai sepotong jaket yang menyelimuti leherku ke bawah hingga mencapai pinggangku, menutupinya sebagai lapisan paling atas dari susunan pakaian yang diikuti dengan pakaian rumahan biasa. Menyelesaikan persiapan dan menghela nafas panjang satu kali, aku memasuki ruang olahraga yang sepi, meninggalkan Hugo di luar ruangan.


Satu, dua langkah. Ruangan itu tetap sepi- Atau bisa kubilang dengan kalimat yang lebih spesifik sebagai tidak ada orang sama sekali. Tiga, empat, lima langkah ke depan. Sebuah suara dari benda yang jatuh terdengar samar-samar dari gudang. Aku berjalan lebih pelan dari biasanya menuju tempat tersebut, melihat sekitar 90 derajat ke kanan dan ke kiriku. Hampir saja aku akan membuka kenop pintu yang memantulkan cahaya lampu ruangan, sebelum terdengar suatu bunyi dari sisi lain, 180 derajat dari pandanganku.


Aku tidak sempat berbalik, namun sesaat seseorang dari belakang membekapku dengan kecepatan yang tidak mampu kuhindari. Dengan reflek secepat-cepatnya, kuteriakkan sebuah nama sekeras mungkin. Namun mulutku yang dengan cepat tertutupi membuat hanya satu suku kata yang berhasil keluar "Hug—" mengikutinya adalah suara teriakan keras yang nadanya sendiri akan kubilang sebagai sesuatu yang sangat tidak jelas. Menyadari permintaan tolong yang samar, Hugo Astin memasuki ruangan dengan cepat. Kepanikan, kemarahan, kebencian dan kutukan terpancarkan dari laki-laki itu.


"ALICE!!"

__ADS_1


Teriakan Hugo terpantulkan sebagai gema pada sisi-sisi atap dan dinding pada gedung yang terlihat luas. Kecepatan larinya bertambah seiringan dengan derap langkah kakinya yang semakin keras, mencapai pada hampir tempatku berdiri tanpa butuh waktu yang lama.


Spontan, entah itu aku atau si pembekap membalikkan mata kami pada Hugo. Detik demi detik berlalu, satu, dua langkah berlalu, bunyi kerasnya hantaman tulang terdengar dari pipi sebelah kanan si pembekap, yang bertabrakan dengan kepalan tangan Hugo, membuatnya melepaskanku dengan paksa.


"ALICE!!"


Hugo menangkapku- Atau, lebih tepatnya memelukku, suatu getaran terasa merambat dari tubuhnya. Bergetar, tubuh Hugo membuat getaran yang cukup kuat pada tingkatan yang dapat kurasakan melalui tubuhku sendiri. Pada saat itu, aku menyadari sesuatu yang agak mengejutkan- Tidak, bukan, sangat mengejutkanku.


Sekitar dua meter di belakang Hugo, seseorang berdiri- Membawa kayu yang diayunkan vertikal menunjuk atap, membentuk kuda–kuda yang dengan siap meluncurkan sebuah bentuk kekuatan dan hantaman kapan saja.


"HUGO!!"


Ada tiga orang yang sebelumnya ada di dalam ruangan, ditambah seseorang yang membawa kayu, jumlahnya naik mencapai angka 4 dengan seorang perempuan dan tiga laki-laki. Dan tentunya orang yang dengan cepat meneriakkan nama itu adalah, tidak lain, aku.


Hugo melihat ke belakang, ia kembali memelukku, lebih kuat dari sebelumnya. “Tidak, Hugo, menghindar!!”. Hugo memelukku lebih erat, melindungiku dari hantaman kayu yang sebenarnya dapat dia hindari tepat waktu jika Hugo bergerak dengan segenap kekuatannya.


“Kenapa?--- Kenapa, hugo?” kayu itu menghantam pundak Hugo dengan bunyi yang sangat keras. “Kenapa?” aku menangis. Menangis dalam kesedihan dan kemarahanku. Memegangi tubuh Hugo yang bisa yang kehilangan kesadarannya kapan saja.


"Alice... lari...! jangan pedulikan aku... lari, ALICE...!"


"Tidak, Hugo... aku tidak bisa... aku tidak mungkin...kamu..."


Aku menangis. Aliran air hangat menuruni wajahku. Mengalir melalui pipiku. Jatuh. Menetes. Membasahi baju seorang pria di depanku. Teman masa kecilku, Hugo Astin, kehilangan kesadarannya.


Aku membaringkan tubuhnya perlahan dan sehalus mungkin. Kemudian berdiri. Membelakangi dua bajingan itu dan menunduk.


"Tidak bisa dimaafkan...!"


Seseorang yang tadinya membekapku berdiri, memegangi pipiya yang terdapat warna kebiruan pucat, tempat pukulan Hugo bertempatkan sebelumnya, ia membuka mulutnya dan melihat Hugo.


"Aa, a~aah... kita bisa membunuhnya nanti- Yah, orang ini."


"Sebelum itu, Eiji, mari kita nikmati makanannya sekarang."


"Yah, tapi aku akan mengambil yang pertama oke? Aku mendapat satu pukulan di sini."


"Hey, hey, aku yang membereskan orang itu untukmu."

__ADS_1


"Nah, Kazu, kemarin kauyang mengambil giliran pertamanya, kan? Berikan padaku kali ini."


"Hmm... nah, terserah, kauboleh mengambilnya, lakukan sesukamu, bung.”


__ADS_2