
Pria itu melihatku seolah aku adalah orang terbodoh di dunia. Meski begitu matanya yang memandangku tidak memberikan tekanan sedikitpun. Ya, aku, Alicia Bluesky adalah orang terbodoh di dunia, yang tidak dapat menyadari hal yang sesederhana itu. Kukuku~ orang ini membuatku ingin mengina diriku sendiri. Meski begitu aku menanyakan sesuatu yang sudah sangat terlambat
"Boleh... apa boleh aku tahu namamu...?"
Dia, menggerakkan badannya yang seolah telah menyatu dengan alam perlahan. Melihatku dengan senyuman yang agak sombong, dan berkata:
"Kelas sebelas, ketua klub astronomi, Aria Horizon."
Aku terdiam sebentar, tertawa kecil, dan berdiri mengikutinya.
"Kelas sepuluh, tidak mengikuti klub, Alicia Bluesky."
Menyelesaikan sebuah perkenalan yang angkuh, kami tertawa bersama
Berkat itu Hugo terbangun dari tidurnya. Setelah melalui malam yang panjang, aku, Alicia Bluesky dan teman masa kecilku, Hugo Astin, telah resmi menempati tempat kedua dan ketiga klub astronomi.
~**~
23:00, 15 Agustus 2022.
Aku membawa Aria menuju suatu tempat yang agak jauh dari tiga orang yang lain.
Sebenarnya, ada alasan kenapa aku harus melakukan ini pada hari ini.
Bulan Mei tahun 2022, ketua klub astronomi kami, Aria Horizon, akan meninggalkan jabatannya untukku. Tahun ini adalah tahun ketiganya di SMA, dan tahun keduaku yang satu tingkat di bawahnya. Sebelum Aria mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian dan sebelum aku menjadi lebih sulit berbicara lagi dengannya, aku bermaksud untuk melakukan ini. Aku akan mengatakannya.
Meskipun aku pikir begitu, Aria adalah orang yang sangat berpotensi di sekolah, dalam hal akademik lebih tepatnya. Dia adalah orang yang tidak menyukai sebuah kata yang sangat penting bagi seorang pelajar: ‘belajar’, meski begitu nama Aria Horizon seringkali tercatat dalam 3 peringkat teratas untuk ujian-ujian yang ia ikuti. Dan aku juga pernah dengar soal dia yang sering tidur saat kelas sedang berlangsung, dan tidak jarang juga aku menemukannya sedang membolos di atap sekolah. Karena itu aku tidak terlalu khawatir soal ujiannya.
Tetapi aku tetap tidak boleh menjadi egois. Aku tidak boleh membebani ujiannya dengan pikiran-pikiran yang tidak penting. Dan karena itu, aku mengatakannya saat ini....
"Aku menyukaimu."
Angin berhembus sekali lagi. Memandang laki-laki yang tetap tenang seolah suhu dingin ini tidak sedikitpun mempengaruhinya. Meskipun aku tahu jawaban seperti apa yang akan dikatakannya. Meskipun aku tahu ekspresi seperti apa yang akan dia tunjukan. Dan meski, meskipun aku tahu aku tidak akan pernah bisa meletakkan tanganku pada sebuah tempat yang sangat kuinginkan itu. Karena--
---Satu tahun yang lalu, semenjak aku bertemu dengannya pada malam di hari itu, aku selalu mengikutinya... dan entah sejak kapan, tanpa kusadari, perasaan ini tumbuh. Tapi dalam masa satu tahun itu juga, aku menyadari bahwa ‘dia menyukai orang lain’.
“Hakuharu Kyoka”, teman masa kecil Aria yang juga adalah ketua dari klub berkebun sekolah. Dia adalah orang yang selalu ceria, bersemangat, antusias dan tentu saja baik hati. Aku juga menyukai gadis itu, dalam arti yang berbeda dengan Aria. Tatapannya, tindakannya, juga perlakuannya saat menyangkut Kyoka sama sekali berbeda dengan orang lain, sama sekali berbeda denganku. ‘Dia menyukai Kyoka.’ Dengan pemikiran itu, aku mengatakannya. Aku mengatakannya sekali lagi.
"Aria, aku menyukaimu."
Dalam waktu yang tenang dengan sedikit angin dingin, kegelapan malam dan cahaya bintang yang menemani kami pada saat ini, dia tersenyum, menggelengkan kepalanya perlahan dua, tiga kali, membuka dengan bibir tipisnya dan berkata:
"Maaf, ada seseorang yang kusukai."
---- Aku tahu itu. Aku harus kuat, aku tidak boleh egois. Senyuman lemah Aria memberiku kekuatan, matanya yang hangat membuatku merasa tenang. Meski begitu, jauh di dalam lubuk hatiku, pada sebuah tempat yang sangat jauh di dalam sana, sesuatu, sesuatu itu memberiku perasaan yang lain— ‘rasa sakit’, rasa cintaku pada Aria memberiku perasaan sakit, menguap dalam bentuk cairan hangat yang membasahi mataku, mengalir melalui pipiku, mengubahnya dalam bentuk tetesan yang disebut dengan air mata. Aku menangis...
Kemudian tersenyum. Tersenyum yang lebar. Pada waktu ini aku harus tersenyum. membuat senyuman selebar yang kubisa, dan melihatnya sekali lagi.
Angin berhembus melewati rambutku. Awan yang menutupi langit menghilang. Bintang dan bulan menyinari kami dengan bangga. Dan dalam momen yang tak tertahankan, aku mengatakan sesuatu yang sudah pasti padanya.
"Ya... aku tahu..."
__ADS_1
~**~
- Aria Horizon POV -
Di dunia ini manusia selalu dibagi menjadi dua: mereka yang meninggalkan orang lain dan mereka yang selalu ditinggalkan oleh orang lain- Pernyataan seperti itulah yang selama ini kupikirkan.
Pada suatu waktu, langit malam yang luas itu akan membuatmu berpikir tentang galaksi luas yang tersembunyi di belakangnya.
11 Agustus 2022.
Bulan purnama yang bersinar putih keperakan itu bahkan tidak akan cukup untuk membuatmu merasa tenang di saat seorang juniormu yang sangat manis menembakmu di bawah langit dengan taburan bintang yang indah.
Alicia Bluesky, aku bertemu dengannya satu tahun yang lalu, dan sejak saat itu, dia terus mengikutiku. Waktu yang berlalu dalam satu tahun itu mengubah hampir segala hal tentangnya. Dia mulai lebih terbuka dan bersosialisasi dengan orang lain, memperhatikan tatanan rambutnya dan mulai menggunakan shampo yang berbau wangi. Dan tanpa kusadari, sebuah fanclub Alice dibentuk. Beberapa orang yang mengakui dirinya sebagai fanclub Alice bertambah mencapai hampir tiga digit angka.
Dan gadis yang disebutkan itu membawaku dan mengatakan kalimat yang pendek padaku.
- Aku menyukaimu.
Sebenarnya aku adalah orang yang cukup hebat sampai sanggup menjaga ketenanganku hingga saat ini. Jika tubuh manusia bisa menunjukkan sebuah komposisi yang digunakan untuk membuatnya, mungkin akan tertulis 100% gula dan 1.000 % madu pada tubuh Alice. Dan jika ditanyai tentang bagaimana penampilan luarnya, 2 dari 10 orang akan menjawab dengan 'imut', tiga orang menjawab 'sangat imut', empat orang mengatakan 'saaangaaat imuuuut' dan sisa satu lagi akan dengan tenang menjawab 'maaf, dok, aku diabetes.'
Dengan sebuah tangisan dan juga air mata, orang yang terlibat memandangku. Aku berusaha menenangkannya, mempertahankan senyumanku, mengelus kepalanya dan melihatnya dengan hangat.
"Mau pulang sekarang?"
kukatakan kalimat yang pendek itu. Alice menundukkan kepalanya dengan risak tangisan tanpa melihatku, dan akupun tahu itu bukanlah tanda persetujuan. Seketika, tubuhku bergetar dengan kuat, atau lebih tepatnya, sesuatu membuatku seperti itu- Alice mengayunkan tubuh bagian atasnya ke depan, kepalanya menabrak dadaku, berkata:
"Tolong biarkan seperti ini dulu sebentar. "
"Lihatlah ke langit, Alice. Masa depan itu terbentang sebanyak lautan bintang di atas sana."
Tiba-tiba aku mengatakan kalimat yang bersifat astronom pada Alice. Dan gadis itu, Alice mengikuti arah yang kulihat, ia membuka mulutnya.
"Apa seseorang yang Aria suka itu... Kyoka?"
---Apa? Sesuatu seketika menancap di dadaku. Apa yang gadis ini katakan? Apa-seseorang-yang-kusukai-itu-kyo-Kyoka?! Aku sedikit menunjukkan reaksi terkejut. Tapi aku tetap harus menjawabnya dengan benar.
"He-ehm... begini, itu... iya...Kyoka, dia orangnya."
Aku telah berusaha menenagkan diriku, namun hanya mampu mengatakan kalimat penjelas yang ambigu seperti itu. Alice tertawa kecil.
"Jadi begitu ya... begitu... tapi kudengar ada rumor tentang Kyoka menyukai seseorang di klubnya, apa kamu tahu sesuatu tentang rumor itu, Aria?"
Ya, sebenarnya aku cukup tahu soal rumor itu, bahkan, pernah juga pada suatu waktu aku mencoba menanyakannya kepada Kyoka. "Eh, kenapa kamu menanyakan hal seperti itu?" pertanyaanku malah membuatnya merasa tidak nyaman, karena itu aku tidak pernah menanyainya lebih jauh lagi. Dan untuk menjawab pertanyaan Alice aku menyiapkan sebuah makna tersirat pada kalimat yang jauh lebih ambigu lagi, memandang ke arah langit yang berbintang.
"Aku tidak tahu apa pun tentang masa depan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku, Kyoka, Alice ataupun yang lainnya. Tapi jika masa depan yang ideal itu memang ada, mungkin saja itu adalah saat dimana aku hidup bahagia bersamanya, apa aku salah?"
Alice memandangku dengan bingung, memproses data dari kata-kata yang kuucapkan, dan kemudian, mengambil maksud tersirat dari apa yang kumaksud. Tapi kata-kata yang Alice katakan selanjutnya bahkan jauh lebih tidak terduga lagi, dia tertawa kecil.
"Jadi begitu... artinya jika masa depan yang ideal itu memang ada, mungkin saja itu adalah sebuah tempat dimana Aria dan aku hidup bersama, dalam sebuah rumah yang sederhana di suatu desa kecil di sebuah tempat... hidup bersama dengan Aria... dan mempunyai anak...-- Hey, kamu mau punya berapa anak?"
"Huh?"
__ADS_1
Aku menundukkan kepalaku dalam rangka menambah fokus dan konsentrasi untuk segera memproses semua kalimat itu. Melihatnya yang tengah tersenyum, aku tidak tau sejak kapan air mata itu tersapu. Dalam senyuman yang menyegarkan, dia melanjutkan,
"Aku ingin mempunyai dua orang anak, anak pertama adalah seorang laki-laki yang baik seperti Aria, yang akan melindungi adiknya setiap saat, dan anak kedua adalah seorang gadis yang cantik yang akan selalu mengikuti kakaknya setiap waktu- Hehem~ dan mungkin suatu saat, ketika mereka berdua sudah tumbuh besar, mungkin, anak-anak kita akan mengingatkan kita pada suatu waktu ketika kita hanya berdua seperti ini. Mereka akan memanggilku dengan mama~ , dan Aria dengan papa~. Tidak perlu dalam tempat yang mewah juga tidak apa-apa. Masa depan yang kuimpikan adalah tempat dimana aku membentuk sebuah keluarga yang bahagia denganmu."
Gadis ini mengatakan sesuatu yang sangat melebihi ekspektasiku. Aku tidak tahu apa ‘sebuah tempat’ itu memang benar-benar ada atau tidak, tapi seseorang yang mengatakan soal kemungkinan di masa depan itu tidak lain adalah aku, dan seseorang yang membuat kemungkinan-kemungkinan seenaknya sendiri pertama kali jugalah aku. Tetapi apa yang dia katakan dan apa yang sebenarnya ingin kubahas adalah sesuatu yang benar-benar berbeda. Meskipun begitu aku tidak bisa menyangkalnya seenakku saja. Aku tidak bisa hanya tertawa dan mengatakan 'heeh~ begitu ya?' ataupun memujinya dengan kalimat 'itu mimpi yang indah'.
Aku menundukkan kepalaku ke bawah, menatap gadis itu yang masih tetap dalam pelukanku. Alice memandang ke atas, melihat pada mataku yang juga tengah melihatnya. Rambut pirang dan pupil kecoklatan itu mengingatkanku pada sesuatu yang akan kamu sebut sebagai ‘Benua Eropa’, dan sebenarnya, memang di tempat itulah gadis ini lahir.
Alicia Bluesky, bersama dengan seorang temannya yang berasal dari benua yang sama, Hugo Astin, pindah ke sini pada musim dingin lima setengah tahun yang lalu, pada tahun 2017 di pertengahan bulan Februari di kala mereka berdua masih dalam tahun pertama SMP mereka.
Pada saat itu, Alice melepaskan pelukannya. Mengikutinya dua setengah detik kemudian aku melihat gadis itu selama dua, tiga detik dengan ekspresi yang menyiratkan sebuah tanda tanya. Dia membuka mulutnya, bibir tipis itu mulai mengeluarkan kata-kata:
"Terima kasih... Aria... mau pulang sekarang?"
Sekali lagi gadis itu tersenyum, lebih lebar, matanya yang tertutup menyiratkan sebuah keimutan. Rambut pirang yang terlihat lembut itu melambai beberapa kali dihembuskan oleh angin. Aku menjawabnya.
"Iya..."
Dan begitulah bagaimana kenangan yang tak tertahankan itu berakhir.
~**~
Kami kembali ke tempat yang sebelumnya, dimana anggota ketiga klub astronomi, Hugo Astin, juga dua teman masa kecilku, Hakuharu Hajime dan adiknya, Hakuharu Kyoka tengah melaksanakan kegiatan pengamatan bintang dengan seksama.
"Hajime, siapkan mobilnya. Hugo, kemasi barang-barang. Kita pulang."
"Haha, akhirnya kalian kembali juga."
Hugo mengamati kami sebentar sebelum membuat sebuah tawaan.
"Hoho~ selamat datang. Telat 10 menit lagi akan kutinggalkan kauberduaan dengan pacar barumu."
Hajime melirik kami, menarik sebuah garis pada bibirnya dan membuat sebuah senyuman mengejek. Dua orang di antara kami bereaksi pada perkataan itu. Kyoka yang tengah menempelkan sebelah matanya pada teropong seketika melirik kami, dan Alice yang sedikit membentak Hajime mengecatkan warna kemerahan padam pada wajahnya.
"Siapa yang!!—pa, pacar... itu.. aku—"
Suaranya semakin menurun pada bagian akhir.
"Sebaiknya kautidak mengatakan itu kepada seseorang yang mempunyai hampir ratusan fanclub ini. Atau kauakan mendapati sepatu indoormu menghilang untuk beberapa hari ke depan." kataku.
Merespon perintahku, Hajime dan Hugo bergerak. Hajime menghampiriku dan membisikkan sesuatu ke telingaku.
"Hey hey, kupikir akhirnya kaudapat seorang pacar."
Pernyataan yang sangat jelas itu membuatku sedikit geram. Aku memukul pundaknya dalam suatu tingkatan tenaga yang bahkan tidak dapat disebut sebagai sebuah pukulan. Aku berbisik juga.
"Apa yang kaubicarakan? Orang yang bahkan jaaaauh lebih manis dibanding gula bermerk terkenal ini mana mau dengan orang sepertiku."
"Itulah yang ingin kukatakan, apa itu 'orang sepertiku'? harusnya kaudapat lebih memahami daya tarikmu."
Di tengah malam yang panjang, kami pulang menaiki sebuah mobil yang juga diset jumlah bangkunya menjadi lima. Ada banyak alasan kenapa kegiatan klub astronomi ini selalu mengundang dua orang yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan klub astronomi. Hakuharu Hajime adalah seorang ketua dari klub memanah, dan Hakuharu Kyoka juga ketua dari klub berkebun.
__ADS_1
Ada beberapa alasan di balik penyertaan mereka berdua, salah satunya karena dari sekian banyak orang yang kukenal, Hajime adalah salah satu dari sedikitnya yang memiliki SIM