Illusion & Magic jilid 1: Menggapai Kenangan yang Tak Tertahankan

Illusion & Magic jilid 1: Menggapai Kenangan yang Tak Tertahankan
Episode 12


__ADS_3

"Kyoka, ini milikmu."


"Aria, tangkap, ini pedangmu."


Aku menangkap Lambent Gladius yang telah terselimuti dengan sarung pedang coklat kehitaman. Aku mengembalikan sarungnya yang kemudian menyatu dengan rain guard pedang. Bersamaan denganku, Kyoka dan Hajime menggenggam senjata mereka dengan kuat, dan menyisihkan tenaganya untuk pertarungan yang akan datang.


"Hajime, kanan. Kyoka, ke kiri. Jaga jarak kalian dengannya!"


Toxilion Ape adalah monster yang menyerang dalam jarak dekat, namun juga memiliki serangan jarak jauh yang sangat kuat: 【Poison Breath】, art itu telah memberiku sebuah racun fatal yang aku sendiri yakin itu belum sepenuhnya menghilang dari dalam tubuhku. Tetapi monster itu telah melepaskan mode【Strengthening】-nya, kedua lengannya juga telah terpotong dari tubuhnya, membuat serangan jarak dekat jadi sulit bahkan mustahil kecuali dia menggunakan kaki atau kepalanya untuk menyerang.


Namun dalam kondisi ini, bukan dia saja yang telah kehilangan banyak kekuatan bertarungnya. Hajime, Kyoka dan aku hanya memiliki sedikit tenaga yang tersisa, ditambah luka-luka pada tubuh kami dan racun pada diriku telah mengurangi kemampuan tempur kami mencapai 90%, menyisakan 10% untuk melawan Toxilion yang sudah sekarat. Meski begitu aku tahu daya tahan tubuh monster ini berada pada tingkat yang sangat kuat, bahkan seluruh luka pada tubuhnya masih belum cukup untuk membunuhnya.


"RRAAAAAA!!"


Aku berlari sekuat tenaga, hampir terjatuh satu, dua kali, dengan kecepatan yang hanya sebanding dengan seseorang yang berjalan cepat. Toxilion mengambil nafas dalam, menandakan sebuah skill beracun yang akan terealisasi dalam bentuk sebuah gas, keluar dari mulutnya, membentuk lintasan lurus yang kemudian disebut dengan nafas beracun.


Tetapi sebelum itu terjadi, sebuah anak panah meluncur lurus ke arahnya. Toxilion memundurkan kepalanya agak ke belakang 3, 4 cm menghindari anak panah yang dapat dilihat itu. 0,5 cm saja anak panah tersebut akan menyerempet mata Toxilion dari samping.


Mengambil celah yang sempit, aku mengayunkan pedangku menuju kepala Toxilion dari atas. Namun ia lagi-lagi menghindar, Toxilion melompat agak jauh ke belakang, jarak yang sebelumnya kututup kembali terbuka melalui tindakan tersebut. Kemudian, memanfaatkan jarak yang ia buat, Toxilion mengambil nafas panjang, menyiapkan kuda-kuda untuk art beracunnya. Sebisa mungkin aku juga menyiapkan kuda-kuda untuk teknikku. Seketika, suara Kyoka terdengar—


"Aria! Disitu tidak bisa—menyingkir!!"


Aku mendengarnya, tetapi waktu yang dibutuhkan terlalu besar untuk menghentikan teknikku dan menyingkir sebelum nafas beracun itu mengenaiku.


"【Asterial Stlye: Whinreel Sword 】!"


Putaran pedang bercahaya giok menepis nafas itu dengan cepat. Sebelum 3, 4 detik kemudian, bunyi sesuatu yang pecah terdengar melalui telingaku.


- CTARR!!


Saat kusadari, pedangku, Lambent Gladius pecah membentuk kepingan-kepingan yang mirip dengan batu dan kaca. Tidak sempat—gawat-- Tidak mungkin sempat-- Nafas beracun itu akan mengenaiku dengan telak dan membunuhku. Dan sekali lagi, aku akan mati, meninggalkan mereka berdua.


- Aku tidak mau itu.


Aku tidak mau meninggalkan mereka. Aku tidak mau hal yang menimpa Hugo dan Alice terjadi lagi. Aku tidak mau, entah itu jadi orang yang ditinggalkan ataupun orang yang meninggalkan, aku tidak mau itu.


Tapi hanya inilah yang kudapat. Aku tidak bisa berbuat lebih banyak lagi, dan berusaha mempertahankan tubuh ini lebih lama lagi. Dan karena itulah, aku hanya melihat kumpulan gas keunguan yang menuju ke arahku. Suatu erangan terdengar memasuki telingaku, tapi aku tidak mempedulikannya karena inilah akhirnya. Aku tidak bisa berusaha lagi, dan mengusahakan semuanya semampuku lagi. Yah, inilah akihirnya. Aku telah mencapai batasku. Aku sudah kehabisan semua opsi.


"Jangan menyerah! Semuanya hanya akan berakhir jika kamu menyerah!"


Sesuatu memasuki penglihatanku. Gadis itu, Kyoka... kenapa? Kenapa harus dia? Ia berdiri di depanku sebelum meneriakkan kalimat sihir yang telah dipersiapkannya dari tadi.

__ADS_1


"Berdirilah— Castle!"


Lingkaran cahaya keemasan tipis seukuran pria dewasa tercipta di hadapan Kyoka, dan tidak hanya satu, dua lingkaran lainnya tercipta ulang di depannya. Benteng cahaya itu melayang kokoh di udara, tetapi setelah 3, 4 detik, mereka pecah satu per satu, membentuk polygon-polygon mirip pecahan kaca.


"Jangan menyerah! Hanya dengan tidak menyerahlah satu-satunya harapan kita!


"Tidak, Kyoka, menyingkirlah—! Kenyataan dimana kalian masih hidup adalah satu-satunya harapan bagiku! Aku tidak bisa lagi... melihat seseorang yang berharga meninggalkanku. Kumohon pergilah! Kyoka, ini tidak mungkin..."


Seorang lainnya berjalan pelan dengan kaki pincang ke tempat kami. Tidak, aku tidak bisa lagi-jangan kaujuga, Hajime! Jangan kesini!


"Tidak mungkin? Lawakan apa yang baru saja kaukatakan? Jika menurutmu ini tidak mungkin, lalu apakah hanya menyerah saja pilihan yang ada di pikiranmu? Dengarkan aku baik-baik, Aria. Satu-satunya cara untuk mengalahkan ketidakmungkinan adalah dengan mempercayainya bahwa itu mungkin; dengan begitulah harapan tercipta. Dan dengan mempercayai sebuah harapan itulah tindakan terwujud, membentuk kekuatan."


Hajime berdiri di samping Kyoka yang mati-matian mempertahankan satu-satunya benteng cahaya yang tersisa. Ia mengangkat busurnya, membuat kuda-kuda yang belum pernah kulihat dan menarik tali busurnya sekuat tenaga. Anak panah cahaya terbentuk dari imajinasi Hajime, menempatkannya dengan mantap di antara tali busur dan busurnya. Ia mengucapkan nama teknik itu.


"【Asterial Stlye: Last Form: Vortex Arrow】!!"


Bersamaan dengan akhir dari kata-kata Hajime, benteng keemasan Kyoka pecah membentuk polygon-polygon mirip kaca sebelum sepenuhnya menghilang tanpa bekas. Hajime melepaskan pegangannya pada tali busur, meluncurkan anak panah itu melawan lintasan【Poison Breath】yang telah sedikit mencapainya. Anak panah itu terbang, membentuk pusaran angin dan melenyapkan 【Poison Breath】 tanpa sisa.


Teknik memanah yang belum pernah kulihat. Tidak sepertiku, Hajime tetap melanjutkan latihan memanahnya dalam empat tahun terakhir, membuatnya menguasai suatu teknik yang belum pernah pemanah profesional sendiri tunjukkan. Ia membentuk pusaran angin melewati Poison Breath, dan berakhir dengan menancap bahkan menembus dada Toxilion, sebuah lubang terbentuk pada tempat anak panah itu mengenainya.


Mengetahui serangan Hajime yang sukses, mereka kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan tubuh mereka ke belakang. Aku menangkap mereka berdua, bersyukur atas berakhirnya pertarungan yang panjang ini.


"Kita berhasil... dan kalian masih hidup. " Kataku.


"Yah, setidaknya ini sudah cukup. Bagaimana denganmu, Kyoka?"


"Aku tidak enak dengan mengisi kemenangan ini dengan kesedihan, tetapi, Aria, sebelumnya kumohon maafkan kami yang sudah seenaknya sendiri."


Jika kalian merasa sakit lebih baik jika kalian tidak berbicara. Aku ingin kita segera pulih, dan menjalani hari-hari kita yang biasanya bersama. Begitulah yang kuinginkan, tetapi, apalagi? Apalagi yang kalian khawatirkan? Hajime dan Kyoka memandangku dengan ketenangan tanpa tekanan apa pun, Hajime mengatakan:


"Tenanglah, dan dengarkan aku...” Ia meletakkan tangannya pada rambut belakang kepalaku, sambil berkata: “ .... Aria, sebenarnya, keluarga kami terlahir dengan tubuh yang lemah terhadap racun. Bahkan racun sedikit saja bisa membunuh kami. Dan saat ini, waktu kami tidak tersisa banyak. 'uhk,' Ini adalah saat-saat terakhir kami, aku harap kaumengerti. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita, tapi aku akan tetap mengingat semua waktu yang kuhabiskan bersamamu, semua waktu yang kita isi bersama-sama dengan kesenangan dan kesedihan kita, tragedi dan candaan tidak masuk akal kita, dan segala hal menyenangkan dan membosankan, akan kuingat itu semuanya. Jadi, ingatlah kami juga. Aria, Ingatlah kami meskipun hanya sebentar saja dalam sehari 'uhk'."


Tanpa kusadari luapan cairan hangat keluar dari mataku, turun mengaliri pipiku, mengubahnya dalam bentuk tetesan yang disebut dengan air mata.


"Kenapa...? Kenapa kaubilang begitu? Apanya yang akan mengingat semuanya? Apanya yang pertemuan terakhir? Kenapa kalian meninggalkanku...? Kyoka, Hajime, aku akan jadi lebih kuat... sangat kuat untuk melindungi kalian, jadi, kumohon... kumohon... tetaplah di sisiku... Hajime, Kyoka...?"


Mendengar rintihanku Kyoka menggeleng pelan satu, dua kali, sebuah suara terdengar dari bibir tipisnya, ia berkata padaku:


"Tidak, Aria, kami tidak bisa... kami tidak bisa melakukannya meskipun kami mau... padahal aku baru saja menjalin hubungan yang baru denganmu, meskipun aku sudah lama memimpikan hal ini, aku sudah menyukaimu dari dulu, aku sudah lama ingin berpacaran denganmu, tapi semuanya malah berakhir seperti ini... maaf ya, Aria, kekasihku... yang sangat kucintai.”


Itu adalah masa depan yang aku dan Kyoka impikan bersama, di sebuah tempat dimana aku bisa hidup dengan penuh kebahagiaan bersamanya, membentuk sebuah keluarga bersamanya, menjalani hari-hariku bersamanya, dan saling menyayangi satu sama lain. Gadis yang sangat kusayangi itu mengambil sebuah item yang belum pernah kulihat dari lehernya.

__ADS_1


“Ini adalah hadiah perpisahan dari kami. 'uhk' sebuah liontin-- Terdapat foto kita berlima di dalamnya; Aria adalah ketua dari klub astronomi, Alice dan Hugo adalah teman satu klub yang pernah Aria selamatkan... dan aku dan Hajime, meskipun kami tidak terikat secara langsung dengan klub, apa yang kurasakan di sana benar-benar seperti rumahku... kalian menerima kami seperti anggota klub yang lain, bersenang-senang bersama, pergi ke tempat yang sama untuk kegiatan klub, dan saling menerima satu sama lain seperti keluarga. Semua kenangan yang kita lalui pada hari-hari itu tersimpan dalam liontin ini. Terimalah, Aria."


Aku menerima liontin itu, menggenggamnya erat, memeluk mereka berdua dengan setiap lengan yang kumiliki. Air mata kembali berjatuhan menuruni pipiku yang mulai menjadi basah.


"Aku tidak ingin kehilangan kalian! Aku tidak ingin lagi kehilangan seseorang yang berharga. Tapi aku, aku, aku juga tidak bisa membantu kalian... menjengkelkan, yah? Untukku yang tidak mampu membantu temannya sendiri... orang macam apa aku ini? Kenapa bukan aku saja? Kenapa aku harus tetap hidup di saat dua orang yang kusayangi pergi?"


Hajime tersenyum lemah.


"Maafkan aku jika kepergian kami membuatmu sedih. Aku minta maaf karena pergi lebih dulu darimu. Tapi hiduplah, Aria, jangan menyusul kami terlalu cepat."


Ia menampilkan senyuman untuk menutupi kesedihannya. Meskipun aku bahkan Hajime sendiri tahu bahwa perasaan ini tidak akan bisa pernah hilang tidak peduli bagaimanapun kita menutupinya dan menyembunyikannya dari dalam benak kami masing-masing. Ia tetap tersenyum, meskipun itu sulit.


"Mungkin setelah ini kamu akan mengalami banyak kesulitan tanpa kami. Tapi itu bukan berarti kamu sendirian. Kelak kamu akan bertemu dengan teman. Kelak kamu akan bertemu dengan teman yang akan menyayangi dan melindungimu, mereka akan tetap bersamamu kapanpun kamu membutuhkan mereka.”


Perasaan yang tergambar pada diri mereka memberiku berjuta-juta kesedihan. Tidak peduli apa yang mereka katakan dan lakukan, perasaan ini tidak akan pernah hilang dariku.


Gadis yang sangat kusayangi itu melanjutkan kata-kata Hajime dengan lemah.


“Seorangpun di dunia ini yang dilahirkan sendirian itu tidak pernah ada. Di saat sedih kamu harus tertawa, karena mereka selalu menunggumu di sana. Sesuatu yang sederhana bahkan akan terasa menyenangkan saat bersama dengan mereka. Jangan pernah menyesali kehidupanmu, meskipun tidak ada diriku di dalamnya, ya... Aria, Terimakasih untuk selama ini, selamat tinggal... .... aku mencintaimu... ....---"


Perasaan yang sulit dijelaskan memenuhiku, mengisinya dengan rintikan seperti sebuah hujan. Itu adalah kata-kata terakhir mereka. Berakhir. Dan kata-kata itu berakhir seperti itu. Meninggalkan kenangan tak tertahankan yang tak mungkin kulupakan. Aku membaringkan mereka di atas rumput. Melihat mereka yang tersenyum membuatku ingin menangis, tapi aku tidak boleh melakukannya di depan mereka. Aku harus menahannya, menahan perasaan ini agar tidak terluapkan. Aku harus menahannya, menahan kesedihan tak terbatas ini agar tidak membentuk air mata.


- YOU GOT A SKILL


- YOU GOT A SKILL


Sebuah pesan suara terdengar entah dari mana, tapi aku hanya menganggapnya seperti suara angin atau suara burung. Tiba-tiba, tubuhku diselimuti dengan api hangat berwarna putih. Aku tidak mengerti benda apakah ini, tapi api putih ini memberiku perasaan nyaman. Dan entah itu karena perasaan ini, atau mungkin karena perasaan lelah dan rasa sakit, aku kehilangan kesadaranku.


- Chapter 02: Meski begitu, semuanya berawal, dan berakhir End -


Chapter 03: Namun, Akankah Kudapatkan Semuanya Kembali?



Saat satu bintang redup, bintang baru lahir. Tapi kita seringkali terlalu menyesali bintang yang redup itu, sehingga tidak menyadari adanya bintang baru yang lahir— aku mempercayai perkataan pak tua penggila astronomi itu sebagai sebuah perkataan bijak.


Kehidupan memiliki hukum tak tertulis yang menyatakan bahwa: Saat kita mendapatkan sesuatu, kita juga akan kehilangan sesuatu. Itu adalah kebenaran karena kita tidak bisa mencapai apa pun tanpa membuat suatu pengorbanan. Dan sebaliknya, kita juga tidak perlu kehilangan sesuatu jika tidak ingin mendapatkan sesuatu-- Begitulah yang kupikirkan.


Saat satu bintang redup, bintang yang baru lahir-- Tapi, apa benar seperti itu?


Saat kubuka mataku, pemandangan dari langit-langit kayu yang terasa asing memasuki penglihatanku. Aku bertanya-tanya ada dimana aku. Mataku beralih ke sana sini, tapi aku tidak melihat jawaban dari pertanyaan itu.

__ADS_1


"Lukamu masih belum sembuh sepenuhnya, jadi sebaiknya jangan bergerak dulu untuk sementara." Kata pria tua dengan setelan lab yang duduk di balik mejanya, menggerakkan tangannya dan memfokuskan penglihatannya pada alat racik obat di atas meja.


Sesuatu yang empuk membentuk sensasi yang menyelimuti kepala bagian belakangku ke bawah. Tidak butuh waktu lama untuk berpikir bahwa aku sedang terbaring di atas sebuah kasur. Di sampingku, seorang gadis berambut emerald tertidur dengan kepala dan tangannya di atas kasur. Lusinan pertanyaan memenuhi pikiranku. Tapi aku sendiri sedang tidak dalam mood untuk mengatakan apa pun sebelum tenagaku setidaknya pulih sedikit saja. Kemudian, pria itu berkata lagi,


__ADS_2