
5 tahun lebih hidup berdampingan dengan dirinya yang tidak di ketahui keberadaannya oleh siapa pun kecuali Eunha, dirinya yang masih mencintai Eunha dan begitu pun sebaliknya, Eunha yang juga masih mencintainya.
Eunha bersyukur dia bisa sangat memahaminya, juga keadaannya yang pada dasarnya milik seseorang yang memang lebih berhak untuk menjadi pemiliknya yang mutlak.
***
"Kau harus bertanggung jawab!!" terdengar teriakan seorang wanita.
"Tidak akan pernah!! Aku sudah memiliki keluarga, berapa yang kau butuhkan? Aku akan membayar mu!!" bentak seorang pria kepada wanita tersebut.
"Laki laki brengsek!!" teriak wanita itu kembali.
"Terserah! Jika kau tidak mau!!" pria itu beranjak pergi meninggalkan wanita tersebut.
"HEII!! TUNG-AAAKKKKHHH!!"
***
"Ohh sudah pulang sayangg?" tanya Eunha pada Jungkook.
Eunha berjalan pelan ke arah seorang pria berbalut jas kerja rapih dengan tas kantor berwarna hitam, senada dengan warna jasnya. Wajahnya yang lelah tidak bisa lagi ia sembunyikan. Tangan lembut milik Eunha mencoba mengelusnya untuk menyalurkan sedikit energi yang ia punya.
Mengusap lembut wajah tampannya dengan senyuman hangat, membantunya melepas pakaian kerjanya.
Eunha memperhatikan kemejanya, "Eoh Jung, kenapa kemeja mu kotor? Ah darah, Jungkook ini darah apa? Kamu kenapa?"
"Tidak ada sayang, ini bukan darah, hanya tinta print, aku ketumpahan tadi" jelasnya.
"Ahh yasudah, mandilah. Aku sudah siapakan airnya, aku akan ke bawah membuatkan mu makan malam"
Jungkook menahan Eunha, "Ania sayang.. Aku sudah makan, bisa kita--" Jungkook menyapu rambut Eunha ke belakang telinga.
Senyum manisnya membuat Eunha juga ikut tersenyum.
"I miss you, aku merindukan mu sayang"
Tepat satu detik setelahnya Jungkook melekatkan bibirnya ke bibir milik Eunha dan mana mungkin Eunha tidaj membalas perlakuan manis suaminya itu.
Di satu sisi di sudut ruangan juga ada seorang pria yang keberadaannya belum di sadari oleh gadis yang tengah asik bercinta dengan suaminya itu.
"Oppa, sudahlah.. Ayo kita jaga Jaemin saja di kamarnya, kasihan dia tidur sendiri di kamarnya oppa" ajak Yurra pada Jimin yang tengah memandang adegan romantis Jungkook dan Eunha.
"Ahh Yurra ayo kita jaga Jaemin" jawab Jimin dengan nada sendu.
Sakit, itu yang di rasakan Jimin. Sadar dirinya bukanlah seseorang yang bisa memberi segala hal lagi untuk Eunha seperti dulu, dirinya cukup tau diri hingga sekarang, bisa selalu melihat senyum gadis yang di cintainya saja dia sudah sangat bersyukur.
***
__ADS_1
"Jaemin, kau benar benar tampan nak, mata mu begitu mirip dengan mommy mu" Jimin berucap sembari mengusap lembut kepala Jaemin yang tengah tertidur di ranjangnya.
Jimin tak pernah mengira bahwa dia akan mengalami hal sepahit ini, sudahlah nyawanya harus di renggut lebih dulu sebelum membahagiakan Eunha, kini dia juga harus menelan pahit dan juga rasa sakit bersamaan ketika harus menerima dengan paksa kemesraan antara Eunha dan suaminya.
Padahal sebelumnya Jimin berharap dia bisa terus berdua dengan Eunha, sebelumnya dia juga berpikir jika dia tidak dapat memiliki gadis itu dan harus menerima takdir bahwa dirinya harus meninggal maka dia ikhlas, tapi nyatanya gadis itu malah menariknya kembali.
Dia juga ingin cintanya yang begitu kuat ia rasakan pada Eunha juga ikut mati bersamanya, karena jujur ini terlalu sakit, terlalu menusuk untuk terus di jalani.
Tanpa sengaja setitik air bening mengalir di pelupuk mata Jimin, rasa sakit yang teramat kuat, berhasil merobohkn ketangguhan namja bernama Park Jimin itu, dirinya menangis sembari memperhatikan Jaemin yang terlelap dalam tidurnya.
Di hati kecilnya sedikit terbesit tentang bagaimana dulu ia pernah membayangkan bagaimana rupa dari anaknya dengan Eunha, mungkin akan setampan Jaemin dan akan memiliki mata sipit dari seorang Park Jimin.
"Maaf, aku tidak bisa mewujudkan mimpi kita Eunha-ahh, aku tidak bisa memberi mu seorang anak yang kau inginkan" Jimin semakin tersedu sedu.
"Oppa gwaenchana?" tanya Yurra yang sedari tadi memperhatikan Jimin.
"Gwaenchana Yurra-ahh, oppa hanya terharu melihat Jaemin dia begitu mirip dengan mommy nya dan juga daddy nya sangat sempurna" ucap Jimin gemetar.
"Aku tahu apa yang kau rasakan oppa, tapi kita ini berbeda kita harus membiarkan yang hidup, merasakan kebahagiaan di hidupnya" ucap Yurra menghibur Jimin.
"Aku mengerti Yurra, terima kasih. Kau ini hantu kecil yang dewasa ya"
"Aku meninggal saat usia ku 10 tahun oppa, jika di hitung hitung usia ku kini sudah 20 tahun, hanya saja visual ku tetap seperti ini, sama seperti awal diri ku meninggal"
"Itu berarti diri ku juga?" tanya Jimin.
"Tentu oppa, berbanggalah kita tidak akan pernah mengalami fase menua seperti manusia" Yurra mencoba untuk menghibur Jimin.
"Tidak oppa, pada dasarnya aku di lihat masih kecil, akan terasa aneh jika aku memanggil mu dengan sebutan nama"
"Ahh arrasseo"
Jimin tersenyum sekilas dan kembali menatap Jaemin, dalam hatinya ia bertanya, bangga apanya? apa yang harus di banggakan ketika kau tidak bisa menua?
Jimin akan lebih bangga jika dia dapat menua bersama sama dengan Eunha, menghabiskan cinta mereka berdua sampai maut memanggil mereka bersamaan bukan seperti ini.
***
Pukul 23.56 malam di kamar Jungkook dan Eunha
"Eungghhhh Jeon Jungkook" Eunha meremas lembut surai hitam Jungkook, ketika Eunha merasakan hal 'itu' kembali mendatanginya.
Jungkook menghujam daerah sensitif Eunha, sedikit dengan tempo lebih cepat. Entah sudah berapa kali kenikmatan itu datang karena Jungkook, sampai sampai rasanya tubuh Eunha sudah sangat lelah.
Jungkook terus memainkan Eunha sesukanya, menekannya berulang kali sembari tangannya ikut mengusap lembut daerah milik Eunha yang sudah sangat basah.
Hingga keduanya ambruk setelah hentakan terakhir Jungkook, tubuh Jungkook langsung merebah di samping Eunha, menatap istri tercintanya yang sedang memejamkan matanya merasakan nikmatnya pelepasan terakhir mereka.
__ADS_1
"Sayanggg.." panggilnya teramat lembut seraya mengusap lembut pipi Eunha, dan istrinya itu hanya berdeham mungkin efek lelah.
"Jaemin sudah boleh punya adik lagi kan?" tanyanya dengan nafas yang masih memburu.
"Kenapa?"
"Aku ingin kamu hamil lagi sayang, kamu cantik jika sedang hamil"
"Jadi maksud kamu biasanya aku tidak cantik, begitu?" tanya Eunha sinis.
Jungkook tertawa kecil, "Ahaha ania, maksud ku kamu bertambah cantik saat perut mungil mu ini sedikit demi sedikit membesar"
Tangan Jungkook beralih mengusap lembut perut Eunha.
"Hmm"
"Apa maksudnya hmm?" Jungkook mencium kembali tiap inci kulit ceruk leher Eunha.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di anjurkan membaca setelah berbuka, karena part ini mengandung sedikit ahh sudahlah 😂😂😂
__ADS_1
Aku balik lagi nih, sebenernya aku gamau lanjut sih wkwk bercanda 😂 sebentar lagi masuk konflik nih, jangan baper yak 😂
Salam hangat dari istri sahnya Jungkook 😍