
Keesokan paginya seperti biasa Jimin akan menghilang dan Eunha kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Semenjak kepergian Jimin, Eunha benar benar menutup diri akan lingkungannya. Ia lebih memilih untuk menyendiri dari pada harus berkumpul ria bersama yang lainnya. Bahkan raut wajah yang biasanya di hiasi oleh keceriaan itu, kini jarang sekali terlihat. Ia benar benar seperti orang yang kehilangan semangat hidup setelah kepergian Jimin.
Bahkan karna ia larut dalam kesedihannya membuatnya terlupa akan kehadiran Yurra. Yurra sudah berusaha sebisa mungkin untuk menghibur Eunha dan membantunya melupakan kesedihannya, namun itu semua sia sia.
Terkadang, jika Eunha sendiri bayang bayang akan seorang pria yang di cintainya itu kembali terlintas di dalam ingatannya. Itu benar benar sangat menyakiti hati Eunha.
***
Detik, menit, jam bahkan kini hari juga sudah berganti menjadi tahun. Sudah satu tahun berlalu Eunha semakin hari semakin menutup dirinya, ia tidak mau berinteraksi dengan siapa pun, tidak mau berkenalan dengan siapa pun, bahkan ia menganggap hidupnya hanya untuk menanti kematiannya hingga ia bisa hidup bersama dengan Jimin.
^
Pukul 11.00 di kediaman Tuan Park
"Eunha-ahh apa kau lapar? Kalau kau lapar aku akan membuatkan sesuatu untuk mu" tanya Jin pada Eunha
"Aku ingin sekali makan ramyeon Oppa.." jawab Eunha, ia sedikit menelan salivanya saat membayangkan semangkuk besar ramyeon.
"Baiklah, akan Oppa buatkan, dan kau Yoongi, apa kau juga mau?" tawar Jin pada Yoongi.
"Tentu saja hyung, aku juga sudah lama tidak merasakan ramyeon buatan mu hehe" sahut Yoongi, ia tetap fokus pada ponselnya tanpa melihat kearah Jin.
Mereka bertiga sedang berada di ruang makan, terkadang Eunha menyempatkan diri untuk mengunjungi kediaman Tuan Park untuk sekedar menghibur diri dan melihat keadaan di sana. Entah itu hanya sekedar bercerita atau bersenda gurau dengan para sepupu Park Jimin atau bahkan Tuan dan Nyonya Park.
Setelah ramyeon yang di masak oleh Jin matang, ia membaginya menjadi 3 dan menuangkannya ke dalan 3 mangkuk. Untuk Eunha, Yoongi dan juga dirinya. Kemudian membawanya ke meja makan untuk di makan bersama sama. Mereka memakan ramyeon buatan Jin itu dengan lahap, tak terdengar suara apa pun di sana kecuali suara sendok dan garpu yang berdenting karna saling beradu.
***
Setelah selesai makan mereka bertiga kembali ke ruang tengah untuk mengobrol bersama.
"Jangan gila Eunha-ahh aku tau kau mencintai Jimin setengah mati, tapi jangan seperti ini kau perlu menjalani hidupmu juga sayang!!" seru Yoongi.
"Aku tidak tertarik oppaa.." ucap Eunha acuh seakan tak tertarik dengan pembicarannya.
__ADS_1
Ya walaupun Eunha sudah tidak lagi ada hubungan dengan Jimin, tapi ia masih berhubungan baik dengan keluarganya, hubungan Eunha dengan mereka tak pernah terputus. Mereka memang sudah seperti satu keluarga.
"Tapi Eunha-ahh.. Jangan kecewakan keluarga mu sayang.. Kau anak satu satunya dari keluarga mu. Lalu kau akan hidup seperti ini? Eunha-ahh, Jimin sudah tiada. Ikhlaskan dia dan jalani hidup mu kembali nee? " bujuk Jin lembut seraya mengelus rambut Eunha.
"Atau jangan jangan??!!!" celetuk Yoongi. Ia menatap lekat kedua manik coklat milik Eunha, Jin juga ikut ikutan menatapnya dalam dalam.
"Kau melihat Jimin kan? Kau lihat arwahnya kan? Malam itu saja kau tertawa tidak jelas di balkon kamar itu. Kau sedang tertawa bersama Jimin kan Eunha-ahh? Iyakan??!! Jawab akuu!!!" tekan Yoongi.
"Jadi apa benar Jimin balik ke bumi lagi? Tapi untuk apa? Urusannya kan sudah selesai di dunia ini. Lalu kenapa dia bisa kembali??" Jin bertanya dengan memiringkan kepalanya dan menatap bingung ke arah Eunha.
"Tidak!! Jika gadis ini belum merelakannya, Jimin masih bisa kembali ke bumi hyung!" sentak Yoongi.
"Sudahlah oppa, apa guna nya di perdebatkan eoh?? Oppa ingin aku bahagia kan? Aku sudah bahagia!! Aku cukup bahagia seperti ini!!" ucap Eunha sambil beranjak pergi meninggalkan mereka.
Sebenarnya tidak, Eunha tidak benar benar bahagia, kadang kala ia merasa kesepian, Jimin jadi lebih sensitif belakangan ini, dan Eunha tak pernah di izinkan pergi atau berteman dengan siapa pun, mau itu perempuan atau bahkan laki laki.
***
Pukul 22.30 malam di rumah Eunha
"Jangan dengarkan perkataan mereka sayang.. Kau dengan ku, ini hidup kita berdua jadi biarkan saja mereka" ujar Jimin yang tengah berbaring dengan menjadikan paha Eunha sebagai bantalan kepalanya.
"Apa yang kau maksud Eunha-ahh?" Jimin beranjak duduk dan langsung menatap tajam kedua mata Eunha.
"Ti-tidak.. Aku hanya--" belum siap Eunha menyelesaikan ucapannya, Jimin dengan segera menyahut ucapan Eunha.
"Hanya ingin aku pergi dan kau bisa meninggalkan ku begitu??!!" bentak Jimin.
Prannngggg!!
Seketika barang barang dan kursi di ruangan itu bergerak terangkat dan berjatuhan ke lantai karna teriakan Jimin.
"Ti-tidak.. Jimin, bukan begitu maksud ku" Eunha mencoba menenangkannya.
"Jangan berani beraninya kau mencoba untuk meninggalkan ku Cha Eunha-ahh!!!" Jimin mencekik kuat leher Eunha dengan tangannya.
__ADS_1
"Akhh.. Jim.. Sakit.. Jiminn.." Eunha meronta mencoba melepaskan cengkraman tangan Jimin.
"Oppa!! Berhenti oppa, hentikan!!!" kini giliran Yurra ikut menarik tangan Jimin dengan sekuat tenaga dan akhirnya terlepas.
Nafas Eunha hampir habis karna Jimin mencekik kuat lehernya. Eunha menatap Jimin, bahkan ia tidak pernah melihat Jimin semarah ini.
Sungguh, kenapa dia jadi temprament seperti ini eohh? Gumam Eunha dalam hati.
Eunha memegang tangan Jimin dan mencoba untuk menenangkannya, ini yang Eunha takutkan ketika menjalin hubungan beda dunia, kemungkinan berpacaran dengan hantu itu akan buruk resikonya.
Karena saat dia mencintai kita dia akan bersikap egois, yang ada di fikirannya adalah diri kita akan hanya menjadi miliknya dan orang lain tidak boleh, jika sampai ada seseorang yang berani mengusik miliknya maka balasannya adalah.. KEMATIAN.
"Sayang.. Maafkan aku tadi aku hanya bicara saja, aku tidak benar benar ingin meninggalkan mu, kau tau kan aku mencintai mu Jim, jangan marah ya pada ku" Eunha memeluk Jimin untuk meredahkan amarahnya.
Aku harus mengakhiri ini segera sebelum Jimin benar benar membunuh seseorang! Batin Eunha.
Setelah Jimin tenang, Eunha mengajaknya untuk beristirahat. Ia merebahkan tubuh jimin dan ikut berbaring disampingnya. Mereka tertidur dengan posisi saling memeluk, tak lupa Jimin mengecup lama dahi Eunha.
***
Keesokan paginya, seperti biasa Jimin akan menghilang dan Eunha bisa kembali melakukan aktifitasnya sebagai manusia biasa.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan votenya yaa kakak kakak hehe 😅
Salam hangat dari istri sahnya Jungkook 😍