ISTRI SANG RAJA QI

ISTRI SANG RAJA QI
Tom dan Jerry terus bertengkar


__ADS_3

"Cukup untuk hari ini, latihannya kita lanjut besok!" Ucap Qi Yan pada jendral Feng


"Baik yang mulia!" jawab Feng dengan kepala menunduk


Qi Yan berlalu pergi kekamarnya, sementara Chu Ye yang masih berada di dalam kamar itu begitu putus asa karena semua rencananya tidak ada yang berhasil.


"Kenapa jadi seperti ini! Hidup di sini seperti neraka, tidak ada yang dapat di lakukan.. membosankan sekali!"


Gumam Chu Ye sembari menopang dagunya ke lutut, Ia terus saja mengoceh, lalu sesekali mengusap-ngusap kasar baju pengantinnya itu.


Mendengar ada seseorang yang ingin masuk ke kamarnya Chu Ye dengan cepat berbaring kembali, Ia tau suaminya raja Qi Yan akan datang.


"Monster itu datang lagi, apa yang Ia lakukan di sini! Ya tuhan selamatkan aku dari santapan lezat monster ini!"


Batin Chu Ye dengan begitu cemas berusaha mengatur nafasnya. Qi Yan mendobrak pintu kamar itu dengan begitu kasar.


Melihat Chu Ye yang sedang berbaring membuat Qi Yan menjadi sangat marah


"Bangun!" ucap Qi Yan dengan sedikit membetak, namun Chu Ye tetap tidak bergerak.


"Aku bilang bangun!" teriaknya lagi sembari menerkam pipi Chu Ye lalu mengangkatnya dengan kuat hingga Chu Ye tersandar di dinding kamar itu


Namun Chu Ye terus saja menjalankan aktingnya itu, membuat sang raja semakin geram


"Baiklah! Kau mencoba membohongiku bukan, sekarang akan ku perlihatkan bagaimana cara bangun dengan benar!" ucap Qi Yan lagi sembari menghepas tubuh Chu Ye ke lantai.


"Aaaaaaahhhkkkk"


Teriak Chu Ye kesakitan, Chu Ye yang tersungkur kelantai mencoba bangkit dari tempat itu, tetapi Qi Yan yang berdiri di hadapannya kembali mendorong Chu Ye dengan kakinya begitu kasar


"Bangun!" Bentaknya lagi sembari menarik kasar tangan Chu Ye dan ingin mendudukkannya di atas tempat tidur itu kembali. Namun Chu Ye yang begitu kesal dengan perlakuan Qi Yan yang kasar dengan cepat menghempaskan tangannya itu.


"Lepaskan aku, monster sialan!" teriak Chu Ye mendorong Qi Yan dengan sekuat tenaga, sementara Qi Yan yang igin jatuh ke belakang dengan cepat menggenggam tangan Chu Ye, membuat keduanya terjatuh berhadapan. Tampa di sengaja bibir Chu Ye menyentuh tepat di bibir Qi Yan, membuat raja kejam itu semakin kesal.


Qi Yan mendorong Chu Ye dengan sangat kasar lalu berdiri kembali dengan cepat. Chu Ye yang baru melihat wajah suaminya itu begitu terkejut, Ia tidak menyangka bahwa yang Ia bentak di beton istana tadi adalah suaminya sendiri, raja Qi Yan


"Kau?!" ucap Qi Yan sembari menggigit gerahamnya


Chu Ye hanya diam saja, dengan sedikit menyembunyikan wajahnya. Chu ye menjadi salah tingkah saat menyadari siapa Qi Yan yang sebenarnya. Sementara Qi Yan kembali mendekatinya lalu berbisik ketelinganya


"Apakah kau sudah mengadu pada suamimu perihal pria yang menganggu mu dan membetak mu di beton istana pagi tadi? Apa kau tidak ingin melihat suamimu memakannya hidup-hidup?" bisik Qi Yan dengan memasang wajah sinisnya


"Hentikan omong kosong mu itu monster kejam!" balas Chu Ye dengan wajah begitu kesal


Qi Yan kembali mendekati istrinya itu lalu menggenggam erat leher belakangnya sang istri, dan menariknya hingga keduanya saling berhadapan sangat dekat.


"Aku telah terlalu banyak memberi kebebasan padamu, sekarang aku akan menyadarkan di mana posisimu sebenarnya!" bisik Qi Yan dengan sedikit menggigit gerahamnya lalu menampakkan wajah kesal.


Qi Yan menarik tangan Chu Ye keluar dari kamar dan membawanya kesuaktu tempat.


"Lepaskan aku, apa yang ingin kau lakukan?" teriak Chu Ye sembari meronta-ronta minta di di lepaskan, namun tidak di hiraukan oleh Qi Yan. Chu Ye terus saja meronta-ronta hingga membuat Qi Yan sedikit kesulitan.


Qi Yan dengan cepat mengenggam pinggang Chu Ye lalu menggendong tubuh Chu Ye dan membawanya ke tempat itu.

__ADS_1


"Brakkkk"


Tubuh Chu Ye di hempas dengan begitu kasar ke atas tikar , membuatnya meringis kesakitan.


"Mulai sekarang kau akan tidur di sini! Ingat jagan pernah masuk ke kamarku, atau kau akan tau akibatnya!" ucap Qi Yan sembari berlalu meninggalkan kamar itu


"Beraninya kau menghepasku! Awas saja kau akan ku balas! Dasar monster pembunuh!" Teriak Chu ye dengan sangat kesal sembari melempar beberapa keping kendi arak yang telah pecah itu ke arah Qi Yan.


Chu Ye memandang ke sekeliling sudut kamar yang begitu tampak lusuh dan tak berpenghuni itu. Seluruh lantainya di penuhi taik tikus dan cicak, Ia menoleh lagi ke atas tempat tidur yang penuh dengan debu dan kepingan kendi yang pecah. Kemudian Chu Ye memandang ke atas langit-langit kamar terlihat begitu seberawut, sarang laba-laba ada di mana-mana.


"Buek Buek"


Chu Ye berlari keluar dari kamar dengan begitu mual, Ia tidak sanggup berlama-lama di kamar itu.


"Dasar monster tidak punya hati! Lihat saja aku akan membuat mu menyesal telah memperlakukan ku seperti ini!" Gumam Chu Ye sembari mengibas-ngibas mulut dengan tangannya


Ia memandang di sekeliling taman belakang istana itu, tiba-tiba saja Ia melihat seseorang yang Ia kenal, benar saja Ia melihat tiner sahabatnya itu sedang melamun di bawah pohon rindang yang tidak berapa jauh dari kamarnya itu.


"Pelayan Tiner,,, pelayan Tiner,,,!" Teriak Chu Ye dengan begitu kencang.


Tiner yang sedang melamun tiba-tiba buyar saat mendengar suara tuan putrinya itu lalu berdiri dan menoleh ke arah sumber suara


"Tuan putri?" Balasnya dengan gembira sembari berlari ke arah sang putri, begitupun sebaliknya Chu Ye juga berlari mengejar Tiner


Keduanya saling berpagutan seperti teman sejoli yang telah lama terpisah dan sedikit meloncat-loncat gembira.


"Akhirnya kita ketemu juga!" ucap Chu Ye dengan sangat senang


Chu Ye menceritakan semuanya pada Tiner, apa-apa saja yang terjadi saat pertama berada di istana itu.


Tiner yang mendengar itu hanya tertegun sembari menggigit jari manisnya, Ia begitu takut mendengar cerita dari tuan putrinya itu.


"Apakah benar tuan putri hampir di makannya?" Tiner mengulang kembali pertanyaan yang telah di jelaskan Chu Ye tadi


"Itu benar! Untung saja aku bisa menjaga diri dengan baik, jika tidak mereka pasti sudah memangsaku dan merobek-robek dagingku dengan sangat kejam!" terus Chu Ye dengan meyakinkan sahabatnya itu.


"Tuan putri jika begitu, kita harus secepatnya mencari cara untuk bisa keluar dari sini tuan putri." rengek Tiner dengan memasang wajah takutnya itu


"Iya,, kita pasti akan pergi dari sini! Tapi tidak saat ini! Sekarang sebaliknya kita tinggal di kamar ini untuk sementara waktu!" balas Chu Ye sembari berjalan menuju kamar itu


"Tapi kenapa tuan putri?" tanya tiner dengan sedikit binggung


"Sekarang jika kita berusaha melarikan diri lagi pasti kita akan ketahuan, karena setelah kejadian tadi penjagaan istana menjadi sangat ketat." jelas Chu Ye lagi pada pelayan sekaligus sahabatnya itu


Tiner hanya mengangguk lalu mengikuti tuan putrinya itu dari belakang. baru saja melangkah masuk ke kanar Tiner begitu terkejut melihat kamar yang akan ingin Ia tepati.


"Tuan putri, bagaimana mungkin tuan putri bisa betah tinggal di kamar sekotor ini!" ucap Tiner sembari mengibas-ngibas hidung dan mulutnya dengan tangan


"Hah,, tentu saja kita tidak akan tidur seperti ini! Kita berdua akan membersih kamar ini dan menyulapnya dengan sangat indah." Balas Chu Ye mulai menyusun serpihan kendi di atas tempat tidurnya itu.


Sementara Qi Yan yang berada di ruangan kerjanya sedikit mengetuk-ngetuk meja lalu tersenyum sinis saat memikirkan kekonyolan istrinya itu.


"Ini belum apa-apa putri Chu Ye, aku akan membuatmu lebih menyesal lagi selama kau berada di istana ini! Kau sudah berani melawanku bukan, jadi kau telah membuat ku punya alasan untuk sangat dan sangat membeci mu!"

__ADS_1


Qi Yan kembali melanjutkan kerjanya, sementara jendral Feng masih setia berada di sisi sang rajanya itu.


"Yang mulia, bukankah lebih baik ratu di pindahkan ke tempat yang lebih layak?" tanya jendral Feng dengan suara pelan, berharap raja Qi Yan bisa memahami maksudnya itu


Raja Qi Yan berdiri dari tempat duduknya sembari membelakangi sang jendral


"Ada hal yang lebih penting kita lakukan malam nanti!" balas Qi Yan dengan sedikit tenang sembari melipatkan tangannya ke belakang


Jendral Feng hanya terdiam, Ia belum mengerti apa maksud dari rajanya itu.


"Kita harus menyiram tanaman bunga malam ini, bukankah sudah dua hari kita belum menyiramnya? jika kita tidak melakukan malam ini maka tanaman akan gugur dan mati!" ucap Qi Yan sembari kembali duduk di meja kerjanya itu


Qi Yan memiliki hoby menanam dan merawat bunga, entah kenapa sejak kecil Ia begitu menyukai bunga sehingga seluruh taman di istana di penuhi dengan berbagai macam jenis bunga. Membuat istana itu begitu indah dan suasana menjadi hidup.


Di sisi lain Chu Ye dan Tiner masih sibuk membersihkan kamar itu hingga terlihat begitu mengkilap seperti baru di bangun.


"Sekarang untuk meja riasnya kita akan memerlukan beberapa tangkai bunga untuk mengisi kendi kecil ini." ucap Chu Ye sembari menyusun kursi di hadapannya itu.


"Tapi tuan putri di mana kita bisa menemukan bunga yang bagus? Di belakang istana ini semua bunga terlihat keriting dan tidak terurus." balas Tiner pada tuan putrinya itu


Chu Ye hanya mengangguk lalu duduk dengan sedikit mengakat kakinya ke atas meja


"Haaaa,,, aku punya ide!" Chu Ye berdiri lalu menjelaskan idenya itu pada sahabatnya itu


"Kita akan pergi diam-diam ke taman depan istana lalu mengambil beberapa tangkai bunga dan setelah mendapatkannya kita berlari kembali ke kamar,, bagaimana?" jelas Chu Ye pada sahabat sekaligus pelayannya itu dengan gaya seperti biasa, melipat tangan lalu mondar mandir


Tiner hanya tersenyum lalu memberi tanda jempol pada tuan putrinya itu, yang artinya ia juga menyepakati ide tersebut


"Malam itu Chu Ye dan Tiner diam-diam menyelinap pergi ke depan istana, Ia melihat kiri dan kanan, lalu berjalan pelan-pelan melwati beberapa prajurit yang berjaga-jaga malam itu.


" Keliatannya aman!" bisik Chu Ye pada Tiner. keduanya berlari masuk ke taman dan mematah beberapa tangkai bunga yang menurutnya paling bagus.


Setelah mendapatkannya Chu Ye dan tiner berjalan pelan-pelan keluar dari taman depan istana tersebut. Sementara Qi Yan yang sedang asik menyiram bunga melihat kepala seseorang menyelinap di bagian rumpun bunga yang sangat Ia sukai itu


Awalnya QI Yan dan jendral Feng hanya diam menyaksikan, namun orang itu terus saja mematah beberapa tangkai bunganya itu, membuatnya menjadi kesal dan jengkel.


Qi Yan sengaja membiarkannya, sampai akhirnya kepala itu mulai beranjak pergi dari rerupunan bunga itu. Dengan cepat Qi Yan menyeret rambutnya hingga keluar. Chu Ye keluar dari balik rumpun bunga itu dengan rambut panjang terurai.


"Kau lagi!" bentak Qi Yan dengan nada sangat marah


Chu Ye dan Tiner yang menyadari dirinya sudah kepergok mencuri hanya bisa diam dan membisu, Ia tak sangup berkata apa-apa lagi.


"Beraninya kau mematah bunga ini!" bentaknya lagi membuat Chu Ye dan Tiner begitu ketakutan


Chu Ye dan Tiner hanya menunduk malu, kali ini Chu Ye benar-benar mati kutu di hadapan sang raja. Namun bukan Chu Ye namanya jika belum beringkah konyol . Chu Ye dan Tiner saling bertatapan seperti memberi kode satu sama lain


"Baiklah kau telah berani mematah bunga ku, akan ku perlihatkan bagaimana aku akan mematah seluruh tulang di tubuh mu!" Ucap QI Yan dengan geram membuat Chu Ye dan Tiner menjadi kocar kacir ketakutan.


Chu Ye memberi kode pada Tiner dengan jari tangannya, ia menghitung satu sampai tiga lalu keduanya kabur dengan begitu capat


"Chu Ye,,,,,,,,,,!!!!!!!


" Beraninya kau kabur dariku,,,!!! teriak sang raja dengan suara begitu kesal pada istri konyolnya itu.

__ADS_1


__ADS_2