ISTRI SANG RAJA QI

ISTRI SANG RAJA QI
Pertemuan raja He dengan raja Qi Yan


__ADS_3

"Ampun yang mulia, aku bersalah telah melakukan itu, aku hanya mengikuti perintah dari tuan putri!" ucap Tiner sembari bersujud di hadapan sang raja


Raja He yang mendengar pernyataan dari Tiner hanya tersenyum sinis lalu sedikit menghempaskan tangganya di atas kursi.


"Kau tau betul dengan praturan kerajaan istana dingin bukan? Jika ada anggota kerajaan yang mencoba menipu dan melarikan diri dari istana, maka ia akan di bunuh dengan sepuluh tancappan anak panah di tubuhnya. Tidak peduli mati ataupun hidup, ia akan di kubur kedalam tanah!" jelas raja He dengan sedikit membentak pelayannya itu.


"Ampun yang mulia,, ampun yang mulia,,,,, a,,akk,,,ak,,aku siap melakukan apapun yang mulia, asalkan tidak di bunuh." balas Tiner dengan wajah pucat, seluruh tubuhnya gemeter dan mengeluarkan keringat dingin.


"Habislah lah aku,, tuan putri, maafkan aku. Sepertinya aku benar-benar berakhir disini, setelah ini mungkin kau akan mendapatkan pelayan yang lebih baik dariku!"


Raja He yang melihat pelayannya itu semakin ketakutan, ia mencari kesempatan untuk menyusun strategi rencana nya.


Ia menatap Tiner dengan tatapan tajam lalu tersenyum sinis, matanya terlihat seperti api menyala seakan-akan siap menerkam siapa saja yang ada di hadapannya.


Sebenarnya raja sangat marah pada Tiner, tapi mengingat Tiner adalah salah satu pelayan terbaik putrinya, ia berusaha memendam amarahnya dan mengurungkan niatnya untuk membunuh sang Tiner


"Mengingat kau seorang pelayan terbaik putriku, maka hari ini aku tidak akan membunuhmu! Sebagai gantinya, kau ikut dengan putriku ke istana manor. Kau harus menjaga putriku dengan baik disana!" titah sang raja kepada pelayannya itu, sembari menyeruput teh yang telah di sajikan para pelayan istana.


Tiner yang mendengar perintah dari sang raja begitu terkejut, ia tidak menyangka bahwa raja benar-benar telah membohongi sang putri. Bahkan ia ingin menikahkan putrinya dalam keadaan koma, membuat tiner benar-benar tidak habis pikir.


"Apa yang kau pikirkan? Cepat pergi!" bentak sang raja pada pelayannya itu


"Baik yang mulia." balas Tiner dengan suara gemetar lalu beranjak pergi dengan langkah pelan.


Hari sudah mulai beranjak petang Tiner masih setia menjaga sang putri di kamarnya, ia berharap sang putri akan banggun dan membatalkan pernikahannya, sementara sang putri belum juga ada tanda-tanda akan siuman


"Bagaimana ini tuan putri,,, kau tau? Aku sekarang sangat cemas,, aku kira rencana kita akan berhasil tapi nyatanya kita malah terjebak seperti ini! Jika kita pergi ke istana manor raja Qi pasti akan membunuh kita, jika aku tetap di istana maka maka sang raja yang akan membunuhku,, maafkan aku tuan putri, kali ini aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi."


Tiner terus saja berbicara dengan tuan putrinya itu, sembari mengelus-ngelus poni sang putri dengan lembut.


"Pelayan Tiner sebaiknya kau pergi mengambil sesuatu di dapur untuk di makan, sementara biar aku yang menjaga tuan putri. Bukan kah kau belum makan apa-apa dari semalam?" ucap salah satu pelayan pada Tiner, Tiner hanya menganguk pelan. sebenarnya ia sangat lapar, tapi ia tidak ingin meninggalkan sang putri sendirian, akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk pergi kedapur istana untuk makan, sampai ada pelayan yang datang untuk mengantinya sementara waktu


"Baiklah,, kau tunggu di sini, aku akan secepatnya kembali!" ucap Tiner sembari berdiri dan meninggalkan kamar sang putri.


Saat melewati singasana sang raja, tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan antara sang raja dengan pengurus kerajaan, ia menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik pintu.


"Dengar! Malam ini raja Qi akan datang ke istana dan membawa sejumlah mahar, dan menandatangani perjanjian yang telah di sepakati, minta semua pelayan di istana ini untuk menyiapkan makanan dan minuman terbaiknya!" ucap raja He sembari meletakkan cangkir tehnya ke atas meja


"Ingat jangan ada kesalahan apapun, buat semuanya begitu sempurna!" terusnya lagi kepada pengurus kerajaan itu

__ADS_1


"Baik yang mulia, akan segera kami laksanakan!" balas pengurus kerajaan itu lalu berdiri pergi melaksanakan tugasnya


"Ternyata sang raja telah menyusun semuanya dengan rahasia, ternyata putri benar,, perkataan raja He tiga hari yang lalu ternyata itu cuma untuk menghibur tuan putri saja, agar tuan putri tidak melakukan bunuh diri."


Tiner dengan hati-hati keluar dari persembunyiannya, lalu bergegas pergi menuju dapur istana. Sesampainya di dapur ia melihat seluruh pelayan sibuk memasak, ada yang memasak ayam panggang, babi kecap, dan makanan lainnya. Tiner hanya diam lalu mengambil beberapa potong roti dan bergegas pergi membawanya ke kamar sang putri.


"Terimakasih udah menjaga tuan putri, sekarang kau boleh pergi." ucap Tiner tersenyum sembari meletakkan makanan itu ke atas meja


"Baiklah!" balas pelayan itu berdiri, lalu pergi meninggalkan kamar itu


"Huek,, Huek,, Hueek!"


"Apa-apaan ini, kenapa semua makanan tidak ada rasanya,,!" ucap Tiner sembari mengeluarkan kembali makanan dari mulutnya


Tiner menghentikan makannya, mendengar percakapan sang raja dengan pengurus kerajaan itu tadi, membuat Tiner tidak nafsu makan sama sekali. Semua yang ia makan terasa begitu hambar.


"Ah tidak ada gunanya aku makan! toh besok hidupku juga akan berakhir."


Gumam Tiner sembari membuang makanannya itu ke tempat sampah, lalu ia kembali duduk menatap wajah sang putrinya itu.


"Brak,, "


"Bagaimana kondisi putriku? Apa dia sudah lebih baik?" tanya raja pada Tiner


"Yang mulia, tuan putri masih seperti kemarin tidak ada tanda-tanda akan siuman." jawab Tiner dengan notasi suara rendah, lalu menundukkan kepalanya


"Baiklah, semakin lama Chu Ye siuman itu akan lebih baik untuk mengatur pernikahannya." ucap sang raja dengan wajah tenang. Tiner hanya diam tanpa berani bicara sepatah katapun.


Malam itu seluruh anggota istana telah bersiap untuk menunggu raja Qi datang, beberapa pengurus kerajaan telah duduk di tempatnya masing-masing, sementara jendral telah menyiapkan penjagaan ketat di seluruh penjuru istana.


Di sisi lain Tiner dan Chu Ye masih berada di kamarnya, Tiner yang mendengar suara hiruk pikuk dari istana, membuatnya begitu penasaran. Ia membuka pintu kamarnya dan melihat ke taman bawah istana.


Dari kejauhan terlihat seseorang turun dari kereta kuda, yang di dampingi dua orang bertubuh tinggi dan tegap di dalamnya. kemudian di susul beberapa prajurit berkuda di belakangnya.


Ia memakai baju abu-abu putih lengkap dengan peralatan senjatanya, terlihat begitu berwibawa sekali, apalagi caranya berpakaian dan gerak geriknya sangat teratur sekali. Seperti seorang bangsawan yang berpangkat tinggi


Sementara sang raja menyambutnya dengan hormat, lalu memintanya untuk duduk dan berbincang. Namun sayang Tiner yang berjarak begitu jauh tidak dapat mendengar pembicaraan itu


Tiner bergegas masuk ke kamar sang putri, lalu menceritakan pada tuan putrinya itu. Benar saja sang putri yang masih tak sadarkan diri tidak dapat merespon pelayan nya itu.

__ADS_1


"Berikan surat perjanjiannya!" ucap raja Qi Yan dengan wajah tenang


"Baiklah" Balas raja He sembari memberi kode pada sang jendral, jenderal mengeluarkan surat perjanjian itu lalu memberinya pada raja Qi Yan


Qi Yan membabaca kembali surat perjanjian itu dengan sangat teliti, adapun bunyi suratnya itu sebagai berikut.


Syarat perjanjian pernikahan:



Adanya perdamaian antar wilayah


Saling membantu apabila terjadi krisis bahan pangan dan papan


Memberi bantuan prajurit apabila salah satu kota di serang atau gagal di perperangan


Memberikan mahar sebanyak dua puluh kilo emas dan dua puluh kilo berlian.


Jika telah terjadi pernikahan, sang suami berhak atas seluruh kehidupan istrinya.



adapun hal yang bisa membatalkan perjanjian ini:


1.Apabila pengantin wanita tidak benar-benar berasal dari keturunan kerajaan (penipuan) maka pengantin wanita wajib di hukum sesuai peraturan istana manor.



Jika terjadi perceraian, maka perjanjian yang telah di buat di angap putus dan selesai



Raja Qi hanya menganguk pelan lalu mengambil stempel yang telah di siapkan jendral Feng dan menandatangani surat perjanjian tersebut


Setelah menandatangani surat perjanjian itu, kemudian raja Qi memerintahkan beberapa prajurit untuk mengambil Empat buah peti yang berisi emas dan berlian itu, lalu memberikan kepada raja He, sebagai mahar yang telah di tentukan.


Setelah selesai semuanya raja Qi Yan dengan hormat pamit pulang ke istana manor, sementara raja He mengantarnya hingga ke gerbang istana.


Besok adalah pernikahan sang putri Chu Ye dengan raja Qi Yan, seluruh pelayan sibuk mempersiapkan apa saja yang di butuhkan, ada yang sibuk menghias kereta kuda, ada juga yang sibuk mempersiapkan perlengkapan sang putri.

__ADS_1


__ADS_2