
"Tolong keluarkan aku dari sini, aku mohon!" Chu Ye mulai mengigau, tubuhnya berkeringat dingin namun matanya masih terpejam, selang beberapa lama tiba-tiba ia kembali berteriak minta tolong, namun tetap saja tidak seorangpun yang datang
"Ampun yang mulia, aku tidak akan melakukannya lagi, aku berjanji tidak akan melakukan ini lagi,, tidak akan,, hik hik."
"Bangun!" ucap seseorang keluar dari balik pintu, Chu Ye mencoba membuka matanya dengan pelan, tubuhnya masih menggigil, namun ia begitu terkejut melihat seseorang berjubah hitam tiba-tiba berada di hadapannya
Seseorang itu memakai topeng di wajahnya, sehingga sulit di ketahui identitasnya sementara Chu Ye yang melihat hal itu begitu ketakutan, ia mengira seseorang berjubah hitam itu datang untuk membunuhnya atas suruhan raja Qi Yan
"Tolong jangan sakiti aku, aku janji akan selalu menuruti perintah sang raja, aku tidak akan melarikan diri lagi, aku aku tidak!"
"Diamlah! Kau terlalu banyak bicara!" ucap seseorang di balik topeng itu, membuat Chu Ye terdiam tak bicara sepatah katapun. Chu Ye berlutut dan menundukkan kepalanya, dengan pelan ia mengangkat sedikit dagunya menatap ke atas tepat ke arah pria berjubah hitam itu, ia merasa orang yang berada di hadapannya tidak asing lagi, tiba-tiba ia mengingat suatu kejadian waktu itu di istana dingin. Saat penyusup mencoba menyerangnya
"Kau? aku pernah melihatmu! bukankah kau yang telah menyelamatkan ku dari penyusup saat berada di istana dingin?" tanya Chu Ye yang tiba-tiba berdiri lalu memeluk erat pria bertopeng itu
"Ksatria baik hati tolong bantu aku keluar dari sini, aku mohon! aku tidak melakukan kesalahan apapun, tapi kenapa raja sangat kejam dan terus saja menganiaya ku dengan keji seperti ini! kau percaya padaku bukan aku tidak melakukan kesalahan apapun?" rengek Chu Ye pada ksatria bertopengnya itu sembari memeluknya semakin erat
"Ternyata pelayan itu dia!"
"Nona mungkin kau salah orang! Aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya! berhentilah menduga duga!" balas pria bertopeng itu lalu melepaskan pelukan Chu Ye dari tubuh dengan sedikit kasar.
"Tidak mungkin! aku tau kau berbohong, jika kau bukan orang yang pernah menolongku, kenapa sekarang kau berada di sini? aku tau kau selalu mengawasiku dan akan datang saat aku dalam bahaya" ucap Chu Ye membatah, ia sangat yakin bahwa pria berjubah hitam yang ada di hadapannya itu adalah pria yang sama saat menolongnya selamat dari penyusup itu
"Berhentilah berbicara omong kosong! aku bukan pria yang kau maksud itu! Mari ikutlah denganku." pria bertopeng itu menarik tangan Chu Ye lalu mengengam tubuhnya terbang dan membawanya keluar dari istana
"Kau ingin membawaku kemana?" tanya Chu Ye dengan begitu gugup
"Membuangmu ke sungai!" jawab pria berjubah hitam itu dengan ketus
"Tidak tidak,, turunkan aku di sini! apa kau sudah gila?" teriak Chu Ye terkejut mendengar perkataan itu
"Dasar wanita bodoh!" balas pria berjubah hitam itu sembari tersenyum sinis
__ADS_1
Malam itu pria berjubah hitam itu membawa Chu Ye ke suaktu bukit dan mereka duduk di sana sembari memandang bintang yang bertebaran di angkasa
"Kau suka?" tanya pria berjubah hitam itu sembari memandang wajah Chu Ye dengan pasti
"Tentu saja aku sangat suka! emm bolehkah aku tau siapa nama mu?" tanya Chu Ye balik memandang wajah pahlawan nya itu dengan tersenyum
"Panggil saja aku iblis hitam!"
"Tidak,, tidak kau tidak seburuk itu hingga di panggil iblis! Bagaimana jika aku memanggilmu dengan sebutan ksatria malam?"
Pria berjubah hitam itu kembali menatap Chu Ye lalu mengangguk dengan pelan sembari memberi segelas arak padanya
"Wah di mana kau mengambil minuman ini, aku telah lama tidak merasakan kelezatan dari minuman ini?"
"Ini arak terbaik dari istana manor, kau minumlah!" balas pria berjubah hitam itu sembari meminum arak dari kendi yang ia bawa itu
"Tunggu,, tunggu! apa kau mencurinya?" tanya Chu Ye dengan wajah marah
"Jika aku mengambilnya sedikit, apa itu masalah?" tanya pria berjubah hitam itu kembali menatap wajah Chu Ye yang mulai marah
"Kenapa?"
"Karena jika kau tiada, maka tidak ada yang menolongku lagi!" balas Chu Ye ketus sembari membelakangi wajah pahlawannya itu dengan sangat kesal
Namun pria berjubah hitam itu tidak menghiraukan perkataan dari putri Chu Ye, ia terus saja meminum arak yang ada di tangannya itu
"Bodoh! kau dengar apa yang ku katakan?" bentak Chu Ye semakin kencang membuat pria berjubah hitam itu menghentikan minumnya kemudian kembali menatap wajah putri Chu Ye lalu mengangguk pelan.
"Jangan terlalu banyak bicara! Abiskan arak mu!" balas pria berjubah hitam itu dengan wajah tenang, namun berbeda dengan Chu Ye ia begitu terlihat sangat kesal dengan kecerobohan pahlawannya itu
Chu Ye mulai meminum arak di dalam kendi itu, hingga membuatnya sedikit oleng dan tidak karuan
__ADS_1
"Heheheh,, kau tau, malam ini raja kejam itu meninggalkan ku sendiri di tempat mengerikan itu, besok ia akan membunuhku dan memberikan dagingku pada buaya buaya rakusnya itu, ahhh dia sangat kejam bukan?hahahah,,aku membeci suamiku sendiri,,aku benar benar-benar telah membencinya,,sangat sangat membencinya!Huaaa kau ksatria malam ku, apa kau membiarkan ku mati begitu saja?" ucap Chu Ye yang tidak sadarkan diri membuat perkataan nya menjadi tidak karuan
"Kau pasti telah melakukan kesalahan bukan? jika tidak, tidak mungkin raja begitu marah!" balas pria berjubah hitam itu sembari membuang muka
"Apa maksudmu? aku tidak melakukan apapun! raja kejam itu yang selalu berlebihan dan selalu salah sangka padaku, dengar! aku sudah beberapa kali mencoba untuk kabur dari tempat terkutuk itu, tapi kenapa selalu saja gagal,, raja kejam itu selalu menemukan ku,,, huaaa dia benar-benar sangat licik dan kejam." Chu Ye kembali mengoceh tak karuan hingga ia terlelap tidur di bahu sang pahlawannya itu
Melihat putri Chu Ye yang sudah tak sadarkan diri dengan cepat pria berjubah hitam itu menggendongnya lalu membawa putri Chu Ye kembali masuk keruangan eksekusi bawah tanah. lalu memeluknya dan menemaninya tidur hingga pagi hari tiba
"Ksatria malam? dimana kau?" ucap Chu Ye sedikit mengusap usap matanya, namun tidak di temukan lagi keberadaannya. Chu Ye mencarinya ke segala sudut ruangan namun ia tetap tidak menemukan nya. Chu Ye berlari ke arah pintu, ia mengetok-ngetok pintu itu dengan sangat keras namun tidak kunjung terbuka
Sementara raja Qi Yan telah berada di meja kerjanya, ia mengurus beberapa proposal yang di ajukan beberapa wilayah kecil untuk bekerja sama dengannya
"Yang mulia, silakan di minum tehnya!" ucap salah satu pelayan sembari meletakkan teh di mejanya lalu kembali memberi hormat dan keluar dari ruangan itu. Sementara raja Qi Yan hanya mengangguk lalu kembali memeriksa beberapa proposal itu kembali.
"Jendral Feng hari ini adalah hari kematian untuk putri Chu Ye, segera persiapkan semua kebutuhan yang di perlukan nanti!" ucap raja Qi Yan yang mulai membuka percakapan
"Yang mulia raja, apakah yang mulia telah memikirkan baik-baik tentang keputusan ini? jika raja He tahu bahwa putrinya telah di bunuh, mereka pasti tidak akan tinggal diam." balas jendral Feng dengan sedikit ragu dan mengingatkan rajanya itu, mendengar hal itu raja Qi Yan berdiri membelakangi sang Jendralnya itu
"Kita punya wilayah yang luas, dan begitu banyak bala tentara! membukam seorang raja He hanya perkara yang kecil, aku akan membuatnya menderita dengan ketidakberdayaan nya itu!" balas raja Qi Yan dengan tenang lalu kembali duduk dan menyeruput teh yang telah di sajikan
"Bagaimana dengan putri Chu Ye? apa yang mulia tidak memiliki sedikit rasa kasihan padanya?" tanya jendral Feng lagi dengan tatapan serius.
"Jendral Feng, aku sudah bilang padamu! tidak ada rasa kasihan pada musuh, musuh tetaplah musuh! Mereka tidak pantas untuk di kasihani..!" jawab raja Qi Yan lagi dengan wajah serius membuat suasana semakin tegang
"Tapi yang mulia,,, bagaimana jika,,!"
"Jendral Feng! Ada apa dengan mu! Jika kau tidak setuju dengan keputusanku maka henyah dari sini?!" bentak sang raja sembari mencabut pedang dari pinggangnya lalu meletakkan tepat di leher sang Jendral.
Jendral Feng menatap wajah sang raja dengan datar, ia sedikitpun tidak berkutik. ia tau betul bagaimana amarah sang rajanya itu, walaupun amarah sang raja mudah sekali memuncak namun tetap saja bagi jendral Feng ia orang yang sangat penuh belas kasih.
Jendral Feng sangat tahu penderitaan yang di alami rajanya itu, dulu ia juga berfikir sama dengan orang-orang yang yang menganggap raja Qi Yan adalah seorang raja yang kejam, namun setelah ia di beli dan di selamatkan dari para bordil yang mencoba menyuruhnya untuk mengemis, dan membawanya ke istana untuk hidup bersamanya, di situlah jendral Feng menyadari bahwa raja Qi Yan yang ia dengar tidak seburuk asumsi masyarakat. Demi membalas kebaikan sang raja, jendral Feng bersumpah akan mengabdi seumur hidup dengannya.
__ADS_1
"Tidak ada gunanya berdebat dengan mu!" ucap Qi Yan kembali menarik pedangnya kembali, lalu meletakkan kembali pedang itu di pinggangnya, namun jendral Feng masih saja diam tanpa bicara sepatah katapun
..."Sekuat apapun kau menolak kenyataan, tetap saja aku melihat ada cinta di matamu untuk tuan putri, namun kenapa kau masih menyangkalnya yang mulia? kenapa kau masih saja bersikeras untuk tidak mengakuinya? jika kau melakukan keputusan ini, aku takut kau menyesal seumur hidupmu, aku hanya tidak ingin itu terjadi, aku tidak ingin kau menderita lagi karena jiwa semu yang sulit berdamai dengan dirimu sendiri."...