ISTRI SANG RAJA QI

ISTRI SANG RAJA QI
Raja Qi Yan menganiaya istrinya


__ADS_3

srettt


Qi Yan menarik istrinya itu keluar dari kamar lalu sedikit menghempasnya di rerumputan belakang istana


Ia mengambil beberapa helai tali lalu dengan sinis memberi tali itu pada jendral Feng


"Ikat dia malam ini di belakang istana ini! Biarkan dia di makan nyamuk dan rayap! " titah sang raja pada jendral Feng sembari menatap sinis wajah istrinya itu


"Eh eh,, apa kau sudah gila! Aku bisa mati disini!" teriak Chu Ye dengan wajah kesal, namun Qi Yan hanya tersenyum tanpa memperdulikan nya


"Baik, baik yang mulia!" balas jendral Feng dengan sedikit tertawa jahat, lalu mengikat putri Chu Ye ke pohon belakang istana


"Lepaskan aku monster kejam! Lepaskan aku, kenapa kau kejam sekali!!!!!"


Qi Yan menatap mata istrinya itu yang mulai berkaca-kaca, dengan tersenyum sinis mereka pergi meninggalkannya begitu saja, tanpa memperdulikan Chu Ye yang berteriak.


Malam itu Qi Yan tidak bisa tidur, ia masih saja kepikiran kejadian tadi, lalu ia menyuruh pelayan memanggil jendral Feng untuk berbicang dengannya


"Yang mulia kau belum tidur?" tanya jendral Feng pada rajanya itu dengan sedikit heran


"Duduklah!" titah sang raja dengan tenang, lalu menatap ke atas langit istana, ia melihat beberapa bintang yang begitu banyak berkerlap-kerlip di atasnya


"Kita telah terlalu banyak memberi kebebasan padanya! Mungkin kali ini kita harus tegas menghadapi putri Chu Ye! Aku telah mengatur beberapa rencana untuk besok, kita akan memastikan putri Chu Ye berkata jujur, jika benar putri Chu Ye adalah seorang mata-mata yang di kirim oleh istana dingin, maka aku terpaksa harus membunuhnya!" ucap sang raja Qi Yan pada jendral Feng dengan tenang lalu menyeruput teh yang ada di cangkirnya itu


Qi Yan menjelaskan perihal rencananya yang akan di lakukan nya untuk besok pagi, sementara jendral Feng yang mendengarnya sedikit terkejut


"Yang mulia apakah kau telah memikirkan rencana ini dengan matang, kau masih punya waktu untuk mempertimbangkannya kembali? Saya hanya berfikir, bagaimana jika raja He mengetahui hal ini? Perselisihan akan terjadi lagi antara kerajaan manor dan Kerajaan selatan." Jendral Feng mencoba sedikit memperingatkan sang raja, namun raja sudah membulatkan tekatnya


"Aku sudah mempertimbangkannya dengan baik! Jendral Feng, aku adalah seorang raja! Menjaga keselamatan seluruh istana adalah tugasku, jika aku tidak mengambil tindakan ini dengan cepat maka korban jiwa akan selalu bertambah di setiap harinya, dan aku tidak akan bisa melakukan apa-apa!"


Jendral Feng hanya mengangguk lalu kembali berdiri di hadapan sang raja sembari memberi rasa hormat


"Jendral Feng! Atur semua rencana yang akan di lakukan besok! Jangan ada kesalahan dalam hal ini!" titah sang raja kepada jendral Feng


"Keinginan yang mulia adalah perintah bagiku!" balas jendral Feng dengan hormat lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu


Sementara Chu Ye masih saja meronta-ronta minta tolong, namun tak seorangpun yang berani mendekatinya kecuali sahabatnya itu, Tiner.


"Tolong,, tolong,, tolong lepaskan aku!" teriak Chu Ye terus saja tanpa henti membuat Tiner begitu kasihan, ia tak sangup lagi melihat sang putrinya itu menderita di sana, dengan cepat Tiner mengambil pisau dan memotong ikatan yang ada di tangan dan pinggang sang putri


"Terimkasih Tiner! Jika tidak ada kau, maka aku akan mati membusuk di sini!" Chu Ye memeluk pelayan sekaligus sahabatnya itu dengan begitu erat lalu mereka kembali ke kamarnya


"Sekarang kau sudah boleh istirahat tuan putri! masalah ini akan kita hadapi besok!" ucap Tiner sedikit mengengam jemari tuan putrinya itu


"Tiner kau begitu baik padaku, kau rela di hukum demi menyelamatkan ku, aku tidak tau bagaimana harus berterima kasih padamu ." Chu Ye menatap Tiner dengan mata berkaca-kaca lalu sedikit mengengam bahu sang Tiner, pelayannya itu

__ADS_1


"Itu sudah menjadi tugasku untuk melindungi tuan putri! Semenjak kita masuk ke istana ini, kita sudah berjuang bersama untuk menyelamatkan diri dari perjodohan tuan putri, tapi takdir berkata lain,, jadi apapun yang terjadi aku tetap setia bersama tuan putri!" balas Tiner dengan tersenyum sembari menatap Chu Ye yang mulai berkaca-kaca. Keduanya kembali saling berdekapan dengan sangat erat


"Tiner, kaupun tau aku sulit tidur di malam hari, karena mimpi-mimpiku yang mengerikan itu. Kau tidurlah lebih awal! Setelah musim gugur ini kau tidak akan kuatir lagi, karena Aku akan menulis surat untuk ayah, aku akan meminta ayah untuk menarik kembali pernikahanku dengan raja Qi Yan, supaya kita bisa di dikirim lagi ke istana dingin." Chu Ye mengambil beberapa lembar kertas dan tinta dari atas meja lalu mulai menulis pesan itu ke istana dingin


Sementara Tiner hanya nengangguk pelan lalu bergegas ke tempat tidurnya


"Semoga usahamu berhasil tuan putri!" balas Tiner sembari memejamkan pelupuk matanya, dan akhirnya tertidur pulas. sementara Chu Ye terus saja menulis beberapa buah surat hingga fajar terbit menyising ke atap istana


Chu Ye bergegas pergi ke tempat pengantar surat dan memberi surat itu padanya lalu kembali lagi ke kamarnya.


Drak,,


"Mari ikut denganku!" Qi Yan masuk dengan tiba-tiba membuat Chu Ye dan Tiner yang sedang asik membaca buku begitu terkejut


"Apa yang ingin kau lakukan? Lepaskan tanganku!"


Qi Yan terus menarik tangan Chu Ye dengan begitu kasar lalu membawanya masuk ke dalam kereta kuda


"Ayo pergi!" perintah sang raja pada jendral Feng


Jendral Feng mulai memacu kereta kuda itu menuju bukit wing, di mana di sana sudah di tunggu oleh beberapa prajurit istana manor untuk memantau keamanan sang raja


"Apa lagi yang ingin kau lakukan, turunkan aku dari sini?" Chu Ye berteriak pada suaminya itu lalu mencoba pergi dan turun dari kereta kuda itu, namun dengan cepat sang raja menarik bahu Chu Ye hingga terpental ke sudut kereta


"Katakan dengan jujur, apa yang telah kau sembunyikan dariku!" raja bertanya dengan suara datar sembari menatap tajam ke arah istrinya itu


Seeetttttt


Dua buah anak panah tepat mengenai dinding kereta yang mereka kendarai, Chu Ye yang melihat hal itu begitu terkejut ia bergegas melihat ke arah luar


"Pembunuh,, ada pembunuh!" teriak Chu Ye dengan begitu takut lalu menutup kelambu kereta kuda itu dan kembali duduk di dalam kereta dengan wajah begitu ketakutan


"Aku begitu curiga padamu! Atas kejadian tadi malam, bukankah begitu banyak penyusup masuk dan berada di mana-mana? Tapi kenapa hanya kau yang tidak di serang!" Qi Yan bertanya pada istrinya itu masih dengan nada datar lalu menatapnya kembali dengan tatapan yang begitu tajam


"Apa maksudmu,, jika aku tidak di serang berarti Tuhan masih sayang padaku! dan kau malah ingin mereka menyerang ku! sungguh tidak punya pikiran!" balas Chu Ye dengan nada begitu kesal


Settt


Dua buah anak panah lagi menancap tepat di samping bahu kiri dan kanan Chu Ye membuat Chu Ye berteriak histeris


"Katakan dengan jujur! Apa yang di katakan raja He sebelum kau di kirim kesini?" Qi Yan menatap wajah Chu Ye dengan begitu sangar berharap Chu Ye akan mengakuinya


"Jika aku bisa bicara pada ayah, maka aku tidak akan menikah dengan mu!" balas Chu Ye ketus sembari membelakangi wajah Qi Yan


"Bagaimana bisa aku percaya padamu! Sekarang hentikan omong kosongmu itu!" Qi Yan lagi-lagi membentak istrinya lalu menyeretnya turun dari kereta kuda menuju bukit Wing

__ADS_1


Seluruh prajurit membetuk farmasi penyerangan dan mengepung Chu Ye di dalam lingkarannya itu, sementara Qi Yan menarik dan memasung Chu Ye dengan begitu kejam lalu meletakkan jeruk di kepalanya


"Apa kau sudah gila! Apa yang ingin kau lakukan!" Teriak Chu Ye dengan begitu keras, namun tidak di hiraukan oleh sang raja


"Berikan panah itu padaku!" ucap Qi Yan pada salah satu prajurit istana


Qi Yan mengengam erat panah yang ada di tanggannya dan bersiap untuk membidik ke arah Chu Ye


"Apa kau tidak punya hati! Kau telah memasungku dan sekarang kau ingin membidikku, apa salahku? Kau kejam,,kau seorang raja yang tak punya belas kasih!" Chu Ye terus saja berteriak, namun tetap saja di hiraukan oleh Qi Yan.


Seettt


Satu tancapan panah tepat mengenai satu jeruk yang ada di kepalanya, membuat Chu Ye terdiam dan tidak sangup berbicara sepatah katapun. Ia begitu ketakutan, tubuhnya bergetar hingga mengeluarkan air mata.


"Yang mulia, apa tidak sebaiknya kita mempercayai putri Chu Ye! Aku melihat kebenaran di wajah putri Chu Ye, lihatlah ia begitu ketakutan." jendral Feng mencoba menghentikan sang raja, namun tidak di hiraukan olehnya


"Jendral Feng, kau jangan percaya pada kelicikan nya! Orang sepertinya kehidupan dan kekuasaan lebih penting baginya, jangan terperdaya oleh wajah lugunya!" balas Qi Yan dengan nada suara datar lalu mulai bersiap untuk membidik anak panahnya tepat di satu jeruk lagi yang berada di atas kepalanya itu


Chu Ye yang mendengar perkataan dari Qi Yan, seketika air matanya mengalir semakin deras, ia hanya bisa pasrah, ia juga tidak tau harus berbuat apa


Di sini Chu Ye hanya menjadi korban, Chu Ye juga tidak tau apa alasan ayahnya menikahinya dengan Qi Yan. Dan pernikahan itupun juga bukan kehendak dari Chu Ye, ia terpaksa menikah dengan Qi Yan dengan cara di tipu oleh ayahnya di saat Chu Ye sedang koma


"Tuan putri jangan bergerak! Atau yang mulia akan menyakiti mu nanti!" teriak jendral Feng pada Chu Ye dengan begitu kuatir


Sementara Qi Yan masih meluruskan bidikan nya ke arah Chu Ye, ia tidak memperdulikan siapapun yang mencoba mencegahnya


"Bagaimana kau tega memperlakukan ku begitu kejam seperti ini? Dulu kau menikahiku di saat aku sakit, lalu kau memperlakukan ku begitu buruk! Apakah aku begitu keji di matamu? Baik,,,! bunuh saja aku!" ucap Chu Ye pada Qi Yan sembari menutup matanya


Chu Ye menutup matanya dengan pelan, ia berusaha begitu tegar namun entah kenapa air matanya terus saja mengalir deras, ia benar-benar telah siap untuk di bunuh


Sementara Qi Yan yang mendengar hal itu seketika diam, ia sadar bahwa Chu Ye bukanlah seorang mata-mata seperti yang ia tuduhkan padanya, ia begitu kasian padanya dengan cepat ia membidik anak panahnya ke arah lain, dan menjatuhkan panah itu ke tanah lalu berjalan ke arah istrinya itu dan membuka pasung itu di tubuhnya. Chu Ye yang melihat hal itu begitu terkejut dan lega, ia tidak menyangka seorang raja Qi Yan ternyata punya hati nurani dan membiarkan nya tetap hidup


Qi Yan dengan wajah bersalah membawa Chu Ye pergi dari bukit Wing, dan menggendongnya naik ke atas kuda lalu memacu kuda itu dengan sangat cepat. Lalu terhenti di salah satu tempat yang menurutnya begitu indah


Qi Yan menghapus air mata Chu Ye dengan kasar, lalu menatap wajah istrinya itu, ia melihat Chu Ye begitu ketakutan


"Apa yang ingin kau lakukan!" ketus Chu Ye yang masih dengan wajah takut


"Aku tidak bisa melihat wanita mengeluarkan air mata! Turunlah bersamaku! setelah air matamu kering kita akan kembali ke istana!" ucap Qi Yan sembari mengulurkan tanggannya pada Chu Ye


Chu Ye sedikit membuang muka, ia masih begitu marah pada rajanya itu, namun dengan cepat Qi Yan menarik tangannya dan mengendong turun dari kuda itu


"Kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Chu Ye dengan nada datar


"Untuk hari ini kau kubebaskan! Kau juga boleh menikmati alam seperti yang ingin kau lakukan dulu!" balas Qi Yan dengan suara datar dan berpura-pura tidak peduli

__ADS_1


"Kau mengejekku?"



__ADS_2