
"Bisa kau pelankan lari kudanya sedikit? rasanya aku mau muntah!" ucap Chu Ye dengan suara serak, sembari memegang kepalanya yang sedikit pusing
"Bukankah kau tadi sakit? jika begitu, kuda ini adalah obat penawarnya!" balas Qi Yan dengan ketus lalu memacu kudanya lebih cepat lagi, membuat Chu Ye semakin pusing
"Apa kau sudah gila! turunkan aku dari sini!" teriak Chu Ye dengan begitu cemas sembari menahan perutnya yang terasa semakin mual
"Tuan putri, kau tidak akan mati jika kuda ini lari semakin cepat! peganglah dengan erat atau kau akan terjatuh nanti!" balas Qi Yan pada istrinya itu lalu memacu kudanya semakin cepat
"Dengar jika aku mati, kau tidak akan bisa memakan dagingku lagi!" jelas Chu Ye sembari memegang tali tunggangan itu dengan sangat erat
"Apa peduli ku, dagingmu pahit!" balas Qi Yan dengan ketus membuat Chu Ye sangat kesal
"Kita sudah sampai, mari turun!" Qi Yan menarik tangan istrinya itu dengan sedikit kasar lalu memapahnya turun dari kuda
Buek,, Buekkk
Chu Ye merasa begitu mual, lalu memuntahkan begitu banyak makanan dari dalam perutnya, sementara Qi Yan yang melihat itu hanya tersenyum sinis lalu meninggalkan nya begitu saja
"Monster gila ini! Dia sengaja ingin membunuhku!" gumam Chu Ye dengan sangat kesal, dadanya terasa begitu sesak membuatnya sulit untuk bernafas
"Tuan putri? Kau tbaik-baik saja? Ada apa dengan mu tuan putri?" tanya Tiner yang berlari ke arahnya, Tiner keliatan begitu cemas dan kuatir, ia mencoba menepuk-nepuk pundak Chu Ye, agar sedikit rasa mual itu sedikit terhenti
Tiner yang melihat tuan putrinya begitu lemah dengan cepat ia membawa tuan putri ke kamarnya dan memberinya teh hangat, sementara Chu Ye hanya diam lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur
"Cepat panggil tabib kerajaan! Suruh dia ke kamar putri Chu Ye!" perintah sang raja pada salah satu pengawal istana pada sore itu
"Baik yang mulia!" balas pengawal itu sembari menundukkan kepalanya dengan hormat
"Yang mulia keliatannya kau begitu kuatir, ada apa?" tanya jendral Feng yang tiba-tiba muncul dari belakang membuat sang raja sedikit terkejut
"Tidak,,, oiya apakah kau telah berhasil menyelidiki siapa di balik penyerangan malam itu?" tanya Qi Yan dengan suara datar
"Belum yang mulia, kami belum mendapatkan informasi tentang penyerangan itu! tapi salah satu dari pengawal mendapatkan kode rahasia ini, mungkin saja di saat penyerangan mereka tidak sengaja menjatuhkan nya" jendral Feng memberi kode rahasia itu pada sang raja
Kode rahasia itu terbuat dari kayu lalu di ukir dengan tulisan kuno, jaman dulu yang bisa memiliki kode itu hanyalah seorang penjabat yang berpangkat tinggi atau seorang jendral kerajaan
"Kode ini? sepertinya tidak asing! aku pernah melihatnya beberapa bulan yang lalu berada di tangan seseorang! berarti pelakunya berasal dari dalam istana ini! Kita harus menyelidikinya secepat mungkin!" sergah sang raja sedikit menekankan nada suaranya lalu menatap wajah jendral Feng dengan serius
__ADS_1
"Baik laksanakan yang mulia!" balas Ji Feng sedikit menunduk lalu pergi dari hadapan sang raja
Selang beberapa lama akhirnya tabib datang menemui Chu Ye, ia menenteng sebuah tas kayunya di tangannya, lalu masuk ke kamar dan mendekati sang putri, dan memeriksa tubuh putri Chu ye lalu mengeluarkan beberapa obat dari dalam tasnya
"Tabib bagai mana ke adaan tuan putri?" tanya Tiner yang begitu kuatir
"Tenanglah,,,,! tuan putri hanya pusing biasa, mungkin karena terlalu kecapean, lain kali tuan putri harus banyak-banyak istirahat." ucap tabib sembari memberi obat keputri Chu Ye. Putri Chu Ye hanya mengangguk pelan lalu menelan obat yang ada di mulutnya itu
"Tuan putri,, istirahatlah terlebih dahulu,, jika ada apa-apa panggil saja aku, aku pamit dulu tuan putri!" ucapnya lagi sembari menundukkan kepalanya, sementara Chu Ye hanya mengangguk saja dan mempersilahkan tabib itu pergi
Chu Ye mencoba duduk lalu berjalan ke arah meja belajarnya, kepalanya masih terasa sedikit pusing, namun ia tetap memaksa untuk berjalan
"Tuan putri, tabib menyuruhmu untuk istirahat! kenapa kau masih berjalan!" ucap Tiner pada tuan putrinya itu namun tidak di hiraukan olehnya
"Tiner ambil kertas dan tinta untukku!" titah sang putri pada pelayannya itu, Tiner hanya mengangguk lalu bergegas ke arah lemari untuk mengambil kertas dan tinta kemudian memberinya pada Chu Ye
Chu Ye menulis surat pada Ji Feng, untuk menemuinya sebelum matahari terbenam di sebelah barat istana. lalu surat itu di lipat kecil-kecil dan memberinya pada tiner
"Tiner, pergilah ke perbatasan , antarlah surat ini berikan pada Ji Feng!" ucap Chu ye pada pelayannya itu
"Tuan putri, bagaimana aku bisa kesana? jika pengawal menangkapku bagaimana?" balas Tiner dengan sedikit cemas dan kuatir
"Tuan putri?"
"Keluarlah dari sini! Setelah surat itu sampai cepatlah kembali!" ucap Chu Ye pada pelayannya itu, Tiner hanya mengangguk lalu bergegas pergi keluar dari lubang itu
"Tuan putri bisakah kau bantu dorongkan sedikit bokongku? lubang anjing ini terlalu kecil untuk ku!" ucap Tiner sedikit berteriak dan terus memaksakan dirinya untuk bisa keluar dari sana
"Ha baiklah,,!"
Brakkkk
Chu Ye mendongrak bokong Tiner dengan sangat kuat membuat Tiner menjerit lalu terpelanting keluar dari istana
"Awww!
" Kau tidak apa-apa?
__ADS_1
"Aku baik- baik saja! tuan putri aku pamit!" teriak Tiner dari luar istana sembari mengusap-ngusap lembut bokongnya itu
"Baiklah!" balas Chu Ye sedikit tersenyum
"Hah kali ini aku telah banyak memasang rencana untuk bisa keluar dari sini! Aku yakin salah satu rencanaku akan berhasil,, Monster,, monster, kau pikir aku semudah itu untuk kau jinakkan,, cuih!"
Batin Chu Ye dengan sangat bangga lalu sedikit menepuk-nepuk debu di bajunya. Chu Ye membalikkan tubuhnya untuk pergi ke kamarnya kembali.
"Apa yang kau lakukan di sini?" ucap Qi Yan yang tiba-tiba berada di belakangnya, membuat Chu Ye begitu terkejut
"Ya ampun,, kenapa monster ini berada di sini? Apa jangan-jangan dia telah mengetahui semua rahasia ku? jika benar, habislah aku,, monster ini pasti akan menyiksaku lagi!"
"Aaaa tidak,, tidak,, tadi ada rusa masuk ke istana, makanya aku menyuruhnya untuk keluar!" balas Chu Ye sedikit berbohong dengan suara terbata-bata, sementara Qi Yan yang mendengar hal itu hanya mengangguk
"Tuan putri, bagaimana mungkin rusa bisa masuk kesini? Sedangkan lubangnya sangat kecil begini?" tanya jendral Feng dengan sedikit heran, membuat Chu Ye semakin ketar ketir
"Walah Walah! bagaimana mungkin aku bisa salah bicara!"
"Mak mak maksudku anjing,, yaa anjing,, hehe!" balas Chu Ye sedikit menyengir kuda, lalu tersenyum menatap suaminya itu
"Ji Feng apa kau percaya pada tuan putri?" tanya Qi Yan dengan wajah angkuhnya lalu tersenyum sinis ke arah istrinya itu
"Tidak yang mulia!" balas jendral Feng dengan sedikit tersenyum melihat tuan putri yang semakin ketar ketir dan salah tingkah
Qi Yan menatap istrinya itu dengan tatapan begitu sinis, lalu berjalan mendekatinya
"Jendral Feng? jika seseorang mencoba kabur sudah beberapa kali, apa hukuman yang pantas untuknya?" tanya sang raja pada jendralnya itu, lalu menatap Chu Ye dengan tatapan sangat tajam
"Yang mulia, jika ada seseorang mencoba melarikan diri dari istana apalagi sudah berulang-ulang kali, biasanya di hukum mati yang mulia!" jawab jendral Feng dengan sedikit menatap ke arah tuan putri Chu Ye
Chu Ye yang mendengar hal itu begitu terkejut, seluruh tubuhnya berkeringat dingin.
"Walah Walah,, mati aku, raja monster ini benar-benar serius ingin membunuhku,, bagaimana ini."
"Ha tidak-tidak,, rajaku yang baik dan terhormat! bukankah hukumanku belum selesai? jika kau membunuhku sekarang, bukankah suaktu kerugian? bagaimana jika kau membunuhku setelah hukumanku selesai?" Chu ye berusaha untuk merayu rajanya itu agar memperpanjang masa hukumannya
"Gadis ini terlalu banyak bicara! Bawa dia kekamarnya, kunci pintu erat-erat, jangan biarkan gadis bodoh ini melarikan diri lagi!" sergah sang raja dengan wajah sangat kesal
__ADS_1
"Baik yang mulia!" jendral Feng sedikit menarik tubuh Chu Ye lalu membawanya masuk kedalam kamar dan mengunci pintu dengan sangat erat
"Untung saja aku tidak di bunuh oleh raja monster itu, hah baguslah untuk sementara aku diam di kamar ini, besok Tiner akan membuka pintu untuk ku."