Istri Terbuang Tuan Impoten

Istri Terbuang Tuan Impoten
BAB 21. What's Wrong With Asisten Glen?


__ADS_3

..."우리를 행복하게 할 수 있는 많은 것들이 있는데 그 중 하나가 바로 행복입니다."...


...- Gatau ini tadi nonton Drakor gaada subtitlenya....





Sudah dua Minggu Diajeng dan Danu pisah rumah, Diajeng yang sibuk dengan restoran yang dia jalani dan Danu yang sibuk dengan urusan kantor membuat mereka kadang lupa akan status suami istri mereka.


Hari ini Diajeng akan kembali ke rumah Danu, mengecek keadaan suaminya, mau bagaimanapun Danu adalah suaminya sehingga Diajeng masih memiliki kewajiban sebagai seorang istri.


"Farah, saya pergi dulu yah, kamu jaga restoran," ujar Diajeng pada Farah ~Karyawannya.


Farah mengangguk sebelum Diajeng melangkahkan kakinya keluar dari restoran, Diajeng sudah memesan taksi lewat online sebelum sebuah mobil yang Diajeng kenali berhenti didepannya.


"Nyonya Artonegoro?"


Itu suara Glen, Glen turun dari mobil dan berjalan ke hadapan Diajeng. "Assalamualaikum, Glen."


Glen menggaruk tengkuknya. "M-Maaf Nyonya, Waalakumsalam."


"Di biasakan yah Glen," jawab Diajeng yang membuat Glen mengangguk.


"Mau kemana Nyonya?" tanya Glen pada Diajeng.


Diajeng menatap Glen kemudian menjawab. "Ke rumah Mas Danu."


"Ikut dengan saya saja, Nyonya, saya ingin ke rumah Tuan Artonegoro," jawab Glen.

__ADS_1


"Boleh," jawab Diajeng menyetujui.


"Silakan, Nyonya," Glen membukakan pintu kepada Diajeng.


Setelah memastikan Diajeng masuk ke dalam, Glen kemudian masuk ke kursi pengemudi dan membawa mobilnya menuju rumah Danu.


"Glen, kamu sudah menikah?" tanya Diajeng pada Glen.


Mendengar pertanyaan itu membuat Glen menelan ludahnya sejenak. "Be-Belum, Nyonya."


"Loh, saya kira udah Nikah, Glen."


"Saya belum ada niatan Nyonya, sebenarnya saya mencintai seseorang tapi saya rasa, saya tidak bisa memilikinya."


Mendengar itu membuat Diajeng tersenyum dan menatap pantulan wajah Glen dari spion mobil.


"Siapa?"


"S-Saya Malu, Nyonya," jawab Glen fokus mengendarai mobilnya.


"Nyonya Renata, adik Tuan Artonegoro," jawab Glen malu-malu.


Mendengar itu membuat Diajeng tersenyum kemudian menatap lurus ke depan. "Kenapa harus malu Glen?"


Glen tidak menjawab, percakapan mereka terhenti saat mobil Glen memasuki halaman rumah dari Danu.


"Silakan Nyonya, sudah sampai," ujar Glen pada Diajeng.


Sebelum Diajeng melangkahkan kakinya pergi, Glen menahannya sejenak untuk menyampaikan sesuatu.


"Nyonya, sebenarnya, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan tentang Tuan Artonegoro," ujar Glen pada Diajeng.

__ADS_1


Diajeng menatap Glen sesaat kemudian tersenyum. "Apa Glen?"


"Belakangan ini, Tuan Artonegoro selalu uring-uringan yang membuat saya khawatir terlebih Tuan Artonegoro memiliki sebuah penyakit yang mungkin-"


PRANG!


Glen tak melanjutkan kalimatnya karena terdengar suara pecahan benda dari dalam rumah yang membuat Glen dan Diajeng berjalan masuk ke dalam rumah.


"Mas Danu!"


Diajeng berlari ke arah Danu, dimana dia mendapati Danu tengah terbaring di lantai dengan gelas pecah di sampingnya.


Dengan dibantu Glen, Danu akhirnya di bawa ke kamar, keadaan Danu sulit dijelaskan dia tampak ketakutan dan kesulitan memproses sesuatu.


"Jangan tinggalin saya!" Danu seolah tidak sadar dan dia hanya bisa memeluk Diajeng.


Diajeng ikut bingung, sebenarnya ada hal apa tentang Danu yang belum terungkap, sedangkan Glen sendiri langsung menelepon dokter pribadi Danu.


"Mas? Ini aku Diajeng."


"Kenapa semuanya begitu jahat, Diajeng! Saya benci semua!" teriak Danu meracau yang membuat Diajeng terdiam.


"M-Mas?"


Danu tidak menjawab dia memeluk Diajeng erat dan menangis di pelukan Diajeng seperti seorang anak kecil, sebelum akhirnya Danu tertidur di pelukan Diajeng.


"Ada apa tentang Mas Danu?"



__ADS_1



TBC


__ADS_2