
..."Inginku berlari menjauh-"...
...- Lupa lirik....
•
•
•
Diajeng kini sedang duduk di depan meja panjang tempat penerimaan pesanan yang ada di restoran miliknya, dia baru saja melaksanakan sholat isya karena tadi pulang dari kantor dia sampai ke apartemen sebelum magrib.
Sebenarnya restoran ini tutup sore awalnya tapi karena pengunjung yang kian ramai, akhirnya restoran dibuka sampai jam sepuluh malam.
Diajeng mengelus perutnya sendiri, kini dia sedang mengandung memang dan dia sudah yakin ini anak Danu, tapi ada hal yang masih kalut di dalam hatinya.
"Apakah nanti ketika anakku lahir, ia akan menjadi anak Li'an karena tidak mendapat pengakuan dari ayahnya sendiri?"
Diajeng memikirkan hal ini, bagaimana tidak segala ucapan ada hukumnya dalam agama Islam, jadi tidak bisa sembarang menjatuhkan kata, bahkan kata talakpun bisa keluar hanya karena niat ingin menjatuhkan talak.
Dan Diajeng selalu berdoa semoga tidak ada niat talak didalam hati Danu kepadanya.
Diajeng pernah mendengar bahwa anak yang tidak diakui oleh ayahnya sebelum lahir ke dunia adalah anak Li'an dikarenakan ayahnya menuduh sang ibu berzina dengan orang lain yang membuat nasab anak itu putus dari ayahnya, walaupun itu bukan anak hasil diluar nikah.
Ini masih mengawang-awang dikepala Diajeng, mungkin Diajeng akan menemui tokoh agama selepas ini dan bertanya padanya karena Diajeng butuh sumber yang jelas.
Disaat Diajeng duduk memikirkan semua ini, terdengar sebuah lonceng dari atas pintu restoran yang berbunyi tanda seseorang masuk ke dalam restoran.
"Diandra!" ujar seseorang yang membuat Diajeng membalikkan badan ke arahnya.
Diajeng pernah melihat orang ini, dia adalah dokter pribadi dari Danu tempo hari, dan dia adalah Han.
Han berdiri di depan Diajeng, hanya dibatas oleh meja panjang yang ada diantara mereka.
"Dokter, nyari saya?"
__ADS_1
"Iya, siapa lagi."
"Nama saya, Diajeng."
"Siapapun itu, aku ingin bicara padamu, kau tahu tidak kondisi Danu sekarang tidak baik-baik saja, apakah kau tidak kasian padanya?"
Sebenarnya Diajeng kasian tapi Danu sendiri yang menolak dikasihani. "Dia terlalu arogant untuk dikasihani."
"Danu itu orang baik, dia hanya terjebak didalam penyakitnya, kau tahu, Danu menderita post trauma syndrome disorder, karena kematian anak dan istrinya, dia selalu membenci dirinya sendiri dan keadaan, dia masih belum bisa berdamai dengan keadaan."
Diajeng menatap serius Dokter Han, Diajeng akhirnya tahu bahwa Danu memiliki penyakit ini.
"Kau tidak sadar? Danu itu takut kehilanganmu, dia mencintaimu, dia selalu mengatakan hal itu padamu kan?"
"Dalam kondisi tidak sadar."
Dokter Han menghela napas panjang. "Dia mengatakan itu dari hatinya, dia tidak akan mengatakan itu kalau tidak ada pemicu, dalam kondisi tidak sadar memang tapi itu dari hatinya, Danu mencintai kamu, dia takut kehilanganmu kamu, cuma dia gak bisa mempresentasikan semuanya didalam dunia nyata, dia takut kejadian yang membuatnya trauma menjadi nyata, dan kau tahu hanya pemicunya yang bisa membuat Danu sembuh."
"Maksudnya, aku?"
"Siapa lagi bisa menenangkannya ketika PTSD itu datang menyerangnya."
"Sedang berteriak di halaman rumah dan hujan-hujanan, yah PTSD nya kambuh."
"Kapan?"
"Yah sekarang, menurutmu apa alasanku datang kemari?"
"Kenapa tidak bilang?"
"Kau tidak bertanya yah, jangan salahkan aku," jawab Dokter Han cuek.
Akhirnya Dokter Han pun mengajak Diajeng untuk segera mengecek kondisi Danu dan Diajeng baru sadar ternyata diluar sedang hujan deras.
•
__ADS_1
Danu masih duduk di kursi rodanya, ditengah hujan dia meratapi nasibnya, rasa trauma itu kembali datang, sedangkan Glen, dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menatapnya dari teras.
"DASAR PRIA YANG TIDAK BERGUNA! KENAPA RAINDAH! KENAPA KAU TIDAK MEMBAWAKU IKUT SERTA BERSAMA ANAK KITA!"
"AKU MERINDUKAN KALIAN! AKU MERINDUKAN DION MEMANGGILKU DENGAN PANGGILAN DADDY, KENAPA KALIAN BERDUA MENINGGALKAN DADDY HAH! DADDY SALAH APA!"
Raindah adalah nama istri Danu dan Dion adalah anak Danu yang masih berusia tiga tahun saat kecelakaan naas itu.
Danu menangis dalam hujan, rasanya dia jarang menangis tapi batinnya sedang tertekan.
Air hujan rasanya sudah memudarkan air matanya yang jatuh sampai ia merasakan bahwa air hujan sudah tidak lagi turun.
"Tidak adalah salahnya mengingat masa lalu, tapi yang salah adalah bermain dan larut dalam masa lalu itu."
Danu membalikkan kepalanya, ternyata itu adalah Diajeng memakai payung dan memayungi Danu.
"Tahu apa kamu tentang saya hah! Tahu apa kamu tentang perasaan saya?" ujar Danu menatap kosong ke depan sementara air hujan masih menetes kencang diluar area payung.
"Aku tidak akan pernah tahu apa yang terjadi Mas, karena itu adalah masa lalu, apakah dengan ini kamu bisa mengulang masa lalu, apa dengan ini kamu bisa kembali dan ikut serta bersama mereka?" jelas Diajeng. "Harusnya kamu sadar Mas, kamu sedang tidak berada di masa lalu, tapi kamu berada di masa sekarang, dan yang harus kamu lihat ke depan adalah masa depan kamu."
Danu tersenyum kecut, dia kemudian menjatuhkan dirinya ke tanah dan terduduk disana, Diajeng melepas payung yang dipegangnya dan berjalan ke hadapan Danu.
Diajeng duduk didepan Danu dan menangkup wajah suaminya itu. "Kamu punya banyak hal yang harus kamu lakukan Mas, dan meratapi keadaan bukanlah opsi yang ada di list hal itu."
"Rasanya saya sudah lelah."
"Semua orang juga lelah kan?" ujar Diajeng memberi jeda.
"Semuanya, pernah patah dan jatuh, semuanya pernah gagal dan terluka, karena apa? Kita tidak akan pernah belajar sabar dan berani jika plot di skenario kehidupan kita hanya ada kebahagiaan," jelas Diajeng menangkup wajah suaminya itu.
•
•
•
__ADS_1
TBC
Assalamualaikum.