
..."Cerita paling baik dari rasa cinta adalah cerita cinta itu sendiri."...
...- Kang Bubur depan Rumah....
•
•
•
Kini Danu dan Diajeng sudah berada di rumah mereka sepulang dari rumah sakit, sedangkan Glen dan Dokter Han juga pulang karena sudah semalaman mereka di rumah sakit.
"Kantor, jadinya gimana, Mas?" tanya Diajeng pada Danu yang sedang berdiri dihadapannya.
Danu mengangkat alisnya saat mendengar pertanyaan Diajeng, dia tidak menjawab pertanyaan itu, sedangkan Diajeng masih duduk di ranjang.
Perlahan Danu melepas kemejanya yang membuat dia langsung memamerkan dada bidang dan tegapnya beserta deretan kotak di bagian perutnya.
Sontak melihat itu membuat Diajeng menutup matanya, karena belum terbiasa dengan sikap Danu yang seperti ini.
"Kenapa ditutup?" tanya Danu yang membuat Diajeng menggeleng.
Danu beranjak naik ke atas ranjang dan kini dia sudah berada tepat didepan Diajeng, sangat dekat sampai Diajeng bisa merasakan hembusan napas Danu.
"Buka, sayang, semuanya sudah berubah," bisik Danu meminta kepada Diajeng untuk membuka matanya.
Diajeng perlahan membuka matanya, dan dia sudah di suguhkan oleh pemandangan wajah Danu yang sangat menawan, senyum manis dan penuh dengan keromantisan.
__ADS_1
"Mas?"
"Hm?"
"G-Gak akan kan?"
"Waktu itu dalam kondisi tidak sadar, kali ini dalam kondisi sadar, Mas pengen ngunjungin anak kita," bisik Danu penuh dengan sentuhan.
Diajeng diam sendiri, setelah bucin, Danu menjadi lebih agresif, apakah Diajeng harus meladeni atau pasrah saja, melihat kerisauan hatinya membuat Danu tertawa pelan.
Diajeng yang melihat tawa Danu hanya bisa diam saja, entah apa yang menganggu pikiran suaminya ini.
"Mas gak akan mungkin ngelakuin itu, sayang, Mas gak akan bisa melakukannya karena kandungan kami masih muda," jawab Danu beralih duduk dan meraih Diajeng ke pelukannya. "One Day kita akan melakukannya, dalam kondisi saling mencintai."
Wajah Diajeng kini sudah bersentuhan dengan dada Danu, dia bisa merasakan aroma parfum Barry dari badan Danu, dia rasa ini aroma sabun walaupun semalaman mereka di rumah sakit, aroma Danu masih tetap sama, Barry bercampur aroma croissant.
"Mau, ngapain Mas?"
"Mandi, bareng," jawab Danu menurunkan celananya kemudian menggendong Diajeng masuk ke dalam kamar mandi. "Dan sedikit bermain-main, Mas tahu cara romantis dikamar mandi."
•
"Bagaimana?" Natasha kini sudah berada di hadapan Rusdi.
Rusdi menatap Natasha kemudian menjelaskan apa yang dia sudah lakukan. "Saya sudah melakukan peneroran terhadap mereka, tapi ternyata mereka masih menganggap ini hal sepele."
"Bagus, apa saya yang Pak Rusdi lakukan?"
__ADS_1
"Menembak ban mobil mereka dengan pistol, itu kemungkinan terbesar untuk membuat mereka semua celaka."
"Bapak tahu kan itu adalah anak dan menantu bapak?" tanya Natasha yang membuat Rusdi menatap nanar Natasha.
"Uang yang berbicara, Nyonya." bisik Rusdi penuh penekanan.
Tak jauh dari sana seorang pria berdiri, dia sudah memantau pergerakan dari Rusdi dan Natasha.
"Dua orang licik, uang yang berbicara bukan? Biar aku jelaskan kepada kalian, bagaimana uang bisa berbicara," ujar orang tersebut.
Pria ini mengambil ponselnya kemudian mengetik pesan kepada Danu, sebuah pesan yang bernada ajak untuk sebuah berita penting.
"Danu, temui aku di tempat ini, jika kau ingin mendapat info dari orang yang menerormu, dariku 3262777."
Begitulah pesan yang dikirimkan oleh pria yang mengatakan bahwa dirinya adalah 3262777.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum.
Jangan lupa like.
__ADS_1