Istri Terbuang Tuan Impoten

Istri Terbuang Tuan Impoten
BAB 38. Haruskah Merebutmu Dari Tuhanmu?


__ADS_3

Halo semuanya.


Kemarin author baru dapat surat cinta dari Editor.


Tentang Novel ini yang performanya kurang bagus yah, Performa sendiri itu dari like dan komentarnya.


Jadi author harap bila ingin novel ini episodenya lebih panjang bisa like dan komentar entah mau spam komenpun gapapa.


Jika performa tidak ada kenaikan yah mau tidak mau harus ditamatkan lebih awal padahal harusnya bisa lebih panjang.


Jadi buat yang mau terus lihat bucinnya, Danu dan Diajeng dimohon kerjasamanya.


Like dan Komen! Banyakin aja komennya mau spam jungkir balik juga aku fine-fine aja wakakaka.


Lovyu :)





"Gaada siapapun diluar," ujar Glen saat membuka pintu ruangan rawat Diajeng. "Eh Nyonya Artonegoro sudah sadar?"


Glen langsung bersikap seformal mungkin dihadapan Diajeng yang membuat Diajeng meliriknya sejenak. "Gausah formal Glen, ini bukan area kantor, aku juga tahu kalau kamu sahabatnya Mas Danu."


Glen mengangguk dia kemudian menggaruk tengkuknya, sementara itu tak lama kemudian pasangan yang selalu saja tidak pernah akur ikut masuk ke ruangan itu.


"Kan Gue udah bilang harusnya kita cek sampai ke luar pagar," celoteh Farah merasa kesal dengan Han.

__ADS_1


"Kamu mikir deh, itu sama aja cari bahaya, kita harus mantau dulu, kalau penjahatnya ada disana terus di serang kamu tiba-tiba gimana?" jawab Han bersikeras.


"Gue bukan anak kecil, Han."


"Terus apa? Orang dewasa, itu aja udah bikin kepala kamu bocor kamu masih merasa kamu bisa jaga diri sendiri?" tanya Han ikut kesal.


"Lo napa sih? Kok tiba-tiba paranoid gini, kalaupun gue kenapa-napa harusnya lo gausah khawatir elah, kan gue bukan siapa-siapa lo," jawab Farah menatap dalam Han.


"Yah, karena aku peduli sama kamu," ujar Han.


"Gak perlu, gue gak butuh dipeduliin sama lo, lagian dari awal lo tuh siapa sih datang-datang di hidup gue ngatur-ngatur, sana ah," jelas Farah yang membuat Han terdiam.


Han tidak menjawab lagi, dia tidak tahu harus menjawab apa pernyataan dari Farah, sedang tak lama kemudian Glen berdehem cukup keras, membuat keduanya menoleh ke arah Glen.


"Eh, Diajeng lo udah sadar beb?" tanya Farah bergegas berjalan ke arah Diajeng. "Akhirnya gue gatau harus gimana kalau lo kenapa-napa."


"Gapapa kok Fa, kamu nginep disini juga, bukannya kamu harus kuliah pagi yah?"


"Tapi, gue mau nemenin lo disini," jawab Farah menolak pergi.


"Aku gapapa Fa, nanti siang udah bisa pulang, lagipula ada Mas Danu dan Glen."


Farah menatap ke arah Danu kemudian menatap ke arah Diajeng bergantian.


"Awas yah Pak Danu, jangan apa-apain sahabat gue, gue emang gabisa ngapa-ngapain tapi gue bisa nyantet," ujar Farah meraih tasnya di sofa.


"Kamu pulang naik apa Fa?" tanya Diajeng pada Farah.


"Gatau, gue kan kesini numpang sama dua orang ini," jawab Farah menunjuk Dokter Han dan Glen.

__ADS_1


"Minta antar sama Dokter Han aja," jawab Diajeng.


"Ogah ah."


"Kalau pagi gini daerah rumah sakit susah taksi dan ojek, mau pesan online pun percuma, jadi gausah jual mahal, iya kan Dokter Han?" jelas Diajeng menilik Dokter Han.


Dokter Han mengangguk, setelah bicara cukup lama dan berpikir matang, akhirnya Farah bersedia diantar oleh Dokter Han.


Tapi entah kenapa, kini keadaan menjadi canggung, semenjak pertengkaran Dokter Han dan Farah, biasanya mereka akan bertengkar tapi kali ini hanya diam.


Tak lama kemudian mobil yang dibawa Dokter Han sudah sampai didepan rumah Farah, tapi sebelum turun Dokter Han menahan tangan Farah.


"Fa, aku cinta sama kamu."


"Hah?"


Farah diam, entah kerasukan apa pria disampingnya itu mengatakan hal yang membuat Farah tercengang.


"Aku cinta sama kamu."


Farah diam sebelum berkata. "Gue Gak!"


"Kenapa?"


"Kalaupun gue cinta sama lo, kita gabisa kita udah beda agama, dan itu temboknya terlalu tinggi, satu hal lagi gue gamau gue ngambil lo dari Tuhan lo," jawab Farah kemudian turun dari mobil.



__ADS_1



TBC


__ADS_2