Istri Terbuang Tuan Impoten

Istri Terbuang Tuan Impoten
BAB 25. Not CEO But President Director


__ADS_3

..."Bagaimana jadinya menjadikan perbedaan menjadi sama?"...


...- Belakang truk...





Diajeng berdiri dan menghampiri Renata, dia bahkan memastikan dulu bahwa yang berdiri di depannya adalah benar Renata atau bukan.


"Mbak Renata, kapan datang Mbak?" tanya Diajeng kemudian beralih memeluk Renata yang membuat Renata membalas pelukan itu.


"Baru saja, aku datang kesini setelah mendengar kabar tentang kamu dan Mas Danu," jawab Renata berjalan masuk ke dalam restoran duduk di meja yang ada di dalam. "Aku sebenarnya gak bisa lama-lama Diajeng."


"Besok sore, aku harus berangkat ke Aussie lagi mengurus cabang disana, aku terpaksa pulang karena semuanya sudah di luar kendali," jawab Renata duduk di kursi.


Diajeng ikut duduk disana, sedangkan Farah dia memilih pergi ke dapur karena merasa ini adalah pembahasan secara privasi.


"Aku lihat kamu sudah menjalankan restoan ini dengan sangat baik, aku ingin kamu mendapatkan posisi baru," jawab Renata.


"Posisi baru?"


"Kamu memang bukan istri yang diharapkan Mas Danu, tapi kamu juga bukan istri Terbuang, jadi aku bakal memberikan sebuah posisi yang dimana, mungkin akan menciptakan hal baru dalam cerita pernikahan kalian."


Diajeng diam, dia masih belum mengerti apa maksud dari Renata dan posisi baru yang dia dapatkan.

__ADS_1



Pagi sekali Danu sudah berpakaian rapi untuk memantau kondisi kantor sekarang, dia masih menunggu Glen menjemputnya dengan duduk di kursi rodanya.


Dia masih belum ingin memikirkan tentang kehamilan Diajeng yang menurutnya bukan karena dirinya.


Tak lama kemudian mobil Glen terparkir di halaman rumah Danu yang membuat Danu lantas menatapnya tapi tak lama karena Glen langsung beranjak keluar dari mobil dengan keadaan terburu-buru.


"Ada apa Glen?" tanya Danu karena Glen terlihat panik.


"Dikantor, A-ada-"


"Ada apa?"


Glen mengatur napasnya sejenak kemudian mulai menceritakan kejadian yang ada di kantor, seketika mata Danu terbuka sempurna dengan keadaan terkejut.


Setelah memastikan Danu sudah naik, Glen kemudian ikut naik dan menjalankan mobil menuju kantor, tak butuh waktu lama, sesampainya di halaman kantor, Danu bisa jelas melihat bahwa sebagian karyawan sedang berbaris di depan kantor.


Glen sendiri langsung menyiapkan kursi roda Danu, dan membawa Danu ke arah karyawan-karyawan itu.


"Ada apa ini! Kenapa kalian keluar semua! Sana masuk kerja!" perintah Danu tapi mereka semua diam tidak bergeming. "KALIAN DENGAR TIDAK!"


Tidak ada jawaban sampai seseorang keluar dari kantor dengan berpakaian ala-ala CEO.


"Kau tidak ada hak atas karyawan ku."


"Diajeng?"

__ADS_1


Yah, dia adalah Diajeng, Diajeng berdiri di hadapan Danu dan disampingnya ada Farah yang menjadi Asisten Diajeng.


"Nyonya Artonegoro, istri dari Tuan Artonegoro dan Presiden Direktur baru di perusahaan ini," jelas Diajeng mengulurkan tangannya kepada suaminya itu.


"Apa-apaan ini!" ujar Danu dengan ekspresi wajah yang merah padam. "Kamu tidak ada hak disini!"


"Diajeng memiliki hak yang sama Mas," Renata entah darimana muncul mengagetkan Danu. "Dan Diajeng adalah Presiden Direktur baru perusahaan ini, Mama dan Papa sudah menyetujuinya."


"Renata! Apa-apaan ini!" ujar Danu yang membuat Renata memegang kedua tangan kakaknya.


"Maaf kak, sebenarnya perusahaan ini sudah dibagi dua, lima puluh persen milik Diajeng dan sisanya milik Mas Danu, jadi di perusahaan ini akan ada dua Presiden Direktur dengan dua divisi yang berbeda," jelas Renata.


"HAH!"


"Benar Danu! Maafkan Om, Om diberikan perintah oleh Ayah kamu, CEO Halim Corp sekarang diberikan kepada Renata yang akan mengatur semua waralaba dan segala cabang, sedangkan kamu harus lugowo menjadi presiden direktur cabang di Indonesia, tapi kamu tidak akan bekerja sendiri, Diajeng akan menjadi Presiden Direktur kedua perusahaan ini."


Itu suara dari Aryo selaku anggota keluarga tertua dari keluarga Hartawan yang masih tinggal di Indonesia.


Danu hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka, istri terbuangnya malah menjadi seorang presiden direktur dan kerja bersamanya.


"GLEN! Bawa saya ke ruangan saya!" ujar Danu yang membuat Glen mendorong kursi roda Danu masuk ke dalam kantor.




__ADS_1


TBC


__ADS_2