Istri Terbuang Tuan Impoten

Istri Terbuang Tuan Impoten
BAB 32. Sebatas NPC Bukan Tokoh Utama


__ADS_3

..."Hanya ada aku dan kamu dalam cerita kita, yang lainnya hanya NPC."...


...- NPC...





"Tuan Artonegoro sudah bisa jalan?" tanya orang-orang yang melihat Danu sudah bisa berdiri.


Dokter Han dan Glen sendiri masih terpaku, bagaimana bisa, pemadam kebakaran sudah mulai berdatangan untuk memadamkan api, dugaan awal kebakaran karena adanya kosletin listrik di ruangan pendingin.


"Diajeng!"


Danu berteriak di sekitar lantai satu mencari Diajeng, namun dia tidak menemukan Diajeng dimana-mana, akhirnya Danu memilih nekat ke lantai dua menggunakan tangga darurat karena lift tidak bisa dipakai.


"Diajeng!"


Danu hanya bisa berteriak di sekitar lantai dua dikarenakan asap yang menghalangi pandangannya.


Danu beranjak ke ruangan Diajeng, dikarenakan pintu itu smart door membuat Danu tidak bisa masuk karena akses card-nya tertinggal.


Danu akhirnya memilih ke dapur karyawan dan berharap ada Diajeng disana. "Diajeng!"


Baru saja Danu melangkahkan kakinya di dapur karyawan, dia sudah bisa melihat Diajeng berada di sudut ruangan dan menunduk.


Danu yang melihat itu kemudian langsung berlari ke arah Diajeng. "Diajeng, kamu gapapa? Diajeng."


Diajeng yang tengah kesulitan bernapas karena asap itu mengangkat kepalanya dan menatap Danu. "M-Mas?"

__ADS_1


Air mata Danu jatuh, ia langsung mendekap Diajeng dan mencium puncak keningnya. "Kamu gapapa sayang? Mas ada disini, kita bakal keluar dari sini."


"Mas? Mas udah bisa jalan?"


Danu tidak menjawab pertanyaan Diajeng, Danu langsung menggendong Diajeng dengan gaya bridal style setelah sebelumnya dia melepas jasnya dan membasahi jas itu dengan air agar melindungi mereka.


"Kita bakal keluar dari sini, kamu harus selamat sayang, jangan bikin Mas merasakan penyesalan untuk kedua kalinya."


Diajeng mengeratkan pelukannya kepada Danu, sementara Danu berjalan menembus asap yang membuatnya kesulitan bernapas.


Sampainya akhirnya Danu sudah sampai di tangga darurat, Danu segera turun dari sana namun di anak tangga ketiga Danu malah jatuh ke bawah, sontak hal itu membuat Danu langsung memeluk Diajeng untuk melindunginya dari benturan.


Dan hal itu membuat bagian punggung Danu terbentuk lantai dan kaki kanannya terkilir, Danu segera menggendong Diajeng kembali walaupun punggung dan kakinya sakit menuju keluar.


Sesampainya di pintu keluar Danu menutupi badan Diajeng dengan jasnya dan langsung menerobos pintu kaca itu.


PRANG!


Suara kaca pecah kembali jatuh yang membuat semua mata tertuju kepada Danu dan Diajeng.


Danu tidak memperdulikan luka-luka ditubuhnya apalagi beling yang mungkin masih tertancap ditangannya.


Dokter Han dengan sigap memeriksa kondisi Diajeng. "Dia masih hidup, dia hanya kebanyakan menghirup asap, segera bawa ke rumah sakit takut akan ada sesuatu dengan kandungannya."


Danu menganggukkan kepalanya, dia kembali menggendong Diajeng sementara Glen menyiapkan mobil, setelah mobil siap, mereka kemudian bergegas ke rumah sakit terdekat.



Danu terduduk di koridor menunggu Diajeng yang ditangani oleh Dokter, sementara Dokter Han ada di sampingnya.


"Kamu nekat, Danu," ujar Dokter Han membersihkan luka beling ditangan dan pipi Danu.

__ADS_1


Danu hanya memejamkan mata saat alkohol itu menyentuh lukanya. "Asalkan Diajeng selamat, aku gapapa mati, Han."


Dokter Han hanya mengangguk. "Kau memang begitu Danu, sekalinya sayang kau akan melakukan apapun, sudah kubilang kan, kau mencintai istrimu itu."


"Tahan sedikit," sambung Dokter Han menyiram luka Danu dengan antibiotik mencegah infeksi.


Danu meringis sejenak, sebelum akhirnya Dokter Han memperban tangannya dan meletakkan obat-obatan itu di kursi kosong lainnya.


"Udah beres, untuk punggung dan kakimu, nanti kita CT dan cek dulu, takutnya ada bagian yang luka dalam, itu lumayan tinggi jatuh dari lantai dua," jelas Dokter Han saat melihat Danu memegangi punggungnya.


Tak lama kemudian, Glen datang dengan membawa kantong berisi makanan dan minuman, Glen duduk di kursi yang ada di samping Danu.


"Kebakaran di kantor sudah dipadamkan, mungkin hanya lantai satu yang parah, Alhamdulillahnya tidak ada korban dan kerugian melebih bahkan stock coklat kita hampir semua aman, hanya beberapa yang rusak dikarenakan mesin pendingin rusak," jelas Glen mengeluarkan minuman dari kantong dan memberikannya kepada Dokter Han.


"Danu, minum dulu," lanjut Glen memberikan air kepada Danu, namun Danu menolak pemberian Glen. "Kamu tuh dehidrasi, Danu."


"Bagaimana bisa aku minum dan makan, sedangkan Diajeng masih belum ada kabar didalam sana," jawab Danu menundukkan kepalanya.


Glen mengerti perasaan Danu, dia kemudian menaruh kembali air itu, tak berselang lama, dokter yang menangani Diajeng keluar.


Danu berdiri bersama Glen dan Dokter Han, dan segera menghadap ke dokter tersebut, dokter wanita itu menghela napas sejenak kemudian menjelaskan kondisi Diajeng.


"Kondisi Bu Diajeng sudah membaik, belum sadarkan diri, kandungannya juga selamat," jawab Dokter itu menjelaskan.


Akhirnya kini, Danu bisa bernapas lega. "Bisa saya lihat, Dok?"


"Silakan," jawab Dokter itu berjalan meninggalkan Danu dan yang lainnya.



__ADS_1



TBC


__ADS_2