
..."Kamu tidak mengejanya, tapi kamu merasakannya."...
...- Kang Batagor Depan Rumah...
•
•
•
"Danu berantem sama siapa tuh!?" tanya Dokter Han yang sedang berjalan bersama Glen dan Farah.
Dari kejauhan mereka berjalan di koridor walaupun agak jauh tapi pandangan yang hanya lurus bisa mereka lihat langsung kalau Danu sedang berkelahi diujung sana, tepat didepan kamar rawat Diajeng.
"Astaga, kayaknya Danu berantem deh," jawab Glen pada Dokter Han.
Melihat itu mereka bertiga langsung berlari ke arah Danu dan Rusdi yang sedang berkelahi, Dokter Han langsung menenangkan Danu yang sedang membogem Rusdi tanpa henti.
"Brengsek! Suruh dia pergi!" jawab Danu pada Rusdi.
Glen sendiri langsung membantu Rusdi berdiri, keadaan Rusdi sudah babak belur tidak karuan yang membuat Glen langsung meminta Rusdi pergi dari sini.
"Lebih baik, Anda pergi, Pak!" jawab Glen yang membuat Rusdi meludah dengan darah ke sudut koridor. "Jangan membuat keributan di rumah sakit!"
"Saya tidak akan pernah menerima perlakukan kamu terhadap saya!" ujar Rusdi kemudian berjalan pergi dari sana.
Farah, Glen dan Dokter Han hanya diam, Dokter Han kemudian mendudukkan Danu di kursi dan memijat bahunya. "Kau ini kenapa sih? Itu mertuamu kan?"
__ADS_1
Danu mengangguk. "Dia adalah mertua paling tidak berguna yang pernah aku kenal."
"Kali ini gue setuju sama lo, Om Rusdi tuh emang kurang ajar layak dikubur, dulu sebelum nikah sama lo, Diajeng sering disiksa bahkan hampir dijual tuh," ujar Farah setuju atas ucapan Danu. "Bagus deh, lo bogem diam."
"Eum, mulutnya, Abang sentil nih!" ujar Dokter Han yang membuat Farah bergidik jijik. "Istri Abang gaboleh gitu."
"Istri? Najis! Lagian beda agama kali Pak, LDRnya kejauhan," jawab Farah duduk di kursi yang ada di samping Danu.
Glen juga ikut duduk disana mengatur napas sejenak. "Kenapa sih Danu, kamu bisa berantem sama dia."
"Panjang urusannya Glen," jawab Danu merasakan gerah diseluruh tubuhnya.
Melihat itu Farah meraih kresek yang dia bawa kemudian mengeluarkan air putih dari sana. "Nih, minum."
Danu meraih air minum itu kemudian meminumnya. "Makasih, Fa."
"Belum," jawab Danu lemas yang membuat mereka semua prihatin.
"Maaf yah, semoga Diajeng cepet sadar, kasian soalnya tuh Boss satu-satunya yang baik hati dan dermawan belum kerja aja, kuliah gue dah dibayarin semester full, cakep gak?" jawab Farah bersandar di tembok.
Tidak ada lagi percakapan diantara mereka, Dokter Han kemudian langsung bergerak ke arah Farah dan duduk disampingnya.
"Dingin yah beb?" tanya Dokter Han melirik Farah.
"Ngomong beb lagi, gue gampar!"
"Dingin beb, pengen dipeluk," jawab Dokter Han memasang wajah sok imut.
__ADS_1
Glen yang melihat itu hanya bergidik ngeri, sahabatnya sudah benar-benar tidak tertolong.
"Apaansih, sana pelukan sama Glen," jawab Farah kesal.
"Ke ruangan aku aja yuk Fa, Abang kan dokter disini, kita bikin dedek bayi disana?" Dokter Han menaik turunkan alisnya.
Plak!
Kini Farah sudah mengaplok kepala Dokter Han yang membuat Glen menahan tawa disampingnya.
"Geli ih!" cecar Farah kemudian duduk di kursi lain.
Sementara itu Rusdi yang sudah kesal, berjalan keluar dari rumah sakit, langkahnya tertatih sebelum seorang wanita memanggilnya.
"Pak Rusdi?"
Rusdi menatap wanita tersebut kemudian menghampirinya. "Saya, Mbak?"
Wanita itu mengangguk. "Saya akan memberikan lima ratus juta, asal Bapak ingin membantu saya, bagaimana?"
•
•
•
TBC
__ADS_1