
..."Sederhana saja, jika air matamu mengalir saat mengingatnya, berarti dia masih segalanya."...
...- Netizen....
•
•
•
Danu membuka pintu ruangan rawat Diajeng, hening, tidak ada siapapun didalam sana, kecuali Diajeng.
Tampak meremang, dikarenakan jendela kamar yang ditutup serta hari yang sudah mulai sore juga, Danu berjalan dengan keadaan pelan ke ranjang Diajeng karena memang kaki dan punggungnya masih sakit.
Sesampainya di samping Diajeng, Danu merasa sakit hati melihat kondisi istrinya, Diajeng kini dibantu alat pernapasan dan seperti kondisi orang yang koma.
"Diajeng, maafin Mas yah," ujar Danu meraih tangan Diajeng dan mengecupnya. "Mas memang orang yang bodoh."
"Bangun sayang, Ketika kamu Bangun, Mas berjanji bakal ngungkapin semua apa yang Mas rasain, tentang perasaan Mas, tentang isi hati Mas, semuanya."
Air mata Danu jatuh, air mata penyesalan seorang suami, Danu mencium kening Diajeng kemudian beralih mengecup perut Diajeng, dia tidak pernah menyadari selama ini bahwa ada yang lebih penting dalam hidupnya selesai mengenang masa lalu, tidak pernah Danu bayangkan jika Diajeng meninggalkannya.
Sayup-sayup azan magrib terdengar dari kejauhan, hal itu membuat Danu mengusap air matanya, dia tidak pernah sholat tapi sekarang dia bertekad akan berubah menjadi lebih baik.
Danu beranjak dari sana, dia memanggil Glen masuk ke ruangan rawat Diajeng, dinana kini Danu tengah duduk di sofa.
__ADS_1
"Ada apa, Danu?" tanya Glen saat sudah berada di hadapan Danu.
"Siapkan baju koko, aku pengen sholat," jawab Danu yang membuat Glen mendelik. "Kenapa kaget? Kamu mau ikutan?"
"Gapapa, kaget aja, mau ikutan deh, yaudah aku pulang dulu ke rumah mu buat nyiapin bajunya," jawab Glen.
"Sekalian baju ganti, aku pengen nginap disini, ajakin Han juga barangkali dia mau sholat," ujar Danu pada Glen.
"Gak bakal mau dia, orang dia lebih setan daripada setan," jawab Glen beranjak meninggalkan dia. "Lagipula si Han kan non-muslim, Danu."
Hampir saja Danu lupa, jika sahabat sekaligus dokter pribadinya itu beda agama dengannya, Danu hanya diam saja, sementara Glen sudah menghilang dari hadapannya.
Tak lama kemudian, Han masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di samping Danu. "Udah agak enakan?"
"Aku mau ngelakuin tes PTSD buat mastiin kamu benar-benar udah sembuh," jawab Han yang membuat Danu menatapnya.
"Apa?"
"Kapan kamu pertama kali bilang cinta ke Diajeng?" tanya Han pada Danu.
"Ehm-"
"Dalam kondisi sadar," potong Han yang membuat Danu terdiam seketika. "Jika kamu bisa menjawabnya ini akan menjadi sangat penting."
"Di pinggir jalan saat menuju rumah sakit beberapa Minggu yang lalu," jawab Danu.
__ADS_1
"Insiden di ruangan pendingin?"
Danu menganggukkan kepalanya, Han berpikir sejenak, jika benar Danu sudah mengatakan cinta pada Diajeng sejak lama, berarti Danu sudah sembuh dan pemicu utamanya masih tetap Diajeng.
"Kau harus berterima kasih kepada istrimu, dia wanita yang hebat, dia bisa menyembuhkanmu lebih daripada aku sendiri yang notabene adalah dokternya," jelas Han menepuk pundak Danu.
"Kenapa aku baru sadar sekarang?"
Danu tampak menyesal. "Kenapa harus dikondisi seperti ini."
"Karena kamu selalu mencari cinta dan kebahagiaan itu sampai kamu lupa, cinta dan kebahagiaan bukan dicari tapi harus disadari."
Danu terdiam, selama ini dia hanya belum benar-benar menyadari bahwa dia mencintai Diajeng, karena dia terjebak dalam dimensi masa lalunya sendiri.
•
•
•
TBC
Hari ini Dua Bab aja dulu yah
Assalamualaikum
__ADS_1