
..."Tut! Tut! Tut!"...
...- Token Listrik rumah sebelsh yang dimana anak kost sebelah lagi liburan tapi bunyi tokennya ganggu dan aku terpaksa ngisi pulsa tokennya biar ga berisik....
...Dasar tetangga laknat....
•
•
•
"Lo tuh punya otak gak sih!" Farah yang masih ada disana langsung menatap tajam Danu yang membuat Glen langsung berdiri diantara Farah dan Danu. "Minggir!"
Melihat itu membuat Dokter Han menarik tangan Farah yang membuat Farah jatuh ke pelukan Dokter Han. "Jangan marah-marah dong, sayang."
"Dih! Najis!" Farah bangkit dan menjauh dari Dokter Han. "Kalian gak usah lindungi si bodoh itu, ngeselin banget pengen gue remes-remes ginjalnya."
"Duh, cakep-cakep galak," ujar Dokter Han.
Farah berbalik menatap Dokter Han dan menunjuknya dengan jari. "Diam Lo! Gue gak lagi ngomong sama Lo yah!"
__ADS_1
"Udah diem kok ini, diam di hati kamu kan?" jawab Dokter Han menaik turunkan alisnya.
Demi apa, Farah harus bertemu dengan manusia sejenis Dokter Han yang sangat-sangat menyebalkan, untuk ukuran seorang Dokter, Han itu tidak menyenangkan.
"Minggir!" Farah mendorong Glen menjauh sehingga kini dia bisa memandang wajah Danu. "Inget yah, gue bakal mastiin kalau Lo bakal nyesel, dan saat Lo nyesel Lo gaka akan bisa ngedapetin hal yang Lo sesali itu, oke gue juga gak heran kenapa Lo gitu sama sahabat gue, gak semua orang punya selera yang bagus, Lo kaya itu gak penting tapi kalau hati Lo miskin itu yang jadi tanda tanya!"
"Orang kaya banyak, tapi orang kaya punya hati tuh dikit, jadi kalau Lo gabisa jadi orang kaya punya hati seenggaknya Lo jad manusia yang baik, Bastard!"
Farah berjalan meninggalkan, Danu, Glen dan Dokter Han disana yang membuat Danu diam saja, dia memilih diam dan tidak membalas ucapan Farah.
"Buset tuh cewek, cantik-cantik Badas coy!" ujar Dokter Han yang membuat Danu hanya mendengus pelan.
•
•
•
Diajeng hanya diam, setelah kejadian tadi, dia tidak banyak bicara yang membuat Farah sedikit khawatir.
"Lo gaada niatan bunuh diri kan? Jangan deh gue masih miskin, gue kan belum gajian pertama kerja sama Lo," ujar Farah yang membuat Diajeng sontak menatapnya.
__ADS_1
"Astagfirullah Fa, nauzubillah punya pemikiran kayak gitu, aku gapapa, cuma yah tadi apa aku gak merasa berdosa yah bilang kayak gitu ke Mas Danu, Mas Danu kan suamiku."
"Halal-Halal ajasih, orang suami Lo itu kelakuannya kek taik, Lo kubur hidup-hidup juga kayaknya gapapa tuh," jawab Farah yang masih kepalang kesal dengan sikap Danu. "Terus nasib Lo, gimana? Lo gamau lapor gitu ke ipar Lo, siapa namanya Renata kan?"
"Gak usah deh, Mbak Renata gak perlu tahu, biar masalah ini aku aja yang ngurus, lagipula aku juga ga masalah kalau Mas Danu, gamau Nerima, emang udah takdir mungkin yah aku jadi istri yang terbuang?"
"Lo balikan aja sama Damar, dia kandidat bapak dan suami yang baik."
"Salah gak, kalau aku bilang, aku udah jatuh cinta sama Mas Danu?"
"Dih! Najis gak perlu cinta lakik kayak gitu, wajib dibanting malahan!"
Mendengar itu membuat Diajeng tertawa dan memeluk tubuh sahabatnya itu dari samping yang membuat mereka berdua berpelukan.
"Diajeng."
Diajeng menatap arah sumber suara itu dan mendelik mendengarnya. "Mbak Renata?"
•
•
__ADS_1
•
TBC