Istri Terbuang Tuan Impoten

Istri Terbuang Tuan Impoten
BAB 26. Terselip Didalam Tasbihnya


__ADS_3

..."Kesepian ada, bukan karena sendirian, tapi memang karena kita sudah tidak diinginkan."...


...- Babah Adam (Selepas Kata Talak)...





BRAK!


"Argh!"


Sesampainya di ruangan kerjanya, Danu langsung menggebrak meja yang membuat Glen hanya diam menatapnya.


"Tenang, Danu, tenang, nanti PTSDmu kambuh lagi," ujar Glen mengingatkan Danu.


"TENANG! TENANG GIMANA! SAYA SANGAT MEMBENCI DIA! DAN KALIAN BILANG SAYA MENCINTAINYA, OMONG KOSONG!" teriak Danu yang tak lama kemudian badannya menjadi lemas.


BUG.


Danu terjatuh di lantai, dengan mata terpejam dia memegang kepalanya, tampaknya post trauma syndrome disorder Danu kambuh lagi.


"Istri dan anak saya meninggalkan saya, mereka berdua jahat dan sekarang Renata juga jahat, dia membiarkan saya terjebak dengan wanita itu!" teriak Danu merasakan semua hal traumatis dalam hidupnya hadir kembali.


Melihat itu, Glen langsung membantu Danu dan membawanya ke sofa dan menidurkannya disana. "Danu! Dan!"


Glen tampak gelisah karena kondisi Danu semakin parah saja, Glen kemudian menelepon Dokter Han untuk menyuruhnya segera datang ke kantor.

__ADS_1


"Halo! Han! Penyakit Danu kambuh!" ujar Glen tampak panik.


"Hah? Bukannya kemarin udah? Aku gak bisa kesana, aku lagi perjalanan ke luar kota tapi aku akan usahakan membatalkan perjalanan ini, tapi untuk sekarang, aku berharap kau bisa mengontrol keadaan."


"Heh! Kau pikir aku dokter? Aku harus bagaimana Han!" teriak Glen kesal.


"Diandra! Panggil Diandra, Diandra bisa menenangkan Danu!"


"Diandra? Diajeng maksudmu?"


"Siapapun itu namanya, cepat panggil dia saja," jawab Dokter Han.


Mendengar itu membuat Glen berpikir sejenak, bukannya Diajeng pemicu Danu menjadi begini, kenapa harus memanggil Diajeng, tapi tidak ada waktu lagi untuk memikirkan hal ini.


Glen langsung keluar dari ruangan kerja Danu dan berlari mencari Diajeng, beruntungnya Diajeng sedang ada di koridor hendak masuk ke ruangannya sendiri karena ruangan kerja Diajeng berada persis disamping ruangannya Danu.


"Nyonya! Nyonya Artonegoro! Tolong!"


"Tuan, Tuan Artonegoro," jawab Glen kesulitan menjelaskan. "Lebih baik, nyonya ikut saya."


Glen membawa Diajeng menuju ruangan kerja Danu, disana Diajeng terkejut melihat Danu tampak seperti setengah sadar di sofa.


Danu seperti kehilangan kemampuan berpikir jernihnya, melihat itu membuat Diajeng langsung berjalan ke arah Danu dan duduk di sampingnya.


"Mas?" ujar Diajeng membelai rambut Danu.


Danu membuka matanya dan melihat kehadiran Diajeng. "Diajeng?"


"I-iya, ini aku."

__ADS_1


Danu bangkit dan langsung memeluk Diajeng dalam. "Jangan tinggalin saya! Saya mohon!"


"Aku ada disini."


Danu memeluk erat DIajeng, rasanya Diajeng sudah mengerti posisi Danu, dia seperti kehilangan sesuatu yang benar dalam hidupnya.


"Andaikan kamu mengatakan hal ini dalam kondisi sadar Mas, mungkin pernikahan kita akan baik-baik saja," batin Diajeng hingga tak lama kemudian Danu menjadi tidak sadarkan diri.


"Dia sudah tenang," jawab Diajeng berdiri dan menatap Glen.


Glen beranjak mengecek kondisi Danu yang sudah tenang dan tidak sadarkan diri. "Terimakasih, Nyonya, tapi boleh tidak saya bertanya sesuatu."


"Apa, Glen?"


"Apa benar Nyonya, Hamil anak Tuan Artonegoro, saya tidak bermaksud apa-apa jika benar, saya akan membantu Tuan Artonegoro mengingat semua kejadian malam itu."


"Menurut kamu?"


"Saya yakin, Tuan Artonegoro hanya perlu membedakan perasaan ketika dia sadar dan ketika PTSDnya menyerang, dan saya yakin, anak yang dikandungan nyonya adalah anak Tuan Artonegoro."


Diajeng tersenyum. "Terimakasih, Glen."


Diajeng berjalan keluar dari ruangan itu, dia memilih menuju musholla kantor dan melakukan sholat dhuhur, setelah dia pikir-pikir apakah ucapan yang Danu ucapkan ketika tidak sadar masih sama ketika dia sadar?


Hanya Allah yang tahu bagaimana jalan cerita dari hidup Diajeng, sekarang.



__ADS_1



TBC


__ADS_2