
•
•
•
Kejadian tadi benar-benar membuat Danu dan Diajeng menjadi canggung kembali, kini Danu sedang berada di ruangannya bersama Dokter Han dan Glen.
"Ini rencana kalian kan?" tanya Danu yang membuat Dokter Han dan Glen pura-pura tidak tahu.
"Mana kami tahu," jawab Glen yang seolah tidak tahu. "Eh udah jam, makan siang, kalau gitu kita makan siang diluar yuk."
"Boleh, aku juga lupa, yuk Danu, daripada marah-marah gak jelas, mending kita makan di restoran istrimu, kan ada Ayang disana," timpal Danu pada Glen.
"Siapa? Farah maksudmu? Gatal memang kau Han," jawab Glen yang membuat Dokter Han berdiri.
Dokter Han hanya memberikan jari tengahnya kepada Glen kemudian berjalan keluar duluan menuju pintu keluar.
Glen sendiri langsung mendorong kursi roda Danu untuk menyusul Dokter Han.
Danu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya malas karena tingkah kedua sahabatnya itu yang Danu sangat tahu, mereka hanya mengalihkan perhatian Danu dari masalah ini.
•
"Ngapain, Lo pada disini?" tanya Farah saat Dokter Han, Glen dan Danu masuk ke dalam restoran.
"Mau ngajak kamu nikah, boleh gak?" tanya Dokter Han yang membuat Farah mendelik malas.
"Mbak, kami mau makan," jawab Glen yang membuat Farah semakin kesal.
"Mbak? Lo manggil gue Mbak! Gue lebih muda dari lo koplak, panggil gue, Farah aja," jawab Farah pada Glen.
"Sukakmulah," jawab Glen duduk di kursi.
"Jangan gitu Glen sama calon istriku, iya kan?" Dokter Han menaik turunkan alisnya yang membuat Farah melipir kabur dari situ. "Gara-gara kamu Glen, calon istri jadi pergi."
__ADS_1
"Ck!"
Seorang karyawan lain datang karena disuruh Farah untuk menerima pesanan mereka, setelah menerima pesanan karyawan itu beranjak ke dapur.
Kini hanya Danu, Glen dan Dokter Han, disana.
"Gimana Dan, perasaanmu, kau mencintai dia kan?"
Danu diam. "Ndak tahu."
"Ndak tahu! Buktinya kamu cium juga istrimu itu, munafik gini nih yang enak ditanam."
Dokter Han mendengus sebal, awas saja jika rencana mereka hari ini tidak membuahkan hasil, dia berjanji akan menanam Danu hidup-hidup.
Mereka kemudian tidak bicara lagi tapi terdengar sebuah sirine pemadam kebakaran yang lewat disana, membuat Glen berpikir sejenak.
"Ada apa yah?"
"Ada kebakaran," jawab Dokter Han.
Glen meraih ponselnya yang dia mode silent dan ternyata sudah banyak telpon dari semua karyawan kalau kantor kebakaran bahkan digrup WhatsApp sudah heboh.
"KANTOR KEBAKARAN!"
"HAH!" teriak Danu dan Dokter Han bersamaan.
•
"Minggir!" teriak Danu karena dia khawatir dengan kondisi Diajeng. "Diajeng! Mana Diajeng!"
Kini Danu sudah tiba didepan kerumunan dan bisa Danu lihat kalau kebakaran sudah lumayan parah bahkan sudah ada dua mobil pemadam.
"Diajeng mana?"
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Danu.
__ADS_1
"DIAJENG MANA! NYONYA ARTONEGORO MANA!"
"D-Di dalam Tuan, Nyonya Artonegoro terjebak."
"APA!"
Danu membulatkan mata sempurna, dia kemudian menggerakkan kursi rodanya mendekati pintu kantor yang di sekitarnya sudah penuh api.
"DANU! JANGAN NEKAT!" teriak Dokter Han dan Glen menahannya.
"Diam! Istri dan Calon Anakku ada didalam, aku gak mau kehilangan istriku untuk kedua kalinya," jawab Danu menghempaskan keduanya.
Tidak ada yang bisa melarang, Danu kini sudah tiba didepan pintu, pintu tidak bisa terbuka karena pintunya otomatis, dan kebakaran membuat aliran listrik ke pintu koslet.
Danu kemudian mengepalkan tangannya dan meninju pintu itu dengan tangannya.
PRANG!
Kaca berserakan bahkan tangan Danu sudah penuh darah.
Danu kemudian memaksa masuk tapi kursi rodanya tidak bisa masuk, yang membuat Danu memilih menjatuhkan diri ke lantai agar bisa masuk.
Dan-
"Hah!?"
Danu terdiam sejenak, karena dia bisa berdiri sekarang.
•
•
•
TBC
__ADS_1
Assalamualaikum.