
..."Percayalah, Allah sudah menyiapkan banyak hal yang indah dikemudian hari, tapi hari ini bukanlah harinya."...
...- Uknown...
•
•
•
Rusdi kini duduk di sebuah kursi yang ada di cafe dua puluh empat jam, didepannya ada seorang wanita yang tadi memanggilnya, dari pandangan Rusdi, wanita ini adalah wanita yang berusia sekitar tiga puluh tahun.
"Bagaimana Pak Rusdi? Tapi mungkin ini akan sedikit nekat, saya hanya ingin Bapak membantu saya menghancurkan Danu." jawab Wanita itu saat menjelaskan pertanyaan dari Rusdi. "Oh iya, Nama saya Natasha, panggil saja Natasha."
"Maksud Mbak Natasha ini, Mbak akan membayar saya untuk meneror keluarga Danu dan Diajeng?" tanya Rusdi kembali yang membuat Natasha mengganggukkan kepalanya. "Tapi bagaimana?"
"Tenang Pak Rusdi, saya yang akan menjadi otaknya dan Pak Rusdi hanya perlu menjadi kaki tangan saja," Natasha merogoh tasnya kemudian mengeluarkan amplop coklat yang Rusdi yakini berisi uang. " Ini lima puluh juta, untuk pekerjaan pertama Pak Rusdi, saya akan menambahkannya jika Pak Rusdi berhasil."
Natasha menaruh amplop berisi uang itu di atas meja yang membuat Rusdi langsung mengambilnya dan mengeluarkan isinya, dan benar itu adalah uang.
Rusdi kemudian menyanggupi permintaan Natasha, motif dari Natasha tidak Rusdi tanyakan sekarang, karena dia sudah tergiur duluan oleh uang yang ditawarkan Natasha.
"Bagaiaman Pak Rusdi?" Natasha mengulurkan tangannya. "Deal?"
__ADS_1
Rusdi menaruh uang itu ditasnya kemudian menyambut uluran tangan Natasha. "Deal, Mbak."
Natasha tersenyum smirk, segampang ini mendapatkan kaki tangan, karena Natasha sudah lelah bekerja sendiri, membuat mereka berdua terkunci diruangan pendingin dan kebakaran, namun tidak berhasil.
Entah ada dendam apa Natasha kepada Danu, Natasha kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Rusdi setelah bertukar nomor.
Natasha melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil, karena malam sudah semakin larut, sebelum menjalankan mobilnya Natasha meraih foto dari dashboard mobilnya.
"Tenang Raindah, sampai kapanpun kakak gak akan pernah ikhlas," bisik Natasha dalam hatinya sendiri kemudian menaruh foto itu dan menjalankan mobilnya pergi dari sana.
•
Diajeng masih tidak sadarkan diri, Danu tengah tertidur di samping Diajeng, sehabis sholat subuh dia memilih tidur sembari memegang kedua tangan Diajeng.
PRANG!
Tidur mereka tiba-tiba terganggu saat sebuah batu memecahkan jendela kamar rawat itu diikuti oleh keluhan Farah.
"Aw!" Farah memegangi pelipisnya, tampak ada darah disana karena lemparan batu itu.
Dokter Han dan Glen juga ikut terbangun, melihat Farah yang penuh darah di pelipis membuat Dokter Han panik. "Kamu gapapa?"
"Kepala gue sakit," jawab Farah karena seukuran kepalan tangan bayi itu menghantam pelipisnya.
__ADS_1
Dokter Han kemudian bergegas mengambil kotak obat yang tersedia disana kemudian mengobati pelipis Farah. "Udah enakan?"
"Perih," jawab Farah yang membuat Dokter Han berinisiatif meniup pelipis Farah.
Glen sendiri langsung mengambil batu itu dan meraihnya. "Ini kerjaan siapa sih?"
Danu bangkit dan berjalan mendekati Glen, di batu itu ada sebuah kertas yang membuat Glen membuka kertas itu.
"KAMU TIDAK AKAN TENANG!"
Glen membaca isi kertas itu yang membuat mereka berempat merasa bingung atas perbuatan siapa ini.
"Apa ini ulah Om Rusdi?" jawab Farah yang membuat ketiganya diam.
"Kita gak bisa nuduh gitu aja, kita harus selidikin dulu, ini bisa jadi ancaman serius loh," jawab Glen yang membuat Danu dan Dokter Han mengangguk.
•
•
•
TBC
__ADS_1
Assalamualaikum