
"Masih hujan."
•
•
•
Kini Damar sudah berada dihadapan Danu, Han, Glen, Diajeng dan Farah.
Damar sudah menebak kalau ini akan terjadi, jadi dia santai saja, mungkin sudah saatnya Damar jujur kepada mereka semua.
"Apa benar, ini nomor Mas Damar?" tanya Diajeng yang kali ini membuat Damar mengangguk.
Semuanya terdiam, kenapa Damar harus merahasiakan hal ini, kini Danu sendiri yang bertanya tentang kenapa Danu merahasiakan hal ini.
"Kenapa harus kamu rahasikan?" tanya Danu yang membuat Damar menghela napas panjang.
"Aku takut jika terlalu masuk campur akan membuat masalah dan persepsi negatif darimu, Danu," jelas Damar yang kini membuat mereka semua mengetahui apa alasan Damar selama ini.
"Apa kau tahu info selanjutnya?" tanya Danu yang membuat Damar terdiam.
Semuanya diam juga sampai akhirnya, Damar kembali angkat suara. "Mereka menargetkan kandungan dari Diajeng, mereka tahu bahwa Danu akan mengurus pekerjaannya besok, sehingga besok mereka akan melancarkan aksinya."
Mendengar itu memang membuat Danu emosi, Danu melangkahkan kakinya pergi namun segera ditahan oleh Han dan Glen.
__ADS_1
"Kau mana Dan?" tanya Han yang membuat Danu menghentikan langkahnya.
"Aku harus menemui Natasha, dia harus bertanggung jawab," jawab Danu yang membuat semuanya menghela napas panjang.
"Kita tidak ada bukti yang cukup untuk menjerat Natasha, kalau kau datang kesana malam inipun tidak akan menghentikan aksinya, jangan membuat masalah untuk menyelesaikan masalah, Danu," jelas Han.
Danu berpikiran tenang sekarang, ucapan Han juga ada benarnya, dia tidak boleh berpikir negatif sekarang, dia harus bersikap tenang untuk membalas mereka.
"Lantas, sekarang bagaimana?"
"Aku tahu," jawab Damar yang membuat mereka semua menatap ke arah Damar.
•
Diajeng sedang memeriksa data penjualan sebelum akhirnya, suara grasak grusuk menghentikan pekerjaannya, didepannya sudah berdiri dua orang, tampak memakai masker yang membuat Diajeng mendelik.
"Kalian siapa?" tanya Diajeng.
Salah satu dari mereka berjalan ke arah Diajeng dan menodongkan sebuah pistol ke arahnya. "Aku tidak ingin bermain kasar yah, aku hanya kau kehilangan kandunganmu."
"M-Maksudnya?"
"Lihat ini!" Orang yang berusaha wanita itu mengeluarkan sebuah Pil yang Diajeng yakini adalah Pil pengugur kandungan.
"Tidak Mau!" tolak Diajeng yang membuat Orang tersebut kembali mengancam.
__ADS_1
"Kau mau cara kasar atau halus? Kau ingin kehilangan nyawamu sekaligus, hah!"
Diajeng diam, dia mengambil pil tersebut, tampaknya dia akan menyerah tapi saat hendak meminumnya beberapa orang keluar dari arah dapur.
"JANGAN BERGERAK!"
Suara polisi yang menodong pistol membuat dua orang ini kalang kabut, sontak Glen dan Han langsung menyekal keduanya sedangkan Danu langsung membuka masker keduanya.
Masker orang pertama dibuka, namun saat dibuka Diajeng malah sedih karena orang tersebut adalah Rusdi, Diajeng tidak menyangka ayah kandungnya sendiri tega melakukan itu kepadanya, berkerjasama untuk menghancurkan anak sendiri.
Masker selanjutnya sudah bisa ditebak itu adalah Natasha dia menatap nanar ke mereka semua sedang Danu juga balik menatapnya.
"Kau cerdik Natasha, tapi kau lupa siapa kawanmu!" bisik Danu. "Bawa mereka, Pak!"
Han dan Glen kemudian membantu membawa Rusdi dan Natasha ke mobil polisi yang baru saja datang.
Sedang Danu, Damar dan Farah masih tinggal disana menatap kepergian keduanya.
•
•
•
TBC
__ADS_1