
..."Hujan membawa segalanya, larut dalam kenangan."...
...- Hujan....
•
•
•
Danu menatap dalam wajah Diajeng, wajah itu membuat Danu sedikit tenang, entah kenapa hadir sebuah bayangan yang membuat Danu seolah berada di ruang lingkup berbeda.
Sebuah potongan bayangan dirinya bersama Diajeng berputar di dalam penglihatan Danu yang membuat Danu merasakan sakit dikepalanya.
"Ah-"
Danu akhirnya pingsan dan tidak sadarkan diri disana, di pelukan Diajeng, melihat itu membuat Dokter Han dan Glen berlari membantu Danu masuk ke dalam rumah.
Diajeng diam di teras rumah sementara Glen sedang mengganti baju Danu yang basah kuyup.
"Apakah penyakit Mas Danu separah itu?" tanya Diajeng mengeringkan tubuhnya dengan handuk.
"Yah kadang-kadang dia begini," jawab Han yang membuat Diajeng menganggukkan kepalanya. "Ingin ku antar pulang?"
Diajeng mengangguk, ia kemudian berdiri tapi sebelum pergi, Diajeng kembali masuk ke dalam rumah dan berjalan ke kamar Danu.
Di dalam kamar, Diajeng melihat Danu masih tidak sadarkan diri, Diajeng berjalan ke arah Danu dan mencium kening suaminya.
"Akhirnya aku tahu alasan dibalik semua sikap dinginmu, Mas."
Disaat Diajeng pergi, ia merasakan tangannya ditahan oleh tangan Danu, Diajeng melihatnya, Danu masih tertidur tapi bibirnya nampak bergetar.
"Saya cinta sama kamu, Diajeng."
Diajeng terdiam, itu adalah kalimat dari bibir Danu yang membuat air mata Diajeng jatuh, Diajeng mengusap air matanya kemudian melepaskan tangan Danu.
Diajeng kemudian berjalan keluar dari kamar Danu.
__ADS_1
Diajeng berjalan menemui Han dan meminta Han mengantarnya pulang, didalam mobil Diajeng mendengar musik dari radio di mobil itu.
Aku tak bisa menahan langkah kakimu.
Aku tak bisa menahan kepergian mu.
Kamu terlalu telah dengan yang lain
Untuk hidupmu nanti.
•
"G-Glen."
Danu membuka matanya perlahan, Glen yang ada di sampingnya membuka matanya karena memang dia sudah mengantuk.
"Danu? Udah baikan?"
"D-Diajeng mana?"
Glen mengusap matanya pelan. "Diajeng udah pulang."
"M-Maksudnya?"
"Anak itu anak saya Glen, saya melakukannya dengan Diajeng malam itu," jawab Danu yang membuat Glen sumringah.
"Lalu, kau ingin menemui Diajeng?"
Danu menggeleng. "Saya malu, apakah mungkin dia akan menerima saya?"
"Pasti."
"Saya ingin berusaha mendapatkan istri dan calon anak saya kembali, Glen?"
Glen diam, dia harus bagaimana sekarang tapi tak lama kemudian Dokter Han datang dan sudah mendengar percakapan mereka berdua.
"Bagaimana, kalau kau belajar romantis, jika kau merasa menyesal kau harus bisa mencuri hati istrinya dalam bentuk penyesalanmu."
__ADS_1
"Tapi kenapa tidak langsung bilang cinta saja?"
Danu menggeleng. "Tidak!"
"Yasudah kalau begitu kau harus belajar romantis," jawab Dokter Han kemudian menatap Glen dan saling bertukar pandangan.
•
Sudah jam dua pagi, kini Danu masih duduk membaca semua buku tentang pasangan yang dibawa oleh Glen.
Glen sendiri tertidur di sofa bersama Dokter Han, Danu sedikit bersyukur, dia mempunyai sosok seperti Dokter Han dan Glen yang sangat mengerti kondisinya.
"Berikan dia perhatian, lewat sentuhan dan kalimat, juga hadiah?"
Danu membaca isi buku itu dan mencoba mempraktekkannya.
"Gimana Danu? Udah dibaca?" tanya Dokter Han bangkit dari tidurnya disusul oleh Glen. "Dah jam berapa nih? Nginep disini ajalah."
"Udah, disini caranya harus beri perhatian lewat sentuhan," jawab Danu melempar buku itu kepada Dokter Han yang membuat Dokter Han membacanya. "Aku perlu latihan."
Tampaknya Danu perlahan sembuh, menurut Dokter Han begitu karena Danu sudah merubah pelapalan Saya ke Aku.
"Jadikan saja Glen, sebagai kelinci percobaan?"
Glen yang masih mengumpulkan nyawa hanya bisa mengangguk kecil karena tidak menyimak pembicaraan keduanya.
"Gak, nanti geli Han, aku pake guling aja," jawab Danu meraih guling.
Danu hendak melakukan percobaan tapi tidak jadi, seberapa besarpun dia berusaha dia tidak bisa karena selama ini dia bukan pria yang romantis.
•
•
•
TBC
__ADS_1
Menjelang Tamat?