
..."Semakin sedikit yang kau tahu, semakin baik."...
...- Kang PLN...
•
•
•
"Mas, kalau habis sholat tuh bok yah, sajadahnya di lipat ini malah masih berantakan," ujar Diajeng turun melewati anak tangga menuju ruang tamu.
Danu yang sedang duduk di sofa, melirik Diajeng sesaat kemudian kembali fokus ke laptopnya. "Maaf sayang, Mas lupa."
Diajeng hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sesampainya di samping suaminya, dia langsung duduk yang membuat Danu merangkul badan istrinya itu.
"Mas, lagi ngapain?" tanya Diajeng melirik laptop Danu.
"Laporan kantor yang harus dibenahi karena kebakaran semalam, proses renovasi bakal makan waktu lama, jadi karyawan di sebar di beberapa kantor kecil," jawab Danu memperhatikan deretan kata kata di monitor laptopnya.
Diajeng yang melihat itu memilih menyandarkan kepalanya di bahu Danu yang membuat Danu mencium puncak kepala istrinya.
"Aku berhenti jadi presiden direktur aja deh, Mas," ujar Diajeng yang membuat Danu menatapnya.
__ADS_1
"Jangan, kamu hebat, karyawan membutuhkan orang seperti kamu, Pemimpin yang pintar banyak tapi pemimpin yang mampu memanusiakan karyawannya itu yang langka," jawab Danu menolak permintaan suaminya. "Tapi nanti porsi kerja kamu dikurangin aja, kasian Dede bayi."
Entah kenapa, Diajeng merasa bahwa Danu sudah benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat.
Disaat seperti ini tiba-tiba saja Danu mendapati pesan dari seseorang yang mengaku berinsial 3262777, dan isi pesan itu adalah tentang orang yang meneror mereka.
Danu kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar, Diajeng menyusulnya, sesampainya Diajeng dikamar Danu sudah melepas sarung yang melekat di pinggangnya dan memakai celana.
"Mau kemana, Mas?"
"Ada urusan sama Glen dan Han," jawab Danu berbohong karena dia tidak ingin melibatkan Diajeng. "Aku telepon Farah yah buat nemenin kamu disini."
"Gausah, Mas, aku bisa sendiri kok," jawab Diajeng.
Tetap saja Danu khawatir, meninggalkan Diajeng sendiri sedang banyaknya teror yang menimpa mereka bukanlah pilihan yang baik.
"Pamit yah, Assalamualaikum," ujar Danu mencium pipi Diajeng.
•
PLAK!
Dokter Han merasakan perih di pipinya saat sebuah tamparan jatuh di sana, dia berdiri di hadapan ayahnya, Hartono, usai menyatakan keinginannya.
__ADS_1
"Jangan jadi bodoh, Han! Kamu ingin meninggalkan agamamu demi wanita lain?"
Dokter Han, baru saja menyatakan keinginannya untuk seagama dengan Farah, karena dia merasa dia ingin memperjuangkan Farah.
"Kalau wanita itu tidak mau dengan kamu, sedangkan kamu sudah berpindah ke agamanya, kamu sendiri yang rugi!"
"Aku gak akan rugi, Pa, sebab ini keinginan dari dalam hati, karena Tuhan bukan manusia, aku sudah memikirkan ini lama sekali, rasanya batinku sudah yakin," jelas Dokter Han. "Tidak ada agama yang mengajarkan kejelekan, dan kebebasan beragama itu sudah hak dari diri kita."
"Kamu siap berbeda dari keluarga besar kita?" tanya Pak Hartono.
"Itulah mengapa ada yang namanya Toleransi," jawab Dokter Han. "Aku sudah yakin."
"Kamu tahu gak banyak muslim yang tidak beriman? Lantas kenapa kamu yakin?"
"Karena aku ingin memegang Islamnya, bukan muslimnya, Islam itu agamanya sedang muslim pengikutnya, jika muslim berbuat kesalahan jelas bukan karena Islam, karena Islam mengajarkan apa yang baik dan Muslim yang harus mengikutinya."
Setelah mengatakan itu, Dokter Han keluar dari rumah karena Glen sudah datang dan ingin menjemputnya.
•
•
•
__ADS_1
TBC
Assalamualaikum