
..."Berusahalah untuk selalu ada, seperti air putih, segar, menyegarkan dan au ah gelap."...
...- Isi Hati Author Pas Kondangan Mantan....
...Ga punya mantan deh :)...
•
•
•
"Bagaimana kondisinya, Dokter Han?"
Dokter Han sendiri sedang memeriksa kondisi Danu yang terbaring di tempat tidur dengan posisi duduk.
"Kamu nanyaek?" tanya Dokter Han melepaskan stetoskop miliknya. "Siapa Gadis tadi?"
"Nyonya Artonegoro? Istri Tuan Artonegoro."
Mendengar jawaban Glen membuat Dokter Han menatap dalam Danu yang membuat Danu membuang mukanya enggan menatap Dokter Han.
"Tatap mataku, Danu!"
Danu menghela napas panjang kemudian membalikkan kepalanya menatap Dokter Han. "Iya!"
Danu sangat membenci sahabatnya ini, dia selalu berhasil membuatnya gugur terlebih dia adalah dokter pribadinya.
"Kenapa kau tidak mengundangku, di pernikahanmu?" tanya Dokter Han.
"Tanya saja pada Glen," jawab Danu malas menjawab.
Dokter Han beralih menatap Glen. "Begini Dok, Tuan Artonegoro mengadakan pernikahan secara tertutup."
"Bisa tidak Glen, jika kita hanya bertiga kau tidak usah terlalu formal, mau Danu sahabatmu juga kita bertiga adalah sahabat," jawab Dokter Han duduk di ranjang.
__ADS_1
Glen melepaskan kacamatanya kemudian ikut duduk disana. "Mau bagaimana lagi, aku sedang berusaha menjadi asisten yang baik."
"Bagaimana kondisiku Han, daritadi kau hanya banyak bicara," tanya Danu yang membuat Han menyapu wajahnya dengan tangan.
"Begini, aku tidak pernah mendapati kadar kecemasan milikmu itu serendah ini, ini artinya gangguan kecemasan yang kau hadapi sedikit demi sedikit berkurang," jelas Dokter Han.
Glen menatap Dokter Han yang membuat Dokter Han mengangkat alisnya. "Tidak mungkin ini terjadi jika tidak ada pemicu."
"Tepat sekali!" jawab Han. "Dan pemicu untuk kesembuhan Danu adalah istrinya sendiri."
Mendengar itu membuat Danu meraih bantal dan melempar kedua sahabatnya itu dengan bantal.
"Kau bercanda! Aku tidak mencintainya, mana mungkin ada hubungannya dengan kesembuhanku."
"Kau hanya tidak menyadarinya, arogan!" jawab Han yang membuat Glen mengangkat jempolnya setuju.
Glen berjalan dan tampak berpikir sesuatu yang mungkin akan sepemikiran dengan Dokter Han.
"Coba kita rangkai kejadian demi kejadian ini, pertama di ruangan pendingin, jika normalnya adalah kau akan mati disana Danu, tapi Diajeng berhasil memberikanmu sssuatu yang membuatmu bertahan bukan, kau hanya perlu menyadari bahwa kau mencintai istrimu itu," ujar Glen yang membuat Dokter Han setuju.
"Kau mengusir kami?"
"Keluar!"
Dokter Han dan Glen kemudian berlari keluar dari kamar Danu sebelum sahabatnya itu benar-benar marah besar.
Tak lama kemudian kepala Dokter Han muncul sedikit dari pintu dan berkata. "Aku akan menemui Diandra dan akan menjelaskan tentang penyakitmu ini."
"Diajeng!"
"Iya siapapun itu namanya, akan aku buktikan bahwa kau mencintai istrimu itu!"
BRAK!
Danu melempar remot AC kepada Dokter Han tapi Dokter Han terlanjur menutup pintu yang membuat remote itu menabrak pintu yang tertutup.
__ADS_1
•
Sementara itu di tempat lain, Diajeng tengah duduk di kursi menatap semua pelanggan yang tengah hilir mudik dihadapannya.
"Dor!"
"Astagfirullah, Farah ngagetin aja sih!"
Diajeng menatap kesal Farah yang membuat Farah duduk di samping Diajeng.
"Lagian Lo itu ngapain sih, ngelamun Mulu, datang dari rumah suami malah ngelamun gitu," ujar Farah yang membuat Diajeng hanya mendengus pelan.
Farah memang sahabat Diajeng semasa SMA dan kebetulan sekali Farah kuliah di kampus dekat restoran Diajeng dan melamar di restoran Diajeng sembari kuliah.
"Gatau Fa, aku lagi mikirin sesuatu yang bikin aku bingung."
"Tentang suami Lo itu?" tanya Farah mengelap gelas dengan lap.
Diajeng mengangguk, tak lama kemudian Diajeng merasakan mual di perutnya yang membuat Diajeng berlari ke kamar mandi.
Melihat sahabatnya itu membuat Farah langsung mengikutinya dan mendapati Diajeng sedang muntah di wastafel.
"Lo gapapa?"
"Gapapa, cuma gak enak badan aja," jawab Diajeng membersihkan tangannya.
"Yakin?"
Diajeng mengangguk tapi Farah masih belum puas dengan jawaban itu. "Lo gak hamil kan?"
•
•
•
__ADS_1
TBC