Istri Terbuang Tuan Impoten

Istri Terbuang Tuan Impoten
BAB 23. Istirahat Mencintaimu Hari Ini


__ADS_3

..."Kita hanya bagian dari sandiwara yang dibuat Tuhan, bedanya adalah pemeran utama, pemeran pembantu dan figuran."...


...- Coretan di kamar tetangga....





16.43


Diajeng memilih menutup restoran lebih awal karena kondisinya sedikit lemas dikarenakan terus mual.


Farah yang melihat kondisi sahabatnya itu hanya bisa mengusap punggung Diajeng.


"Lo mau coba testpacknya sekarang?" tanya Farah yang membuat Diajeng mengangguk.


"Buat mastiin aja."


Diajeng kemudian berdiri dari duduknya dan beranjak ke kamar mandi untuk mencoba testpack yang dibeli oleh Farah.


Farah hanya menunggu diluar ikut was-was akan kondisi sahabatnya itu, tak lama kemudian Diajeng keluar dari kamar mandi dengan keadaan bimbang.


"Gimana hasilnya?" tanya Farah pada Diajeng.


Diajeng tidak menjawab, dia hanya memberikan testpack itu kepada Farah, Farah meraih testpack itu dan melihat hasilnya.


Ternyata hasilnya adalah dua garis merah yang menandakan bahwa Diajeng benar-benar hamil.


"Kapan Lo ngelakuin itu?" tanya Farah pada Diajeng.


Diajeng diam, dia berusaha mengingat sesuatu sampai akhirnya Diajeng menceritakan bahwa malam sebelum dia pergi, dia dan Danu sempat melakukan hubungan suami istri.


"Tenang, bisa aja testpack ini salah, kita ke rumah sekarang, Lo harus ikut gue, kalau beneran Lo hamil yah bapaknya harus tahu," ujar Farah menarik tangan Diajeng.


"Tapi Fa, apa Mas Danu bisa Nerima sedangkan pernikahan ini aja dia gak Nerima."

__ADS_1


"Jangan bodoh deh Jeng, kalau dia gamau nerima yah gue paksa dia Nerima, enak aja dia giniin lo, lo sahabat gue, dan lo punya hak atas suami lo itu, jangan mau ditindas," jawab Farah pada Diajeng.



Sementara itu Danu kini sedang berada di kursi rodanya sendiri, di kiri dan kanannya ada Glen dan Dokter Han.


Mereka bertiga baru saja melakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit atas kondisi kelumpuhan Danu dan penyakit post trauma syndrome disordernya.


Yah Danu menderita PTSD atau post trauma syndrome disorder yang membuatnya kadang kehilangan kesadaran dan seperti berjalan di masa lalu, akibat kecelakaan yang membuat dirinya lumpuh dan kehilangan istri serta anak.


"Aku bingung, dari hasil ini kan Danu memang sudah tidak bisa ereksi dan seolah dia impoten padahal sebenarnya dia tidak impoten, ini hanya pengaruh PTSD yang memberi sugesti bahwa dia impoten, tapi kok bisa ereksi lagi? Ini pasti ada pemicunya."


Mendengar jawaban Dokter Han membuat Danu mendengus sebal, semuanya tidak masuk akal.


"Mungkin Danu pernah melakukan hubungan badan dengan Diajeng?" tanya Glen yang membuat Danu memukul perut Glen.


"Jangan bercanda, Glen, mana mungkin, aku sudah kehilangan hasrat ku sejak bertahun lalu," jawab Danu.


"Hasrat itu bisa datang karena cinta, terlebih dari faktanya Diajeng bisa mengurangi Dampak PTSD yang kau hadapi, sudah pasti kau mencintai istrimu itu," jelas Dokter Han.


Sebenarnya Danu juga memikirkan hal ini, mana mungkin dia mencintai Diajeng ataukah ini hanya perasaan Denial.


Disaat mereka bertiga melewati koridor, mereka melihat Diajeng dan Farah keluar dari ruangan poli kandungan.


Hal itu membuat Danu meminta Dokter Han dan Glen untuk mereka mendatangi Diajeng.


"Apa itu?" tanya Danu pada Diajeng sembari melirik sebuah kertas ditangan Diajeng.


Diajeng dan Farah tersentak yang membuat Diajeng sontak menyembunyikan kertas itu.


"Apa itu, Diajeng!" tanya Danu dengan nada suara tinggi.


Dokter Han kemudian berjalan menghampiri Diajeng dan mengambil kertas itu, dia membacanya dan merasa sedikit terkejut.


Dokter Han memilih berjalan ke arah Danu dan membisikkan sesuatu kepada Danu yang membuat Danu terkejut.


"KAMU HAMIL!"

__ADS_1


Suara Danu menggema di ruangan itu membuat Diajeng menunduk dengan wajah yang sulit di jelaskan.


"Iya, Mas, aku hamil."


"Anak siapa itu?"


Diajeng diam, Farah sendiri dia kesal karena Danu masih menanyakan anak siapa itu yang jelas adalah anaknya sendiri.


"ANAK SIAPA ITU!"


Diajeng mengangkat kepalanya kemudian mendelik tajam kepada Danu. "Kamu nanya, ini anak siapa Mas? Kamu tuh bodoh atau gak peduli sih? Ini anak kamu!"


Danu diam, air mata Diajeng jatuh, sedangkan Danu masih tidak terima dengan pernyataan Diajeng, bahkan suasana disana berubah tegang.


"Mana mungkin!" tolak Danu. "Saya tidak pernah melakukan apapun dengan kamu dan kamu tahu sendiri saya itu impoten!"


Diajeng hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ini anak kamu sama Damar kan? Ngaku aja kamu! Saya sudah bilang kalau kamu mau, ayo, kita cerai aja biar kamu bisa bersama Damar."


"Cukup! Jangan mengatakan hal yang mungkin Mas sesali karena ini ada pertanggungjawabannya!" sergah Diajeng dengan nada tinggi. "Mas mungkin lupa kejadian malam itu, tapi satu hal yang harus Mas tahu, Mas itu tidak impoten, Mas hanya terjebak dalam situasi yang membuat Mas kehilangan hasrat terhadap wanita!"


"Jangan menyela Diajeng, saya merasa tidak pernah melakukan itu, asal kamu tahu!"


Diajeng diam, dia menatap nanar Danu, oh begini endingnya, Diajeng sudah cukup tahu, Diajeng hanya bertepuk tangan yang memecah hening dalam sepersekian detik.


"Aku tepuk tangan bukan karena aku suka dengan semua kejadian ini, tapi aku tepuk tangan karena akhirnya tahu bahwa semua ini sudah selesai, aku menyerah, Mas."


Diajeng melangkahkan kakinya pergi darisana, meninggalkan Danu yang masih menatap langkahnya yang menjauh dari pandangan Danu.





TBC


Assalamualaikum

__ADS_1


__ADS_2