Istri Terbuang Tuan Impoten

Istri Terbuang Tuan Impoten
BAB 30. Since, I Meet You


__ADS_3

Author lagi kerja man teman, lagi sibuk banget tapi disempetin update.


Kadang ngetik di tempat kerja kadang pas sampe rumah jadi yah beginilah yah nyari duit yah, capek kerja lebih capek lagi cari kerja.





Setelah kejadian di ruangan Danu tadi, tidak ada apa-apa lagi yang mereka lakukan, bahkan Danu sendiri menjadi canggung dengan apa yang dia lakukan.


"Nyonya?"


Diajeng masih termenung, dia tidak fokus sekarang bahkan suara panggilan yang dia dengar sudah seperti tidak terdengar.


"Nyonya?"


"Nyonya Artonegoro."


"Eh iya?" tanya Diajeng buyar dalam lamunannya. "Cindy, ada apa?"


"Maaf, Nyonya, ada berkas pemasaran untuk Minggu ini yang harus nyonya cek," jawab Cindy ~Salah satu staff.


Diajeng meraih berkas itu dan meliriknya sesaat. "Oke, nanti saya baca yah, jika ada perubahan dan modifikasi saya akan beritahu."


Diajeng membuka laci kerjanya dan memberikan sebuah map kepada Cindy. "Cindy, Map ini tolong kamu berikan kepada bagian divisi utama yah, minta mereka menyusun ini dalam file setelah selesai, kamu berikan kepada Tuan Artonegoro, nanti kalau ada setuju dari dia, saya akan tanda tangan disitu."


Cindy mengangguk. "Baik, Nyonya."


Setelah kepergian Cindy, Diajeng kembali fokus ke pekerjaannya, namun baru saja dia memegang laptopnya, tiba-tiba saja Dokter Han masuk ke dalam ruangan itu.


"Diandra!?"


"Diajeng, Dok," jawab Diajeng fokus ke laptopnya. "Ada apa, Dok?"


"Danu, penyakit dia kambuh lagi," jawab Dokter Han panik.


"Dimana?" tanya Diajeng menutup laptopnya dalam keadaan panik.

__ADS_1


"Dilapangan olahraga untuk karyawan," jawab Dokter Han yang membuat Diajeng mendelik, sedang apa Danu disana.


Diajeng tidak ambil pusing, Diajeng kemudian bergegas kesana, sementara itu Dokter Han memilih tinggal disana.


Glen kemudian menghampiri Dokter Han dan mereka kembali melakukan Tos atas hal ini.


Satu rencana lagi, berhasil.



Diajeng masuk ke dalam lift dan langsung menekan tombol lantai dasar, kantor ini memang tidak luas tapi halamannya begitu luas, yang dimanfaatkan sebagai mes karyawan dan lapangan olahraga.


Lapangan olahraga sendiri ada di samping kantor yang tidak jauh dari parkiran, hanya karyawan yang bisa kesana, kadang dilakukan sebagai tempat futsal antar karyawan lelaki, karena disana lengkap dengan lapangan bola dan basketnya.


Sementara dibagian belakang kantor ada mess khusus karyawan yang ingin tinggal disana dan disamping Mas ada rumah dinas yang di sediakan untuk general manager, tapi rumah dinas itu sudah lama kosong karena jabatan general manager sudah tidak ada sejak Renata dan Danu yang menjadi pemegang perusahaan.


"Mas Danu?"


Krit!


Diajeng membuka pintu pagar pembatas lapangan dan memanggil nama Danu, lapangan ini luas dan tidak ada sekat, selagi memiliki penglihatan yang bagus, itu tidak menjadi masalah karena dari pintu saja kita sudah bisa melihat seisinya.


Diajeng mengedarkan pandangannya dan melihat Danu berada di lapangan basket dengan sebuah bola basket ditangannya.


Diajeng berlari menghampiri Danu, takut Danu akan kenapa-napa dan DIajeng sempat kesal karena dia kira akan ada Glen disana.


"Mas! Kamu gapapa, ada aku disini," ujar Diajeng memegang pundak Danu.


Danu mengangkat alisnya kemudian bertanya. "Kamu kenapa?"


"Kata Dokter Han, kamu kambuh Mas, aku khawatir tahu gak," jawab Diajeng.


Danu tersenyum. "Kamu khawatir?"


"Udah ah, kamu gapapa kan Mas," jawab Diajeng menghela napas panjang.


Diajeng memilih duduk di lantai, karena lantai lapangan basket itu tidak langsung tanah sehingga tidak akan membuat kotor baju Diajeng.


"Mas ngapain disini?" tanya Diajeng.

__ADS_1


"Nenangin diri aja, saya suka disini banyak hal yang bisa saya lakukan."


"Mas bisa main basket?" tanya Diajeng kembali melihat Danu memainkan bola basket ditangannya.


Danu tersenyum. "Awalnya, dulu saya dan Raindah suka sekali main bola basket, Dion juga suka, tapi benar kata kamu, itu masa lalu, sekarang saya rasa, saya kesepian."


"Siapa bilang, kan ada aku, ada bayi kita juga nanti," jawab Diajeng bangkit.


"Ehm?"


"Maksudnya, yaudah sini, aku bisa kok main bola basket," jawab Diajeng kembali meraih bola basket dari tangan Danu.


Diajeng kemudian mulai memasukkan bola basket itu ke ring sampai beberapa percobaan tidak berhasil.


"Aw!"


DIajeng memegangi wajahnya karena bola basket yang terpantul dari ring itu mengenai wajahnya yang membuat Diajeng mengadu.


"Diajeng, kamu gapapa?" tanya Danu yang membuat Diajeng mengangguk. "Kamu gak nyampe."


"Kependekan kayaknya, Mas, eh enggak deh, Ringnya yang ketinggian."


"Malah nyalahin, Ring."


"Cewek gak pernah salah," jawab Diajeng.


DIajeng berlari mengambil bola yang menggelinding tadi, DIajeng ingin mencoba lagi namun kali ini Danu langsung meraih pinggang Diajeng dan mengangkat tubuhnya, dan akhirnya Diajeng berhasil memasukkan bola itu.


"Eh-"


Karena kurangnya keseimbangan membuat Danu lepas kendali dan jatuh ke lantai dalam kondisi dia sedang ditindih Diajeng, wajah mereka kembali tertaut dan entah kenapa, Danu malah mencium Diajeng.


Keduanya larut dalam ciuman ditengah lapangan itu.




__ADS_1


TBC


__ADS_2