
..."Ketuk disini untuk memulai menulis."...
...- Template Watttpad....
•
•
•
Diajeng turun dari taksi yang di kendarai menuju kantor, sebagai presiden direktur, Diajeng sekarang harus fokus mengurus kantor.
Urusan restoran sendiri dia serahkan kepada Farah yang mengambil tugas menjadi sekretaris juga ketika Diajeng sibuk.
"Mas Danu, udah datang?" tanya Diajeng dalam hati saat melihat mobil Glen.
Diajeng berjalan masuk ke dalam kantor dan menyapa satpam yang berjaga.
"Pagi, Nyonya Artonegoro, selamat bekerja."
Diajeng tersenyum kemudian kembali berjalan, dia juga menyapa resepsionis dan Staf yang ada di lobby bawah.
Setelahnya, Diajeng kembali berjalan menuju lift, sesampainya didalam lift Diajeng segera menekan tombol lift menuju lantai dimana ruangannya berada.
Ting.
Lift terbuka, Diajeng melangkahkan kakinya dia lantai koridor, dia mengeluarkan door card-nya karena pintu ruangannya ada pintu smart door.
"Hah?"
Diajeng terkejut saat melihat ruangannya sudah penuh dengan bunga yang membuatnya terkejut.
"Bunga?" Diajeng meraih sebuket bunga yang membuatnya merasa heran.
"Kamu suka?"
Diajeng membalikkan badannya dan melihat Danu sudah berada di belakangnya diatas kursi rodanya. "Mas?"
"Ini bunga dari Mas?" tanya Diajeng pada Danu.
Danu menganggukkan kepalanya, Diajeng berjalan ke arah Danu dan duduk di kursi yang tak jauh dari Danu. "Untuk apa?"
"Karena saya cin-" Danu memberi jeda. "Menyambut kamu, yah kamu kan presiden direktur baru di perusahaan ini."
Diajeng menghela napas panjang. "Gak perlu seperti ini, dan tumben Mas ngelakuin ini?"
Diajeng menatap curiga Danu yang membuat Danu gugup kemudian menghela napas berat. "Kalau kamu gak suka, yaudah gapapa."
__ADS_1
Danu kemudian membalikkan badannya dan menggerakkan kursi rodanya meninggalkan ruangan itu.
"Mas, Tunggu."
Danu berhenti tanpa membalikkan badannya kepada Diajeng, Diajeng masih diam sampai hening sejenak.
"Makasih, Mas, aku suka," ujar Diajeng yang membuat Danu tersenyum walaupun belum pernah di lihat oleh Diajeng senyum itu.
Danu tetap kembali ke ruangannya yang membuat Diajeng memilih bekerja di mejanya sendiri melihat data data yang harus dia perbaiki.
Diajeng memiliki banyak basic di bidang ini, Diajeng kan mengurus tim pemasaran di kantor ini dan Diajeng punya basic Teknik Logistic saat SMK dulu.
Kret!
Diajeng melakukan peregangan jari-jarinya yang membuat jarinya itu mengeluarkan suara, Diajeng sepertinya butuh kopi, Diajeng kemudian keluar dari ruangan dan berjalan menuju dapur kantor.
Sesampainya di counter dapur dia melihat Glen sedang membuat kopi. "Pagi Glen, buat kopi?"
Glen menatap Diajeng kemudian mengaduk kopi yang ada pada gelas ditangannya. "Pagi Nyonya Artonegoro, ini sedang buat kopi untuk Tuan Artonegoro."
Diajeng menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Glen kemudian lanjut membuat kopi untuk dirinya sendiri, namun tak lama kemudian Glen merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda.
"Nyonya?"
"Yah, Glen?"
"Boleh, taruh aja disitu."
Glen menaruh gelas kopi itu kemudian berjalan meninggalkan Diajeng disana, tak jauh dari sana ada Dokter Han yang memantau mereka.
Glen berjalan ke arah Dokter Han karena tadi dia hanya beralibi.
"Bagaimana, berhasil?" tanya Dokter Han pada Glen.
"Berhasil, Diajeng akan menemui Danu," jawab Glen yang membuat keduanya melakukan Tos.
Rencana selesai.
•
Diajeng berjalan ke ruangan Danu, ia melewati koridor lantai yang sepi karena tidak banyak ruangan dilantai ini, sesampainya di depan ruangan Danu, Diajeng kemudian menggunakan smart card nya untuk membuka smart door ruangan Danu.
"Mas?"
"Diajeng?" Danu mengangkat kepalanya padahal dirinya sedang mengerjakan sesuatu di laptop. "Ada apa?"
"Tadi Glen nitip kopi," jawab Diajeng berjalan ke arah Danu.
__ADS_1
"Glen?" Diajeng mengangguk atas pertanyaan Danu.
Pasti rencana Glen dan Han lagi, begitulah batin Danu sekarang, Diajeng kemudian meletakkan kopi tersebut di meja kerja Danu.
"Terima kasih yah," jawab Danu yang membuat Diajeng mengangguk.
"Mas, aku mau nanya, boleh?"
"Tanya aja," jawab Danu meminum kopinya.
"Mas hari ini berubah, ada apa?"
"Maksudnya?"
"Gaada maksud, apa-apa, cuma aku suka aja, Mas lebih hangat dan menyenangkan."
"Jika menurut kamu begitu, Mas pengen menjadi menyenangkan dan hangat agar kamu bahagia, dek "
Hah? "Ngomong apa Mas Danu barusan?" Diajeng bertanya dalam hatinya sendiri tentang apa yang di katakan Danu.
"Maksudnya, Mas?"
"Eh, Maksud saya, saya suka kalau kamu suka saya menjadi menyenangkan," jawab Danu meralat kalimatnya dan berharap Diajeng tidak mendengarnya tadi.
"Oke, yaudah Mas, aku balik dulu yah," jawab Diajeng pada Danu.
Diajeng membalikkan badannya, tapi belum melangkahkan kakinya Danu sudah menahannya.
"Diajeng, saya boleh minta sesuatu?"
"Iya, Mas?"
"Saya pengen pegang perut kamu."
Diajeng mendelik, apa Danu tidak salah, tapi Diajeng tidak menolak permintaan Danu, Diajeng kemudian membiarkan Danu memegang perutnya.
Danu memegang perut Diajeng, rasanya hangat, hingga tak lama kemudian, Danu mencium perut Diajeng, itu membuat air mata Diajeng jatuh seketika.
Apa yang sedang dilakukan pria brengsek ini.
•
•
•
TBC
__ADS_1