
Kevin dan Bapak mertuanya Toni mereka sudah sampai di rumah mereka, sampai di rumah terlihat pintu sudah terbuka.
Toni menatap ke arah Kevin, Toni dan Kevin mereka saling tatap, tatapan Toni seraya bertanya kepada Kevin, Kevin yang mengerti maksud dari bapak mertuanya, dia hanya bisa mengangkat bahunya mengisyaratkan bahwa dia tidak mengetahui siapa tamu yang ada di dalam rumah mereka.
pintu rumah mereka terbuka, mereka berdua melihat di dalam rumah ada 2 orang pria asing yang mereka sama sekali tidak mengenalnya.
Kevin dan Toni mereka sudah sampai di depan pintu.
"assalamualaikum" Kevin dan Toni mengucapkan salam secara bersamaan.
Tuti yang menyambut kedatangan mereka "walaikumsalam" jawab Tuti.
Kevin dan Toni mereka masuk ke dalam rumah, setelah Toni masuk ke dalam rumah, Tony langsung bertanya kepada istrinya..
"Bu, sepertinya kita kedatangan tamu, kalau boleh tahu, siapakah mereka?"
belum sempat Tuti menjawab pertanyaan dari suaminya, kedua orang itu segera berdiri dan memberi hormat kepada Kevin, kedua orang itu membungkukkan badan mereka..
"Tuan muda" ucap kedua orang itu secara bersamaan ditujukan kepada Kevin.
mendengar perkataan kedua orang itu, Tuti dan Toni mereka saling tatap, sedangkan Kevin dia sama sekali tidak berekspresi apapun.
Kevin bertanya kepada mereka berdua "siapa kalian? apakah kalian berdua mengenalku?"
"tentu saja kami mengenal tuan, nama saya Edwin" dan "saya Erik" ucap kedua orang itu sambil memperkenalkan diri kepada Kevin secara bergantian.
"kami berdua datang kesini diutus oleh tuan besar untuk mencari tuan muda, yang beberapa bulan ini tak kunjung pulang ke rumah" Erik yang berbicara saat ini.
__ADS_1
"tuan besar, siapakah yang kamu maksud dengan tuan besar, apakah aku mengenal tuan mu?" Kevin bertanya sambil memasang wajah bingung.
mendengar pertanyaan Kevin yang seperti itu, Edwin dan Erik mereka berdua saling tatap, mereka sepertinya sedang merasa aneh dengan sikapnya Kevin yang seperti itu.
"tuan muda, yang kami maksud dengan tuan besar itu adalah Pak Handoko ayahanda tuan, kok kami merasa ada yang aneh, masa tuan tidak mengenali ayah tuan sendiri?" kali ini Edwin yang berbicara.
"ayahanda"
Kevin menggaruk kepalanya.
"Pak Handoko?"
"Hmm, apakah Pak Handoko itu nama dari ayahku? jika benar Pak Handoko itu adalah ayahku tapi kenapa aku sama sekali tidak mengingat apapun tentangnya?"
Kevin berusaha mengingat-ingat, namun semakin dirinya berusaha untuk mengingat, maka Kevin merasa kepalanya menjadi semakin terasa sakit.
melihat Kevin yang seperti itu, Edwin maupun Erik semakin merasa bingung "tuan muda, tuan sebenarnya kenapa? apa yang sebenarnya telah terjadi kepada tuan?" tanya Erik.
Tuti dan Toni yang sedari tadi mereka diam, akhirnya Tuti yang membuka suara ditujukan kepada kedua orang tamunya, yakni (Edwin dan Erik)
"maaf ya tuan-tuan, menantu kami nak Kevin saat ini dia sama sekali tidak bisa mengenali siapapun, jadi ibu harap kalian tidak terlalu membebani nya dengan begitu banyak pertanyaan yang akan mengganggu pikirannya, karena akan sangat berbahaya terhadap kondisi kesehatan dan otaknya"
"maksud perkataan ibu apa? apakah tuan muda Kevin dia adalah menantu ibu? tapi, sepertinya semua itu tidaklah mungkin, jika benar lalu kapan dia menikah? Karena setahu saya, tuan muda sudah memiliki seorang tunangan dan tunangan tuan muda itu bernama nona Alisya"
Erik yang saat ini berkata kepada Tuti, dia seakan menjelaskan siapa diri Kevin yang sesungguhnya.
"nak Kevin sudah mempunyai seorang tunangan?" Tuti bertanya dengan menunjukkan ekspresi wajah yang terlihat kaget.
__ADS_1
"benar Bu, tuan muda Kevin memang sudah bertunangan dengan nona Alisya" ucap Erik.
Aurel yang baru keluar dari kamarnya, dia dengan jelas mendengar percakapan mereka yang mengatakan bahwa sebenarnya Kevin sudah mempunyai seorang tunangan.
ekspresi wajah Aurel sedikit berubah, di lihat dari raut wajahnya, kemungkinan besar dia terpengaruh dengan apa yang ia dengar tentang Kevin yang sudah memiliki tunangan.
walaupun belum ada cinta yang tumbuh di antara mereka berdua, maksudnya antara Kevin dan Aurel, akan tetapi saat ini Kevin adalah suaminya, dan dia adalah istrinya.
karena sesungguhnya tak ada seorang istri yang ingin mendengar, bahwa suaminya ternyata sudah memiliki seorang tunangan.
"sudah bertunangan, benarkah?" tanya Aurel yang kemudian menghampiri mereka.
namun sebelum kedua orang itu menjawab pertanyaan dari Aurel, Kevin segera menghampiri Aurel, Kevin memegang tangannya Aurel kemudian Kevin mulai berkata kepada Edwin dan Erik.
"apapun yang kalian katakan, aku benar-benar tidak peduli dan tidak ingin peduli, karena wanita yang saat ini sedang bersamaku adalah istriku, aku sudah menikahinya dan ini semua adalah kenyataannya, jadi sebaiknya kalian berdua tidak perlu lagi banyak berbicara, karena aku sama sekali tidak ingin mengetahuinya, kalian pergilah.. katakan kepada siapapun yang menyuruh kalian untuk mencari ku, katakan padanya bahwa aku bahagia dengan keadaanku saat ini bersama dengan keluarga ku yang baru terutama bersama dengan istriku"
Kevin memegang tangannya Aurel, kemudian Kevin menarik tubuh Aurel ke dalam pelukannya Kevin lalu mencium keningnya.
"ini adalah istriku"
mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Kevin, hati dan perasaan Aurel sangatlah tersentuh, Aurel benar-benar merasa terharu, ada embun bening yang menghalangi pandangannya, perasaannya Aurel benar-benar meluap, membuatnya tak mampu lagi membendung air matanya, Aurel menitikan air mata dan menangis.
melihat Aurel menangis, Kevin segera menghapus air mata Aurel menggunakan tangannya, kemudian Kevin berkata.
"kenapa menangis, ada apa? jangan nangis okey, jangan takut, jangan pula merasa khawatir, karena apapun yang terjadi kamu tetap adalah istriku dan kamu akan selalu menjadi istriku"
selesai berkata kepada Aurel, kemudian Kevin menuntun dan membawa Aurel pergi bersamanya, menuju ke kamar mereka.
__ADS_1