Istri yg terlupakan

Istri yg terlupakan
Pertemuan antara Alisya dan Kevin


__ADS_3

Hati Aurel berkecamuk, tubuhnya semakin bergetar ketika dia mengingat bahwa wanita yang saat ini sedang berada di depannya adalah sosok wanita yang pernah ia lihat dalam sebuah potret yang tersimpan rapi di dalam dompetnya Kevin.


Tubuh Aurel tiba-tiba menjadi kaku, lidahnya serasa kelu, otaknya sulit untuk mencerna apa yang akan terjadi setelah ini, ada rasa takut di dalam hatinya yang saat ini ia rasakan. Takut kalau mereka akan mengambil Kevin dari hidupnya.


"Apa Tuan muda Kevin ada dirumah?"


Sebuah pertanyaan mampu mengembalikan kesadarannya Aurel yang sedang travelling memikirkan hal-hal yang mungkin akan terjadi.


Aurel dengan reflek menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban bahwa saat ini Kevin memang sedang tidak ada di dalam rumah tersebut.


"Boleh kami masuk?" Alisya yang kini telah sepenuhnya bisa mengendalikan perasaannya, mulai ikut andil dalam percakapan mereka yang terasa sedikit canggung, mengingat bahwa dari tadi Aurel sama sekali belum mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Emm, oh ya mari silahkan masuk" Aurel akhirnya mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam kerumahnya. Setelah itu Aurel mempersilahkan mereka untuk duduk. Namun ketika Aurel hendak beranjak pergi untuk mengambilkan mereka minum, dengan cepat Alisya menolak dan menghentikan langkah Aurel.


"Tidak perlu repot, kami tidak punya banyak waktu, banyak hal yang ingin kami tanyakan, Duduklah!" kini giliran Alisya yang mempersilahkan Aurel untuk duduk di dalam rumahnya sendiri.


Perasaan Aurel begitu tak menentu, ia merasa posisinya saat ini sedang berada di dalam sebuah ruangan interogasi, suasananya terasa begitu sangat menegangkan.


"Perkenalkan, Saya Alisya, saya adalah tunangan dari pria yang bernama Kevin, pria yang saat ini tinggal dirumah ini" Alisya berkata tanpa berbasa-basi. "So, sekarang katakanlah! dimana Kevin saat ini berada? Karena alasan dari kedatangan kami kesini, yaitu ingin menjemput Kevin untuk pulang bersama dengan kami"


Aurel menundukkan kepalanya, hatinya semakin tak menentu, ia benar-benar takut saat ini, takut kalau Kevin benar-benar akan pergi bersama dengan orang-orang yang saat ini sedang ada di hadapannya.


Setelah cukup lama tidak mendapatkan jawaban, Alisya mulai hilang kesabarannya.


"Jawab Saya, katakanlah! dimana Kevin?" Alisya bertanya sekali lagi dengan nada suara naik satu oktaf.


Masih dengan wajah menunduk, Aurel menjawab dengan sedikit Ragu-ragu.


"A Kevin sedang bekerja di perkebunan, biasanya dia akan pulang pada sore hari, sekitar jam 4 sore nanti" Aurel mencoba bersikap tenang.


Reflek Alisya melihat jam di pergelangan tangannya, Waktu masih menunjukkan pukul 11.20 WIB. Alisya membuang nafas dengan kasar, mengingat waktu masih lama jika harus menunggu sampai dengan waktu pulangnya Kevin.

__ADS_1


Alisya mengarahkan tatapan kepada Edwin dan Erik, kemudian berkata "Saya jelas tidak bisa menunggu terlalu lama, saya harap kalian tau apa yang harus kalian lakukan sekarang"


"Non Alisya" Edwin berkata dengan Ragu-ragu.


"Ada apa? Katakanlah!"


"Apa tidak sebaiknya kita pergi ketempat dimana Tuan muda saat ini bekerja?" Edwin berkata seakan tidak yakin dengan usulnya.


"Ide bagus" Alisya menyunggingkan senyum.


"Tapi" Erik memotong pembicaraan.


"Tapi untuk apa? " tatapan Alisya penuh selidik.


"Begini Non, jalan menuju ketempat itu sangatlah jauh, dan hanya bisa di lalui hanya dengan berjalan kaki, sebab kendaraan roda Empat tidak akan bisa melaluinya" Erik mencoba menjelaskan.


Setelah berpikir sejenak, "Its oke no problem"


Aurel yang bisa dengan cepat mengerti bahwa pertanyaan itu ditujukan kepadanya. "emm, Sa.. saya Aurel" Aurel memperkenalkan diri dengan sedikit gugup.


"Baiklah Aurel, ikut dan tunjukkan jalan untuk kami" Alisya meminta Aurel menjadi penunjuk arah untuknya juga untuk kedua anak buahnya.


Dengan ragu Aurel mengangguk tanda bahwa ia setuju untuk menjadi penunjuk arah untuk mereka.


Langkah Aurel terasa gontai, namun ia harus tetap menguatkan hatinya, sepanjang perjalanan terasa begitu hening, karena tak satupun dari mereka yang berbicara.


Mengingat mereka harus berjalan cukup jauh, Alisya yang saat itu menggunakan heels yang cukup tinggi, tentu saja merasakan kakinya terasa sakit, yah kaki Alisya lecet karena terlalu jauh berjalan. Alisya berhenti di tengah-tengah perjalanan, kemudian ia meringis ketika merasakan kakinya yang sakit.


Alisya hendak menyerah, namun ketika membayangkan wajah yang akan di temuinya, wajah pria yang sangat di cintainya, semangatnya mulai tumbuh kembali, kemudian ia melanjutkan perjalanannya. Beberapa kali Alisya harus berhenti, namun dia tetap bersikeras untuk tetap berjalan menuju ke tempat tujuan.


Untuk kesekian kalinya Alisya berhenti, di karenakan kakinya yang terasa begitu sakit, melihat situasi yang seperti itu akhirnya Erik menawarkan diri agar Alisya mencopot sepatu heels nya dan menawarkan untuk menggunakan sepatu miliknya.

__ADS_1


Tentu saja Alisya menolak, mana mungkin seorang Alisya mau menggunakan sepatu yang sizenya besar, Bisa-bisa ia terlihat seperti badut andai kata ia menggunakannya.


Melihat situasi yang seperti itu, hati Aurel merasa tidak tega, ketika langkah mereka terhenti lagi, Aurel memberanikan diri untuk memberi sebuah penawaran, Aurel menawarkan agar Alisya menggunakan sendal jepit miliknya, supaya kakinya tidak lagi merasakan sakit.


Awalnya Alisya menolak, ia tidak mau menggunakan sebuah sandal jepit yang terlihat sudah tak bagus itu. Namun setelah ia Pikir-pikir sepertinya itu bukan ide yang buruk juga.


Alisya akhirnya menerima tawarannya Aurel, ia menggunakan sendal jepitnya Aurel, sedangkan sepatu heels nya di berikan kepada Aurel, niatnya untuk tukar pakai.


Namun mana mungkin seorang Aurel bisa menggunakan sepatu dengan hak tinggi seperti itu, karena Seumur-umur Aurel belum pernah menggunakan sendal ataupun sepatu dengan heels yang tinggi. Akhirnya Aurel memutuskan agar tidak memakai Alas kaki.


***


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka berempat tiba di tempat tujuan.


Sudah terlihat beberapa pekerja yang sedang lalu lalang dengan aktifitasnya masing-masing.


Dari kejauhan Aurel sudah bisa mengetahui dimana suaminya berada saat ini, dia bisa menebak dari postur tubuhnya Kevin yang sudah sangat di kenalinya.


Sedangkan Alisya benar-benar merasa prihatin ketika membayangkan keadaannya Kevin yang harus bekerja keras seperti itu, dia harus menjadi buruh di dalam perusahaan miliknya sendiri.


Matanya Nanar ketika menangkap sosok pria yang sangat ia kenali, pria yang sangat ia cintai, Tunangannya yang telah hilang berbulan-bulan lamanya, kini dia ada dihadapannya dengan situasi, kondisi dan keadaan yang sangat berbeda.


Alisya mengingat Flashback ketika Kevin masih bersamanya, pertemuan terakhir mereka ketika Kevin pamit kepadanya untuk mengecek langsung ke perkebunan di daerah Cianjur, terlintas lagi di ingatan Alisya, pada saat itu bersamaan dengan kepergiannya ke luar negeri untuk mengurus suatu hal yang sangat penting.


Kevin yang dulu terlihat sangat Macho dengan tampilan yang selalu modis, kini sangat jauh berbeda 180% jika dibandingkan dengan keadaannya saat ini. Kevin mengunakan kaos oblong dan celana pendek ¾ yang sudah terlihat lusuh, sungguh tidak layak digunakan, jika mengingat bahwa Kevin adalah pewaris tunggal dari PT. Bina Nusantara Sejahtera.


Perasaan Alisya berkecamuk, Antara senang, sedih dan terharu karena bisa bertemu dengan pria yang sangat dicintainya. Air mata tak sanggup di bendung lagi bersamaan dengan langkahnya yang mulai berlari menuju ke arah Kevin.


Alisya berlari sambil berteriak memanggil namanya Kevin, sesampainya di depan Kevin, tanpa menunggu lebih lama, Alisya memeluk tubuh Kevin dengan sangat erat.


"Kevin, I Miss You" bisik Alisya di telinganya Kevin.

__ADS_1


__ADS_2